Menjadi Dia

Menjadi Dia
Mencari celah


__ADS_3

Kunjungan Marsya bertahan hingga malam hari. Ia berbincang akrab dengan Martha hingga ikut makan malam bersama keluarga Wijaksono. Suasana di ruang makan pun terdengar hangat. Ada obrolan-obrolan ringan antara Marsya dengan Martha yang terlihat semakin dekat. Ada banyak kesamaan diantara keduanya yang membuat mereka cocok.


“Brams bilang, kamu pinter masak. Apa benar?” sedari tadi banyak hal yang Martha gali dari sosok cantik ini.


“Nggak juga tante, aku masih banyak belajar.” Marsya tersipu malu.


Dari sudut matanya ia melirik Nata yang sedang menikmati makan malamnya dengan menu sup buatan Rachel. Tapi yang di tatap tampak asyik saja dengan makanannya.


Sungguh, ini membuat Marsya sangat penasaran dengan sosok dingin ini.


“Dia suka merendah mah. Aku pernah main ke apartemennya, di minta tante Desy ngunjungin dia. Dia bikin pasta, eeennnnnnak banget!” puji Brams dengan sepenuh hati.


“Oh ya? Boleh dong sekali-kali buatin tante pasta? Tapi, ini kuku kamu cantik banget. Sayang banget kalo di pake buat nyentuh bumbu pasta.” Martha menyayangkan kuku-kuku cantik ini bersentuhan dengan bahan makanan. Di genggamnya tangan Marsya dengan erat, seperti tidak rela.


“Tante bisa aja. Aku memang suka masak, cuma ya makanan eropa, bukan makanan Indonesia.”


“Waahh itu sih keren. Denger tuh kamu Rachel, belajar masak makanan eropa. Nata juga suka makanan khas eropa. Jangan di masakin sup lagi sup lagi.” Martha langsung mendelik saat melirik Rachel yang sedang membantu Brandon makan dan sesekali melayani Nata.


“Iya mah. Aku akan belajar.” Sahut Rachel, seraya tersenyum kecil.


“Gak usah belajar sampe segimananya sih Chel, toh kita juga tinggalnya di Indonesia. Makan juga makanan Indonesia. Makan makanan eropa paling sesekali aja. Kalau mau juga tingga beli. Gampang!” sahut Ivana yang membela sang adik ipar.


Rachel tersenyum kecil pada sang kakak, berterima kasih dalam hati karena Ivana membelanya.


“Ya itu yang bikin dia gak berkembang. Kalau bisanya cuma masak makanan Indonesia, apa bedanya sama pelayan di rumah ini.” Sinis Martha tidak terima Ivana membelanya.


“Mah, aku aja gak bisa masak. Apa menurut mamah, aku juga gak berkembang?” Ivana masih saja menimpali.


“Ya beda dong. Kamu kan kerja di kantoran. Lah dia, apa yang dia lakukan buat keluarga ini? Gak ada!” decik Martha mengecilkan Rachel.


Ivana sudah membuka mulutnya kembali tapi tiba-tiba Nata bersuara.


“Aku lebih suka masakan Indonesia di banding eropa, jadi ini cukup.” Ucap Nata yang menunjukkan usaha untuk membela istrinya.


Rachel yang semula tertunduk, kini menatap Nata. Ia tersenyum kecil pada suaminya yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


“Nah, itu yang terpenting. Masakan Rachel cocok di perut suaminya.” Ivana sengaja menebalkan kata suaminya agar terdengar jelas oleh orang-orang yang ada di meja makan.


Martha hanya mendelik kesal. Bisa-bisanya dua anak ini membela menantu yang sedang ia coba jatuhkan.


“Kalau masalah makanan itu masalah selera mungkin mah. Aku yakin Marsya dan Rachel punya kehebatan sendiri dalam hal masakan.” Brams mencoba menengahi. Ia berusaha terlihat bersikap netral di hadapan Ivana dan yang lainnya.


“Iya mamah tau. Tapi kalian harus tau, kalau Marsya ini, walaupun dia artis, dia memiliki banyak kemampuan. Wah, laki-laki yang mendapatkan kamu pasti sangat beruntung. Udah cantik, terkenal, pinter masak, bener-bener idola para mertua.” Ada saja celah bagi Martha untuk memuji Marsya.


“Tante bisa aja, aku masih merintisnya kok tan, belum sehebat itu.” Timpal Marsya dengan gayanya yang merendah.


“Oh iya, aku pernah ketemu Rachel sebelumnya, kami ketemu di tempat casting. Iya kan Chel?” kali ini Marsya berusaha terlihat akrab dengan Rachel.


“Iya.” Sahut Rachel seraya tersenyum. Sekarang ia paham, mungkin Brams tahu ia lolos casting dari Marsya.


“Oh, kalian udah pernah ketemu sebelumnya?”


“Iya tante. Aku satu ruangan sama Rachel waktu itu. Aku gak tau kalau ternyata Rachel istri mas Nata, ipar mas Brams. Kalau tau, pasti aku sapa. Atau bisa ngopi bareng sambil nunggu giliran dan saling bertukar pendapat.”


“Kalau kenal, kenapa kamu acuh gitu sama Marsya? Belum jadi artis beneran udah belagu.” Decik Martha sambil mendelik pada Rachel. Senang rasanya mendapat kesempatan untuk menjatuhkan menantunya.


