Menjadi Dia

Menjadi Dia
Selamat tinggal


__ADS_3

“Sejak kamu membuatku curiga Rachel.” Suara Nata terdengar tenang saat menjawab pertanyaan Rachel.


Rachel mengernyitkan dahinya tidak mengerti dengan ucapan Nata. Dalam benaknya, ia tidak merasa telah melakukan sesuatu yang membuat Nata curiga.


“Malam itu di hotel, aku merasa banyak hal yang berubah dalam diri kamu. Kamu tidak lagi merengek memintaku memelukmu agar bisa tertidur. Kamu sering kali terlihat kaget saat aku menyentuhmu dan mendekatimu.”


“Aku merasa kalau kamu sudah menjadi dia yang gak aku kenal. Dia yang sedikit demi sedikit menjauh dan tidak lagi memperhatikanku. Semakin sering aku melihatmu menatapku lekat, aku semakin merasa kalau banyak hal yang ingin kamu katakan.”


“Aku juga memperhatikan kamu saat menggunakan hpmu. Kamu selalu terlihat tegang dan panik. Sampai kemudian aku melihat, pesan dari laki-laki itu yang sering kali di hapus. Aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu antara kamu dengan laki-laki itu.”


Nata menghentikan sejenak kalimatnya. Ia berpindah duduk ke samping Rachel kemudian membawa istrinya bersandar dan memeluknya dari samping.


“Bukan aku yang menghapus pesan itu mas.” Ucap Rachel seraya menatap wajah Nata dengan mendongakkan kepalanya.


“Aku tau.”


“Itu alasan kenapa aku meminta kamu mengganti ponsel. Maaf, karena aku menyadap ponselmu dan beberapa lama berpura-pura tidak tahu apa-apa demi membuat dia menunjukkan wajah aslinya. Dan maaf karena membuatmu ketakutan hingga beberapa saat lalu."


"Aku terlalu ceroboh karena melakukan segala sesuatu tanpa persiapan terlebih dahulu dan selalu mengedepankan amarah. Aku juga bodoh karena membuat kamu tidak berani berbicara padaku. Padahal aku tau, kamu pasti sangat membutuhkan bantuanku.”


Baru kali ini Nata berbicara sambil menatap Rachel dengan lekat. Ia merasa ini adalah saat paling intim antara ia dnegan istrinya.

__ADS_1


Sejak di mobil tadi, ia merasakan sangat takut. Takut jika sesuatu terjadi pada Rachel. Terlebih saat Ivana menangis tersedu-sedu sambil menanyakan bagaimana Brandon dan Rachel. Perasaannya sungguh tidak karuan. Ia seperti disadarkan oleh kenyataan bahwa ia sangat takut kehilangan Rachel apalagi jika sesuatu yang buruk terjadi padanya.


“Maaf, karena aku udah bikin mas cemas. Jujur, aku juga takut dan malu mengakui kalau selama ini kak Brams sering melecehkanku. Aku takut kalau aku cerita, kak Brams akan memutar balik semuanya. Aku juga gak punya bukti yang menunjukkan dia benar-benar melakukan pelecehan terhadapku. Baru hari ini aku merekam semua pembicaraanku dengan kak Brams dan Ima.” Aku Rachel dengan sungguh-sungguh.


Nata mengeratkan pelukannya. Ia mendekap Rachel dengan kuat lantas mengecup pucuk kepalanya.


“Harusnya aku yang minta maaf karena udah bikin kamu ragu. Aku juga yang bikin kamu gak percaya sama aku.” Nata berucap dengan penuh sesal.


Dalam pelukan Nata, Rachel bisa mendengar dengan jelas detakan jantung Nata yang masih cepat dan keras. Seperti laki-laki ini belum bisa menenangkan dirinya.


Rachel menggeleng. Ia memeluk Nata dengan erat seperti enggan melepaskannya.


“Kak Ivana sudah tau apa yang harus dia lakukan. Kita hanya perlu mendukung dan menguatkan langkahnya supaya dia gak ngerasa sendiri.”


Rachel mengangguk paham dengan apa yang dikatakan Nata.


Di kamarnya, Ivana masih termenung memandangi foto pernikahannya dengan Brams yang terpasang di dinding. Satu tangannya masih mengusap kepala Brandon dengan lembut. Ia sudah tidak ingin menangisi laki-laki itu. Air matanya sudah habis karena sepanjang perjalanan ia mendengarkan semua pengakuan Brams pada Rachel.


Yang tersisa sekarang hanya rasa marah dan kecewa. Juga anak semata wayangnya yang terlelap dengan polos dan sesekali mengigau mengatakan, “No! No! No!”


Miris, di dunia mimpinyapun anak ini masih ketakutan. Ia tidak tahu bagaimana cara untuk menenangkan alam bawah sadar Brandon yang pasti diliputi banyak ketakutan, kesedihan dan kekecewaan.

__ADS_1


“Maafin mami nak, maafin mami. Harusnya mami menjaga kamu dengan lebih baik lagi.” Gumam Ivana dengan penuh sesal.


Ia sadar, selama ini ia terlalu banyak mengurusi pekerjaan dan mengandalkan Rachel. Tidak, ia bukan mengandalkan Rachel melainkan memanfaatkannya. Ia membuat Rachel merasa berhutang budi karena ia selalu memperlakukan Rachel dengan cara terbaiknya.


Tanpa ia sadari, yang diperlukan Rachel bukan hanya perlakuan baik tapi kesempatan untuk mengungkapkan perasaan dan keinginannya.


Bagi Ivana, Rachel adalah gadis yang baik. Bahkan terlalu baik. Ia merasa sangat aman dan nyaman menitipkan putranya pada adik iparnya. Tanpa pernah ia bertanya, apa Rachel mengalami kesulitan atau tidak menghadapi semuanya. Mungkin karena hal itu membuat Rachel hanya bisa menyimpan derita akibat perlakuan Brams seorang diri.


Suara obrolan terdengar di depan kamarnya. Ivana yang mendengar suara itu, berusaha mencuri dengar.


“Iya tuan, mereka sudah datang. Tuan Brams juga sudah di borgol dan akan di bawa ke kantor polisi.” Begitu suara petugas keamanan yang memberi penjelasan pada Nata.


Tidak lama, terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Ivana bisa menduga kalau Nata akan menemui pihak kepolisian.


Lagi, Ivana hanya bisa terdiam. Ia tidak memiliki keinginan untuk keluar kamarnya. Ia tidak memiliki keberanian untuk melihat sendiri kenyataan kalau Brams memang akan mulai resmi diserahkan ke pihak berwajib.


Ivana memilih membaringkan tubuhnya di samping Brandon dan memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Ia memejamkan matanya juga mematikan lampu kamarnya. Ia membiarkan air matanya melelah di kedua pipi. Katakan saja, ini air mata perpisahan dengan Brams yang mengisi hidupnya selama hampir sepuluh tahun ini.


“Selamat tinggal, mas.” Batin Ivana seraya mengeratkan pelukannya pada Brandon.


****

__ADS_1


__ADS_2