Menjadi Dia

Menjadi Dia
Menjadi Dia


__ADS_3

Rachel tidak bisa menahan rasa penasarannya untuk tidak masuk kembali ke dalam ruang kerja Nata. Ruang kerja yang membuat Rachel di bentak pertama kalinya saat baru tinggal dua hari di rumah ini.


Saat itu Rachel hendak menaruh tas kerja Nata ke ruangan itu tapi tiba-tiba Nata menarik tangan Rachel yang baru akan meraih handle pintu.


“Jangan kurang ajar kamu!” suara Nata yang keras dan menggelegar itu kembali menggaung di rongga telinga Rachel.


Rasa sakit akibat bentakan kembali jelas terasa meninju ulu hatinya. Dan saat ini, rasanya Rachel paham mengapa Nata melarangnya untuk masuk ke ruang kerja. Bukan tanpa alasan, melainkan karena Nata menyembunyikan sesuatu darinya.


Ya, sesuatu yang membuat Rachel tidak menyangka akan menemukannya.


Rachel masih berdiri mematung di depan pintu ruang kerja Nata. Tangannya yang gemetar berusaha mantap meraih handle pintu dan memutarnya hingga pintu terbuka. Rasa dingin itu kembali menyambutnya, menyambut kemungkinan yang harus siap Rachel terima.


Pintu ruang kerja sengaja Rachel tutup rapat-rapat lalu menguncinya. Ia berjalan menuju meja kerja Nata dengan perasaan yang gundah.


Ia berdiri di depan laci, menarik nafasnya beberapa kali lalu menghembuskannya perlahan. Dengan perasaan takut dan sedih ia memberanikan diri membuka kembali laci kedua itu.


Mata Rachel langsung berkaca-kaca saat melihat foto yang sama seperti yang ia pertama lihat tadi. Foto seorang Wanita yang tersenyum dengan cantik. Di sampingnya pasti ada seseorang karena ia melihat ada tangan kokoh yang melingkar memeluk Wanita itu dari samping. Sayangnya foto seseorang di samping wanita itu sudah di robek paksa. Hanya saja, Rachel mengenali benar tangan kokoh itu milik siapa.


Tentu saja milik Nata.


Tidak sampai di situ, Rachel membalik foto itu dan terlihat ada barisan kalimat seperti puisi.


“Nafasmu adalah candu, yang membawa anganku membeku setiap kali terhembus di wajahku. Sosokmu adalah rindu, yang memberiku arah untuk pulang dan berlabuh.”


“Kamu keajaiban paling sempurna di antara banyaknya hal buruk yang menimpaku. Dan kamu, arah terakhir yang akan selalu aku tuju hingga waktu terhenti tanpa permisi.”


“Cintaku, Aruni.”


"Deg!" Jantung Rachel seperti berhenti berdetak dalam beberapa saat.

__ADS_1


“Akh….” Nafas Rachel terasa berat membaca barisan puisi penuh cinta itu ia sampai tidak bisa bernafas saat merasakan seperti ada pukulan telak yang menghujam jantungnya.


Tubuh Rachel nyaris rubuh,  ia berpegangan pada kursi Nata yang berdiri kokoh di sampingnya. Rachel menangis tanpa isakan, hanya air matanya saja yang menetes tanpa henti hingga penglihatannya sangat samar. Percayalah, terisak itu butuh tenaga dan keberanian untuk mengakui kalau dirinya hancur.


Melihat foto itu, Rachel sadar kalau,


Wanita itu cantik.


Wanita itu mirip Marsya.


Dan wanita itu dicintai sepenuh hati oleh Nata.


Apalagi yang harus ia akui sekarang? Hatinya yang hancur?


Ya, tentu saja sangat hancur. Kedua kakinya bahkan gemetar, nyaris tidak bisa menopang bobot tubuhnya yang ringan seperti kapas. Melihat foto ini membuat Rachel merasa kalau harapannya untuk bisa dicintai Nata memang hanya angan. Alasan Rachel tidak pernah merasakan perasaan cinta Nata pun kini jelas mengisi pikirannya dan ini membuatnya sesak.


“Kenapa mas masih menyimpan fotonya? Kenapa Mas menyembunyikan ini dariku?”


Rachel bertanya dalam hati, apa wanita ini juga yang membawa serta semua cinta Nata hingga tidak berbekas dan tidak tersisa?


