
Di tengah obrolan hangat ibu dan anak itu, terdengar langkah kaki seseorang yang terhenti di pintu. Seorang wanita datang dengan kondisinya yang terlihat tidak baik-baik saja.
“Kak Ivana?” sambut Rachel.
Ivana tersenyum ketir, melihat Rachel masih terbaring di atas tempat tidur. Semua ini karena perlakuan Martha, tapi ia tidak punya pilihan lain selain menebalkan mukanya dan menemui Rachel.
Seperti yang dikatakan Nata kalau di jam segini Rachel biasanya sedang menikmati waktunya sambil membaca buku dan lainnya. Adiknya itu, walaupun ia menuruti Rachel untuk tidak menemuinya dulu tapi usahanya tidak berhenti untuk selalu memperhatikan kondisi Rachel dengan caranya sendiri. Wah, Nata benar-benar menepati janjinya untuk memperhatikan Rachel lebih dan lebih lagi.
“Boleh aku masuk?” pinta Ivana dengan ragu.
Rachel terangguk kecil, mempersilakan Ivana masuk.
“Mamah tinggal sebentar ya.” Pamit Eva. Ia merasa sepertinya ada hal yang ingin Ivana sampaikan pada putrinya.
“Nggak tante, tante bisa di sini nemenin aku sama Rachel.” Ivana menahan tangan Eva agar tidak pergi.
Eva menatap tangannya yang di tahan Ivana. Tangan Ivana sangat dingin, sepertinya wanita ini sangat gugup dan sedang sangat terpuruk.
“Iya. Duduklah.” Eva menyetujuinya. Ia mengambilkan kursi untuk Ivana, lantas mereka duduk berdampingan menghadap Rachel.
"Makasih tante." Ivana tersenyum kecil, menatap wajah adik iparnya yang masih pucat.
“Gimana kabar kamu Chel?” Ivana bertanya dengan lirih. Ia terlihat sungkan dan tidak berani menatap Rachel.
“Seperti yang kakak liat, aku sudah jauh lebih baik. Gimana kabar kakak?” Rachel balik bertanya.
Ivana tidak lantas menjawab, ia lebih memilih memalingkan wajahnya seraya mengusap air mata yang menetes di pipinya.
“Boleh aku meluk kamu?” suaranya terdengar parau.
“Hemh, tentu.” Mata Rachel ikut berkaca-kaca.
Tanpa menunggu lama, Ivana langsung memeluk Rachel. Memeluk dengan sangat erat, menumpahkan rasa rindu dan rasa bersalah yang berjogol di hatinya.
Jujur, butuh keberanian besar untuk ia menemui dan berbicara dengan Rachel terlebih setelah apa yang terjadi pada adik iparnya. Tapi sungguh, ia sangat perlu untuk bertemu Rachel. Ada yang harus ia katakan sebelum terlambat.
__ADS_1
“Maafin aku ya Chel, maafin aku….” Ucap Ivana seraya terisak-isak. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Rachel.
Rachel tidak bisa berkata-kata, dadanya ikut merasa sesak. Ia sadar benar, di rumah mewah itu, Ivana adalah salah satu yang bersikap baik padanya. Ia menyayangi Rachel dengan tulus dan selalu memberinya semangat.
“Gak ada yang perlu aku maafin dari kakak. Kakak udah sayang banget sama aku dan aku sangat berterima kasih.” Rachel berucap lirih.
Ivana melepaskan pelukannya beberapa saat, di tengah tangisnya ia tersenyum seraya menangkup wajah Rachel dengan kedua tangannya.
“Kamu sangat baik Chel, teramat sangat baik.” Ungkap Ivana dengan penuh kesungguhan.
Rachel hanya menggeleng, ia menggenggam tangan Ivana yang dingin saat menyentuh wajahnya.
“Kamu harus sehat, Brandon sangat senang waktu aku bilang dia akan punya adik dari mami Acen.” Dengan tersedu-sedu Ivana meneruskan kalimatnya.
Rachel mengangguk pasti. Ia pun sangat merindukan Brandon. Anak istimewa yang membuat ia belajar mempersiapkan banyak hal sebelum menjadi seorang ibu.
“Aku kangen Brandon.” Suara Rachel terdengar lirih.
“Iyaaa, aku tau. Nanti setelah kamu sehat, aku akan ngajak Brandon nemuin kamu.” Janji Ivana.
Lagi Rachel terangguk. Keduanya saling melempar senyum penuh kasih.
“Aku minta maaf sama Rachel dan tante, karena sebenarnya kedatanganku ke sini selain untuk menengok Rachel, aku juga memerlukan bantuan Rachel.” Setelah tenang, Ivana melanjutkan kalimatnya.
Ia menatap dua orang yang sedang memandanginya penuh atensi.
“Aku mungkin cukup tidak tahu malu, menemui Rachel di saat seperti ini hanya untuk meminta bantuan. Tapi sungguh, aku tidak bermaksud apapun. Aku hanya ingin menenangkan seseorang yang sedang berjuang sendirian dalam sakitnya.” Ivana mentautkan jari-jarinya untuk saling menguatkan satu sama lain.
“Katakan, apa yang bisa kami bantu?” Eva bisa membaca kegelisahan Ivana. Ia menyentuh pundak Ivana yang tegang dan gemetar.
