Menjadi Dia

Menjadi Dia
Casing couple


__ADS_3

Sepanjang perjalanan kembali ke kamarnya, pikiran Rachel masih tertaut pada alasan kepergian Ima dari rumah ini. Ia masih mengingat wajah takut Ima yang tidak berbeda dengan wajah takut dirinya saat mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari seseorang.


Brams, orang yang Rachel curigai menjadi alasan kepergian Ima yang tiba-tiba. Tapi seperti halnya dirinya, Ima pun tidak memiliki keberanian untuk menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. Entah mengapa, selalu ada kengerian tersendiri saat membayangkan orang lain mengetahui pengalaman menakutkan dan menjijikan yang ia alami. Padahal ia tahu, ia butuh pertolongan.


Ia pun tidak yakin apa orang-orang akan mempercayainya jika ia menceritakannya. Terlebih pelecehan itu dilakukan oleh seseorang yang mendapat kepercayaan penuh di rumah ini di banding dirinya.


Terkadang Rachel berpikir, lebih baik mendapat serangan tidak menyenangkan dari Martha alih-alih mendapat serangan halus dari Brams. Keduanya menyakitkan tapi serangan Brams lebih menakutkan. Ia tidak pernah tahu, apa yang laki-laki itu lakukan di belakangnya. Mungkin saja sedang laki-laki itu sedang mengintainya dan menunggu saat-saat ia lengah.


Tidak, ini terlalu menakutkan.


Di depan kamarnya saat ini Rachel berdiri. Baru akan membuka pintu kamar tapi kemudian urung ia lakukan. Ia memandangi pintu kamar Ivana yang ada di ujung dengan penuh kengerian. Bulu kuduknya selalu meremang setiap kali melihat pintu itu. Pintu yang tertutup dan membuat Rachel merasa sesak seperti terpenjara dan terintimidasi hingga nyaris putus asa. Pintu yang membuat ia nyaris kehilangan kehormatannya dan kepercayaannya pada seorang laki-laki terutama iparnya.


Mungkin seperti inilah rasa trauma. Setiap pikiran itu melintas di benaknya, cepat-cepat Rachel menutup matanya berharap bayangan wajah Brams hilang dari ingatannya. Wajah menyeringai seperti binatang buas yang kelaparan dan meminta dipuaskan. Sayangnya, tidak semudah itu melupakan bayangan wajah Brams yang menakutkan. Ia bahkan merasa khawatir setiap kali mencium bau parfum yang mirip dengan parfum Brams. Indranya menjadi sangat waspada pada situasi-situasi tertentu.


Namun, ia tidak punya kekuatan untuk mengakhirinya. Mengakhiri bayangan Brams, mengakhiri rasa takutnya dan mengakhiri prilaku Brams pada banyak wanita.


“Rachel!”


Deg!


Sebuah suara membuat Rachel terhenyak dan mematung di tempatnya. Jantungnya berdebar kencang, seperti ia baru saja di tarik paksa dari lamunan yang menguasai pikirannya.


“Hey, kamu tidak mendengarku?” Rachel semakin terhenyak saat sebuah tangan kokoh menyentuh bahunya.

__ADS_1


"Ästaga." Batinnya seraya memejamkan mata.


"Tenang, itu suara Mas Nata, Rachel." Lagi Rachel membatin seperti tengah memberitahu dirinya sendiri untuk tidak khawatir.


“Rachel!” lagi Nata memanggil.


“I-Iya.” Sahut Rachel setelah ia sadar sepenuhnya.


“M-mas.” Bibir Rachel mendadak kelu saat berbalik dan melihat suaminya yang bersidekap dihadapannya.


“Lagi apa kamu di sini?” tanya Nata sambil mengernyitkan dahi. Sudah empat kali ia memanggil Rachel mulai dari panggilan yang sangat lembut hingga keras dan baru sekarang Rachel tersadar.


“N-Nggak apa-apa. Aku baru mau masuk. Mas udah selesai kerjaannya?” Rachel masih gelagapan tapi ia berusaha tenang.


Laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya di kasur. Memijat-mijat punggungnya sendiri yang terasa kaku karena dipaksa bekerja hingga selarut ini.


“Kenapa, ada yang mau kamu katakan?” tanya Nata saat melihat Rachel yang duduk dengan gelisah di sampingnya.


“Ada.” Entah keberanian dari mana hingga ia mau mulai mengatakan apa yang ada dibenaknya. Mungkin karena ketakutannya kalau Brams akan semakin berbahaya hingga ia berani membuka suaranya.


“Silakan.” Ucap Nata saat Rachel hanya terdiam. Wanita itu sedang memilih kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada Nata.


“Ima, pergi mas.” Ucapnya takut-takut.

__ADS_1


“Ima siapa?” Nata balik bertanya.


Astaga, rupanya Nata tidak tahu siapa objek pembicaraan mereka.


“Pelayan kita yang masih muda. Yang baru bekerja sekitar dua atau tiga minggu.” Terang Rachel.


“Lalu?” lihat Nata tidak peduli pada objek pembicaraan mereka.


“Iyaa, dia pergi dan berhenti jadi pelayan di rumah ini. Padahal dia sangat baik. Dia juga lebih telaten di banding bi Tuti dan menyenangkan saat di ajak berbicara.”


“Kamu udah tanya alesannya?”


“Udah, dia bilang mau pulang karena kangen ke ibunya.” Hanya itu yang lolos dari mulut Rachel. Ia tidak bisa mengatakan lebih apa yang ada dipikirannya. Tanpa bukti tentu Nata tidak akan percaya.


“Ya udah, kenapa kamu harus sedih? Dia punya hak untuk memilih mau lanjut kerja di sini atau nggak. Jangan membebaninya dengan memaksa dia harus tetap bekerja di sini.”


Jawaban Nata membuat Rachel termangu. Ucapan Nata memang tidak salah tapi bukan itu yang ia harapkan.


“Em, iya.” Rachel mengakhiri obrolannya tentang Ima. Tanpa penjelasan yang rinci, tentu Nata akan menjawab standar saja.


Rachel memilih menenangkan dirinya dulu. Ia duduk bersandar pada sandaran tempat tidur lalu menyelimuti kakinya. Sepertinya tidak semudah itu berbicara dengan Nata


****

__ADS_1


__ADS_2