Menjadi Dia

Menjadi Dia
38. Kram


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Rindy keluar juga dari kamar mandi, membuka Anand merasa lega.


"Keluarlah! Aku ingin memakai pakaian,"ucap Rindy yang masih mengenakan bathrobe.


"Aku tunggu di meja makan,"sahut Anand dengan seulas senyum, tanpa membantah kata-kata Rindy.


Rindy mengepalkan tangan nya, menatap kemeja Anand yang ada di keranjang pakaian kotor. Bingung harus bagaimana menyikapi keadaan ini. Rindy sadar, sebelum menikah dengan dirinya, Anand memang terkenal sebagai pria yang suka jajan sembarangan. Karena itu pula kakaknya menentang pernikahan mereka.


Namun bercerai dengan Anand, rasanya juga mustahil.Saat berkelahi dengan kakaknya kemarin, Anand sudah menegaskan bahwa Anand tidak akan pernah menceraikan dirinya. Dan Rindy yakin Anand tidak main-main dengan ucapan nya.


Dulu, saat ingin memiliki dirinya, Anand telah melakukan banyak cara untuk mendapatkan dirinya, dan Rindy yakin, untuk mempertahankan dirinya, Anand juga akan melakukan segala macam cara. Apalagi saat ini Rindy sedang mengandung anak Anand.


Namun tetap bertahan dengan Anand, menutup mata dan telinga mengetahui perselingkuhan Anand, apa itu mungkin? Wanita mana yang akan tahan jika diselingkuhi oleh suaminya sendiri?


Memikirkan semua itu, membuat perut Rindy menjadi kram. Rindy meringis menahan sakit di perutnya, berusaha mengatur napasnya.


"Aku tidak boleh terlalu banyak berpikir. Anak ini sensitif sekali,"gumam Rindy seraya mengelus perutnya untuk mengurangi rasa sakitnya.


Setelah merasa lebih baik, Rindy pun mengenakan pakaiannya. Rindy menyapukan makeup tipis di wajahnya. Skincare yang selalu dibelikan Anand membuat tubuhnya terawat dan wajahnya semakin cantik. Pakaian bermerek yang di belikan Anand pun sangat cocok di tubuhnya, hingga membuat penampilannya semakin menarik.


Disisi lain, Anand berjalan menuju meja makan dan di sana sudah ada ayah ibu Rindy dan juga kakak iparnya, Jefri.


"Pagi, yah, bu, kak!"sapa Anand dan kedua orang tua Rindy pun membalas sapaannya. Sedangkan Jefri hanya diam, pemuda itu nampak masih canggung untuk menyapa Anand setelah perkelahian mereka waktu itu.


"Jam berapa kamu pulang, Nand?"tanya ayah Rindy kemudian menyesap kopinya.


"Jam dua belas, yah,"sahut Anand.


"Oh, iya. Rindy mana?"tanya ibu Rindy.


"Baru selesai mandi, Bu,"sahut Anand.


"Akhir-akhir ini Rindy sering bangun kesiangan,"ujar ibu Rindy menghela napas panjang.

__ADS_1


"Biarkan saja, Bu. Mungkin karena dia sedang mengandung. Toh, Rindy juga sudah tidak bekerja lagi, Bu,"sahut Anand yang memaklumi keadaan Rindy.


"Kamu jangan terlalu memanjakan Rindy, Nand,"ujar ibu Rindy yang melihat Anand begitu memanjakan Rindy. Skincare, baju, tas, sepatu dan juga perhiasan mahal, semua dibelikan Anand untuk Rindy. Bahkan Anand memberikan kartu kredit pada Rindy dan rutin mentransfer uang bulanan ke rekening Rindy. Itu yang ibu Rindy tahu dari Rindy.


"Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya ingin membuat Rindy bahagia, karena itu aku memanjakan nya,"sahut Anand tersenyum tipis.


"Iya, jangan sampai salah alamat memanjakan istri orang,"sahut Jefri yang membuat ayah dan ibu Rindy membuang napas kasar.


"Jaga bicaramu, Jef!"ucap ayah Rindy memperingati putranya.


"Oh, iya, Nand. Akhir-akhir ini Rindy bangun dengan mata sembab, katanya karena dia nonton drama yang ceritanya sedih.Kalian tidak sedang bertengkar, 'kan?"tanya ibu Rindy membuat Anand mengernyitkan keningnya.


Anand merasa tidak sedang bertengkar dengan Rindy. Bahkan selama dirinya pergi ke luar kota, mereka tidak berkomunikasi sama sekali karena handphone Rindy tidak aktif.


"Kami tidak sedang bertengkar, kok, Bu,"sahut Anand.


"Tidak bagus bagi ibu hamil jika mood nya buruk. Sebaiknya jangan ijinkan dia menonton hal-hal yang membuatnya sedih, Nand,"ujar ayah Rindy bertepatan dengan Rindy yang masuk ke ruangan makan itu. Akhirnya semua orang pun sarapan bersama dan tidak banyak bicara.


