
Group sosialita Martha mendadak gaduh setelah salah seorang anggota group mengirimkan video Martha yang tengah menyebar saat ini.
Dari notifikasi video tersebut bisa dilihat kalau video itu sudah ditonton oleh sekitar tiga koma sembilan ribu orang. Yang artinya, ada tiga koma sembilan ribu orang yang sudah melihat aksi kekerasan yang dilakukan Martha pada Rachel. Penontonnya tentu saja semakin bertambah seiring detikan waktu yang berjalan.
“Jeng Martha, ini beneran dirimu?” tanya salah seorang anggota group.
Martha tidak lantas menjawabnya, padahal ponsel itu sudah ia pegang sedari tadi dengan tangan gemetar. Ia hanya bisa tertuduk di tepian tempat tidurnya sambil berpikir langkah apa yang harus ia ambil di tengah kekalutan ini.
“Jeng, aku tau kamu gak setuju anakmu menikahi gadis sederhana tapi kamu kenapa setega itu? Dia anak orang. Keluarganya pasti gak terima. Kamu lupa kalau kamu juga punya anak perempuan?” itu pertanyaan berikutnya yang ditanyakan teman sosialita Martha.
“Aku dengar itu dilakukan di sekolah khusus untuk anak-anak istimewa. Memangnya jeng Martha lagi ngapain di sana?”
Satu per satu keadaan keluarga Martha pun mulai di gali.
“Apa cucu jeng Martha sekolah di sana ya?
“Eh maksudnya siapa?”
“Ituloh anaknya Ivana.”
“Kenapa sekolah di situ?”
“Ya mungkin tergolong anak yang istimewa.”
__ADS_1
“Hey ini kita ghibahin jeng Martha loh padahal jeng Marthanya ada d group ini. Kalian kok gak punya perasaan.”
“Ya jeng Marthanya muncul dong, kasih penjelasan ke kita.”
Dan masih banyak chat lainnya dari teman-teman Martha yang membuat dada Martha terasa panas karena menahan amarah.
Ia masih berpikir, siapa sebenarnya yang berani mengunggah video ini? Apakah Rachel?
Martha langsung mengangkat kepalanya saat ia berpikir kalau Rachel lah yang mengunggah video ini. Pikirnya siapa lagi yang ingin menjatuhkannya selain Rachel sendiri.
Dengan geram, Martha mengepalkan tangannya kuat-kuat. Geriginya yang masih lengkap menggeretak kuat bersamaan dengan kedutan di bibirnya yang rasanya sudah tidak sabar ingin memaki Rachel.
Satu hal yang ia lakukan sekarang adalah, keluar dari group itu dan mengabaikan perbincangan teman-teman sosialitasnya yang semakin menggila membahas Martha sesaat setelah Martha meninggalkan group.
“Teman-teman brengsek! Harusnya aku tidak perlu memberi kalian berlian saat kalian berulang tahun.” Dengus Martha yang tidak suka dengan prilaku teman-temannya.
Di tempat berbeda, Rachel kembali berdebat dengan Fany dan Calvin. Ia memaksa untuk pulang dari rumah sakit. Ia bersikukuh ingin pulang karena harus menjelaskan langsung semuanya pada Eva dan Ruby. Ia tidak mau Eva berpikiran terlalu jauh dan menyebabkan hal buruk terjadi Pada ibunya. Bagaimana pun Rachel mencemaskan kondisi kesehatan ibunya.
"Chel, kamu masih sakit. Dokter udah minta kamu beristirahat yang berarti, tubuh kamu memang memerlukannya. Bisa gak sih kali ini aja kamu jangan keras kepala?" Fany semakin marah karena mencemaskan Rachel.
"Tapi kak, aku gak bisa diem aja di sini. Mamah dan kakakku pasti cemas sama aku dan berpikir yang nggak-nggak."
"Kamu mencemaskan keluargamu tapi kamu gak mencemaskan diri kamu dan bayi kamu." Seru Fany.
__ADS_1
"Kak, aku mohon. Temenin aku pulang. Aku janji, aku akan kuat. Aku juga bakal minum obat tepat waktu. Pake kursi roda pun gak masalah."
"Tapi, tolong temenin aku pulang. Aku harus ketemu mamah. Aku mau di peluk mamah."
Ucapan Rachel kali ini benar-benar membuat Fany iba. Ia tidak tega melihat Rachel yang terus memohon padanya. Dan pelukan seorang ibu yang dirindukan Rachel, ia rasa ia tidak bisa melarangnya.
"Kita akan pulang, tapi kamu harus menuruti semua perkataanku." Tegas Fany.
"Iya. Aku akan menuruti kakak." Sahut Rachel dengan cepat. Lagi, Fany luluh dengan permohonan Rachel.
Sepanjang perjalanan, Eva dan Ruby terus menghubungi Rachel. Meminta Rachel menjawab teleponnya karena ada yang harus mereka bicarakan.
Tiga orang itu hanya bisa menatap Rachel yang gelisah. Alya berusaha menenangkan Rachel dengan mengusap-usap punggungnya dan menggenggam tangannya.
“Dek, tolong jawab telepon mamah.” Begitu pesan yang dikirim Eva kemudian.
Dari sini Rachel bisa membayangkan apa yang akan dikatakan ibunya tentang kejadian ini. Otakny terus berputar memikirkan jawaban apa yang akan ia sampaikan pada Eva dan Ruby.
Rachel bahkan belum bisa bercerita kalau ia mungkin akan segera menyandang status sebagai seorang janda. Tidak terbayang seberapa hancurnya perasaan Eva dan Ruby saat tahu bagaimana hidupnya selama ini.
“Adek akan pulang hari ini mah, kita bicara di rumah ya. Tapi adek mampir kantor manajemen sebentar, karena ada yang harus adek urus.” Balas Rachel pada Eva.
“Mamah tunggu!” Eva bahkan menggunakan tanda seru di akhir kalimatnya. Ia tidak pernah menerima pesan seperti ini sebelumnya.
__ADS_1
Lalu apa yang harus ia jelaskan pada Eva dan Ruby saat tiba di rumah?
****