
Rindy hanya diam menatap jalanan tanpa mau bertanya pada Anand. Kemana tujuan mereka saat ini? Rindy tidak tahu. Jalanan ini tidak pernah dilewati oleh nya. Setelah beberapa menit, Anand berhenti di sebuah gerbang rumah, kemudian membunyikan klakson. Tak lama kemudian, pintu gerbang itu pun terbuka dan Anand pun kembali melajukan mobilnya memasuki rumah itu.
"πΏππ π’ππ’πππ¬π π πͺ π₯πͺπ‘ππ£π π π π§πͺπ’ππ π ππ’π?"gumam Rindy setelah melihat rumah megah di depannya. Beberapa hari yang lalu, Rindy melamun saat dalam perjalanan ke rumah yang dikatakan Anand adalah rumah mereka itu. Jadi Rindy tidak tahu jalan ke arah rumah mereka itu. Namun setelah melihat bagian depan rumah itu, Rindy baru ingat jika itu rumah mereka.
"Malam ini, kita menginap di sini,"ucap Anand seraya melepaskan sabuk pengaman nya.
Rindy menghela napas berat kemudian melepaskan sabuk pengaman nya. Rindy berjalan lebih dulu, masuk ke dalam rumah itu dan langsung berjalan ke kamar yang pernah ditunjukkan oleh Anand.
Anand menghela napas menatap punggung Rindy yang berjalan mendahului nya,"Sedang tidak hamil saja sudah sensitif, apalagi sedang hamil,"gumam Anand lirih, kemudian berjalan menghampirinya seorang wanita paruh baya.
"Bik, tolong buatkan makan malam, ya!"pinta Anand pada wanita paruh baya itu.
"Baik, Tuan,"sahut wanita itu bergegas pergi ke dapur.
Anand berjalan menuju kamarnya, menyusul Rindy. Saat sudah masuk ke dalam kamarnya, Anand melihat Rindy sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Anand duduk di tepi ranjang di dekat Rindy, namun Rindy malah membalikkan tubuhnya membelakangi Anand, membuat Anand kembali menghela napas berat.
"Sayang, kita harus bicara. Sampai kapan kita akan seperti ini? Kamu selalu diam tanpa alasan yang jelas. Katakan pada ku, apa yang tidak kamu suka dan apa yang membuat kamu marah. Jika kamu tidak bicara, bagaimana aku bisa tahu? Aku bukan cenayang yang bisa memprediksi isi hatimu, sayang,"ujar Anand berusaha bersabar.
"Siapa juga yang bilang kalau kamu cenayang,"gumam Rindy yang masih bisa di dengar oleh Anand.
Mendengar kata-kata Rindy itu, Anand kembali menghela napas,"Dari awal, kamu juga sudah tahu, jika aku memiliki hubungan dengan banyak wanita. Namun sekarang aku sudah berubah, sayang. Aku tidak lagi berhubungan dengan wanita selain hubungan pertemanan dan hubungan kerja. Aku mohon percayalah padaku!"
__ADS_1
"Bagaimana kita akan menjalani masa depan, jika kamu tidak mau menerima masa laluku? Aku ingin kita menyongsong masa depan dengan lembaran baru. Walaupun aku tidak bisa merubah apa yang telah terjadi, tidak bisa memutar waktu, apalagi menghapus masa lalu. Tapi aku akan berusaha untuk menjadi lebih baik, sayang,"
"Mulai saat ini dan selamanya, aku berjanji, hanya kamu satu-satunya wanita dalam hidup ku. Satu-satunya wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakku. Aku tidak akan menjalin hubungan spesial dengan wanita manapun selain kamu. Jadi, kamu jangan pernah cemburu..."
"Cemburu? Siapa yang cemburu?'"sambar Rindy memotong kata-kata Anand dengan bibir yang mengerucut dan langsung duduk.
Anand sempat terkejut dengan reaksi Rindy, namun segera memperbaiki perkataan nya,"Tidak, kamu tidak cemburu, hanya marah,"ucap Anand lembut, dalam hati menahan tawa. Merasa gemas dengan ekspresi istrinya saat ini. Jelas-jelas cemburu, tapi tidak mau mengaku. Namun bagi Anand, lebih baik Rindy marah padanya dari pada Rindy mendiamkan nya.
"Siapa juga yang marah?"ketus Rindy memalingkan wajahnya.
"Terus, kalau tidak cemburu dan tidak marah, apa, dong? Merajuk?"tanya Anand dengan seulas senyum sengaja menggoda Rindy.
Rindy tidak merespon kata-kata Anand, dan masih menampilkan wajah cemberut nya. Sejatinya Rindy merasa bingung, kenapa juga dia harus marah saat ada wanita yang mendekati suaminya. Apa benar dirinya cemburu? Kalau dia cemburu, bukankah artinya dia mencintai Anand? Rindy sungguh tidak mengerti dengan perasaan nya sendiri.
Rindy terdiam dengan wajah yang masih cemberut. Tidak bisa berkata apa-apa untuk menyanggah kata-kata Anand. Karena kenyataan nya, semua yang dikatakan oleh Anand adalah benar. Entah berapa banyak wanita yang sudah menjadi teman ranjang suaminya. Apakah dia akan terus-menerus bersikap seperti ini jika ada wanita dari masa lalu Anand?
Anand meraih jemari tangan Rindy dan menggenggamnya dengan lembut,"Tadi, kamu belum makan. Kamu pasti lapar. Apalagi saat ini kamu sedang mengandung, kamu harus banyak makan agar tubuhmu dan juga bayi dalam kandungan mu tidak kekurangan gizi. Makan dulu, yuk!"ucap Anand lembut dengan tatapan teduh kepada Rindy.
Anand menarik tangan Rindy dengan lembut, membawanya ke ruang makan. Rindy yang perutnya memang terasa lapar pun tidak menolak.
"Apa makanan nya sudah siap, Bik?"tanya Anand pada ART-nya seraya menarik kursi untuk Rindy.
__ADS_1
"Sebentar, Tuan. Tinggal membawanya ke meja makan,"sahut ART Anand yang baru selesai memasukkan lauk ke dalam mangkuk.
Tak lama kemudian dua orang ART telah menghidangkan beberapa menu di atas meja. Menu yang tersusun rapi di atas meja itu nampak sangat menggugah selera. Apalagi saat aroma masakan di atas meja yang baru disajikan itu menguar di indera penciuman Rindy, perut Rindy menjadi semakin terasa lapar dibuatnya.
"Makalah!"ucap Anand dengan seulas senyum meletakkan nasi dan lauk pauk di depan Rindy, kemudian mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Di restoran tadi, Anand juga baru makan sedikit, sehingga saat ini Anand juga merasa lapar.
Akhirnya mereka pun makan tanpa berbicara apapun. Hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring lah yang terdengar.
...π"Jadikan masa lalu sebagai pelajaran berharga untuk memperbaiki masa depanmu. Jangan biarkan masa lalu menghentikan langkah mu."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
.
__ADS_1
To be continued