
Anand duduk di samping Darlen yang sedang mengemudi.Merasa lega karena akhirnya sudah bisa mengungkap semua kebusukan Ringgo.
"Akhirnya Ringgo ditangkap juga. Saya yakin, yang menjebak saya hingga masuk penjara pasti juga dia. Hanya saja, saya tidak punya bukti yang kuat untuk membersihkan nama saya,"ujar Darlen dengan mata yang fokus pada jalan raya.
"Apa karena kamu selalu berusaha menjauhkan Anand dari hal-hal negatif? Anand bahkan tidak sempat berterima kasih padamu atas semua kebaikan dan kesetiaan mu. Bahkan dia tidak tahu jika kamu dipenjara karena di jebak orang,"ujar Anand membuat Darlen mengerutkan keningnya.
"Tuan..."Darlen tidak bisa berkata-kata. Merasa bingung dengan kata-kata Anand yang bicara seolah-olah dia bukan Anand.
"Apakah kamu percaya jika roh seseorang bisa pindah ke tubuh orang lain?"tanya Anand menatap lurus ke depan tanpa menoleh pada Darlen.
Darlen menoleh pada Anand, menatap pria yang sudah bertahun-tahun dikenalnya itu. Entah mengapa bulu kuduk nya menjadi berdiri.
"Tu..tuan. Tuan ini bicara apa?"tanya Daren dengan senyum yang terlihat dipaksakan, matanya kembali fokus pada jalan. Udara di dalam mobil tiba-tiba terasa begitu dingin tapi Darlen malah berkeringat.
"Aku ditabrak pengendara motor hingga aku terpental, dan nahas nya, orang yang menabrak aku juga terpental tepat di sebelah ku. Karena setelah menabrak ku, dia menabrak truk. Tiba-tiba ada kilat dan petir yang menyambar di antara tubuh kami yang tergeletak bersebelahan. Aku melihat rohnya keluar dari tubuhnya kemudian hilang. Setelah itu, aku merasa roh ku tersedot oleh tubuh orang yang menabrak ku. Saat aku terbangun, aku benar-benar berada di tubuh orang yang menabrak aku. Apa kamu percaya jika ada cerita semacam itu?"tanya Anand seraya menoleh pada Darlen bertepatan dengan Darlen yang menoleh pada Anand, sehingga mereka saling bertatapan untuk beberapa detik.
"Tu..tuan. Kenapa Tuan bercerita hal-hal yang mistis seperti itu,"ucap Darlen seraya mengusap keringat dingin di wajahnya. Saat ini matahari sudah tenggelam dan hari beranjak malam. Membuat Darlen merasa semakin horor saat mendengar cerita Anand.
"Aku hanya bercanda. Kenapa kamu jadi serius seperti itu?"tanya Anand kemudian menepuk pelan pundak Darlen seraya tertawa. Anand melihat Darlen nampak ketakutan, karena itu Anand menghentikan ceritanya.
"Tuan bisa saja,"Darlen kembali mengusap peluh diwajahnya, tapi kali ini dengan perasaan lega.
Tiba-tiba handphone Anand berdering. Pria itupun mengernyitkan keningnya saat melihat panggilan masuk dari Rindy. Sedangkan selama ini Rindy sangat jarang menghubunginya. Anand pun segera mengangkat panggilan itu
"Halo, sayang!"sapa Anand dengan senyuman menghiasi bibirnya.
"Tuan, cepatlah pulang! Nyonya jatuh dan mengalami pendarahan. Kami sudah menelpon ambulan,"terdengar kepanikan dari suara di ujung telepon.
"Apa? Sebentar lagi aku sampai,"ucap Anand yang seketika wajahnya menjadi panik,"Len, cepat ngebut! Istriku mengalami pendarahan,"titah Anand.
"Baik, Tuan,"sahut Darlen menginjak pedal gas lebih dalam lagi
Karena saat ART Anand menelpon tadi, mereka memang sudah dekat dengan rumah. Maka tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah.
"Len, tunggu di sini! Kamu antar kami ke rumah sakit,"ujar Anand seraya keluar dari dalam mobil.
"Baik Tuan,"sahut Darlen.
Anand berlari masuk ke dalam rumah dan menemukan Rindy yang dibaringkan di atas sofa sedang di tungguin beberapa ART.
"Sayang bertahanlah!"ucap Anand langsung menggendong Rindy menuju mobilnya.
"Anand, sakit sekali,"ucap Rindy mencengkram lengan Anand untuk melampiaskan rasa sakitnya.
"Kita akan segera ke rumah sakit,"ucap Anand berjalan cepat ke arah mobilnya.
__ADS_1
Seorang ART membukakan pintu mobil dan Anand pun langsung masuk. Anand duduk memangku kepala Rindy dengan menyembunyikan kepanikan nya, agar bisa menenangkan Rindy.
"Anand, sakit,"gumam Rindy mencengkram lengan Anand.
"Sabar sayang! Kita akan segera sampai ke rumah sakit,"ucap Anand seraya mengelus perut Rindy,, berharap bisa mengurangi rasa sakitnya.
Sedangkan Darlen berusaha mengemudi lebih kencang lagi. Matanya fokus ke jalanan, menyalip beberapa mobil hingga akhirnya mereka tiba di rumah sakit.
"Kamu harus bertahan, sayang!"ucap Anand ikut mendorong brankar Rindy.
Rindy yang mengalami pendarahan, kesadarannya pun menurun. Menatap suaminya yang terlihat panik ikut mendorong brankar nya.
"Rio!"gumamnya menatap wajah suaminya yang berangsur berubah menjadi wajah Rio, pria pertama yang dicintainya.
"Anda suami ibu Rindy?"tanya seorang dokter saat Rindy sudah di bawa ke ruang bersalin.
