Menjadi Dia

Menjadi Dia
39. Diam


__ADS_3

Anand melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Sesekali melirik istrinya yang duduk di samping nya. Wanita itu menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Membayangkan bagaimana hari-hari yang akan dilalui nya nanti.


Hidup bersama suami yang suka jajan di luar, membayangkan itu membuat dadanya sesak. Seperti inikah cara suaminya mencintai nya? Atau kah ini salahnya yang tidak memberikan perhatian dan cinta untuk suaminya?


Anand hanya bisa menghela napas panjang. Tidak tahu harus bagaimana membuat Rindy mencintai nya. Harus bagaimana agar wanita yang dicintainya itu bahagia. Anand sudah memberikan segalanya untuk Rindy, bahkan membuat istrinya itu mengandung darah daging nya. Namun ternyata semua yang dilakukannya itu belum bisa meluluhkan hati istri nya.


"Sayang, kita sudah sampai,"ucap Anand seraya mengelus lengan Rindy, membuat Rindy tersentak.


Rindy melihat sekeliling nya,"Ini rumah siapa?"tanya Rindy melihat sebuah rumah yang megah di depannya.


"Rumah kita,"sahut Anand dengan seulas senyum kemudian melepaskan sabuk pengaman Rindy. Sedangkan Rindy masih terpaku melihat rumah yang ada di depannya itu. Anand keluar dari mobil kemudian membuka pintu mobil bagian penumpang di sebelah kursi kemudi, tempat Rindy duduk.


"Ayo, kita lihat rumah kita! Jika ada yang tidak kamu sukai, aku akan merenovasinya,"ujar Anand seraya menarik lembut tangan Rindy agar keluar dari dalam mobil. Anand menggandeng Rindy masuk kedalam rumah yang lebih megah dan mewah dari rumah mertuanya.


Rindy mengamati rumah bergaya Eropa itu. Semua perabotan yang terlihat mahal tersusun rapi. Bahkan para asisten rumah tangga menyambut kedatangan mereka dengan berjajar rapi di samping kanan dan kiri mereka, menunduk menyambut mereka.


Anand membawa Rindy berkeliling rumah itu. Ada kolam ikan, kolam renang dan juga taman bunga dengan bunga yang bermekaran. Dapur yang rapi dengan peralatan memasak terbaru, dan juga beberapa ruangan lain. Hingga akhirnya mereka tiba di kamar yang akan mereka tempati.


Setelah melihat ruangan kamar itu, Rindy berdiri di balkon kamar itu dan melihat taman bunga yang ada di bawah sana. Namun tangan kekar Anand tiba-tiba melingkar di perut Rindy, memeluk Rindy dari belakang.


"Apa kamu menyukainya? Kita tidak akan tinggal di rumah papa lagi. Kapan pun kamu mau, kita akan pindah ke sini. Dan bila ada yang tidak kamu sukai, kita akan menyesuaikan dengan keinginan mu,"ujar Anand meletakkan dagunya di atas pundak Rindy, ikut menatap kebun bunga yang ada di bawah sana.


Rindy tetap diam tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut nya. Baginya, semua kemewahan ini tidak bisa membuatnya bahagia jika harus hidup bersama pria yang tidak bisa setia pada satu wanita.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kamu diam saja? Apa kamu marah karena aku pergi keluar kota, tapi tidak pamit padamu? Maaf, waktu itu, aku tidak tega untuk membangunkan kamu. Dan aku disana juga sangat sibuk, maaf jika kurang memperhatikan mu,"ucap Anand, tapi Rindy tetap saja diam.


Melihat Rindy tetap diam, Anand pun melepaskan pelukannya,"Rin, apa yang harus aku lakukan agar kamu mencintai ku? Apa yang harus aku lakukan agar kamu bahagia?"tanya Anand yang frustasi dengan sikap Rindy.


Rindy tertegun saat mendengar Anand memanggil nya dengan namanya, tidak lagi dengan panggilan sayang seperti akhir - akhir ini. Namun Rindy tetap diam seribu bahasa.


Anand membalikkan tubuh Rindy menghadap kearahnya, memegang kedua pundak Rindy dan menatap nya dengan lekat,"Katakan padaku! Kenapa kamu mendiamkan aku seperti ini? Apa salah ku? Aku bukan cenayang yang bisa meramal isi hati mu. Jika kau diam seperti ini, bagaimana aku bisa tahu apa yang membuat mu marah padaku? Tolong katakan padaku! Apa salahku padamu?"tanya Anand dengan lembut. Namun Rindy hanya menunduk dan tetap diam seribu bahasa.


