Menjadi Dia

Menjadi Dia
Aruni


__ADS_3

Break,


Itu yang Ivana istilahkan untuk ia dan Rachel saat ini.


Di ruangan Ivana saat ini mereka berada. Di atas meja, ada dua cangkir teh yang disiapkan Ivana untuknya dan Rachel. Pintu ruangan kerja Ivana sengaja terbuka, agar keduanya bisa melihat apa yang sedang dilakukan Nata dan Calvin di ruang rapat sana.


Tirai ruang rapat memang sengaja mereka buka karena Calvin sedang mengajari Nata banyak hal tentang ekspresi. Mereka terlihat professional saat bekerja, tidak ada pertumpahan darah di antara keduanya walau mereka pernah menjadi saingan.


Ya, Calvin menyebutnya pernah menjadi saingan, karena ia sadar Rachel tidak membuka celah sedikitpun untuk ia masuk dalam hubungannya. Ia merasa, Nata terlalu beruntung memiliki Rachel.


Di tempatnya, Rachel meneguk tehnya, dan memalingkan wajahnya saat Nata menatapnya dari kaca jendela dan tersenyum kecil. Ia pura-pura tidak melihat usaha Nata dan memilih untuk menoleh Ivana yang juga sedang menikmati tehnya.


“Gimana kabar Brandon sama mamah Martha kak?” tanya Rachel yang berusaha terlihat tenang di tengah gempuran usaha Nata yang terus mencari perhatiannya.


Laki-laki itu bahkan terlihat gelisah dan ingin segera menyelesaikan sesi belajarnya bersama Calvin. Arahan teoritis dari Calvin di cerna dengan cepat oleh otak Nata. Melihat Rachel yang menunggunya, membuat adrenalinenya melonjak dan memberinya banyak semangat.


“Em, baik.” Ivana menaruh cangkir tehnya lantas balas menatap Rachel.


“Minggu besok, Brandon akan tampil di sekolahnya. Entah apa yang akan dia tampilkan karena katanya surprise. Tapi menurut gurunya, Brandon sudah berani berdiri dihadapan orang banyak. Kata Miss Rida, akan ada kejutan manis dari Brandon, buat kita."


"Kamu bisa dateng kan, Chel? Brandon pasti akan seneng banget kalau tau mamih Acennya liat penampilan dia.” Ungkap Ivana seraya menggenggam tangan Rachel. Ia tahu persis seberapa rindunya Brandon pada Rachel.


“Aku usahakan. Aku juga kangen sama Brandon, pengen ketemu dia.” Aku Rachel sambil tersenyum tipis. Ia selalu ingat bagaimana cara Brandon memeluk dan menenangkannya. Ungkapan cinta anak istimewa itu selalu membekas di hati Rachel.


“Iya Brandon juga kangen sama kamu.” Ivana mengusap lembut lengan Rachel.


“Dan tentang mamah,” Ivana menjeda kalimatnya beberapa saat. Ada rasa sesak saat mendengar Rachel bertanya kabar tentang ibunya. Semua kesalahan Martha pada Rachel seperti kembali berputar di kepala Ivana.


“Mamah semakin membaik walaupun dia belum bisa berpindah sendiri. Mamah seperti balik lagi jadi bayi, belum bisa bicara, hanya satu tangannya aja yang bisa bergerak. Itupun hanya tangan kanan. Dia bergantung sepenuhnya pada orang-orang disekitarnya.”


“Progres baiknya, sekarang mamah udah bisa duduk tegak di kursi roda. Selang makannya juga udah di lepas, seminggu lalu. Hanya makanannya memang masih harus yang lembek dan berkuah. Kalau mau ngomong, mamah nulis di kertas atau hp. Tulisan tangannya tidak lebih baik dari Brandon, tapi aku tau dia berusaha keras untuk sembuh.” Setelah kalimat ini Ivana terdiam beberapa saat. Ia menatap Rachel dengan penuh rasa bersalah.


“Makasih karena waktu itu kamu udah bersedia bicara sama mamah. Kata dokter, suara kamu membangunkan alam bawah sadar mamah. Hal itulah yang kemudian membuat mamah bisa bertahan. Makasih ya Chel.” Ivana menggenggam tangan Rachel dengan erat. Penuh kehangatan.


“Aku bersyukur kalau kondisi mamah membaik. Semoga mamah sehat selalu.” Ungkap Rachel dengan penuh kesungguhan.


Dulu, ia memang sangat sedih setiap kali mendapat perlakuan tidak adil dari Martha. Tapi sekarang, perasaan sedih dan marah itu sudah sangat jauh berkurang bahkan nyaris tidak ada. Hal itu yang akhirnya membuat Rachel bisa tidur dengan nyenyak.


Seperti yang pernah Eva katakan, dibenci oleh seseorang itu terkadang tidak memerlukan alasan. Dan menyayangi serta mengasihi seseorang, tidak perlu ada batasan. Hanya kadar perhatiannya saja yang berbeda.


