
Malam memang selalu menjadi refleksi yang tegas untuk menggambarkan apa yang sudah terjadi pada diri kita dari sejak membuka mata hingga akan menutupnya lagi. Seperti yang dirasakan Nata, malam yang dingin ini, terlalu erat memeluk Nata hingga hatinya ikut membeku.
Di tempatnya, Nata terbaring sambil memeluk guling sementara matanya masih tertuju pada foto pernikahannya dengan Rachel.
Senyum Rachel yang ceria dan ekspresi wajah Nata yang dingin seolah menegaskan kalau hanya Rachel yang menerima dan berbahagia dengan pernikahan itu.
Nata masih mengingat jelas bagaimana Ivana dan ayahnya yang memaksa Nata untuk menikahi Rachel dengan segera. Ia paham benar, tujuan dari menikahkan Nata dengan tergesa-gesa adalah untuk mengobati hati Nata yang patah. Tapi nyatanya, malah ada hati lain yang kemudian patah saat sadar perjuangannya sia-sia.
Rachel masuk ke dalam hidup Nata dengan tergesa-gesa. Ia tidak menyangka kalau pertemuan pertama mereka satu tahun lalu, membuat mereka terikat janji walau tak sehidup semati. Setiap saat, Nata selalu melihat dengan jelas rasa cinta yang besar di mata Rachel namun hatinya justru semakin mengkerut karena ia sadar, ia tidak akan bisa mengimbangi perasaan Rachel untuknya.
Satu tahun pernikahan, membuat Nata mulai terbiasa dengan keberadaan Rachel. Cara berjalannya, suaranya, tawanya, kepolosannya, kesungguh-sungguhannya hingga cara Rachel tertidur, jelas tergambar di mata Nata dan menari-nari di pikirannya.
Hingga saat ini, ia merasa masih melihat sosok Rachel di setiap sudut ruangan di rumah ini. Ia seringkali merasa mendengar suara Rachel yang memanggil namanya dengan penuh cinta. Tapi nalarnya menyadarkan Nata kalau Rachel sudah pergi sejak tadi pagi dan membawa semua hal yang ada di dirinya.
Apakah semuanya?
Nata penasaran, ia ingin memeriksa apa Rachel benar-benar membawa semua barang miliknya.
Beranjak dari tempat tidur, Nata membuka lemari baju Rachel. Masih ada banyak potong pakaian yang Rachel tinggalkan terutama pakaian yang pernah ia belikan untuk Rachel. Gaun tidur berwarna merah maroon pun tidak ia bawa.
Nata mengambilnya lantas mencengkram kuat baju itu sambil menyesap wanginya.
Bayangannya menunjukkan sosok Aruni yang dilihatnya dengan pakaian ini tapi wanginya, adalah wangi tubuh Rachel yang masih menempel.
Nata memukul-mukul kepalanya sendiri saat merasakan bayangan sosok Rachel dan Aruni muncul bersamaan. Aruni yang muncul dengan wajahnya yang sendu dan membuatnya merasa bersalah, sementara Rachel yang muncul dengan wajahnya yang tersenyum bahkan saat ia tahu Nata melakukan kesalahan.
Ya, istrinya masih sempat tersenyum sebelum ia pergi meninggalkan Nata.
“Akh sial,” dengus Nata seraya memegangi dadanya. Entah mengapa ada perasaan sesak yang jauh lebih terasa saat yang muncul di pikirannya adalah sosok Rachel.
Ia termenung beberapa saat di tepian tempat tidur sambil memikirkan perasaannya saat ini. Perasaannya ya hanya tentang perasaannya. Ia tidak pernah berpikir tentang perasaan Rachel karena baginya, mencintai dirinya adalah keinginan Rachel sendiri, bukan permintaannya.
Namun meski begitu, perasaannya tidak lantas lega malah semakin bergemuruh dan beradu antara perasaan sakitnya di tinggalkan Aruni dengan perasaan sedihnya saat ia sadar hatinya begitu sulit untuk sembuh padahal ia sangat ingin terlepas dari beban ini.
Satu tahun lebih pernikahan, pernahkah ia merasa mencintai atau menyayangi Rachel? Nata bertanya hal itu pada hatinya.
Ia mengakui kalau ia sering kali menahan dirinya untuk tersenyum atas tingkah Rachel. Ia juga mengakui kalau ia sering kali ingin tertawa mendengar celoteh Rachel. Ia sering kali merasa tenang saat Rachel ada di sisinya, membuat ia perlahan memaksa Rachel untuk berada di dekatnya, menarik ulur hatinya agar tidak meninggalkannya.
