Menjadi Dia

Menjadi Dia
Rintihan kesakitan


__ADS_3

Suara rintihan terdengar jelas oleh Fany saat ia sedang mandi. Fany yang masih berbalut busa sabun, segera mematikan keran air yang membuat pendengarannya samar.


“Aaaaaakh sakiitttt ….” Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar dan membuat telinga Fany meruncing.


“Hah, suara apa itu ya?” bulu kuduk Fany mendadak meremang. Ia melihat ke sisi kiri dan kanan, tapi tidak ada yang dilihatnya. Kaca di kamar mandipun beruap karena ia menggunakan air panas dalam waktu yang lama untuk membasahi sekujur tubuhnya.


“Aaaakkhh ….” Suara itu semakin jelas saja. Kali ini disertai dengan suara menggeretakkan gigi.


“Wah ada yang gak beres ini.” Ucap Fany yang kembali menyalakan kran showernya. Ia mengguyur tubuhnya dan memilih tidak menutup matanya karena rasanya bayangan yang tidak-tidak muncul dipikirannya saat mata Fany terpejam.


“Aduuhhh perih.” Matanya sampai perih karena kemasukan busa shampoo. Ia mencucinya cepat-cepat karena ingin segera keluar dari kamar mandi.


Tapi beberapa saat kemudian suara itu hilang. Bukannya tenang, Fany malah semakin takut. Ia segera mengambil handuk untuk rambut dan keluar dari kamar mandi hanya terbugkus kimono mandi saja.


“Rachel, kamu denger gak, suara,” kalimat Fany langsung terhenti saat melihat Rachel yang berguling-guling di atas tempat tidur.


“Astaga! Kamu kenapa?” Fany segera berlari menghampiri Rachel yang sedang meringis kesakitan.


Wanita itu mencengkram sprei erat-erat dengan wajah yang pucat pasi dan berkeringat dingin.


“Aaakkkhh sakit kak.” Lagi Rachel melenguh kesakitan. Ia sampai tidak bisa membuka matanya karena sangat sakit.


“Mana, mana yang sakit? Kasih tunjuk sama aku.” Ketakutan Fany semakin besar saat sadar ternyata suara kesakitan itu milik Rachel.


“Pe-perut.” Rachel menjawab dengan terbata-bata.

__ADS_1


Fany segera melihat perut Rachel. Menyentuhnya perlahan dan teraba sangat tegang.


“Astaga, kamu salah makan kali ya?” Fany semakin khawatir.


Rachel tidak menjawab, ia kembali berguling-guling di atas kasur, merasakan rasa sakit yang luar biasa.


“Tunggu sebentar Chel, aku akan bawa kamu ke dokter sekarang.”


Fany segera berajak. Ia meraih jaketnya dan jaket Rachel lalu mengambil kunci mobil serta dompetnya. Rambutnya yang basah ia biarkan begitu saja termasuk kimono mandi itu masih membungkus tubuhnya.


“Bertahan Chel, bertahan. Ayo kita ke rumah sakit sekarang. Kamu bisa jalan?” Fany membantu Rachel bangun.


Rachel tidak menjawab, ia hanya berusaha untuk bangkit. Ia butuh menyimpan tenaganya agar bisa melawan rasa sakit.


Dipapah oleh Fany, mereka keluar dari vila. Fany segera membawa Rachel masuk ke dalam mobil dan membaringkannya di jok belakang.


Setelah dapat alamat rumah sakit terdekat, tidak ada jeda waktu sampai kemudian ia menginjak pedal gas dalam-dalam dan melajukan mobil menuju jalanan.


Sambil mengatur kemudi sesekali ia melihat Rachel melalui spion tengah. Wanita itu tidur meringkuk menyamping sambil memegangi perutnya. Keringat dikit makin jelas terlihat membasahi wajahnya yang polos dan pucat pasi.


“Sabar ya Chel, sebentar lagi kita sampe.” Ujar Fany yang gemetar dan tidak karuan.


Sepanjang jalan Fany menyalakan lampu hazard dan beberapa kali membunyikan klaskson pada kendaraan yang menghalangi jalannya. Tidak ada hal lain yang ia inginkan selain segera sampai di rumah sakit.


Sampai di UGD rumah sakit, kondisi Rachel sudah sangat lemah. Paramedis langsung mengangkat tubuhnya dan membawanya ke atas blankar. Ada noda darah yang turun melewati kakinya yang putih dan jenjang.

__ADS_1


"Astaga Chel!" Fany semakin panik.


“Apa pasien sudah menikah?” tanya seorang paramedis pada Fany.


“Su-sudah.” Fany yang panik jadi tidak karuan.


“Silakan lakukan registrasi untuk pasien, kami akan menangani pasien.” Terang petugas medis itu yang langsung membawa Rachel masuk ke dalam ruangan tindakan, hendak memberikan pertolongan dengan cepat pada Rachel.


“Astaga Chel, kamu kenapa?” gumam Fany yang masih mematung di depan pintu UGD yang sekarang tertutup. Rasanya tubuhnya akan ambruk jika tidak ingat kalau Rachel sangat membutuhkan ketegarannya saat ini.


Di ruang pemeriksaan, Rachel sedang diperiksa oleh seorang dokter ditemani beberapa perawat.


“Bu, ibu … apa ibu tau ibu sekarang ada dimana?” tanya seorang perawat sedang menguji kesadaran Rachel. ia menepuk-nepuk tangan Rachel yang lemah.


“Rumah sakit.” Bibir Rachel yang pucat dan kering bergumam lirih nyaris tidak terdengar.


“Baik. Boleh saya tau nama ibu siapa?” tanya perawat itu lagi.


“Rachel.” Suara Rachel nyaris tidak terdengar.


Ia menatap nyala lampu yang begitu terang di atas kepalanya yang berat. Rasa sakit jelas terasa di perutnya dan rasa kantuk jelas menyerang kedua matanya.


“Kesadarannya masih bagus dok.” Ucap perawat itu pada dokter yang sedang memeriksa pernafasan Rachel.


“Bagus. Ibu, jangan tidur ya bu. Ngantuknya di lawan. Ibu akan kami tangani tapi ibu harus kuat dan bertahan.”

__ADS_1


Suara dokter itu seperti gaungan di sebuah terowongan yang gelap dan panjang. Rachel seperti berada di dalammnya. Semuanya semakin meredup tapi saat beberapa cubitan menyantuh tangannya, Rachel kembali terjaga berusaha membuka matanya. Ia tetap bertahan meski kelopak matanya terasa sangat berat dan ingin beristirahat.


****


__ADS_2