Ucapan Eva itu, sekarang menjadi moto hidup Rachel. Dengan cara seperti itu, Ia lebih bisa tenang dan menerima dirinya sebagai seseorang yang bisa dicintai dan dibenci orang lain. Apa yang salah dengan itu, toh kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Kita hanya bisa menjadi versi terbaik dari diri kita.

__ADS_1


Orang lain selalu punya ekspektasi terhadap kita dan kita tidak pernah berkewajiban mewujudkan ekspektasi orang lain. Yang perlu kita lakukan adalah, menerima dan berdamai diri kita sendiri serta berusaha menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Tidak perlu menjadi dia yang diharapkan orang lain, cukup menjadi diri sendiri yang mencintai diri kita dan orang lain.


Haaahhhh, setenang itu hati Rachel sekarang.


“Lalu, gimana hubungan kamu sama Nata?” kali ini berganti Ivana yang bertanya.


Ia melihat sikap Rachel yang jauh lebih luluh pada adiknya di banding awal mereka berpisah.


“Masih sama, kami sudah sepakat untuk berpisah dan menunggu panggilan sidang pertama. Mas Nata minta di kasih kesempatan untuk bisa mengajukan mediasi. Entah apa yang ada dipikiran dia sekarang.” Rachel menatap Nata beberapa saat, laki-laki itu begitu serius belajar mendalami perannya pada Calvin.


“Kamu, cuma kamu dan anak kalian yang jadi prioritas di pikiran Nata sekarang.” Timpal Ivana dengan penuh keyakinan.


Rachel tertegun, ia mengalihkan pandangannya pada Ivana dengan dahi terkerut. Jujur, ucapan Ivana membuat jantungnya berdebar kencang.


“Aku mau bercerita tentang sesuatu dan setelah itu, kamu bebas menilainya dari sudut pandang kamu.” Ivana menatap Rachel dengan lekat.


Rachel mengangguk kecil.


Ivana menghela nafasnya dalam sebelum memulai ceritanya karena menceritakan hal ini juga akan membuka luka lamanya.


“Aruni. Nata punya mantan pacar namanya Aruni.” Ucapnya hati-hati. Ia menatap Rachel, menunggu respon adik iparnya.


Deg!


“Dia adalah cinta pertama Nata selama lebih dari entah lima atau enam tahun. Mereka berhubungan sejak sama-sama kuliah, hingga lulus. Aruni adalah seorang putri pengusaha sukses. Orang tuanya adalah saingan bisnis papah.” Ivana melanjutkan ceritanya.


“Melihat hubungan mereka yang sudah cukup lama, suatu hari, Nata memutuskan untuk melamar Aruni. Dia merasa sudah sangat siap meminang Aruni yang begitu dia cintai. Dia datang ke rumah dan memperkenalkan Aruni sama mamah, papah, aku dan tentu saja Brandon yang saat itu baru berusia sekitar satu tahun.”


Ivana menjeda kalimatnya beberapa saat, rasa sesak itu kembali terasa.


“Dia bertanya, kenapa Brandon belum bisa melakukan apapun di usianya yang menginjak satu tahun? Dia masih seperti anak berusia enam atau tujuh bulan dan belum bisa benar-benar menegakkan kepalanya.” Ivana tersenyum ketir mengingat pertanyaan Aruni kala itu.


“Aku bilang, Brandon anak istimewa.” Suara Ivana terdengar bergetar.


“Saat itu juga, Aruni langsung diam mematung. Aku bisa ngeliat ekspresi wajahnya yang berubah jijik melihat Brandon. Dia menatap Nata dan menatapku sambil berkata, kalau begitu ada kemungkinan aku juga kelak akan memiliki anak cacat kalau nikah sama mas? Dia nanya gitu depan aku dan Nata.” Ivana menghembuskan nafasnya pelan. Bayangan wajah Aruni seperti berkelebat di rongga pikirannya.


“Saat itu, aku gak bisa jawab apa-apa, Chel. Aku liat dia ngelepas cincin dari Nata sambil bilang, kalau dia gak siap punya anak cacat dengan Nata. Dia juga pergi gitu aja dan meninggalkan makan malam yang sudah disiapkan Nata untuk menyampaikan maksudnya sama papah dan mamah kalau mereka memutuskan akan menikah.”


“Aku tau, hati Nata hancur. Alih-alih melihat kesedihan, aku lebih melihat kemarahan di mata Nata. Nata merasa Aruni sudah merendahkan kami dengan pergi begitu saja. Padahal mereka sudah berjanji kalau mereka akan menerima kekurangan satu sama lain, sehidup semati.”


“Beberapa saat setelah itu, Nata baru tahu kalau Aruni ternyata dijodohkan oleh orang tuanya. Orang tua Aruni juga berusaha menghancurkan perusahaan papah dengan menyebar isu-isu negative tentang perusahaan kami hingga kami jatuh bangkrut. Isu-isu itu berasal dari Aruni yang ternyata tidak pernah benar-benar mencintai Nata. Dia cuma memanfaatkan hubungan mereka dengan mencari tahu kelemahan perusahaan kami.”

