Menjadi Dia

Menjadi Dia
Retak


__ADS_3

Langkah kaki Rachel terlihat ringan memasuki loby sebuah gedung perkantoran di pusat ibu kota. Senyumnya terus terkembang sejak ia mendapatkan informasi resmi kalau ia mendapat kesempatan menjadi bintang utama di iklan tersebut.


“Kamu dapat peran core actrees di iklan ini, jadi tolong maksimalkan pontensi kamu ya.” Ucap Adri saat meeting tadi.


Mengingat kalimat itu membuat jantung Rachel terus berdebar sangat kencang hingga saat ini. Ia tidak pernah menyangka kalau ia akan mendapat peran penting di iklan pertamanya.


Sebuah pesan masuk, menjadi teman yang membersamai Rachel berjalan masuk ke kantor suaminya.


“Aku udah arrange jadwalnya ya. Besok kita ketemu jam dua siang di lokasi syuting. Ngomong-ngomong, kamu bisa nyetir?” pesan itu dari Fany.


Setelah berbincang banyak, ternyata Fany lebih tua empat tahun dari Rachel. Panggilan kakak itupun berpindah pada Fany.


“Aku beban driver, gak bisa nyetir.” Balas Rachel dengan emot sedih di ujung kalimatnya.


“Hahahaha… tenang aja. nanti kita belajar. Untuk besok, aku belum bisa jemput karena ada meeting dari pagi sama mas Adri. Nanti aku kirim taksi yaa buat jemput kamu."


“Iya kak, makasih ya….”


“Sama-sama Chel.” Sekarang bukan hanya Ivana yang memanggil Rachel dengan ujung namanya, tetapi juga Fany.


Hah, rasanya menyenangkan punya teman berkirim pesan seperti ini. Ponselnya kembali ramai, bukan hanya dengan chat intimidatif dari Brams.


Setelah selesai berkirim pesan, Rachel memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia segera masuk ke dalam lift yang akan membawa Rachel menuju lantai delapan, tempat kantor perusahaan rintisan suaminya berada.


Angka di panel lift terus merambat naik. Rachel semakin tidak sabar untuk segera bertemu dengan Nata dan menyampaikan langsung kabar menggembirakan ini. Di tangannya, ia juga membawa makanan manis beserta cashing hp yang sengaja ia beli couple. Sesuai janjinya, ia ingin memakai cashing couple-an dengan suaminya.


Wajah Rachel merona dengan sendirinya saat ia membayangkan kalau pertemuanya dengan sang suami akan sangat romantis. Semoga saja Nata ikut senang dengan pencapaian dirinya saat ini.


“Ingat Rachel, hal romantis itu diciptakan. Bukan di tunggu.” Batin Rachel seraya menghembuskan nafasnya lega.


“Ding!”


Rachel sudah tiba di lantai delapan. Ia segera turun bersama pengguna lift lainnya. Masing-masing berpencar menuju tempat tujuannya masing-masing.


Di pintu masuk menuju kantor Nata, sudah ada seorang petugas keamanan yang berjaga. Ia membukakan pintu untuk Rachel dan Rachel melenggang bebas masuk ke perkantoran itu.


Suasana sibuk langsung terasa. Dan ada satu orang yang mengenalinya.

__ADS_1


“Chel?!” panggil Ivana yang terkejut melihat kedatangan Rachel ke kantor.


“Kak,” sahut Rachel dengan sumeringah.


“Kok tumben mampir sini? Pasti mau ketemu Nata ya?”


“Hehehehe… iyaa. Mas Nata-nya lagi sibuk gak kak?”


“Tadi sih kata assistant-nya lagi nerima tamu di ruang rapat.. aku belum sempet ke ruangannya. Kamu liat aja dulu. Tuh ruang rapatnya sebelah situ.”


“Kalau ruangan Nata, kamu nanti belok kanan, ada pintu warna abu. Tulisannya, ruangan manusia paling dingin dan menyebalkan.” Terang Ivana.


“Hehehehe iya kak.” Rachel terkekeh ringan. Lucu juga istilah yang diberikan Ivana pada suaminya. Memang seperti itulah Nata, dingin dan sering mengesalkan.


“Aku gak nganter ya, soalnya lagi di tunggu rekanan.”


“Iya kak, gak apa-apa. Aku ke sana dulu ya.” Pamit Rachel.


“Okey!”


Karena perusahaan Nata adalah sebuah perusahaan rintisan, ia baru punya kantor sendiri satu tahun terakhir ini. Dulu suaminya hanya menyewa kantor tapi sekarang, karena usahanya semakin berkembang, ia bisa memiliki kantor sendiri walau tidak sebesar kantor sebelumnya yang terjual saat perusahaannya jatuh bangkrut.


