Menjadi Dia

Menjadi Dia
47. Melepaskan


__ADS_3

Beberapa bulan setelah kejadian makan malam di restoran yang berakhir berantakan karena wanita dari masa lalu Anand, Rindy masih tidak banyak bicara seperti biasanya. Bahkan Rindy semakin dingin pada Anand setelah bertemu dengan Putra di sebuah kafe waktu itu. Namun Anand tetap berusaha untuk menjadi suami yang baik tanpa memaksakan kehendak nya pada Rindy.


Selesai makan malam, Anand mengajak Rindy ke balkon kamar mereka. Balkon yang terdapat bunga-bunga yang memanjakan mata. Anand dan Rindy berdiri di dekat pagar balkon, menatap bulan yang bersinar terang dan bintang-bintang yang nampak bertaburan.


"Rin!"panggil Anand membuat Rindy spontan menoleh ke pada Anand. Sudah lama Anand tidak memanggil namanya. Tapi tiba-tiba pria itu memanggil nama nya.Rindy menatap Anand yang berdiri di sampingnya, pria itu nampak menatap gemerlapnya langit malam. Sesaat Rindy terpesona dengan wajah tampan dengan rahang kokoh dan hidung mancung milik Anand. Wajah pria yang sudah menjadi suaminya itu terlihat semakin tampan karena cahaya bulan yang menerpa wajahnya.


Anand memutar tubuhnya menghadap Rindy, menatap wajah wanita yang dicintainya itu dengan tatapan sendu,"Setelah sekian lama kita hidup bersama, apakah tidak sedikit pun kamu mencintai aku?"tanya Anand menatap lekat manik mata istrinya.


"Tidak,"jawab Rindy seraya memalingkan wajahnya.


"Kenapa?"tanya Anand masih menatap Rindy yang memalingkan wajahnya.


"Aku tidak bisa,"sahut Rindy tanpa mau menatap Anand.


Anand tersenyum masam mendengar jawaban dari Rindy. Selama ini, Anand sudah berusaha dengan berbagai macam cara untuk membuat Rindy bahagia dan mencintai nya. Namun hati Rindy seolah dingin bagai es di kutub Utara yang enggan mencair. Setelah berjuang tanpa henti namun tetap tidak bisa mencairkan dinginnya hati Rindy, akhirnya Anand pun mengambil sebuah keputusan.


"Walaupun kamu tidak pernah percaya, atau mungkin sulit untuk percaya pada setiap kata yang ku ucapkan. Aku akan tetap mengatakan apa yang ingin aku katakan,"


"Jika aku pernah melakukan hal terbaik dalam hidupku, itu adalah ketika aku menyerahkan hati ku kepadamu. Bersamamu, aku bahkan tidak bisa melihat diriku sendiri dan hanya bisa melihatmu. Mungkin kamu bosan mendengar kata-kata cinta ku, dan muak melihat diriku. Namun dalam hati ku, aku tetap mencintai mu,"


"Aku tidak tahu bagaimana penilaian mu terhadap ku, dan bagaimana perasaan mu pada ku. Tapi satu hal yang pasti, aku mencintaimu. Bagiku, kebahagiaan mu adalah prioritas ku. Dan aku ingin menghabiskan sisa hidup ku bersamamu. Namun, jika kebahagiaan mu adalah berpisah dari ku, maka aku akan melepaskan mu,"Rindy spontan menoleh pada Anand saat mendengar kata-kata Anand itu.

__ADS_1


Anand kembali memutar tubuhnya dengan tangan yang memegang pagar balkon. Kepalanya menengadah menatap langit,"Aku tidak ingin keserakahan ku untuk memiliki mu akan membuat hatiku dan hatimu berdarah. Jika aku terus memaksamu berada di sisiku, tidak akan ada yang bahagia, baik itu aku atau pun kamu,"


"A.. apa maksud mu?"tanya Rindy dengan suara bergetar.