***


"Sayang, kenapa handphone mu tidak aktif?"tanya Anand duduk di belakang Rindy seraya mengelus lengan Rindy yang masih berbaring membelakanginya.


"Handphone ku rusak, karena jatuh,"sahut Rindy tanpa menatap Anand.


"Oh, begitu. Besok akan ku belikan yang baru,"ujar Anand, tapi tidak mendapatkan respon dari Rindy. Anand merebahkan tubuhnya, kemudian memeluk Rindy dari belakang.


"Apa kamu tidak merindukan aku? Aku sangat rindu padamu,"ucap Anand mengecup pipi Rindy.


Rindy tertawa tanpa suara, kemudian berkata,"Mana mungkin kamu rindu padaku. Banyak wanita cantik di luar sana yang bisa menyenangkan kamu,"


"Kenapa kamu berkata seperti itu? Tidak ada yang membuat ku senang, selain kamu,"ujar Anand jujur adanya.


"Tidak usah menutupi nya. Aku tahu, bagimu wanita hanya mainan, hanya sebagai tempat untuk pelampiasan, penghangat ranjang. Mana mungkin kamu bisa puas dengan aku seorang,"ujar Rindy tanpa terasa meneteskan air mata.

__ADS_1


Mendengar kata-kata Rindy, Anand langsung membalikkan tubuh Rindy, dan terkejut saat ada air mata disudut mata wanita yang dicintainya itu,"Kenapa kamu menangis? Aku tidak suka melihat mu menangis,"ucap Anand kemudian menghapus air mata Rindy," Aku tahu, sulit membuang image buruk ku. Tapi percayalah, aku sudah berubah. Aku tidak akan tidur dengan wanita manapun selain kamu,"


"Tidurlah! Besok adalah jadwal untuk memeriksakan kandungan mu. Aku akan mengantarkan mu untuk periksa,"ujar Anand membawa Rindy dalam pelukannya, kemudian memejamkan matanya.


Ingin rasanya Anand menerkam istrinya itu, tapi nampaknya keadaan tubuh Rindy tidak begitu baik. Besok Rindy harus memeriksakan kandungan nya, Anand tidak ingin di ocehi oleh dokter kandungan Rindy karena menggauli isterinya dalam keadaan yang tidak begitu baik. Karena itu, Anand harus bersabar menunggu sampai keadaan istrinya membaik.


"𝘿𝙞𝙖 𝙗𝙞𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙨𝙚𝙤𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙞𝙖 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙠𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙢𝙖𝙣𝙖𝙥𝙪𝙣 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙖𝙠𝙪. 𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖.. 𝙙𝙞 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙠𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙪 𝙙𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙚𝙢𝙥𝙪𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙞𝙣,"gumam Rindy yang hanya diam dalam dekapan suaminya. Mengingat aroma parfum yang berbeda dan cap bibir di kemeja Anand membuat hatinya sakit.


Namun entah mengapa, malam ini Rindy bisa tertidur lelap. Merasa nyaman di dalam dekapan suaminya. Dekapan yang sudah beberapa hari ini tidak dirasakan nya.


Keesokan harinya Anand benar-benar mengantar Rindy ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan nya. Anand sudah punya firasat tidak enak saat dokter kandungan Rindy menatapnya dengan tatapan tajam. Dan benar saja, dokter kandungan Rindy memarahinya.


"Sudah saya katakan, anda harus menjaga istri anda baik-baik. Kesehatan istri anda menurun, dia mengalami stres, bahkan sempat mengalami kram perut...."belum selesai dokter itu bicara, tapi Anand langsung memotongnya.


"Apa? Istri saya sempat mengalami kram perut?"tanya Anand nampak terkejut dan langsung menoleh pada Rindy yang duduk di sebelahnya,"Sayang, kenapa kamu tidak pernah mengatakannya padaku?"tanya Anand nampak khawatir.


"Cuma kram sedikit,"sahut Rindy.


"Anda sebagai suaminya harus lebih memperhatikan kondisi istri anda. Kesehatan istri anda akan sangat berpengaruh pada janin yang dikandungnya,"ujar dokter dan terus mengoceh menjelaskan berbagai hal yang membuat Anand tersudut.


"Iya, dok. Kemarin saya memang pergi keluar kota untuk beberapa hari. Jadi saya tidak bisa memperhatikan istri saya sepenuhnya. Membawa pergi ke luar kota pun tidak mungkin. Saya takut istri saya kelelahan. Ke depannya saya akan lebih memperhatikan istri saya,"ucap Anand yang sudah habis-habisan diceramahi dokter kandungan Rindy.


"Bagus kalau anda mengerti. Saya akan memberikan beberapa vitamin, tapi semua itu tidak akan berarti jika anda tidak bisa membuat istri anda bahagia,"ujar dokter itu.


...🌟"Membuat keputusan itu bukan masalah gampang, karena setiap keputusan kita akan sangat berpengaruh dan menentukan masa depan."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2