Di lantai delapan ini memang tidak banyak ruangan yang ditemui Rachel. Ia melihat ruang rapat tidak jauh dari tempatnya. Rachel melihat ke dalam, dari kaca yang tidak tertutup, ia melihat Nata sedang ada di ruangan itu.


Ini kesempatan langka bisa melihat Nata saat sedang bekerja. Rachel penasaran, apa ekspresi Nata saat di kantor sama dengan ekspresinya saat di rumah?


Rachel mendekat tapi kemudian langkahnya terhenti. Ia memperhatikan Nata yang sedang serius berbicara dan tidak lama, suaminya tersenyum. Tidak hanya tersenyum, melainkan juga tertawa bersama seseorang yang ia jabat tangannya.


Deg!


Jantung Rachel seperti berdetak untuk terakhir kalinya. Baru kali ini ia melihat Nata tersenyum bahkan tertawa. Padahal sebelumnya, ia tidak pernah melihat Nata tersenyum sedikitpun.


iba-tiba, ada rasa kecewa di dada kirinya saat mengingat kenyataan kalau Nata tidak pernah tersenyum untuk dirinya. Air mata Rachel pun tiba-tiba saja menetes saat melihat ternyata yang tertawa bersama Nata adalah seorang wanita. Wanita yang cukup ia tahu dan kemarin datang ke rumahnya, Marsya.


Kaki Rachel seperti lemah, hingga nyaris ambrug. Ia berpegangan pada tiang agar tidak benar-benar terjatuh. Bagaimana bisa seseorang yang baru di kenalnya satu hari kemarin membuat suaminya tertawa sementara ia yang sudah Nata nikahi selama lebih dari satu tahun, bahkan tidak pernah melihat Nata tertawa.


Apa Nata begitu membenci pernikahan mereka hingga memperlakukannya dengan cara berbeda?

__ADS_1


“Rachel?” panggil sebuah suara yang menyadarkan Rachel dari lamunannya.


Cepat-cepat Rachel menegakkan tubuhnya dan menghapus air matanya. Ia mengatur nafasnya beberapa kali untuk menertralisir perasaan sedihnya.


“Kamu Rachel kan?” suara itu kembali terdengar.


Dengan segenap keberanian Rachel menoleh. “Iya.” Sahutnya, setelah mengusap habis air matanya.


Matanya yang sedikit basah, kini membulat sempurna saat ternyata yang dilihatnya adalah Calvin.


“Hay….” dengan ramah Calvin menyapanya. Laki-laki itu tersenyum lebar pada Rachel. Entah ada urusan apa hingga laki-laki ini bisa ada di kantor suaminya.


“Rachel?”


Deg! Kali ini suara Nata yang memanggilnya dari belakang. Senyum yang semula terbit untuk Calvin mendadak hilang. Bukannya menoleh, Rachel malah menitikkan air matanya. Rasanya menyedihkan mendengar Nata memanggilnya setegas itu sementara ia melihat suaminya tertawa bersama wanita lain.


Ia pikir mungkin ia sedikit berlebihan tapi jujur, ia tidak bisa menahan rasa sesak ini.


Rachel tidak menimpali, tidak juga menoleh. Ia memilih memberikan paperbag berisi makanan dan cashing ponsel itu pada Calvin. Ia tidak siap untuk bertemu Nata dalam kondisi hatinya yang kecewa.


Dengan langkah tegas ia meninggalkan orang-orang yang sedang memandanginya.


“Rachel!” lagi Nata memanggilnya tapi Rachel malah memilih pergi dengan langkah panjang dan cepat setengah berlari keluar dari kantor. Ia sudah tidak bisa menahan air matanya yang terus menetes begitu saja.


Sementara Calvin?


Akh sudahlah, ia bingung kenapa Rachel memberikan paperbag ini padanya.


“Dia yang memberikannya.” Ucap Calvin saat mata tajam Nata menatapnya dengan tidak suka.


Nata tidak menimpali. Ia menghampiri Calvin dan mengambil dengan kasar paperbag di tangannya lantas ia berlalu pergi.


"Akh sial! Sebagai rekanan dia menyenangkan tapi sebagai pribadi, dia sangat menyebalkan." Ucap Calvin dengan kesal.


Sementara di pintu sana, Ada Marsya yang tersenyum sinis melihat Rachel yang pergi dengan kesal. Pasti ada hal yang membuat wanita itu marah dan ini peluang baik untuknya.


*****

__ADS_1


__ADS_2