
Malam semakin larut saat Anand bertolak dari hotel tempatnya menginap menuju rumah orang tua Rindy. Anand melajukan mobilnya agak cepat agar bisa segera sampai di rumah mertuanya. Setelah menempuh hampir tiga jam perjalanan, akhirnya Anand sampai juga di rumah mertuanya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam saat Anand tiba di rumah mertuanya.
"Akhirnya sampai juga. Rasanya lelah sekali. Rindy pasti sudah tidur,"gumam Anand seraya mengambil kunci di dashboard mobilnya, kemudian keluar dari dalam mobil nya.
Sementara di dalam kamar, seperti malam-malam sebelumnya, Rindy sulit tidur semenjak mencium aroma parfum wanita di pakaian Anand. Rindy terkejut saat mendengar suara pintu mobil yang ditutup.
"Apakah itu Anand? Aku akan pura-pura tidur,"gumam Rindy langsung memposisikan dirinya tidur membelakangi pintu seraya menajamkan pendengarannya.
Anand yang sebelumnya seringkali pulang malam, mempunyai kunci cadangan rumah mertuanya, sehingga tidak perlu membangunkan orang rumah untuk membuka pintu. Anand masuk kedalam rumah, dan bergegas berjalan menuju kamarnya. Perlahan Anand membuka pintu kamarnya dan melihat Rindy berbaring membelakangi pintu.
"Dia benar-benar sudah tidur,"gumam Anand yang melihat lampu utama di kamar itu sudah dimatikan dan hanya menyisakan lampu tidur.
"𝘿𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜? 𝘼𝙠𝙪 𝙥𝙞𝙠𝙞𝙧 𝙙𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙞𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜,"gumam Rindy dalam hati, tetap diam dengan posisinya berbaring membelakangi pintu.
Anand menutup kembali pintu kamar itu, lalu melepas pakaian nya dan melemparkannya ke dalam keranjang pakaian kotor. Setelah itu, Anand masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Anand tidak mandi, karena tidak ada air hangat di dalam kamar mandi Rindy seperti di kamarnya.
Tidak lama kemudian, Anand keluar dari kamar mandi. Dengan perlahan naik ke ranjang, tidak ingin membuat istrinya terbangun. Merasa tubuhnya lengket karena tidak mandi, Anand pun enggan menyentuh istrinya yang tidur membelakangi nya. Anand berbaring dan memejamkan matanya. Tidak lama kemudian Anand pun sudah terlelap karena aktivitas seharian yang melelahkan. Belum lagi harus mengendarai mobilnya sendiri dari luar kota larut malam.
Setelah sekitar setengah jam Anand terlelap, Rindy yang sebenarnya dari tadi belum tidur pun membalikkan tubuhnya.
"Dia pergi tanpa pamit padaku.Bahkan sama sekali tidak menelepon aku. Dan sekarang saat sudah pulang, dia juga nampak mengacuhkan aku. Sama sekali tidak mau menyentuh ku,"gumam Rindy dengan wajah sendu menatap Anand yang sudah terlelap.
Rindy beranjak turun dari ranjang, dan berjalan menuju kamar mandi. Namun langkahnya terhenti saat melihat pakaian kotor Anand tidak masuk ke keranjang sepenuhnya. Rindy membungkuk, bermaksud memasukan pakaian Anand ke keranjang sepenuhnya. Namun napasnya terasa tercekat saat mencium aroma parfum wanita di pakaian Anand.
Dengan tangan gemetar, Rindy mengambil jas dan kemeja Anand, memastikan bahwa indra penciumannya tidak salah. Dan hasilnya, Rindy benar-benar mencium aroma parfum wanita yang melekat di jas dan kemeja Anand. Rindy membulatkan matanya saat dalam cahaya yang redup di kamar itu melihat cap bibir dengan warna merah menempel di kemeja Anand yang berwarna putih.
__ADS_1
Untuk memastikan penglihatan nya tidak salah, Rindy membawa kemeja Anand ke arah lampu tidur yang menyala. Tanpa terasa kristal bening berjatuhan dari sudut matanya saat dengan jelas matanya melihat cap bibir berwarna merah menempel di kemeja putih suaminya.
Dengan langkah gontai, Rindy berjalan ke kamar mandi. Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, Rindy memasukkan kemeja Anand ke dalam keranjang pakaian kotor.
"Teryata kamu tidak berubah. Kamu suka main perempuan di luar sana, bahkan saat aku sedang mengandung anak mu,"monolog Rindy seraya bersandar di pintu kamar mandi yang tertutup. Air matanya berjatuhan tanpa bisa dibendung nya.