Anand melepaskan tangan nya dari pundak Rindy,"Walaupun kamu membenciku, tapi jangan pernah membenci darah daging ku yang ada di dalam rahimmu. Dia tidak bersalah, tidak tahu apa-apa,"ujar Anand dengan wajah masam.


"Ayo kita pulang ke rumah orang tua mu,"ajak Anand seraya berjalan keluar dari kamar itu. Anand tidak tahu, harus bagaimana mencairkan hati istrinya yang semakin lama semakin dingin itu.


Rindy mengikuti Anand keluar dari kamar itu. Sampai di dalam mobil pun Rindy tetap diam. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam. Anand merasa frustasi dengan sikap Rindy. Sedangkan Rindy hatinya benar-benar merasa kalut karena memikirkan Anand yang berselingkuh dibelakang nya.


Setibanya di rumah, Anand memilih bekerja dengan laptopnya, sedangkan Rindy memilih tidur. Anand menahan diri agar tidak emosi menghadapi Rindy, apalagi saat ini Rindy sedang mengandung.


Pagi menjelang, semua orang pun sarapan bersama seperti sebelumnya. Di depan kedua mertuanya, Anand bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apapun. Hingga akhirnya ayah Rindy, Jefri dan Anand berangkat bekerja dan hanya tinggal Rindy dan ibunya. Rindy pamit ke kamar mandi sebelum membantu ibunya beres-beres.


"Loh, ini handphone Anand tertinggal,"gumam ibu Rindy saat mendengar suara dering dari handphone Anand. Tak lama suara notifikasi pesan yang masuk, dan kembali ada panggilan masuk. Beberapa menit kemudian Rindy kembali ke dapur.


"Rin, ini handphone Anand tertinggal. Sepertinya banyak pesan yang masuk. Ada juga beberapa panggilan masuk. Sebaiknya kamu antarkan handphone Anand. Dia 'kan pemimpin perusahaan, pasti handphone ini sangat penting bagi Anand,"ujar ibu Rindy.


"Biarkan saja, Bu. Aku malas mengantarkan nya,"sahut Rindy.

__ADS_1


"Jangan seperti itu, Rin! Kamu adalah istrinya dan handphone ini penting bagi suamimu. Tidak bisakah kamu menunjukkan sedikit perhatian mu pada suamimu? Sebagai seorang istri, kamu harus bisa menyenangkan suamimu. Jangan sampai suamimu berpaling dari mu dan tertarik pada wanita lain karena kurang perhatian dari mu!"


"Ganti pakaian mu, dandan yang cantik, dan antarkan handphone suamimu! Kamu adalah istri seorang CEO, jangan sampai membuat malu suamimu! Sudah, cepat sana! Antarkan handphone suamimu!"titah ibu Rindy meletakkan handphone Anand di tangan Rindy, kemudian mendorong Rindy ke kamarnya.


Rindy menghela napas berat,"Kenapa pakai tertinggal segala, sih?! Jika aku tidak mengantarkan nya, ibu akan terus mengoceh padaku,"gerutu Rindy seraya mengganti pakaiannya dengan dress yang panjangnya di bawah lutut, sepatu pantofel, dan make up tipis di wajahnya. Rambutnya yang panjang sepinggang dibiarkan nya tergerai, namun di bagian depan dikepang menyamping membuat Rindy terlihat semakin cantik.


"Eh, kenapa seperti itu? Kamu tidak memakai perhiasan? Kamu jangan mempermalukan suamimu!"ucap ibu Rindy saat melihat Rindy keluar dari kamar tidak mengenakan perhiasan.


Ibu Rindy langsung menarik Rindy kembali ke kamar dan memilihkan satu set perhiasan untuk Rindy. Anting, cincin, gelang dan kalung dengan model senada. Perhiasan dengan model sederhana, tapi terlihat elegan, apalagi bertahtakan berlian.


"Nah, begini baru cantik paripurna! Sudah, pergi sana!"ujar ibu Rindy seraya mendorong Rindy keluar dari rumah, bertepatan dengan taksi online yang dipesan Rindy yang sudah sampai di depan rumah.


...🌟"Diam adalah emas, tapi ada saatnya kita harus bicara. Kita harus tahu kapan harus diam, dan kapan harus bicara."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2