
Calvin adalah orang yang akhirnya mengantar Rachel dan Brandon pulang. Ia mengendalikan mobil dengan cukup tenang walau sebenarnya perasaannya tidak karuan. Selama perjalanan sering kali ia menoleh Rachel yang duduk di belakang sambil melamun sementara di pahanya ada Bradon yang ia baringkan sambil ia usap-usap pucuk kepalanya.
Rachel masih melihat ke luar jendela, matanya masih basah dan merah walau sudah beberapa kali ia usap air mata itu tetap menetes. Lalu lintas yang sesekali lancar dan beberapa kali tersendat seperti hiburan tersendiri untuk Rachel nyaris putus asa dengan apa yang dialaminya beberapa saat lalu.
Kesalahpahaman dengan Martha menjadi hal yang paling menakutkan yang saat ini ia hadapi selain kondisi Brandon yang membuatnya tidak tenang. Anak kecil ini masih demam walau suhunya tidak setinggi sebelumnya. Ia sudah memberitahu Ivana dan kakaknya itu akan pulang dengan segera.
Lalu apa yang akan terjadi jika kemudian Nata juga pulang dan mendapat laporan yang tidak-tidak dari Martha? Apakah suaminya akan percaya padanya atau justru memihak Martha?
Di tempatnya, Calvin masih memandangi Rachel dengan penuh kecemasan. Kaca spion menjadi alat bantu satu-satunya untuk ia memperhatikan wanita yang duduk termenung di kursi belakang. Sungguh ia tidak menyangka kalau Rachel mendapat perlakuan tidak pantas dari ibu mertunya.
Tangan Calvin kembali berreaksi mencengkram stirnya saat ia mengingat bagaimana ibu mertua Rachel menghina dan merendahkan Rachel tanpa segan di hadapan para guru Rachel. Wanita tua itu tidak sadar kalau kelakuannya telah menjadi buah bibir dan bahan tontonan para guru yang mengintip dari jendela kelas.
Keinginan Rachel untuk membuat sebuah kampanye penolakan terhadap kekerasan dan pelecehan pada wanita ternyata wujud dari pengalaman pribadinya yang membuatnya pasti sangat ketakutan. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana cara Martha melakukan kekerasan pada Rachel tidak hanya secara fisik tapi juga psikis dan verbal.
Tunggu, apa dia juga yang mengalami pelecehan?
Deg!
Jantung Calvin berdebar semakin kencang. Pikirannya semakin waspada memikirkan kemungkinan yang terjadi pada Rachel. Apakah wanita itu benar-benar mendapat pelecehan? Siapa pelakunya? Kenapa perasaannya semakin tidak tenang jika ternyata perkiraannya benar?
Calvin berpikir semakin banyak tentang wanita ini. Benar adanya bahwa bunga yang cantik selalu di kelilingi banyak duri agar tidak semua orang berani menyentuhnya atau mengharapkannya. Dan duri di hidup Rachel adalah putaran masalah yang seperti tidak pernah berhenti.
“Rachel,” panggil Calvin dengan penuh kecemasan.
“Ya.” Sahut pendek Rachel seraya mengusap air matanya yang tidak henti menetes.
Calvin mengeratkan genggamannya pada stir saat melihat Rachel yang berusaha tenang dan tersenyum kelu padanya.
“Maaf kak, di depan sana nanti kakak belok ke kanan, supaya tidak terkena macet lagi.” Ucap Rachel yang berusaha terlihat biasa saja. Mungkin wanita itu berpikir kalau Calvin tidak melihat air mata yang masih berderai di pipinya.
__ADS_1
“Apa dia sering melakukan ini terhadap kamu?” tanya Calvin dengan persiapan yang besar, untuk mendengar jawaban Rachel.
“Perumahannya yang paling awal ya kak, masuk dari pintu utama aja.” Rachel lebih memilih mengalihkan pembicaraan dan tidak menjawab pertanyaan Nata.
“Rachel tolong, perasaanku tidak karuan. Tolong kali ini saja jawab setiap pertanyaanku.” Pinta Calvin sampai memohon.
Semakin Rachel berusaha menutupi masalahnya, ia semakin yakin kalau masalah wanita ini cukup besar. Apa mungkin cerita Ruby tentang kebahagiaan Rachel setelah menikah hanya isapan jempol belaka?
“Apa keluargamu tau masalah ini?” tanya Calvin penasaran.
