Menjadi Dia

Menjadi Dia
Keteguhan hati


__ADS_3

Ruangan bercat cream, menjadi ruangan baru tempat Rachel di rawat. Baru beberapa jam saja ia kembali ke ruangan perawatan dan menjalani prosedur rawat inap kedua. Hanya beberapa jam saja selang waktu yang dihabiskan Rachel untuk keluar masuk rumah sakit. Ia merasa tubuhnya yang selalu bugar kali ini benar-benar lemah. Perut bawahnya mudah sekali terasa sakit dan tegang.


Ternyata benar, prediksi dokter tidak boleh di bantah oleh perasaan baik-baik saja yang dirasakan Rachel karena ketidaktahuannya akan kondisi tubuh yang sebenarnya.


Di rumah sakit sebelumnya, dokter sudah menyarankan Rachel agar tidak turun dari ranjang pasien sebelum kondisinya benar-benar pulih. Tapi, ia tetap bersikeras karena merasa ia sudah baik-baik saja. Tapi nyatanya, perasaan baik-baik saja terkadang tidak selalu menunjukkan kalau ia memang sedang baik-baik saja.


“Saya tinggal sebentar ya bu. Kalau ibu perlu apa-apa, boleh panggil perawat dengan menekan tombol ini.” Ujar seorang perawat yang baru selesai merapikan Rachel.


“Iya, terima kasih sus.” Sahut Rachel dengan senyum kecil yang ia tunjukkan.


Perawat itu balas tersenyum, seraya mengangguk sebelum benar-benar pergi dari hadapan Rachel.


Hanya beberapa saat waktu terasa hening, sampai kemudian seseorang masuk dan membuat Rachel memalingkan wajahnya dari pintu masuk.


Seorang laki-laki gagah menghampirinya lantas tersenyum kecil. Senyum yang beberapa waktu lalu sangat ingin ia lihat.


“Hay.” sapa Nata yang kini berdiri di samping ranjang Rachel.


Rachel tidak menimpali. Perasaannya masih tidak karuan setiap kali melihat Nata. Bayangan wajahnya saja begitu menyiksa bagi Rachel, apalagi sosok aslinya.


“Apa yang kamu rasain sekarang?” suara Nata terdengar rendah dan perhatian. Ia bahkan sedikit merunduk dan mengusap pucuk kepala Rachel dengan lembut. Tangannya yang hangat terasa benar oleh Rachel.


Tidak menjawab, Rachel tetap memalingkan wajahnya dari Nata. Tangannya mencengkram selimut dengan kuat, seperti masih menahan kemarahan.


Nata bisa melihat respon Rachel yang menolaknya secara halus. Tentu saja ini sangat wajar. Luka yang ia berikan terlampau besar dan dalam, pasti tidak mudah bagi Rachel menghadapi semua ini.


Nata tetap dengan usahanya untuk sabar. Ia sudah memutuskan kalau kali ini ia akan berjuang untuk Rachel. Berjuang mengambil kembali hati Rachel.


Ia menarik kursi dan duduk di samping Rachel.

__ADS_1


“Chel,” panggil Nata dengan lembut. Ini kali pertama ia memanggil Rachel dengan teramat lembut dan rasanya membuat hatinya sendiri kembali bergemuruh.


Rachel memilih memejamkan matanya, menahan gemuruh di dadanya.


“Ada apa mas ke sini? Mau memintaku menandatangani surat cerai?” tanya Rachel tanpa menoleh Nata.


Nata cukup kaget mendnegar pertanyaan Rachel. Setelah tahu hamil, benarkah perceraian masih menjadi pemikiran Rachel?


“Chel, apa yang kamu pikirkan? Mana mungkin kita bercerai di saat kondisi kamu sedang hamil seperti ini? Aku datang untuk memperbaiki semuanya.” Jawab Nata dengan penuh kesungguhan.


“Kenapa tidak mungkin? Berpisah ya berpisah saja. Gak perlu pikirin aku lagi hamil atau nggak. Toh selama ini aku udah terbiasa sendirian tanpa pasangan yang mencoba memahamiku.” Kali ini Rachel menoleh Nata. Mentalnya sudah lebih siap untuk menghadapi suaminya.


“Chel,” Nata sampai tidak bisa berkata-kata terlebih saat melihat netra bening itu begitu tegas mengatakan apa yang ada dipikiran dan perasaannya.


“Sekalipun kita berpisah, mas tidak akan kehilangan hak mas atas anak ini. Itupun kalau mas peduli dan tidak mempermasalahkan memiliki seorang anak yang lahir dari rahimku.” Ucapan Rachel pelan namun terdengar begitu penuh penekanan.


“Astaga Chel….” Nata mengusap wajahnya kasar. Ia melihat dengan jelas kekecewaan dan kesakitan yang terganbar dari tatapan mata Rachel. Sepertinya ia memiliki tekad yang besar untuk berpisah dengan Nata tanpa memikirkan apapun.


Rachel kembali memalingkan wajahnya dari Nata, ia berusaha menyembunyikan air matanya. Harusnya ia senang mendengar kalau Nata mencintainya tapi ia malah merasa semakin sakit. Terlalu sakit saat mengingat semua perjuangannya selama ini yang ia lakukan seorang diri.


“Sudah tidak ada yang bisa diperbaiki di antara kita. Aku harap, kita tetap akan berpisah.” Rachel tetap kukuh dengan pendiriannya.