__ADS_1


“Nata benar-benar marah saat itu dan dia sangat membenci Aruni. Aruni yang dia cintai menjadi musuh terbesar Nata." Ivana menatap sosok Nata di sebrang sana dengan tatapan iba.


"Tapi, tuhan itu adil. Dia membuat kehidupan Aruni jauh dari kata bahagia. Dalam pernikahannya, Aruni sering mendapat tindakan kekerasan dari suaminya. Hingga kemudian, Aruni sadar dan datang lagi, memohon sama Nata untuk kembali sama Dia.”


"Aku ingat persis, penampilan hancur Aruni saat itu sangat mirip dengan penampilan Marsya beberapa waktu lalu, saat datang memohon kebebasan untuk mokondo gila itu." Ivana sedikit sinis.


"Apa mas Natanya mau?" Rachel penasaran.


“Tentu aja Nata gak mau. Dia menolak segala cara yang digunakan Aruni untuk mendekati Nata lagi.”


“Hingga suatu hari, Aruni menghubungi Nata lewat telepon rumah.”


“Dia mengancam akan bunuh diri kalau Nata gak mau kembali sama dia. Saat itu Nata gak percaya sampai kemudian beberapa polisi datang ke rumah dan mengajak Nata ke suatu tempat. Tepatnya apartemen yang dibeli Nata untuk Aruni.”


“Aruni berdiri di lantai paling tinggi Gedung apartemen itu. Aku sama Nata buru-buru naik untuk membujuk Aruni agar turun. Tapi sayangnya, Aruni memilih lompat di saat kamu baru sampai di depan pintu lift.”


“Tubuhnya bersimbah darah dan Nata merasa sangat bersalah.”


“Sejak kejadian itu, Nata mengalami trauma. Dia depresi tapi terus mengingkari perasaannya sendiri kalau dia sedang depresi. Dia menolak buat konsultasi dengan psikiater. Dia mengalihkan rasa bersalahnya dengan berkerja gila-gilaann. Akibat bagusnya adalah, perusahaan kami kembali bangkit tapi akibat buruknya, trauma Nata semakin besar.”


“Karena itu, setelah bertemu kamu, aku dan papah mencari tau tentang kamu, Chel. Kami merasa kamu adalah wanita yang bisa membantu Nata."


"Dan benar saja, Nata berangsur membaik. Kalau kamu melihat Nata sering pulang malam, itu bukan sepenuhnya lembur. Dia sering kali datang ke psikiater untuk menyembuhkan traumanya.”


“Tapi, beberapa bulan lalu Nata berhenti datang ke psikiater. Katanya, kamu adalah obat buat dia. Karena itu, dia mau menghabiskan waktunya lebih banyak sama kamu. Dia jatuh cinta sama kamu sampai ia selalu ingin cepat-cepat pulang demi bisa ketemu kamu.”


“Saat jatuh cinta, Nata memang selalu bodoh. Sampai dia lalai. Dia lupa kalau sebelum mencintai orang lain, dia harus mencintai dirinya sendiri. Dia harus menyembuhkan dirinya sebelum bisa bersama kamu sepenuhnya. Dan kelalaian itu, membuat mentalnya melemah. Marsya begitu hebat memainkan perannya untuk mengorek luka dan rasa bersalah Nata. Nata kebingungan karena bayangan Aruni terus muncul dipikirannya.”


“Aku masih mengingat bagaimana dia duduk berjam-jam bersama psikiater hingga memutuskan untuk tidak pulang. Dia gak berani ketemu sama kamu karena dia sadar, selama ini dia nyimpen bayangan Aruni di kamu.”


“Itu kesalahan terbesar dia Chel dan aku kecewa sama Nata."


Ivana meraih tangan Rachel dan menggenggamnya dengan erat.


"Tapi sekarang, dia benar-benar menyesal. Buat Nata, kehilangan kamu jauh lebih menakutkan dibanding kehilangan Aruni. Ia tidak lagi mempermasalahkan kalau kamu tau dia cinta sama kamu sehingga bisa melakukan apapun terhadap dia. Karena dia percaya, kamu bukan Aruni.” Tegas Ivana.


"Bisakah kamu ngasih kesempatan kedua buat Nata? Aku tau, luka kamu tidak kecil tapi aku juga tau kalau usaha Nata tidak pernah main-main. Dia sungguh-sunggu cinta sama kamu."


"Maaf kalau aku lancang dan meminta hal bodoh ini sama kamu." Tandas Ivana dengan tatapan sendu yang menyayat hati.


Rachel terdiam beberapa saat. Perasaan dan pikirannya kembali berdebat setelah mendengar semua cerita Ivana.

__ADS_1


Entah apa yang harus ia lakukan sekarang. Bisakah ia mempercayai Nata lagi?


*****


__ADS_2