Menjadi Dia

Menjadi Dia
Syuting


__ADS_3

Hari ini, Rachel akan memulai pekerjaannya sebagai bintang iklan. Persiapan matang sedang dilakukan. Mulai dari setting tempat, persiapan kostum dan make up hingga pembagian part kemunculan para pemain sesuai script. Ini benar-benar pengalaman baru yang sangat menantang bagi Rachel.


Jantungnya berdebaran sangat kencang sejak awal ia datang ke studio ini.


Rachel di rias dengan make up minimalis. Dandanannya disesuaikan dengan tema pengambilan iklan kali ini yaitu segala sesuatu tentang alam dan limbah plastic yang sedang menjadi issue internasional.


“Chel, pake baju yang ini yaa, biar kesannya sederhana.” Ujar Fany yang memberikan sebuah baju kaos dengan stelan celana dan jas berwarna pastel pada Rachel.


“Iya kak.”


Rachel masuk ke dalam ruang ganti dan mengganti pakaiannya. Baju yang ia kenakan memang sederhana namun menunjukkan identitas yang tepat untuk tema iklan yang ia bintangi. Ia tersenyum kagum melihat pantulan dirinya di kaca.


“Semangat Rachel, jangan mengecewakan orang-orang yang menaruh kepercayaan terhadap kamu.” Ujarnya menyemangati dirinya sendiri. Seperti dejavu saat kuliah dulu ia sering ikut pemotretan untuk majalah kampus atau sebagai bintang iklan di short movie kampusnya. Ini tentu pasti akan sangat menyenangkan.


Setelah cukup rapi dengan pakaiannya, Rachel segera keluar. Sudah ada pemain lain yang berkumpul di area gladi resik.


“Sebentar, rambutnya aku rapihin dulu.” Ujar Fany saat Rachel akan beranjak.


Rachel kembali duduk dan memandangi Fany dari pantulan kaca.


“Kak, tangan aku dingin banget. Terus perut aku juga jadi gak nyaman.” Ungkap Rachel.


“Hahahahha… wajar lah itu Chel. Namanya juga bakal tampil di depan kamera. Coba kamu senam mulut dulu buat melenturkan ekspresi muka.”


“Senam mulut? kayak gimana itu?” Rachel jadi penasaran.


“Coba liat di utub, pasti ada. Dulu kalau aku gugup juga suka senam mulut.”


“Okey.” Rachel mencari senam mulut melalui ponselnya. Ada video terbaru dengan trending paling bagus. Sepertinya ini referensi terbaik.


Rachel mulai memutarnya dan mengikuti petunjuk yang ada di video tersebut. Ia mulai memonyong-monyongkan bibirnya, merasakan kalau urat syaraf di wajahnya sudah tidak se kaku tadi.


“Hahahaha… kamu monyong-monyong begitu masih tetep cantik dan malah bikin gemes.” Puji Fany sambil memperhatikan Rachel.


“Kak Fany bisa aja.” Timpal Rachel yang ikut terkekeh.

__ADS_1


“Oh, artis utamanya masih di rias rupanya. Kami udah nunggu GR loh.” Ucap seseorang yang masuk ke ruang make up artist.


Adalah Marsya yang pantulan wajahnya terlihat jelas di kaca.


“Di jam ku GR masih lima belas menit lagi kok.” Timpal Fany sambil tersenyum meledek. Ia mengenal Marsya karena sudah lama artis ini ada di manajemen artis tempat ia bekerja. Kelakuannya pun ia hapal benar.


“Oh ya? Tapi harusnya kalau GR lima belas menit lagi, artisnya udah harus siap dong. Jangan bikin yang lain nunggu. Kan kita bisa ngobrol-ngobrol dulu. Jangan jumawa deh, baru aja netas.” Marsya merapikan lipsticknya dengan jemarinya yang lentik.


“Terima kasih udah ngasih tau. Aku sebentar lagi selesai kok. Gak akan bikin yang lain nunggu, aku akan mulai sesuai waktu yang sudah di susun sama tim.” Timpal Rachel seraya melirik wajah kesal Fany di kaca.