“Maaf mah, tadi Rachel ragu. Takut salah orang.” Aku Rachel apa adanya. Saat pertama bertemu Marsya, gadis ini sudah bersikap sinis pada Rachel. Mana mungkin ia pura-pura kenal?


“Iya mah.” Sahut Rachel yang bersamaan dengan Nata yang menaruh sendoknya dengan kasar. Ia sudah sangat muak melihat cara Martha yang terus menerus menjatuhkan istrinya.


Dalam beberapa saat, semuanya segera terdiam, menyelesaikan makannya masing-masing walau Martha dan Marsya tetap saling berbisik, entah membicarakan apa.


****


Selesai makan Rachel langsung membawa Brandon ke kamarnya. Sementara Ivana membuatkan minuman untuk Brams. Tiba-tiba saja Marsya mengekorinya ke dapur, mungkin ingin mendekatkan dirinya pada Ivana.


“Kak Ivana lagi bikin apa?” tanya Marsya yang duduk di kursi yang ada di dekat meja dapur.


“Minuman buat mas Brams. Kamu mau?” tawar Ivana basa-basi. Entah gadis itu paham atau tidak.


“Em gak usah kak, nanti malah merepotkan.”

__ADS_1


“Baguslah kalau kamu sadar.” Timpal Ivana sambil tertawa jahat dalam hatinya.


Marsya tersenyum kelu, ternyata tidak semudah itu mendekat pada Ivana.


“Kak, mas Brams bilang di perusahaan kakak lagi perlu bantuan untuk pengiklanan property cluster yang baru selesai di buat. Kalau kakak mengizinkan, aku gak keberatan untuk membantu. Kebetulan aku lagi gak terlalu sibuk saat ini.”


Ivana tidak lantas menimpali, ia tampak berpikir beberapa saat.


“Em, rasanya gak perlu. Nata udah menghubungi rekanan professional untuk promosi property kami. Lagi pula, aku gak ikut campur masalah itu. Ada bidang tersendiri yang mengurusinya dan Nata yang memutuskan. Jadi, kamu salah kalau ngedeketin aku.” Terang Ivana dengan ringan.


Marsya tersenyum kelu, rupanya usahanya belum tepat untuk merayu Ivana.


“Dan satu hal lagi, kamu gak usah sebegitunya promosiin diri kamu ke mamah saya. Di sini tidak ada laki-laki lajang. Nata sudah memiliki istri sesempurna Rachel dan Mas Brams, kamu taulah dia suami saya. Cuma petugas keamanan depan yang masih lajang.”


“Jadi, effort kamu gak usah sebesar itu untuk mempengaruhi mamah saya. Ngerti?” imbuh Ivana penuh penekanan.


Ia menatap tajam Marsya yang duduk kaku di tempatnya. Dari ekspresi wajahnya, Ivana jelas melihat kalau wanita itu tidak terima dengan perkataannya. Tapi apa pedulinya, Wanita ini perlu diberi paham duluan sebelum membuat Martha berpikir yang tidak-tidak. Ia bisa membaca setiap maksud perkataan sang ibu yang meninggikan Marsya dan merendahkan Rachel. Apalagi kalau bukan untuk mempengaruhi Nata?


Marsya tidak menimpali, ia hanya tersenyum masam. Ivana benar-benar tidak bisa didekati. Sepertinya, cara satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya mendekati Brams dan Martha. Dua orang yang akan ia jadikan tombak.


Sementara Ivana pergi, Marsya masih terdiam di tempatnya. Kalau saja hatinya tidak terpincut sosok tampan yang mengantar Rachel ke tempat casting, mungkin ia tidak akan bertindak sampai sejauh ini.


Ya, beberapa hari lalu, ia melihat seorang laki-laki tampak tergesa-gesa turun dari mobilnya. Ia hendak menyusul seorang wanita yang masuk ke dalam kantor manajemen artis. Tapi laki-laki itu hanya sampai di depan pintu. Ia termenung beberapa saat seperti banyak keraguan saat akan masuk.


Apa laki-laki itu sudah melakukan kesalahan? Entahlah. Yang jelas Marsya melihat wajah penuh penyesalan yang tergambar jelas di wajah laki-laki itu yang tidak lain adalah Nata.


Ia mulai mencari tahu siapa sebenarnya laki-laki tampan yang membuat ia begitu tertarik. Keberuntungan sepertinya benar-benar berpihak pada Marsya saat tahu kalau Nata adalah adik iparnya Brams, sepupu jauhnya.


Yang tidak beruntung adalah, ia baru tahu kalau Nata dan Rachel ternyata sudah menikah. Tapi, atas dukungan Brams, ia bersedia melanjutkan mimpinya untuk mendekati Nata. Lalu, apalagi alasan ia berbalik? Bukankah Martha juga menyukainya?


“Gimana menurut mamah, pilihanku bagus kan?” tanya Brams saat berbincang berdua dengan Martha di beranda belakang. Mereka tengah menikmati secangkir teh di tangan masing-masing.


“Bagus, mamah suka. Sekarang, kamu bantu Marsya untuk dekat dengan Nata. Mamah yakin, dengan sosoknya yang tidak asing seperti itu, Nata akan mudah menerima kehadiran Marsya.” Ucap Martha dengan penuh keyakinan.


Ia tersenyum lega karena akhirnya menemukan jalan untuk memisahkan Nata dari Rachel.

__ADS_1


“Dengan senang hati.” Timpal Brams tidak kalah senang.


*****


__ADS_2