"Masa lalu adalah pilihan yang telah kita lalui. Masa depan adalah pilihan yang harus kita rencanakan. Setelah anak dalam kandungan mu lahir, aku akan mengurus surat perceraian kita. Jangan khawatir! Aku akan tetap membiayai hidup kalian sepenuhnya.Setelah kamu melahirkan, kamu boleh tinggal di manapun yang kamu suka, termasuk di rumah ini. Karena rumah ini aku beli atas namamu.Dan jika kamu tidak ingin merawat anak ku, ijinkan aku yang merawat nya,"


"Kamu tahu? Hubungan yang baik tidak terjadi begitu saja, semua itu membutuhkan waktu, kesabaran, dan dua orang yang benar–benar ingin bersama. Namun nyatanya, hanya aku yang ingin kita bersama. Pada akhirnya, dalam wujud apapun aku, aku tidak pernah bisa memilikimu seutuhnya. Memiliki cinta mu tapi tidak bisa memiliki tubuh mu. Memiliki tubuh mu, tapi tidak bisa memiliki cintamu,"Anand tersenyum hambar kemudian kembali memutar tubuhnya menatap Rindy.


"Tidurlah! Tidak baik jika tidur terlalu malam,"setelah berbicara panjang lebar, dan mengucapkan kalimat ambigu, Anand melangkah keluar dari kamar itu meninggalkan Rindy yang masih terdiam mematung.


Mendengar kata demi kata yang terucap dari mulut Anand membuat Rindy tidak bisa berkata-kata. Tubuhnya kaku, lidahnya terasa kelu dan mulut nya seakan terkunci.


"Dia benar-benar ingin melepaskan aku? Berhenti memperjuangkan aku? Apakah benar, ini yang aku inginkan? Kenapa aku sedih dan menangis saat dia setuju berpisah dari ku? Kenapa?"gumam Rindy dengan air mata yang masih menetes dari sudut matanya.


Anand keluar dari kamar yang sudah beberapa bulan ini ditempatinya bersama Rindy. Memilih tidur terpisah dari Rindy di kamar lain. Bahkan selama mereka tidur bersama, Rindy sering kali menolak untuk melayani nya. Tapi Anand tetap berusaha bersabar dan memaklumi nya.


Namun sebagai manusia biasa, Anand juga mempunyai batas kesabaran dan toleransi. Merasa lelah dan memilih berhenti. Karena merasa sia-sia dengan semua pengorbanan dan perjuangan yang nyatanya tidak dianggap berarti.


Anand membanting tubuhnya di atas ranjang. Berbaring dengan posisi terlentang. Melipat kedua tangannya dan menjadikan nya sebagai bantal.


"Aku adalah buku usang yang kau simpan di lemari tua. Aku adalah timbunan surat yang tak pernah engkau baca. Aku adalah puisi yang tak pernah kau tuliskan. Aku tetap tak terlihat meski aku tepat di depan matamu. Namun setidaknya, aku sudah berjuang, meskipun dari awal selalu engkau abaikan. Meski pada akhirnya, tak pernah ternilai di matamu,"

__ADS_1


"Anand, maaf! Aku tidak ingin memaksa Rindy untuk tetap bersama kita. Karena nyatanya, kita berdua tidak ditakdirkan untuk memiliki nya. Kamu memiliki raga nya tapi tidak mendapatkan cintanya. Dan aku memiliki cintanya tapi tidak bisa memiliki raga nya. Bahkan setelah kita menjadi satu pun, kita tetap tidak bisa memilikinya seutuhnya,"gumam Rio yang berwujud Anand tersenyum kecut seraya menatap langit-langit kamar nya.


Sedangkan Rindy berjalan dengan pelan masuk ke dalam kamar. Perlahan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Menoleh ke sisi ranjang yang lainnya, tempat Anand biasa berbaring. Namun tempat itu kosong, entah dimana Anand berada, Rindy tidak tahu.


Waktu terus berputar, detik demi detik berlalu menjadi menit, menit demi menit pun berlalu menjadi jam. Sudah pukul dua belas malam, tapi Rindy belum juga bisa memejamkan matanya. Anand pun belum juga masuk ke dalam kamar.


"Kemana dia? Kenapa belum juga masuk ke dalam kamar?"gumam Rindy yang belum juga bisa terlelap.


...🌟 Walaupun tak di anggap dan diabaikan, namun tetap bertahan. Saat dijauhi namun tetap mencintai....


...Jika suatu saat dia sudah lelah lalu memilih pergi, maka jangan pernah sesali."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2