Mendengar pertanyaan itu, Rachel langsung menegakkan tubuhnya.
“Jangan katakan apapun pada keluargaku. Kakak tidak punya hak untuk itu.” Baru kali ini Rachel menimpali pertanyaannya dengan benar.
Calvin melihat ekspresi wajah Rachel dari kaca spionnya , sangat tegang dan panik. Ia yakini kalau Ruby tidak tahu masalah yang dihadapi adiknya.
“Kalau begitu, jawab pertanyaanku sebelum aku memutuskan untuk mengajak Ruby menyelidiki kehidupanmu setelah menikah.”
“Tidak. Aku tidak mungkin mengancam seorang wanita yang lemah dan tidak berdaya. Aku hanya memperdulikanmu sebagai adik dari sahabatku. Jadi, pedulilah sedikit pada dirimu sendiri.” Sahutan Calvin memang sebuah kebohongan kecuali kalimat terakhir yang meminta Rachel peduli pada dirinya sendiri.
Rachel menghembuskan nafasnya kasar. sepertinya ia tidak bisa dengan mudah menghadapi Calvin.
“Saat bertemu suami kamu nanti, aku bisa saja bekerja sama dengan tidak mengatakan apa-apa tentang kita. Tapi, kalau kamu tidak terbuka sama aku, aku akan bilang kalau kita memang ada sesuatu dan aku sedang mengejarmu. Aku menunggu kamu berpisah dari suami kamu.” Ancam Calvin, entah pikiran dari mana.
“KAK!” seru Rachel tidak terima.
“Kalau begitu, jawablah pertanyaanku dengan sejujurnya, jangan menyembunyikan apapun supaya aku memilih pilihan pertama.” Tegas Calvin.
Tidak ada timpalan dari Rachel selain wanita itu memalingkan wajahnya dan mengusap bulir air mata yang kembali menetes.
__ADS_1
“Maaf Rachel, aku harus memaksamu seperti ini.” Batin Calvin dengan banyak rasa bersalah.
“Apa mertuamu sering melakukan kekerasan seperti ini terhadap kamu?” Calvin memberikan pertanyaan yang pertama.
Bibir Rachel tidak menjawab tapi matanya yang basah dan usapan lembut tangannya di dahi Brandon, sudah menjadi jawaban jelas bagi Calvin.
Benar bukan, Rachel sering menerima kekerasan ini.
“Suamimu tau, kalau ibunya sering kasar terhadap kamu?” lagi ia bertanya.
Rachel tidak juga menjawab, ia hanya menggigit jarinya untuk meredam tangisnya. Dan jawaban tersirat Rachel ini membuat Calvin mencengkram kuat stirnya.
“Apa dia tidak membelamu?” pertanyaan Calvin terdengar rendah tapi membuat bulu kuduk Rachel meremang.
“Tentu saja dia membelaku.” Timpal Rachel.
“Pembelaan apa yang dia lakukan? Apa hanya kata-kata sampah yang seolah membela kamu pahadal hanya usaha formalitas demi tidak terlihat lemah di hadapan kamu? Jika dia membelamu, kenapa mertuamu masih memperlakukanmu tidak adil?”
“Apa pembelaannya begitu payah?”
“Berhenti menghakimi suamiku! Kakak tidak punya hak untuk itu.” Jawab Rachel dengan cepat.
“Tapi Rachel,”
“Berhenti! Kakak hanya mengenalku sebagai adik kak Ruby tolong jangan bertindak terlalu jauh apalagi menghakimi suamiku tanpa alasan. Jika kakak merasa kalau kakak adalah laki-laki yang, ya silakan tapi jangan berpikir kalau suamiku lebih buruk.”
“Kakak mungkin punya keluarga yang sempurna tapi itu bukan alasan bagi kakak untuk mengejek kondisi keluargaku. Jadi tolong berhenti mengatakan hal-hal yang tidak perlu.” Tegas Rachel dengan penuh kekesalan.
Calvin bisa melihat tangan Rachel yang gemetaran sambil menutup telinga Brandon mungkin ia tidak mau Brandon mendengar perdebatannya dengan Calvin.
__ADS_1
Pada akhirnya, Calvin hanya terdiam. Walau dalam benaknya, ia tengah memikirkan cara untuk menyelamatkan Rachel dari keadaan yang tidak baik ini. Ia paham benar bahwa perlawanan Rachel adalah usahanya untuk tidak merendahkan suaminya.
****