“Iya mba Marsya, tenang aja, artisku professional. Kalau mau GR duluan silakan, tapi kan tim udah nyusun waktunya. CEO kita juga belum dateng.” Fany ikut menimpali.


Marsya tidak menimpali, ia memilih menutup lipstick dengan kasar, sebagai kode kalau ia kesal.


“Susah kalau ngomong sama artis amatir.” Deciknya seraya berlalu pergi.


“Yeee… susah kalau ngomong sama orang yang sok ngartis dan sok senior.” Timpal Fany setelah Marsya pergi.


“Kak Fany….” Rachel tersenyum kecil pada managernya yang kesal dengan tingkah Marsya.


“Ya bagus berarti, beliau ada perbaikan.”


“Ya akan jauh lebih baik kalau mulutnya juga di amplas biar gak resek.” Fany masih tetap dengan kekesalannya.


“Nanti kalau kamu udah terkenal, jangan songong kayak dia yaa… soalnya dia dulu juga sopan banget tapi begitu dapet peran di salah satu FTV. Beuuhhh… itu bahu lebih tinggi dari kepala.” ungkap Fany sambil mengerlingkan matanya tidak habis pikir.


“Hahhaaha… gimana ceritanya bahu lebih tinggi dari kepala?” Rachel jadi tertawa terkekeh.


“Ya itu kiasan, maksudnya tuh sombong banget. Kamu liat kan kalau orang sombong, dadanya busung banget terus gayanya kayak gini. Bayangin juga kalau bahunya pindah ke atas kepala, apa gak sombong banget tuh orang.” Fany sambil asyik mencontohkan dengan matanya yang melotot tajam pada bayangan Rachel di cermin.


“Hahhahaa… kak Fany lucu. Kiasannya keren.” Puji Rachel yang asyik tertawa. Walaupun Fany menyampaikan pesannya dengan lucu, tapi pesannya benar-benar sampai pada Rachel.


Selesai bermake-up, Rachel segera bergabung dengan rekan-rekannya. Ada Calvin juga yang baru datang bersama Adri.


"Sukses ya." Bisik Calvin tiba-tiba dari belakang.

__ADS_1


"Kak Calvin, ngagetin." Keluh Rachel seraya menoleh.


Calvin hanya tersenyum kecil, ia segera kembali ke kursinya bersama Adri. Mereka memperhatikan para pemain dari tempat mereka.


Take shooting di mulai dan semua sudah bersiap dari tempatnya. Sambil menyaksikan Rachel memainkan perannya, Calvin sengaja menghubungi Ruby melalui panggilan video.


"Kenapa Vin?" suara Ruby terdengar berisik dari sebrang sana.


"Kuping kamu jauhin, ini panggilan video, Ruby." Ucap Calvin sambil terkekeh.


"Oh, hahahaha... maaf aku gak fokus." Ruby segera menjauhkan ponselnya.


"Ada apa, tumben kamu video call segala?" tanyanya penasaran.


"Aku mau ngasih liat sesuatu." Ucap Calvin seraya mengalihkan kamera ponselnya ke arah Rachel.


"Astaga! Itu Rachel?" Ruby langsung terlonjak.


"Iya, dia lagi syuting."


"Pantesan dia bilang gak bisa dateng ke toko hari ini. Dasar anak nakal. Mah, mamah...." Panggil Ruby pada Eva.


"Ada apa, mamah lagi masak." Terdengar suara Eva di kejauhan.


"Mah, adek syuting hari ini. Mamah cepetan ke sini." Seru Ruby.


Tidak lama, Eva berlari menghampiri. Ia masih mengenakan celemek karena sedang membuat kue pesanan konsumennya.


"Ya ampun, itu beneran adek?" tanya Eva tidak percaya.


"Iya tante, itu Rachel. Dia syuting pertama hari ini." Timpal Calvin.


Eva dan Ruby hanya bisa terisak menatap tidak percaya melihat penampilan Rachel. Ia tidak menyangka kalau Rachel benar-benar sampai di titik ini.


Sambil melihat penampilan Rachel, mereka berpelukan. Betapa bangganya mereka saat ini.

__ADS_1


*****


__ADS_2