__ADS_1
Rachel benar, ia selalu mempermainkan hati Rachel yang bersungguh-sungguh.
Tapi satu hal yang kini ia rasakan, ia merasa kosong. Usaha ia menutupi perasaannya tidak lagi diperlukan. Topengnya sudah lepas karena Rachel sudah sangat mengenalinya.
Dalam pikirannya saat ini, kepergian Aruni membuat ia merasa hatinya sudah penuh dengan bahagia dan air mata hingga tidak memerlukan hal lain melainkan hanya memerlukan semua kenangan tentang Aruni. Tapi kepergian Rachel membuat sebagian jiwanya kosong. Sepi, senyap dan yang ada hanya rasa sesak dan sakit yang entah berasal dari mana.
Kesedihan di tinggal Aruni memang menyedihkan tapi ditinggalkan Rachel, membuatnya merasa hilang arah. Ia bahkan bingung hanya untuk sekedar memilih mau minum teh atau kopi.
“Rachel, kenapa kamu menyiksaku seperti ini?” gumam Nata seraya menangkup kepalanya dengan kedua tangan.
Ia mengacak rambutnya dengan kasar hingga rambutnya semakin berantakan. Tidak ada Rachel bahkan membuat ia tidak bisa mengurus dirinya sendiri.
Tidak tahu dimana ia harus menyimpan handuk, tidak tahu bagaimana caranya menyiapkan air mandi, tidak tahu caranya membuat kopi yang enak dan tidak tahu makanan apa yang harus ia pilih agar ia bisa menikmati rasanya.
Semua rasa tidak berdaya itu membuat Nata merasa kalau ia telah kehilangan sosok Rachel. Sosok yang selalu membuatnya tidak pernah berpikir apa yang sebenarnya ia butuhkan.
Dengan langkah goyah, Nata pergi ke depan meja rias. Dia duduk di kursi, tempat Rachel biasanya berada. Ia melihat make up Rachel masih ada di tempatnya, sepertinya tidak ada satupun yang Rachel bawa.
Nata mengambil satu lipstick, membuka penutupnya lalu mencium wanginya. Ia memejamkan matanya beberapa saat dan yang muncul adalah bayang Rachel yang polos saat ia mengu. Ulum bibirnya yang tipis. Decapannya yang amatir, seringkali membuat Nata harus mengarahkannya tapi ada kesenangan tersendiri saat ia mendengar deru nafasnya yang hangat. Deru nafas itu milik Rachel, bukan Aruni.
Memejamkan matanya sesaat dan saat membukanya, ia melihat pantulan wajahnya di cermin rias. Lihat, ia sangat kacau. Wajahnya pucat pasi, lingkar matanya hitam, wajahnya kusam dan tentu saja ekspresinya penuh kesedihan dan kekesalan.
Selama ini ia selalu mampu mengendalikan ekspresi wajahnya di hadapan Rachel dengan terlihat dingin. Tapi sekarang, ia sendiri yakin kalau Rachel bisa melihat ekspresi wajah tidak berdaya yang ia miliki.
Sekali waktu, ia iseng membuka laci meja rias. Ada beberapa benda di sana. Uang recehan dalam sebuah kotak, kotak kalung milik Rachel sebagai kado ulang tahunnya dari Nata dan tentu saja sebuah buku catatan. Buku catatan yang pernah ia lihat beberapa waktu lalu.
Buku ini yang dulu sempat membuatnya penasaran dan ingin membukanya.
Dengan segenap keberanian, Nata memutuskan untuk membukanya.
“Mami Acen World.” Begitu kalimat yang tertulis di halaman pertama buku Rachel. Ada bunga kering yang di susun dan di lem untuk mempercantik tampilan halaman pertama.
Halam kedua, ada foto Nata yang digunting Rachel dari flyer yang ia dapatkan saat Nata mengisi kegiatan sebagai dosen tamu di kampusnya. Pakaian ini adalah pakaian yang pernah di pakai Nata saat pertama kali bertemu Rachel dan sekarang sudah tidak muat karena tubuhnya yang lebih berisi.
Ada juga foto pernikahan Rachel dan Nata yang dicetak kecil lengkap dengan tulisan tanggal pernikahan mereka dan ilustrasi lucu yang digoreskan Rachel di bukunya. Nata mengusap wajah Rachel yang ada di foto itu, entah mengapa hatinya meringis tidak tertahan hingga menitikkan air mata.
