
"Aku?"tanya Nadine seraya menunjuk dirinya sendiri,"Suka sama kamu?"Nadine menunjuk pada Anand,"Narsis! Otakku masih berfungsi dengan benar. Sorry ya, aku nggak tertarik sama kamu. Apalagi kamu sudah menikah. Aku tidak mau merendahkan harga diri ku dengan menjadi pelakor. Nggak banget. Masih banyak diluar sana yang antri pengen mempersunting aku,"ujar Nadine membusungkan dada seraya tersenyum sinis kepada Anand.
"Cih, sombong sekali. Buktinya sampai sekarang juga masih jadi jomblo,"cibir Anand bertepatan dengan Putra yang datang membawa minuman dan potongan buah-buahan.
"Rin, sorry ya, aku kemarin nggak sempat nengok kamu di rumah sakit. Anand ngasih aku kerjaan banyak banget,"ujar Putra.
"Jangan mengkambing hitamkan aku!"ketus Anand.
"Nggak apa-apa. Sejak kapan kamu kerja di sini?"tanya Rindy yang sebenarnya terkejut melihat Putra bekerja dengan Anand.
"Sekitar tiga Minggu sejak aku bekerja, sayang,"sahut Anand.
Anand merasa senang, karena nampaknya Rindy tidak salah paham dengan hubungan antara dirinya dan Nadine. Anand tidak melihat kemarahan di mata istrinya itu.
"Woi, yang ditanya itu aku, bukan kamu,"protes Putra.
"Tapi jawaban kamu juga bakal sama kayak jawaban aku, kan?"tanya Anand.
"Iya, sih,"jawab Putra seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sudah, sana! Kerjakan tugas kamu! Aku mau data-data yang aku minta tadi sudah selesai kamu perbarui sebelum pulang kerja, kalau tidak, kamu harus lembur malam ini,"titah Anand.
"Iya, iya. Rin, aku balik kerja dulu,"pamit Putra.
"Iya,"sahut Rindy singkat.
"𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙋𝙪𝙩𝙧𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙖𝙠𝙧𝙖𝙗 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝘼𝙣𝙖𝙣𝙙? 𝙈𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙨𝙖𝙝𝙖𝙗𝙖𝙩 𝙡𝙖𝙢𝙖. 𝘼𝙥𝙖 𝙋𝙪𝙩𝙧𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙣𝙘𝙞 𝘼𝙣𝙖𝙣𝙙? 𝘽𝙪𝙠𝙖𝙣𝙠𝙖𝙝 𝙋𝙪𝙩𝙧𝙖 𝙩𝙖𝙝𝙪 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝘼𝙣𝙖𝙣𝙙 𝙡𝙖𝙝 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙍𝙞𝙤 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡?"gumam Rindy dalam hati, merasa aneh dengan hubungan antara Anand dan Putra.
"Sayang, minumlah! Makan juga buahnya!"ujar Anand menyodorkan jus buah pada Rindy.
"Kamu dari sakit, Rin?"tanya Nadine yang dari tadi ingin bertanya.
__ADS_1
"Iya, Tapi sudah baikan, kok,"sahut Rindy dengan seulas senyum di bibirnya.
"Rin, kok kamu mau, sih, sama Anand? Apa kamu diancam sama dia mangkanya kamu mau menikah dengan dia? Kalau iya, katakan saja! Aku akan membantu mu bercerai dari nya,"ujar Nadine membuat Anand membulatkan matanya.
"Woi! Dasar teman kurang ajar! Jangan menghasut istri ku!"bentak Anand seraya melempar bantal sofa pada Nadine, tapi langsung ditangkap Nadine.
"Sayang, Jagan dengerin dia! Dia itu sirik karena sampai sekarang masih jomblo,"ujar Anand seraya memegang tangan Rindy kemudian mengecupnya dengan lembut.
Rindy menatap sling bag nya saat mendengar suara dering handphone milik Anand,"Sepertinya ada yang menelpon mu,"ucap Rindy pada Anand. Sedangkan Nadine yang hendak protes pun diurungkan nya saat mendengar nada dering handphone Anand.
Anand mengambil handphone nya dari sling bag Rindy kemudian memilih duduk di kursi kerjanya untuk menerima panggilan itu.
"Rin, gimana kamu bisa suka sama Anand?"tanya Nadine penasaran.
"Ah, itu..."Rindy nampak bingung untuk menjawab pertanyaan Nadine. Pasalnya Rindy tidak mencintai Anand, tapi sebaliknya, Rindy membenci Anand. Tapi mana mungkin Rindy mengatakan hal itu pada orang lain. Walaupun nyatanya semakin hari rasa bencinya semakin memudar tanpa disadari nya.