"Sekarang aku harus bagaimana? Bahkan setelah tiga hari pergi tanpa pamit dan tanpa kabar, dia sama sekali tidak merindukan ku. Dia sama sekali tidak menyentuhku, apalagi memeluk ku seperti biasanya,"gumam Rindy menundukkan kepalanya. Tanpa mengetahui, jika Anand tidak mau menyentuhnya karena badannya terasa lengket, dan tidak mau menyentuh istrinya dalam keadaan seperti itu.
Rindy menatap perutnya yang masih rata, kemudian mengusapnya. Sedangkan air matanya masih saja berjatuhan.Ini memang salahnya, terlalu dingin pada suaminya. Sama sekali tidak perhatian dan sering kali menolak jika suaminya ingin dilayani di atas ranjang. Tidak menyadari jika semakin hari rasa bencinya sudah berubah menjadi cinta.
Setelah puas menangis di kamar mandi, akhirnya Rindy kembali berbaring di sebelah Anand. Menatap pria yang sudah beberapa bulan ini menjadi suaminya, kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi pria yang terlelap dengan damai disampingnya, menyembunyikan wajahnya yang sembab.
Keesokan harinya, Anand bangun lebih dulu, dan bergegas membersihkan diri agar tubuhnya terasa lebih segar. Sedangkan Rindy terbangun saat mendengar suara gemericik air di kamar mandi.
"Ssstt..kepalaku pusing sekali,"gumam Rindy yang beberapa hari ini kurang tidur. Rindy bersandar di headboard ranjang bertepatan dengan Anand yang keluar dari kamar mandi.
Kenapa matamu sembab?"tanya Anand saat sudah duduk di tepi ranjang.menyelipkan anak rambut Rindy di telinga Rindy.
"Ti.. tidak apa,"sahut Rindy tergagap, lupa jika semalam dirinya terlalu lama menangis hingga membuat matanya sembab.
"Apa perutmu sakit? Wajahmu nampak pucat, apa kamu sedang tidak enak badan? Kamu sedang mengandung, kesehatan mu akan berpengaruh pada janin dalam kandungan mu. Kita ke rumah sakit, ya?"cerocos Anand berusaha membujuk Rindy, seraya memegang pipi Rindy, pria itu nampak khawatir.
"𝘿𝙞𝙖 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙠𝙞𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙮𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙖𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙪, 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙠𝙞𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪,"batin Rindy merasa sedih.
"Aku tidak apa-apa. Tidak perlu ke dokter,"ujar Rindy, beranjak turun dari ranjang, namun malah hampir terjatuh karena kepalanya terasa sangat sakit. Semalam Rindy hanya bisa tidur selama dua jam, hingga kepalanya menjadi sangat pusing.
__ADS_1
"Kamu sedang tidak baik-baik saja, sayang,"ucap Anand langsung menangkap tubuh istrinya yang hampir terjatuh.
"Aku ingin ke kamar mandi,"ucap Rindy berusaha melepaskan pelukan Anand.
"Aku akan membantu mu. Aku takut kamu terjatuh. Jika kamu sampai terjatuh, akan sangat berbahaya bagi kandungan mu,"ucap Anand langsung menggendong Rindy ke kamar mandi.
"𝘿𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙙𝙪𝙡𝙞 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖. 𝙏𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙙𝙪𝙡𝙞 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙠𝙪,"gumam Rindy dalam hati yang merasa kesal pada Anand.Hormon ibu hamil membuat emosinya tidak stabil dan mudah sedih.
"Keluarlah! Aku akan membersihkan diri,"ucap Rindy saat mereka sudah berada di dalam kamar mandi.
"Aku akan membantu mu mandi. Aku takut kamu terjatuh. Itu sangat berbahaya untuk kandungan kamu,"ujar Anand yang malah membuat Rindy merasa kesal.
"Kamu jangan khawatir! Tidak akan terjadi apa-apa pada anak mu. Aku bisa menjaganya dengan baik,"ucap Rindy terdengar ketus dengan wajah ditekuk.
Anand menghela napas panjang. Sepertinya dia sudah salah bicara. Dokter kandungan Rindy sudah menjelaskan semua hal tentang ibu hamil. Jadi, Anand tahu jika emosi ibu hamil memang tidak stabil dan juga sensitif. Karena itu Anand mencoba mengerti keadaan istrinya saat ini.
"Aku mengkhawatirkan kalian berdua, sayang. Ya sudah, kamu bersihkan diri mu. Aku akan menunggu di luar,"Anand meninggalkan Rindy di dalam kamar mandi dengan perasaan tidak tenang. Anand menunggu Rindy seraya memakai pakaian kantornya.
"Aku sudah salah bicara dan membuatnya salah paham. Mana mungkin aku tidak mengkhawatirkan dia. Aku sangat mencintai nya,"gumam Anand menghela napas panjang seraya menatap pintu kamar mandi.
...🌸❤️🌸...
.
.
__ADS_1
To be continued