“Chel, aku mohon. Aku gak bisa pisah dari kamu. Aku bahkan gak tau apa yang harus aku lakukan kalau kamu gak ada. Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau kembali sama aku?” Nata sampai memohon. Ia berusaha meraih tangan Rachel tapi dengan cepat Rachel menarik tangannya menjauh.


Nata bisa mendengar helaan dan hembusan nafas kasar yang berhembus dari mulut Rachel.


“Aku gak tau! Lagi pula, kenapa mas harus bingung apa yang akan mas lakukan kalau aku nggak ada?”


"Selama aku ada pun mas gak pernah menganggap yang ada dihadapan mas itu adalah aku. Aku orang lain buat mas. Mas memelukku, menciumku, melakukan apapun yang mas inginkan terhadapku tapi yang ada di hati dan pikiran mas bukanlah aku, melainkan dia."

__ADS_1


“Aku ngerasa tidak ada yang perlu kita perbaiki dalam hubungan kita. Yang harus mas perbaiki adalah hubungan mas dengan diri mas sendiri. Mas mengabaikanku karena seorang wanita yang tidak pernah bisa mas lupakan. Mas juga menyakitiku dan menjadikan aku sebagai dia, karena cuma dia wanita yang begitu mas cintai.”


“Kenapa mas gak kembali lagi aja sama wanita itu? Mungkin mas akan lebih bahagia saat bersama dia, di banding sama aku.” Kali ini Rachel menatap Nata dengan lekat. Walau matanya berair dan hatinya hancur tapi ia ingin Nata melihat ketegasan ucapannya.


Nata tidak menimpali, ia hanya tertunduk lesu sambil menggelengkan kepala. Ia bisa memahami benar, bagaimana sakitnya perasaan Rachel yang hidup bersama laki-laki yang menganggapnya bayang-bayang wanita lain.


“Aku memang melakukan kesalahan karena memperlakukan kamu seperti wanita itu. Tapi, kalaupun tampilan kamu sempurna menjadi dia, itu karena kamu lah yang sebenarnya sempurna. Bukan karena dia."


"Itulah mengapa aku sadar, kalau yang aku cintai selama ini adalah kamu. Itulah mengapa dulu aku menahan perasaanku, pura-pura tidak peduli sama kamu, karena aku pikir kalau kamu tahu aku sangat mencintai kamu, kamu akan dengan mudah mempermainkan perasaanku lalu meninggalkanku begitu saja.”


“Tapi itu dulu. Dulu, sebelum aku sadar kalau aku melakukan kegilaan dengan berpikiran picik dan bodoh tentang kamu. Aku meragukan kamu yang begitu tulus mencintaiku.”


“Dalam beberapa waktu aku memang mengenang wanita itu. mengenang kebersamaan kami. Tapi, hanya sebatas mengenang. Karena yang aku nikmati dengan sebenarnya adalah waktu yang kita lalui bersama.” Tegas Nata.


Hati Rachel nyaris terrenyuh terlebih saat ia melihat tatapan mata Nata yang terasa tulus menyentuh hatinya. Tapi, ia tidak bisa mempercayakan kembali hatinya pada Nata. Mungkin saja Nata memintanya kembali hanya karena ia merasa kosong saat laki-laki itu terpuruk. Tapi bagaimana jika Nata berubah karena wanita itu kembali dalam hidup mereka.


“Tolong segera kirimkan surat perceraian untuk aku tanda tangani.” Tegas Rachel kemudian. Ia ingin menepis bayangan menakutkan itu. Ia tidak siap untuk terluka kedua kalinya.


“Apa?” Nata sampai tidak paham dengan kalimat terakhir Rachel. Tapi Rachel tidak bergeming, ia memilih memiringkan tubuhnya membelakangi Nata demi tidak melihat wajah laki-laki itu lagi. Ia ingin menyembunyikan air matanya yang tumpah tanpa diminta. Sungguh, ia pun hancur dengan keputusan ini.


“Chel, apa penjelasan aku gak cukup? Apa sebenarnya yang harus aku lakukan untuk memperbaiki semuanya?” Nata masih dengan pertanyaan yang sama. Ia pikir Rachel akan memahami ucapannya. Tapi sepertinya tidak.


Ralat, Rachel bukan tidak memahami penjelasan Nata. Ia menolak memahami apa yang Nata katakan, karena ia tidak cukup yakin dengan ucapan Nata. Mungkin saja Nata ingin kembali bukan karena benar-benar mencintai Rachel, tapi karena menginginkan anak dalam kandungannya. Lalu setelah itu, mungkin saja Nata akan dengan mudah menyakitinya lagi.


“Entah berapa kali aku bersujud pada tuhan, memintanya untuk membalik hati mas agar peduli padaku. Agar mencintaiku. Tapi kali ini, semuanya sudah cukup. Cukup mas mematahkan dan menghancurkan hati serta perasaanku. Aku lelah mas, berjuang sendirian selama ini. Mari, kita akhiri saja hubungan ini.” Tegas Rachel sambil mengepalkan tangannya untuk membulatkan tekadnya.


Dadanya memang sesak membayangkan ia dan Nata akan benar-benar berpisah. Tapi lebih sesak lagi saat membayangkan kalau kelak ia harus menemui luka yang sama. Hatinya belum sekuat itu.


Nata tidak menimpali. Ia hanya termenung sambil memandangi punggung Rachel yang membelakanginya. Seyakin itu Rachel mengucap kata perpisahan, seolah tidak memberi Nata kesempatan untuk membuktikan keseriusan usahanya.

__ADS_1


****


__ADS_2