'Udah, nggak usah dijawab kalau merasa keberatan menjawabnya. Aku salut sama kamu, kamu bisa membuat Anand bersikap seperti itu padamu. Setahuku, Anand tidak pernah bersikap manis seperti tadi. Jangan-jangan perubahan Anand akhir-akhir ini adalah karena mu. Tapi jujur aku senang dengan perubahan Anand akhir-akhir ini. Kamu benar-benar hebat!"jujur Nadine seraya menunjukkan kedua jempolnya, sedangkan Rindy hanya tersenyum tipis.
"Ah, kamu terlalu merendah. Oh, iya, apa kegiatan kamu sehari-hari?"tanya Nadine yang merasa nyaman bersama Rindy.
"'Tidak ada. Paling cuma membantu ibuku memasak,"sahut Rindy tersenyum masam.
"Membantu ibumu memasak? Kamu setiap hari datang ke rumah ibumu?"tanya Nadine.
"Bukan, tapi sudah beberapa hari kami tinggal di rumah ibuku,"sahut Rindy.
"Oh, begitu. Maaf, tapi apa kamu tidak bosan berdiam diri di rumah tanpa ada kegiatan?"tanya Nadine yang melihat perubahan raut wajah Rindy yang masam saat ditanya tentang kegiatan sehari-hari nya.
"Sebenarnya aku merasa bosan, tapi Anand melarang aku untuk bekerja. Beberapa Minggu yang lalu, dia menyuruh aku mengundurkan diri dari tempat ku bekerja,"ujar Rindy tersenyum kecut.
"Ternyata begitu. Oh, ya, Rin, hari minggu nanti, kita shopping, yuk! Aku nggak punya teman buat shopping. Mau, ya? Please!"bujuk Nadine seraya memegang kedua tangan Rindy dengan wajah yang dibuat memelas.
__ADS_1
"Tidak boleh! Aku tidak mau Rindy kecapekan karena menemani kamu shopping. Aku tahu, perempuan itu kalau shopping suka lupa waktu,"ucap Anand yang tiba-tiba muncul.
"Ish, posesif sekali. Kalau capek kami bisa istirahat. Beri kesempatan juga istri kamu untuk bersenang-senang. Jangan kamu kurung di rumah terus,"ujar Nadine yang baru tahu, jika Anand sangat posesif.
"Aku bukannya tidak ingin memberi waktu untuk Rindy untuk bersenang-senang. Tapi aku khawatir akan kesehatan nya. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada Rindy. Aku tidak bisa konsentrasi dalam bekerja jika terjadi sesuatu pada Rindy. Apalagi dokter Rindy sangat cerewet dan pemarah. Telinga ku sampai panas kalau dokter Rindy sudah mulai ceramah,"ujar Anand jujur.
Jika ada pemeriksaan yang hasilnya tidak bagus, dokter kandungan Rindy akan memarahi dan menceramahi Anand habis-habisan, membuat telinga Anand panas.
"Dokter Rindy? Kamu sedang sakit, Rin?"tanya Nadine nampak khawatir.
"Tidak. Aku tidak sakit,"sahu Rindy.
"Rindy sedang mengandung. Dan beberapa minggu yang lalu sempat dirawat di rumah sakit karena mengalami pendarahan. Bahkan saat periksa kemarin, keadaan Rindy juga belum stabil. Aku tidak ingin terjadi apapun pada Rindy dan anak kami,"ujar Anand dengan wajah sendu seraya mengelus perut Rindy.
"Sayang, lakukan apapun yang membuat mu senang, selama itu tidak membuatmu kelelahan dan tidak membahayakan janin dalam kandungan kamu,"ucap Anand seraya membelai rambut panjang Rindy dengan penuh kasih sayang. Rindy hanya diam tanpa berani menatap Anand.
Nadine tersenyum tipis melihat Anand yang begitu lembut memperlakukan Rindy dan dari tatapan mata Anand, Nadine dapat melihat betapa besar Anand mencintai Rindy.
"Haiss.. aku berasa jadi obat nyamuk. Anand, biarkan aku mengajak Rindy shopping. Aku janji tidak akan membuatnya kecapean. Lihatlah! Wajah istrimu nampak tertekan. Kamu jangan terlalu mengekangnya, biarkan aku mengajaknya bersenang-senang,"ujar Nadine membuat Anand menghela napas panjang.
"Baiklah. Tapi kamu harus menjaganya baik-baik,"ujar Anand serius.
"Tenang saja. Aku akan menjaga nya dengan baik,"sahut Nadine membuat Rindy tersenyum menatap Nadine.
Melihat ekspresi Rindy itu, Anand ikut merasa senang, dan berharap Nadine bisa membuat Rindy senang. Anand benar-benar frustasi menghadapi Rindy yang mendiamkannya beberapa hari ini.
...🌸❤️🌸...
.
.
__ADS_1
To be continued