Ivana tersenyum kelu sebelum memulai kalimatnya. Air matanya sudah lebih dulu jatuh sebelum ada kata yang terucap.
“Mamah, sakit.” Suaranya nyaris tidak terdengar. Gemetar karena menahan tangis.
Rachel dan Eva terhenyak kaget. Padahal beberapa hari lalu Martha masih terlihat baik-baik saja.
__ADS_1
“Mamah terkena stroke dan dokter bilang, mungkin waktunya gak akan lama lagi.” Ivana menghela nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
“Dokter juga belum bisa melakukan tindakan apapun, selain mengandalkan obat-obatan yang mereka punya. Mamah benar-benar sedang sekarat selama beberapa hari ini.” Sambung Ivana yang menjeda kalimatnya beberapa saat.
Rachel segera menegakkan tubuhnya, menggenggam tangan sang kakak dengan erat. Ia tahu persis, walaupun Ivana keras terhadap Martha, tapi ia sangat menyayangi Martha.
“Yang ingin aku minta dari Rachel, tolong bicaralah dengan mamah. Mungkin mamah perlu mendengar suara kamu sebelum dia pergi.” Ivana menatap Rachel dengan sungguh. Ia sudah tidak tega melihat Martha terbaring tidak berdaya dengan banyak alat yang terpasang di tubuhnya.
“Aku tau, ini terlalu naif. Tapi aku merasa, kalau mamah mungkin masih menunggu kamu. Menunggu kamu memberinya maaf, sedikit saja. Karena dokter bilang, nama terakhir yang mamah sebut sebelum dia anfal, adalah nama kamu.” Ivana berusaha menegarkan dirinya.
“Kalau mamah memang harus pergi, aku sama Nata udah ikhlas. Kami udah gak berharap banyak sama kondisi mamah. Tapi aku harap, mamah bisa pergi dengan tenang. Tanpa membawa rasa sesal karena selama ini terus nyakitin kamu.”
Rachel terdiam beberapa saat, membalas tatapan Ivana yang menghujam jantungnya. Hati Rachel terrenyuh. Tentu saja ia tidak bisa membiarkan Martha terus menerus berada dalam kondisi seperti ini. Jika ada yang bisa ia lakukan, maka akan ia lakukan.
“Tentu, aku akan berbicara sama mamah.” Timpal Rachel dengan penuh keyakinan.
Ivana tidak bisa lagi berkata-kata. Ia hanya bisa memeluk Rachel dengan erat. Sungguh ia merasa sangat beruntung karena memiliki adik ipar sebaik Rachel.
Melalui rekaman suara, Rachel seolah berbicara dengan Martha. Ia tersenyum kecil membayangkan tengah menyapa wanita itu ada dihadapannya.
“Hay mah, gimana kabar mamah hari ini?” Rachel menjeda kalimatnya beberapa saat, menghela dan menghembuskan nafasnya perlahan untuk menenangkan dirinya.
“Banyak hari yang sulit yang kita hadapi, ya mah. Aku terkadang sangat sedih pada keadaan yang membuat aku berada pada posisi yang tidak diinginkan oleh mamah. Andai aku bisa merubahnya, aku sangat ingin bisa menjadi menantu kesayangan mamah yang bisa mamah sayangi dan cintai sepenuh hati. Tapi apa boleh buat, keadaan tetap memposisikan Rachel seperti ini. Tapi sungguh, Rachel tidak pernah menyesali keadaan ini.”
“Beberapa kali, Rachel sempat merasa sedih karena gagal mendapatkan hati dan perhatian mamah. Rachel sering membuat mamah kesal dan marah. Tapi itu semua memotivasi Rachel untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Sungguh, Rachel berterima kasih karena mamah sudah menjadi katrol terbesar yang mengangkat Rachel agar terus memperbaiki diri.”
“Mah, Rachel memang sedih. Tapi Rachel gak pernah membenci mamah. Rachel sayang sama mamah, sama sayangnya dengan Rachel menyayangi mamah Eva. Rachel gak pernah mau menjadi penguasa di rumah itu. Mamah tetap ratunya dan Rachel akan dengan senang hati berada di samping mamah.”
“Mah, banyak orang yang menyayangi mamah. Mas nata, kak Ivana, Brandon dan juga aku. Kalau mamah ingin bertahan, maka bertahanlah. Kami akan dengan setia menemani mamah. Tapi kalau mamah merasa sudah lelah dan ingin beristirahat, beristirahatlah dengan damai.”
“Rachel tidak membenci mamah. Rachel memaafkan semua kesalahan mamah. Dan satu hal lagi, Rachel sedang mengandung cucu mamah. Cucu yang mamah tunggu selama satu tahun ini. Apapun kondisinya, dia akan menyayangi mamah dan menjaga mamah dengan baik juga mendo’akan segala kebaikan untuk mamah.” tandas Rachel dengan perasaan yang lebih baik.
Ya, perasaannya terasa jauh lebih baik setelah ia berbicara seperti ini.
Di telinga Martha, rekaman ini kembali diputar. Ivana melihat ada air mata menetes dari sudut mata Martha. Detak jantungnya kembali cepat walau belum sepenuhnya normal. Tapi menurut pandangan medis, kondisi Martha menunjukkan perbaikan dan ada kemungkinan bisa dilakukan operasi.
__ADS_1
Apa ini sebuah keajaiban?
****