Rachel masih penasaran dengan apa yang dilihatnya. Ia mencari lebih banyak kenyataan yang harus ia tahu.


Tanpa sengaja, di laci ketiga Rachel menemukan sebuah album foto. Dadanya sudah berdesir lebih dulu hanya karena melihat sampul foto berwarna merah muda dengan gambar hati di tengah-tengahnya. Mengapa Nata menyimpan ini, bukankah ia sangat membenci segala sesuatu yang warna merah muda?


Rachel tidak tinggal diam. Ia membuka satu per satu halam album foto itu. Ia kembali terhenyak saat melihat banyaknya foto Nata dan wanita bernama Aruni ini di sana.


Rachel mengusap satu foto Nata yang sedang tertawa dengan lebar. Di sampingnya ada wanita cantik itu sedang berusaha menyuapkan pasta ke mulut Nata.


Benar bukan, wanita ini lah yang bisa membuat suaminya tertawa.

__ADS_1


Di halaman berikutnya, ada foto-foto Aruni. Penampilannya sederhana, wajahnya terlihat polos tanpa riasan dan hal cantik lainnya yang terpancar secara alami.


Tunggu, ada yang janggal yang Rachel temukan.


Rachel memperhatikan banyak hal dari sosok Aruni. Cara berpakaian, warna lipstick yang Nata perbolehkan untuk digunakan, tinggi sepatu yang tidak boleh terlalu tinggi, model rambut yang Nata sukai dan tentu saja foto sebuah tempat makan dengan menu makanan yang asing untuk Rachel. Benar, restoran sushi.


Nata sedang bersama wanita itu di sana. Dari dekorasi balon yang ada, sepertinya mereka sedang merayakan anniversary hubungan mereka. Lilin menyala di antara mereka, ada bucket bunga yang cantik, sebuah kotak cincin berwarna merah terpotret di foto yang Rachel lihat.


Sementara cincinnya sudah tersemat di jari wanita itu dan tengah di kecup oleh Nata. Tatapan yang tulus dan penuh cinta jelas Nata tunjukkan pada wanita yang duduk dengan tegak dan tidak bisa menahan senyumnya.


Rachel segera berpindah ke halaman lain. Di halaman ini Rachel melihat Aruni baru bangun tidur dan mengenakan gaun tidur yang sama persis dengan miliknya. Warna merah maroon, favorit Nata. Wanita itu merentangakan tangannya seolah menyambut Nata untuk datang ke pelukannya.


“Buk!”


Rachel memutuskan untuk menutup album itu. Pertahananya sudah lemah melihat semua potret romansa antara Nata dengan Aruni. Ia seperti tidak memiliki celah dalam hubungan mereka meski statusnya saat ini adalah istri Nata.


Rachel sekarang paham, mengapa Nata tidak pernah bisa menerimanya. Rachel juga paham mengapa barang-barang yang dibelikan Nata untuknya adalah barang-barang seperti itu.


Karena, yang Nata cintai adalah Aruni. Selamanya hanya Aruni hingga Nata seolah ingin mengubah Rachel Menjadi Dia. Dia, Aruni, wanita yang sangat Nata cintai.


"Akh sial," ucap Rachel pelan setengah putus asa.


Pada titik ini, Rachel hanya bisa tercenung mendapati benang merah yang berhasil ia rangkai di benaknya. Tubuhnya sudah tidak bisa setegak semula. Terlalu lemah hingga ia membaringkan tubuhnya di atas karpet sambil memandangi satu foto Nata yang mengenakan jas. Butiran air mata terus menetes bersamaan dengan rasa terbuang yang datang saat ia menyadari posisinya saat ini.


Ia bisa paham, mengapa Nata selalu terlihat tegang saat bertemu Marsya. Tentu saja, karena sosoknya yang mirip Aruni dan selalu menjadi wanita yang ia cintai.


Dimana dia sekarang? Bagaimana jika kemudian wanita itu kembali di antara ia dan Nata? Bukankah ia yang pada akhirnya akan terbuang?


Lantas, apa yang harus lakukan sekarang? Terpuruk begini sajakah?

__ADS_1


Rasanya, posisinya terlalu sulit jika yang menjadi saingan Rachel adalah masa lalu Nata yang terlampau indah bersama Aruni.


****


__ADS_2