Halaman ketiga, diisi dengan foto keluarganya. Eva, Ruby, Brandon, Ivana, Martha dan Brams. Sayangnya, Rachel mencoret wajah Brams dengan spidol merah. Nata nyaris tidak mengenali wajah laki-laki di foto itu. Sudah pasti Rachel semarah itu pada kakak iparnya.
__ADS_1
Halaman berikutnya di buka. Ada banyak materi yang dicatat Rachel tentang tumbuh kembang anak istimewa seperti Brandon. Banyak teori pemahaman dan praktek yang sengaja ia catat agar lebih mampu mengurus Brandon. Rupanya usaha Rachel bersungguh-sungguh dalam hal mengurus Brandon. Itu mengapa Brandon sangat suka pada mami Acen kesayangannya.
Di halaman ini Nata tersenyum melihat foto kebersamaan Rachel dengan Brandon yang selalu ceria. Ia sangat yakin kalau suatu hari, Rachel akan menjadi ibu yang penuh kasih.
Halaman berikutnya adalah catatan tentang kebiasaan Martha. Apa yang dia sukai, apa yang dia benci. Ini usaha Rachel untuk memahami ibunya yang kerap membencinya. Ia bahkan menuliskan kapan pertama kali Martha menampar dan menjambak rambutnya. Ternyata, sudah sejak hari pertama pernikahan mereka, tepatnya di hotel di malam pengantin mereka.
Nata cukup terkejut karena sudah selama itu Rachel mendapat perlakuan tidak adil dari ibunya namun istrinya tidak pernah mengeluh. Ia tetap bertahan dengan prinsipnya kalau ia bisa tetap menyayangi Martha.
Di halaman berikutnya, Nata di buat terkejut dengan catatan Rachel tentang Brams. Semua usaha Brams untuk melecehkannya, di tulis Rachel dengan lengkap. Segala macam keterpojokan dan ketakutannya ia tuliskan termasuk ketakutan ia, pemilihan kalimat yang harus ia gunakan saat berbicara dengan Nata.
“Apa mas Nata akan mempercayaiku?” satu penggal kalimat itu membuat Nata memejamkan matanya dan kembali menitikkan air mata. Seabai itu sikapnya pada rasa takut yang dimiliki istrinya. Ia bisa membayangkan bagaimana takut dan gelisahnya Rachel. Rachel bahkan sempat trauma dan ketakutan saat Nata mendekatinya.
Benar adanya pengakuan Rachel kalau selama ini ia berjuang sendirian. Ia bisa menghadapi Brams ataupun Martha tapi menghadapi Nata?
Di halaman berikutnya, Nata membaca curahan hati istrinya tentang dirinya. Tentang sikap Nata yang dingin, kekecewaannya saat melihat Nata tertawa di hadapan orang lain dan juga tentang kejutan manis yang Nata siapkan untuknya. Sebuah kalung yang sebenarnya dibelikan oleh Ivana bukan dirinya.
Sepanjang cerita itu, ia bisa merasakan perasaan Rachel yang sangat bahagia. Terlihat dari pemilihan kalimatnya yang positif. Harus ia akui Rachel memang selalu berusaha berbicara dengan pemilihan kata yang positif sekalipun ia sedang marah dan kecewa. Jauh dengan dirinya yang selalu ketus dan dingin.
Dandi halaman berikutnya Ia menulis, “Bagaimana ini, aku mulai tidak mengenali diriku sendiri. Aku mulai merasa asing pada Rachel yang ada di cermin. Aku merasa dia adalah orang lain.” Tulis Rachel.
“Aku merasa mas Nata menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi apa?”
“Aku menemukan sebuah foto dan hatiku hancur.”
“Aruni, dia menyebut nama itu dalam tidurnya. Lalu untuk apa aku masih berada di sini?”
Beberapa kalimat itu yang begitu mencolok di antara kalimat lainnya yang sangat meggambarkan ketakutan dan keraguan Rachel.
“Tapi aku mencintainya. Apa dengan aku pergi dia bisa lebih bahagia?” kalimat itu yang menjadi kalimat terakkhir yang ditulis Rachel dua malam lalu.
Dan setelah itu Rachel pergi meninggalkannya. Meniggalkan Nata sendirian dan kesepian.
Apa yang harus ia lakukan sekarang jika ternyata kali ini ia merasa kosong dan tidak tentu arah?
"Kegundahan itu ada, aku tidak baik-baik saja setelah kepergianmu. Kenapa kamu berpikir aku akan bahagia saja setelah kamu pergi?" ucap Nata yang mulai menyesal.
****
__ADS_1