"Lakukan apapun yang terbaik untuk istri saya, dok!"ucap Anand sebelum dokter bertanya lebih lanjut.
"Kami akan melakukan operasi caesar, mohon anda menandatangani pernyataan persetujuan nya,"ucap dokter itu.
"Baik, dok!" sahut Anand.
Di dalam ruangan operasi, Rindy yang mengalami pendarahan terpaksa di bius total. Dalam keadaan tidak sadarkan diri, Rindy bermimpi bertemu Anand dan Rio yang berdiri bersebelahan.
"A.. Anand? Rio? gumam Rindy menatap kedua orang yang sama-sama tampan walaupun dengan wajah yang berbeda.
"Rin, kami sama-sama mencintai mu. Ijinkan kami menjagamu secara bersama-sama,"ucap Rio tersenyum lembut.
Rindy melihat Anand dan Rio saling berpegangan. Keduanya saling tersenyum, kemudian saling berpelukan. Namun tiba-tiba Rindy melihat keduanya menjadi satu. Rindy melihat wajah Anand kadang berubah menjadi Rio, lalu kembali menjadi Anand.
"Kami adalah satu. Dan kami akan bersama-sama menjagamu,"ucap pria di depannya itu yang wajahnya terkadang seperti Anand dan kadang seperti Rio.
Rindy perlahan membuka matanya. Wajah Rio tersenyum menatap dirinya, menggenggam tangan nya dan juga mengelus kepala nya.
"Terimakasih tetap bertahan untuk kami! Aku mencintaimu!"ucap Rio kemudian mengecup kening Rindy lembut.
"Rio!"gumam Rindy lirih tapi masih bisa di dengar Rio yang berada di dalam tubuh Anand.
Anand menatap Rindy dengan ekspresi terkejut,"Kamu mengenaliku?'"tanya Anand nampak terkejut.
Rindy mengangguk kecil dan tersenyum lembut dengan butiran kristal yang jatuh dari pelupuk matanya. Anand menghapus air mata Rindy dengan lembut.
"Syukurlah. Jangan menangis! Aku tidak suka melihat mu menangis,"ucap Anand mengusap lembut kepala Rindy.
Seorang perawat datang seraya menggendong putra Anand dan Rindy. Kemudian membaringkan bayi mungil yang masih memejamkan mata itu di samping Rindy.
__ADS_1
"Lihatlah! Putra kita tampan sekali,"ucap Anand dengan wajah yang nampak bahagia mengusap lembut kepala putranya.
"Ri, tolong tandatangani beberapa berkas ini! Setelah itu aku akan kembali ke kantor,"ucap Putra yang baru saja masuk,"Eh, Rin, selamat ya! Kamu telah memberiku keponakan yang tampan,"ucap Putra saat menyadari bahwa Rindy telah sadar dan melihat putra sahabat nya yang dibaringkan disebelah Rindy.
"Terimakasih!"ucap Rindy tersenyum tipis.
"Put, hari ini kamu gantikan aku menemui klien, ya?!"pinta Anand.
"Nggak masalah. Tapi jangan lupa bonus akhir bulan, ya, Ri!"ujar Putra seraya menaik turunkan alisnya.
"Beres. Kamu tenang saja,"sahut Anand menyerahkan berkas yang sudah ditandatangani nya pada Putra. Setelah Anand selesai menandatangani berkas-berkas yang dibawanya, Putra pun pamit untuk kembali ke kantor.
"Rin, gimana kabar kamu?"tanya Nadine yang tiba-tiba masuk bersama Jefri.
"Eh, kakak ipar,'ledek Anand yang sudah tahu bahwa belakangan ini Nadine dan Jefri menjalin hubungan sebagai kekasih.
"Ah, manis sekali! Ternyata calon adik ipar ku ramah sekali,"balas Nadine.
"Aku geli mendengar cara kalian bertegur sapa,"ujar Rindy menahan tawa, agar tidak berpengaruh pada jahitan bekas operasi di perutnya.
"Apa kabar, kak?"tanya Anand pada Jefri.
"Baik. Sebentar lagi ayah dan ibu juga kesini,"sahut Jefri,"Selamat, ya! Kamu sudah punya jagoan,"ucap Jefri tulus.
"Terimakasih, kak! Ngomong-ngomong, kapan kakak dan Nadine akan meresmikan hubungan kalian?"tanya Anand seraya menyodorkan minuman dingin pada Jefri.
"Secepatnya,"ucap Jefri tersenyum tipis menerima minuman yang diberikan oleh Anand.
Tak lama kedua orang tua Rindy dan juga Pramana pun datang. Mereka nampak bahagia dengan kelahiran cucu pertama mereka. Setelah semua orang pergi, kini tinggal Anand dan Rindy.
"Aku tidak menyangka bisa hidup dengan mu, walaupun harus berada di dalam tubuh orang lain,"ujar Anand dengan tangan menggenggam tangan Rindy.
"Maaf! Selama ini aku tidak mengenalimu,"ucap Rindy penuh sesal.
"Tidak apa. Ini memang hal yang di luar logika. Wajar saja kamu tidak percaya. Tapi satu yang pasti, dalam wujud apapun aku, aku tetap mencintaimu,"ucap Anand jujur adanya.
"Aku juga mencintaimu,"ucap Rindy dengan tatapan lembut, membuat Anand memeluknya. Setelah sekian lama, akhirnya Rindy mengatakan kalimat yang ingin selalu didengar Rio dalam wujud Anand dari Rindy.
...π"Cinta itu masalah hati, bukan rupa. Cinta tak memandang cantik atau tampan, miskin atau kaya. Cinta hanya butuh satu kata "NYAMAN".π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
__ADS_1
.
The end