
Rachel masih terdiam di kamarnya, memandangi selembar surat yang harus ia tanda tangani sebagai ajuan perceraiannya dengan Nata. Satu per satu baris kalimat Rachel baca dengan seksama, agar tidak ada pemahaman yang terlewat.
Ada banyak point yang tertera di sana tapi fokus Rachel saat ini adalah pada tanda tangan yang Nata dibubuhkan di atas nama lengkapnya. Tidak terasa, pernikahan yang sudah berjalan selama satu tahun delapan bulan harus berakhir begitu saja. Perceraian menjadi kesepakatan yang mereka ambil dua minggu lalu. Tepatnya satu minggu setelah Rachel keluar dari rumah sakit.
Pertemuan mereka dua tahun lalu menjadi awal benih cinta itu tumbuh. Ia masih mengingat bagaimana wajahnya yang merona hanya karena Nata menatapnya dari kejauhan. Bukan untuk menyatakan cinta, hanya sekedar menjawab pertanyaannya yang absurb.
Tapi saat ini, yang lebih ia ingat adalah pertanyaan Nata terakhir kali, “Apa kamu akan lebih bahagia setelah kita berpisah?”
Pertanyaan itu disampaikan Nata dengan tatapan lekat dan penuh kesedihan pada Rachel. Rachel bisa melihat, kalau Nata menunggu benar jawaban Rachel.
Rachel berusaha tegar mendengar pertanyaan itu. Ia membalas tatapan Nata seolah ia sangat siap dengan konsekuensi yang akan ia hadapi.
“Kebahagiaan itu aku sendiri yang ciptakan dalam kondisi apapun. Tapi dengan berpisah, paling tidak, kita tidak perlu bertahan dalam rasa sakit yang lebih lama lagi.”
“Mungkin saja mas akan lebih bahagia setelah pisah sama aku. Mas bisa tersenyum dan tertawa kapanpun dengan wanita yang memang mas cintai, tanpa perlu menahan perasaan mas seperti waktu sama aku.” Sahut Rachel dengan penuh ketegasan.
Saat itu Nata mengangguk paham. “Rupanya kamu masih punya cemburu buat aku.” Gumam laki-laki itu seraya tersenyum kecil.
“Siapa yang cemburu?!” Rachel masih bisa membayangkan raut wajahnya yang merah dan hangat saat mengatakan hal itu. Karena tidak bisa ia pungkiri, kalau ia masih sangat cemburu dengan wanita bernama Aruni itu. Membayangkannya saja membuat kepercayaan dirinya berkurang.
“Gak perlu marah kalau kamu gak merasa cemburu.” Timpal Nata yang berusaha menyembunyikan senyumnya.
“Ck!” Rachel hanya berdecik kesal.
“Yang penting buat aku sekarang, apapun keputusan kamu, kalau itu bikin kamu bahagia, aku akan mencoba menerimanya. Tapi, setelah ajuan perceraian kita selesai, bolehkah aku mengajukan mediasi?” lagi Nata bertanya. Kali ini semua keputusan yang ingin ia ambil ia mintakan persetujuan dulu pada Rachel.
“Kenapa? Kita kan udah sepakat.” Rachel menatap Nata tidak mengerti.
__ADS_1
“Aku masih ingin bertahan Chel, itu egoisnya aku. Selain itu, aku juga ingin mendengar pendapat mediator untuk pertimbangan kondisi kamu yang saat ini sedang mengandung. Tolong kasih kesempatan buat kita melihat dari sudut pandang lain. Bukan untuk keuntungan aku semata tapi juga untuk anak kita.” Terang Nata.
Ucapan Nata saat itu membuat Rachel berpikir sejenak. Ia mempertimbangkan alasan Nata. Walau ia tidak suka dengan alasan yang pertama, tapi ia menghargai keputusan Nata untuk terbuka atas alasannya. Dan untuk alasan kedua, ia setuju.
“Terserah mas. Tapi kalau kemudian mas sudah yakin, gak ngajuin mediasipun gak masalah.” Sahut Rachel.
“Terima kasih.” Nata anggap ucapan Rachel sebagai izin kalau ia boleh mengajukan mediasi.
“Ada satu hal lagi,”
“Kenapa banyak banget?” Rachel mulai kesal.
“Hehehehe maaf. Ini hanya penegasan aja.” Nata menggaruk kepalanya yang tidak gatal, saat melihat ekspresi Rachel.
“Apa?” Rachel langsung bersidekap.
Rachel melirik kecil laki-laki itu. “Iya.” Sahutnya, membuat Nata tersenyum lega.
“Apa hak yang kamu maksud termasuk mengetahui tumbuh kembangnya dan bertanya kabarnya setiap hari?” tanya Nata lagi.
“Emang mas mau nanya kondisi dia setiap hari? Gak bosen gitu? Atau mas gak percaya kalau aku bisa jaga dia dengan baik?” Rachel balik bertanya. Pertanyaannya sedikit kesal karena merasa tidak dipercaya oleh Nata.
“Bukan gitu maksud aku.” Nata langsung mencoba menenangkan. Rachel yang sedang hamil ternyata benar-benar lebih sensitive.
“Kata dokter kandungan, perkembangannya setiap hari itu sangat pesat, nah karena itu aku mau tau kabar harian dia. Kalau nanti jadwal kontrol, aku juga akan ikut nemenin. Aku mau memastikan, dia sehat dan mirip siapa.”
“Mas jangan aneh-aneh, dia masih janin. Mana keliatan dia mirip siapa.” Decik Rachel.
__ADS_1
Nata jadi ingin mencubit pipi Rachel yang menggemaskan saat menggembung kesal seperti itu.
“Hehehe, tapi boleh kan?” Nata tetap dengan usahanya.
“Iya.” Rachel akhirnya setuju.
Ia melihat dengan jelas ekspresi Nata yang terlihat lega setelah mendengar jawaban Rachel. Wajahnya hanya kembali sedih saat ia terpaksa harus menandatangani surat ajuan perceraian itu di depan mata Rachel.
Sama seperti saat itu, sekarang pun Rachel masih nanar saat menatap lembaran kertas ini. Di ruang tamu rumahnya, sudah ada seorang pengacara yang akan mengambil surat ajuan cerai ini. Rachel berusaha memantapkan hatinya dengan menggoreskan pena dan membubuhkan tanda tangannya di sana.
Beberapa saat ia pandangi tanda tangan itu. Ada kesedihan tersendiri yang ia rasakan. Tapi di balik itu, ia merasakan kelegaan.
Setelah perasaannya lebih baik, Rachel memasukkan kembali surat itu ke dalam amplop coklat dan membawanya keluar.
“Silakan.” Ucap Rachel saat menyerahkan amplop coklat itu pada pengacara.
“Terima kasih.” Ucap sang pengacara sebelum kemudian laki-laki itu pamit dan pergi.
“Hey, kamu baik-baik aja?” tanya Ruby yang menyentuh bahu Rachel lantas mengusapnya lembut. Ia bisa membayangkan kalau Rachel baru saja melewati pergolakan batin yang hebat.
“Hem, sekarang lebih baik.” Timpal Rachel yang tersenyum kecil untuk menenangkan sang kakak.
"Aku sama mamah, akan mendukung apapun keputusan kamu. Aku sama mamah percaya, kalau kamu akan sellau membuat pertimbangan untuk setiap keputusan kamu." Tegas Ruby.
Rachel tidak menimpali, hanya tersenyum kecil seraya menghembuskan nafasnya lega. Lega setelah pengacara itu pergi dengan sedan mewahnya.
****
__ADS_1