
Di hadapan pintu kamar Ivana, bersimpuh seorang wanita yang menunggu Ivana keluar dari kamarnya. Sudah hampir satu jam Tuti berada di sana dengan perasaan yang dipenuhi rasa sesal yang menyesakkan.
“Lagi ngapain kamu di sini?” tanya Ivana yang terkejut saat membuka pintu kamarnya.
“Selamat pagi nyonya.” Sapa Tuti tanpa berani mengangkat wajahnya dan menatap Ivana. Ia terlalu malu pada majikannya yang sudah mengetahui apa yang ia lakukan selama ini dengan Brams.
Ivana melihat butiran air mata yang menetes dilantai. Tidak hanya satu melainkan beberapa dan seperti tidak bisa terhenti.
“Bangunlah Tuti, saya tidak biasa membiarkan seseorang berlutut dihadapan saya sekalipun orang itu tidak tahu diri seperti kamu.” Ucap Ivana dengan tidak suka.
Melihat Tuti membuat dadanya sesak seperti dihimpit batu yang besar.
Tuti tidak lantas bangkit ia hanya menangis sesegukan menyesali apa yang sudah ia lakukan dengan Brams. Andai laki-laki itu tidak mengancamnya, andai ia memiliki keberanian yang sama besar dengan Ima dan andai ia mau memperjuangkan harga dirinya seperti yang dilakukan Rachel, mungkin ia tidak akan merasa seperti ditelanjangi oleh tatapan Ivana.
“Saya tau, kesalahan saya tidak bisa dimaafkan nyonya. Saya juga tidak memaksa nyonya untuk memaafkan saya, tapi hanya ini yang bisa saya lakukan. Saya meminta ampunan nyonya dengan sepenuh hati.” Ucap Tuti dengan tersedu-sedu.
Andai ia tidak tunduk pada ancaman Brams, mungkin ia tidak akan merasa serendah ini.
“Kamu benar, saya tidak tahu apa saya bisa memaafkan kamu atau tidak. Sejujurnya, saya sangat ingin mencabik-cabik kamu Tuti. Mempermalukan kamu lebih dari rasa malu yang saya rasakan saat ini.”
“Tapi saya bisa apa, saya bahkan tidak tahu harus seperti apa memperlakukan kamu. Apa dengan menampar kamu kemarahan saya akan hilang? Atau dengan menyiksa kamu kekecewaan saya akan berkurang? Tentu saja tidak, bukan?”
Susah payah Ivana menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia menengadahkan kepalanya untuk menghalau cairan bening yang terasa berat seperti bersikeras ingin menetes.
“Nyonya, saya tidak seberani Ima dan saya juga tidak sekuat non Rachel. Tapi saya tidak pernah berniat menyakiti apalagi mempermalukan nyonya. Sungguh, saya tidak pernah sedikitpun berpikir untuk menyakiti nyonya.”
“Saya hanya manusia bodoh yag tidak punya apapun untuk mempertahankan harga diri saya. Tapi sungguh, saya tersiksa nyonya.” Ungkap Tuti dengan tangis tersedu-sedu.
Ia membungkuk seraya memegangi kaki Ivana, memohon ampun.
Ivana tidak menimpali. Ia memalingkan wajahnya dari Tuti seraya mengusap air matanya yang hampir menetes. Bukankah ia sudah berjanji kalau ia tidak akan menangis lagi, demi Brandon?
__ADS_1
Walau tidak ada pembenaran untuk semua tindakan Tuti tapi ia bisa memahami bagaimana perasaat takut dan malu yang Tuti rasakan.
“Saya tidak akan menuntut kamu. Tapi saya harap, saya tidak akan pernah bertemu kamu lagi.” Ucap Ivana pada akhirnya.
Ia pun mengibaskan kakinya dari cengkraman Tuti dan memilih pergi dari hadapan wanita itu.
“Maafkan saya nyonya, maafkan saya….” ucap Tuti lirih. Ia tersungkur bersujud di tempatnya. Ia sadar benar dengan kesalahannya dan sekarang tidak ada yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki semuanya.
