Menjadi Dia

Menjadi Dia
Gengsinya kulkas dua pintu


__ADS_3

“Lagi apa?” sebuah suara tiba-tiba mengagetkan Rachel yang sedang terduduk di depan meja riasnya.


Suara itu milik Nata yang tiba-tiba muncul dari belakang Rachel dan saat ini kepalanya tepat di samping Rachel.


Rachel segera menoleh karena kaget.


“Mas, aku kira siapa?” protes Rachel. Sepertinya ia harus terbiasa dengan tingkah suaminya yang sering mengagetkan seperti ini.


Nata tidak menimpali, ia hanya tersenyum kecil.


“Nulis apa?” dengan sudut matanya ia menunjuk buku catatan Rachel.


“Oh ini, aku lagi nyatet daftar situs yang bisa aku tonton untuk memahami anak istimewa seperti Brandon. Belakangan ini aku sering denger dia bergumam kayak percakapan gitu tapi aku gak terlalu paham. Nah, aku penasaran mau belajar karena aku yakin yang digumamkan Brandon bukan hal yang biasa.” Urai Rachel dengan semangat.


Nata tidak menimpali, ia memilih mengusap kepala Rachel beberapa saat sebelum kemudian membaringkan tubuhnya di kasur dan menyalakan televisi. Entah tayangan apa yang mau ditontonnya karena salurannya ia pindah-pindah.


“Kenapa gak di tandai aja situsnya di hp?” lanjut Nata yang masih penasaran.


“Emm bisa sih. Tapi mas inget gak ajaran confusius  tentang istilah, ‘Apa yang saya dengar, saya lupa. Apa yang saya lihat, saya ingat. Apa yang saya kerjakan, saya pahami.’ Nah, nulis ini salah satu cara aku melakukan ‘saya kerjakan.’” Ujar Rachel dengan penuh kesungguhan.


“Tapi, saya catat dan tandai di ponsel, saya kekinian.” Timpal laki-laki itu dengan dingin.


“Hahahaha… mas bisa aja. Tapi bener juga sih, di hp aku kan bisa nyatet juga ya. Tapi, beda aja sensasinya sama nulis di buku. Kalau suatu waktu aku buka lagi bukunya, rasanya gimanaaa gitu liat tulisan sendiri.” Rachel masih beralasan sambil memeluk bukunya.

__ADS_1


Nata tersenyum kecil melihat ekspresi istrinya yang menurutnya lucu.


“Mas mau nonton apa sih, kok di pindah-pindah terus salurannya?” tanya Rachel penasaran. Ia menutup bukunya dan menaruhnya di dalam laci. Lantas ia beranjak menghampiri Nata.


“Gak tau gak ada yang rame.” Ucapnya kesal.


Akhirnya ia memilih menonton tayangan ulang bola.


“Kalau jarang nonton tv, kita emang jadi gak tau jadwal tayang acara yang menarik buat kita. Selama setahun ini kan tv ini cuma pajangan cuma beberapa kali dinyalain ya salah satunya sekarang.” Rachel duduk di samping Nata dan menyelimuti kakinya.


“Emang mas mau nonton apa, nyari iklan aku ya?” Goda Rachel sambil menyandarkan kepalanya ke headboard. Ia juga menggunakan satu bantal untuk menyangga kepalanya.


“Nggak juga.” Sahut Nata sambil memalingkan wajahnya dan mengambil majalah bisnis di atas meja. Pura-pura sibuk kan kulkas dua pintu ini kalau sudah ketahuan maksudnya.


“Ooohh nggak ya. Ya udah gak apa-apa. Tapi aku mau ngasih tau aja nih, kata kak Fany iklan aku itu terakhir tayang dailynya jam tujuh malam. Ya mungkin bentar lagi tayang.” Terang Rachel saat melihat jam yang hampir jam tujuh malam.


Nata tidak menjawab, ia tetap dengan majalahnya yang sebenarnya tidak ia baca. Ia fokus menyimak cicitan Rachel dengan isi kepala yang berdegung antara gengsi dan bangga. Mana kira-kira yang akan menang?


Nata sedikit melirik Rachel dan ia melihat istrinya itu sedang tersenyum menatap layar tv sambil menyandarkan kepalanya ke headboard. Entah alasan apa yang membuat ia tiba-tiba menarik bantal sandaran Rachel hingga lepas.


“Aduh!” Rachel mengaduh. Tapi kemudian kepalanya sekarang bersandar di bahu Nata.


“Bantalnya ngalangin, ngusap-ngusap muka aku. Gak nyaman.” Ucap kulkas dua pintu yang sedang beralasan.

__ADS_1


“Gak apa-apa di tarik tanpa permisi juga, yang penting jatohnya ke tempat yang tepat. Soalnya kayak gini ternyata lebih nyaman.” Ucap Rachel yang tersenyum kecil.


Ia melirik suaminya dan Nata pura-pura tidak peduli atapun mendengar. Ia tetap dengan majalah di tangannya.


“Mas,” panggil Rachel.


“Apa?” suaranya meninggi gara-gara jantungnya berdebar kencang. Iya, jantungnya berdebar kencang mendapati Rachel bersandar di bahunya.


“Majalahnya kebalik sayang.” Rachel bersuara lirih. Ia berusaha menahan tawanya demi tidak membuat suaminya malu.


“Aku sengaaja.” Nata beralasan.


“Lagi nguji ilmu ya?” ledek Rachel.


“Kamu bawel!” dengusnya kesal.


Ia menutup majalahnya dan menaruhnya di atas meja. Tanpa aba-aba ia menoleh Rachel lalu mengecup bibir istrinya dengan buas. Mata Rachel langsung membulat karena kaget.


“Jangan selalu menggodaku.” Protes Nata yang melepaskan sesaat kecupannya dan menanduk hidung Rachel dengan hidungnya.


“Aku gak menggoda. Tuh liat, iklan aku tayang.” Rachel menunjuk televisi dihadapan mereka.


“Biarin.” Kukuh Nata. Ia kembali mengecup bibir kali ini lebih dalam dan buas.

__ADS_1


“Rachel, gimana rasanya dicium kulkas dua pintu? Ikut beku gak? Hahahaha….”


*****


__ADS_2