
Perbincangan M2M (Marsya dan Martha) berlanjut hingga menjelang malam. Martha berpisah dengan teman-temannya dan memilih melanjutkan perbincangannya dengan Marsya.
Mereka terduduk di salah satu sudut café dengan pemandangan senja yang menghibar.
“Tan, aku sebagai salah satu keluarga mas Brams, mau minta maaf yaa atas kejadian itu. Mamah sama papah mas Brams juga terpukul atas kejadian itu dan masih gak percaya dengan apa yang terjadi. Mungkin itu alasan kenapa om sama tanteku masih belum berani menemui tante dan kak Ivana.” Ujar Marsya seraya menggenggam tangan Martha.
Martha tidak lantas menimpali, ia memandangi tangannya yang hangat di genggam oleh Marsya.
Kejadian semalam memang mengguncang jiwanya. Ia sampai tidak bisa tidur dan rasanya tidak kerasan ebrada di rumah.
“Terima kasih, tante bisa paham itu. Karena sejujurnya, tante juga masih gak percaya dengan apa yang terjadi semalam. Jauh di lubuk hati tante yang paling dalam, tante sayang sama Brams. Dia sangat baik dalam memperlakukan tante dan selalu hormat sama tante.” Ungkap Martha, balas mengeratkan genggamannya pada Marsya.
Matanya tampak berkaca-kaca menahan tangis.
“Iya tan, kalau boleh jujur, sebenarnya aku juga sedikit gak percaya. Masa sih mas Brams melakukan hal itu kalau gak ada yang memancing duluan?” Marsya memelankan suaranya di ujung kalimat sambil memperhatikan perubahan ekspresi Martha.
“Maksud kamu?” Martha tampak penasaran.
__ADS_1
“Ya maksud aku, mohon maaf sebelumnya, tapi mas Brams gak mungkin nyentuh seseorang gitu aja kalau gak ada pancingan dari orang tersebut. Ya, namanya juga laki-laki gitu tan, kalau ditawarin, masa sih dia diem aja?” tutur Marsya tanpa ragu.
Ia memang sengaja memancing Martha dan menunggu responnya.
Gayung bersambut, Martha merespon sesuai yang diharapkan.
Martha termenung beberapa saat memikirkan apa yang diucapkan Marsya.
“Ini aku minta maaf loh tan, aku gak ada maksud untuk menyudutkan menantu tante yang lainnya. Cuma maksud aku,”
“Iya tante paham.” Martha langsung memotong kalimat Marsya.
“Nah, itu maksud aku tan.” Marsya langsung menimpali, ia tersenyum dalam hati. Pesan Brams untuk mempengaruhi Martha, sepertinya dengan mudah ia lakukan.
“Aku tau persis, kalau mas Brams itu sayang banget sama kak Ivana. Dia sangat menghormati kak Ivana. Sering banget loh, mas Brams itu membanggakan kak Ivana di depan keluarganya.”
“Dan selama sepuluh tahun bersama itu bukan waktu yang sebentar. Aku paham kalau dalam sebuah hubungan mungkin ada titik jenuh. Tapi seseorang gak akan berpaling kalau nggak ada yang mancing. Begitu bukan sih tan?” Marsya mengukuhkan pendapatnya dengan cara yang cerdas.
__ADS_1
Martha tidak mengiyakan ataupun menolak, ia masih memikirkan kalimat Marsya yang ia rasa ada benarnya.
“Maaf ya tan, bukannya menghibur tante tapi aku malah bikin tante bingung. Aku minta maaf.” Ungkap Marsya sambil mengecupi tangan Martha yang mulai kisut.
“Nggak Marsya, tante emang perlu teman berpikir. Tante gak mungkin cerita masalah ini ke temen-temen tante, yang ada mereka bakalan ngerendahin tante kalau sampai tahu masalah ini.”
“Ada kamu, tante jadi punya temen cerita. Main lah ke rumah tante, nginep di sana, temenin tante. Tante butuh temen bicara. Setelah suami tante meninggal, gak ada yang bisa memahami perasaan tante selain kamu.” Ungkap Martha dengan tatapan sendu nan sayu.
“Ya ampun tan, so sad….” Marsya segera berpindah duduk ke samping Martha dan memeluk wanita itu dengan erat.
“Aku gak keberatan kalau harus nemenin tante. Aku gak sedeket ini sama mamahku tapi sama tante, aku ngerasa deket banget.” Imbuh Marsya sambil mengeratkan pelukannya.
“Terima kasih Marsya, terima kasih banyak.” Ungkap Martha dengan penuh haru.
Di tengah perasaannya yang sepi, ternyata Marsya masuk dengan mudah ke hati Martha. Ia merasa tidak ada yang memahaminya sebaik Marsya.
Sementara itu, Marsya tersenyum bangga dalam hatinya. Brams benar kalau mendekati Martha itu sangat mudah yaitu dengan berpura-pura menjadi pendukungnya. Karena untuk Martha, kesan pertama terhadap seseorang itu adalah segalanya.
__ADS_1
Brams telah berhasil memberikan kesan pertama yang bagus tentang Marsya di benak Martha. Maka, Marsya hanya perlu tekun melanjutkan langkahnya.
****