****
Di meja makan, Ivana melihat Rachel dan Nata. Dua orang itu menatap Ivana yang melewati keduanya tanpa sepatah katapun. Ia bahkan memalingkan wajahnya saat sadar Rachel memandanginya.
“Kakak gak sarapan?” tanya Nata.
“Aku gak selera.” Timpal Ivana. Ia lebih memilih masuk ke dapur dan mengambil air minum.
Nata menghembuskan nafasnya kasar, ia bisa memahami perasaan Ivana saat ini. Tapi ia tidak bisa membiarkan Ivana menyiksa dirinya sendiri.
Mata Nata masih mengikuti arah gerak Ivana yang kembali melewatinyaa dan membawa segelas susu. Mungkin untuk Brandon.
“Kakak mau membiarkan laki-laki bejat itu menghancurkan kakak dan membuat kakak tersiksa seperti ini?” tanya Nata dengan tegas.
Langkah kaki Ivana pun terhenti. Ia menoleh Nata dengan kesal.
“Memangnya apa yang kamu harapkan?" Mata Ivana terlihat menyalak.
"Kamu ingin melihatku sarapan dengan tenang, begitu? Apa kamu lupa kalau kamu juga pernah terpuruk selama bertahun-tahun karena seorang perempuan?!” nada suara Ivana meninggi tanpa ia sadari.
Rachel yang sedang memainkan makanannya pun ikut tertunduk. Ia menaruh sendok di tangannya.
Entah mengapa jantungnya seperti berhenti berdetak mendengar ucapan Ivana barusan.
__ADS_1
“Tidak perlu mengungkit masa lalu. Aku hanya ingin kakak tidak terus-terusan meratapi laki-laki itu.” Ucap Nata tidak terima.
Ivana menoleh Nata dan tersenyum sinis pada adiknya.
“Masalah kamu adalah masa lalu dan masalah aku, baru terjadi semalam Nata. SE-MA-LAM!”
“Kamu pikir itu mudah buat aku? Aku bahkan masih mendengar suara mas Brams yang terengah-engah saat merayu Rachel. Aku juga bisa membayangkan bagaimana buasnya tatapan mas Brams terhadap Rachel dan bagaimana dia menghabiskan hari-harinya dengan menjamah pelayan bahkan menidurinya.”
“Aku nyaris gila Nata. Aku nyaris gila!” seru Ivana hingga hampir tumbang.
Dengan cepat Rachel beranjak dan menghampiri Ivana. Ia memeluk kakak iparnya dengan erat.
“Aku nyaris gila Chel, aku nyaris gila.” Lagi Ivana mengulang kalimatnya dengan tersendat-sendat di antara tangisnya. Ia mencengkram baju Rachel dengan erat, berusaha berpegangan.
Ia gagal mengendalikan dirinya dan pada akhirnya ia kembali menangisi Brams. Menangisi pengkhianatan yang dilakukan Brams di belakangnya.
Andai tidak ada Brandon yang di hidupnya, entah kegilaan apa yang akan ia lakukan kemudian.
“Kak, mungkin kata-kata kalau kakak harus kuat tidak akan pernah cukup tapi, aku tahu kakak punya alasan untuk bertahan. Paling tidak untuk Brandon.” Ucap Rachel, lirih di telinga Ivana.
Ivana terangguk pelan dengan tangis yang belum bisa ia hentikan.
Di tempatnya, Nata memandangi dua wanita itu dengan perasaan tidak menentu. Semakin besar saja kemarahannya pada Brams. Karena laki-laki itu tidak hanya menghancurkan mental Rachel tapi juga Ivana, Brandon dan korban lainnya yang entah ada berapa orang.
Nata termenung beberapa saat, sebelum kemudian ia pun menghampiri Ivana. “Maaf kalau aku terlalu keras sama kakak.” Ucapnya seraya mengusap kepala Ivana.
Ivana hanya menggeleng, ia sadar usaha Nata untuk mengalihkan pikirannya tidak salah. Hanya saja, ia belum siap dan belum menemukan waktu yang tepat untuk melepaskan semua bebannya.
Pada akhirnya, Nata membiarkan saja Ivana menangis di pelukan Rachel. Ia percaya, setelah ini, Ivana akan lebih kuat lagi.
*****
__ADS_1