
“Hey Nata, mau sampe kapan kamu kayak gini terus hah? Sudah lebih dari empat jam Rachel pergi dan kamu masih diam di sini seperti orang bodoh!”
“Kamu gak berniat buat ngejar dia?!” suara Ivana meninggi melihat Nata yang masih terduduk di lantai dan bersandar pada kaki tempat tidurnya.
Ia tertunduk lesu, bertumpu pada kedua kakinya yang ia lipat. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini.
“Rachel itu perempuan baik-baik, dia gak akan pergi begitu saja kecuali dia udah gak ngerasa punya arti lagi di hadapan kamu? Apa yang kamu lakukan sampai Rachel pergi meninggalkan kita?!” gertak Ivana yang kesal pada Tindakan bodoh Nata.
“DIAM!!!”
“PRANK!!!”
Nata berseru sambil melempar gelas bekas Rachel ke dinding. Ivana sampai terhenyak kaget melihat apa yang dilakukan Nata. Ia seperti melihat Nata empat tahun lalu. Nata yang terpuruk dan nyaris putus asa.
"Apa Rachel pun pergi karena hal itu?" batin Ivana.
“Kenapa kakak nyuruh dia masuk ke ruang kerjaku, KENAPA?!!!” teriak Nata pada Ivana membuat jantung Ivana berdebar kencang karena kaget. Ia tidak pernah melihat Nata semarah ini sebelumnya.
Matanya yang tajam itu tampak berkaca-kaca dan menatap Ivana dengan penuh kemarahan. Ia masih menyesalkan saat membiarkan Ivana menyuruh Rachel masuk ke ruang kerjanya.
Ivana semakin yakin kaalau alasan kepergian Rachel karena masalah Aruni. Ralat, masalah Nata yang tidak pernah bisa melepaskan Aruni.
“Memangnya kenapa kalau aku nyuruh Rachel masuk ke ruang kerja kamu? Itu bukan suatu kesalahan!”
Toh dia bukan orang lain, dia istri kamu. Hal apa yang membuat kamu membatasi apa yang seharusnya dia tahu?"
__ADS_1
“Harusnya kamu sadar, yang salah adalah karena kamu masih menyimpan semua hal tentang Aruni. Perempuan brengsek yang membuat kamu depresi!” timpal Ivana dengan kesal.
“Keluar!” Nata bangkit dari tempatnya dan menghampiri Ivana hendak menutup pintu. Tapi Ivana masih tetap mematung ditempatnya dan menahan pintu itu agar tidak tertutup. Ia merasa kalau Nata perlu disadarkan.
“KELUARR AKU BILANG!!!” seru Nata di depan wajah Ivana.
“PLAK!!!” bukannya keluar, Ivana malah menampar wajah adiknya. Dadanya sampai bergerak naik turun dan tangannya yang mengepal, menahan amarah atas sikap Nata yang menurutnya sangat bodoh.
“Mau sampai kapan kamu seperti ini hah, SAMPAI KAPAN?!!!” Ivana balas teriak di hadapan Nata yang wajahnya berpaling karena tamparan keras Ivana. Ada darah segar yang menetes dari sudut bibir dan terasa asin di mulut Nata.
Nata tidak bergeming, ia hanya terdiam sambil menahan amarahnya pada sang kakak yang melototinya. Hidungnya sampai kempis kembung karena ia menarik dan membuang nafasnya dengan ritme yang cepat, sebanding dengan amarahnya yang meluap-luap.
“Rachel pergi bukan gara-gara aku, tapi gara-gara kamu!” Ivana menunjuk dada Nata dengan tegas. Suaranya pelan namun penuh penekanan.
“Pikirmu akan ada perempuan yang bersedia mengabdikan hidupnya untuk laki-laki brengsek dan gila seperti kamu? Jangan mimpi Nata, gak akan ada.”
“Harusnya aku gak pernah bawa Rachel ke rumah ini. Harusnya aku menjodohkan dia dengan laki-laki yang baik, hangat, ceria dan menjadikannya ratu, bukan selingan.”
“Harusnya aku cukup sadar diri kalau sebaik apapun Rachel, tidak akan pernah merubah apapun yang ada di diri kamu karena kamu sendiri tidak pernah mau berubah.”
“Kamu tidak pernah memberi Rachel kabahagiaan tapi malah terus menerus menyakitinya. Apa yang bisa kamu banggakan dari diri kamu yang payah ini?”
“Aku sungguh menyesal Nata, sangat sangat menyesal sampai aku tidak berani untuk meminta Rachel memikirkan kembali keputusannya.”
“Jika Rachel lebih bahagia setelah lepas dari kamu, maka aku akan dengan suka rela mempercepat perceraian kalian.”
__ADS_1
“Pegang kata-kataku, aku tidak pernah bermain-main dengan hal seperti itu.” Tegas Ivana tanpa mengalihkan pandangannya dari Nata. Ia menunjukkan benar kesungguhannya.
Nata tidak menimpali, ya ia tidak berani menimpali karena jauh di lubuk hatinya ia mengakui kebenaran ucapan Ivana. Tapi baginya, sangat sulit untuk beranjak. Ia seperti terkurung dalam kungkungan masa lalu yang gelap dan tidak bisa ia tinggalkan. Terlalu banyak tambahan penyesalan jika ia melupakan semuanya.
Ivana mungkin tidak paham karena kakaknya tidak mengalami hal yang sama dengan dirinya.
“Putuskan sekarang, mau kamu perbaiki keadaan atau aku bantu untuk mempercepat perceraian kalian? Aku ingin melihat Rachel bahagia dan menikah dengan laki-laki yang memang mencintainya.” Tanya Ivana dengan tegas.
Baru kali ini Nata menoleh. Ia menatap wajah sang kakak dengan dingin.
“Jangan ikut campur terlalu jauh, aku bisa mengurus masalahku sendiri.” Timpal Nata dengan penuh keyakinan.
“Bruk!” ia juga menutup pintu kamar dengan kasar tepat dihadapan Ivana.
Ivana hanya tersenyum sinis, ia tahu Nata sedang ragu dan berat untuk memutuskan apa akan melepaskan Rachel begitu saja atau akan mempertahankannya.
“Terkadang, kamu harus bertemu dengan kenyataan yang lebih pedih. Ya, membayangkan Rachel meninggalkanmu akan lebih pedih di banding kehilangan Aruni.” Batin Ivana seraya menatap pintu kamar Nata dengan kesal.
Sesungguhnya ia pun tidak tega memperlakukan Nata seperti ini. Tapi, ia tidak punya pilihan lain karena Nata harus disadarkan.
Di belakang sana, ada yang diam-diam tertawa mendengar perdebatan kakak beradik ini. Ya, dia adalah Martha.
Hati wanita itu tengah berbunga-bunga membayangkan Rachel dan Nata berpisah. Ia sudah mulai bisa bersiap untuk menentukan siapa calon menantunya berikutnya. Tapi yang terpenting adalah, memanasi Nata agar melepaskan Rachel dan memprovokasi Ivana agar segera membantu perceraian putranya.
Ia tidak peduli walau di rumah ini akan ada dua janda dan satu duda. Ini lebih baik menurutnya di banding bermantukan Rachel.
__ADS_1
****