Menjadi Dia

Menjadi Dia
Ketakutan yang semakin menjadi


__ADS_3

Di depan toko Ruby, seseorang masih terdiam di dalam mobil dan memperhatikan dari sebrang jalan. Sudah dua jam ia mengintai dari sana. Melihat apa saja yang dilakukan Ruby di toko dan siapa saja yang datang ke toko itu.


Nata, yang tengah harap-harap cemas menunggu seseorang yang ia harap akan keluar atau masuk ke dalam toko itu.


Sudah lima hari ini Nata rutin berdiam diri melakukan pengintaian dari kejauhan. Waktu berjam-jam ia habiskan selain untuk termenung juga menunggu Rachel datang ke toko itu. Tapi belum sekalipun Rachel datang berkunjung, membuat Nata semakin was-was.


Tempat lain yang sering ia datangi adalah rumah Eva. Ia sering mengintai di sana. Sampai semalam, ia diusir oleh seorang warga yang curiga terhadapnya. Berpakaian serba tertutup dan mengintai rumah Eva. Ia dikira penguntit yang akan merampok rumah Eva.


“Mau maling kamu ya?!” seru seseorang yang tiba-tiba memukul punggung Nata. Tentu saja Nata segera pergi karena takut ketahuan Eva dan Ruby. Mungkin untuk sementara ini ia tidak akan datang ke rumah itu.


Kantor manajemen artis juga satu tempat yang sering Nata intai. Biasanya ia akan berdiam diri di jam hectic. Banyak orang yang datang dan pergi tapi Rachel tidak pernah menjadi salah satunya.


Rachel tidak pernah muncul dimana pun termasuk sekolah Brandon.


Nata semakin frustasi. Tempat yang sering dikunjungi Rachel tidaklah banyak, tapi sedikit tempat itu tidak pernah memberinya petunjuk.


Terkadang ia ingin turun dan bertanya langsung pada Eva atau Ruby. Tapi, apa yang akan ia katakan kalau mereka bertanya balik,


“Kemana Rachel? Dia gak ikut?”

__ADS_1


Akh, apa yang harus ia jawab? Haruskah ia menjawab kalau Rachel pergi dari hidupnya dan sekarang entah dimana?


Perasaan itulah yang menahan Nata untuk datang menemui Eva dan Ruby. Pada bagian ini ia sadar kalau ia sangat pengecut, persis yang dikatakan Ivana. Padahal ia sangat merindukan sosok pemilik wajah yang terpampang di papan toko milik Ruby. Sosoknya yang cantik, terlihat jelas dari sebrang toko.


Ivana benar, Rachel sangat cantik dan bodohnya Nata karena baru menyadarinya belakangan ini.


Nata kembali mengecek ponselnya, melihat ulang pesan-pesan yang sudah ia kirim pada Rachel. Masih sama, belum ada yang di baca oleh Rachel. Rachelpun tidak balik menelponnya padahal ia sudah berpesan,


“Tolong hubungi aku saat kamu membaca pesan ini Chel.” Begitu bunyi pesan ke delapan puluh dua yang ia kirim pada Rachel. Tapi tetap saja, pesan ini pun tidak di baca Rachel.


Harusnya ia tidak melepas aplikasi tracking di ponsel Rachel. Harusnya ia juga tidak berhenti menyadap ponsel Rachel, agar setiap saat ia bisa tahu keberadaan istrinya.


Namun, salahkah kalau Nata menyesal telah mengembalikan privacy itu dan membuat kondisi mereka saat ini semakin menjauh?


Nata tidak bisa menjawabnya. Ia hanya menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok, membentur-benturkan kepalanya beberapa kali sambil memejamkan matanya. Saat membuka matanya, Ia melihat bayangan dirinya di kaca visor dengan tampilan yang berantakan. Rambut halus di sekitar rahang dan dagunya semakin tidak terurus. Akh, menyedihkan sekali. Kepergian Rachel ternyata membuat Nata lupa pada banyak hal termasuk memperhatikan dirinya sendiri.


“Tring!” sebuah pesan masuk ke ponsel Nata.


Nata segera membacanya. Ia pikir itu dari Rachel, tapi ternyata dari Ivana.

__ADS_1


“Kamu dimana? Ini ada klien yang mau ketemu.” Begitu isi pesan yang dikirim Ivana padanya.


Nata hanya membaca notifikasinya saja, tidak membuka isi pesan secara utuh. Baginya, selain pesan dari Rachel, pesan lainnya tidaklah penting.


Tapi tiba-tiba Nata terpikir sesuatu. Kalau ia bisa berpikiran seperti itu, bukankah Rachel juga mungkin berpikiran hal yang sama?


“Apa dia juga menganggap pesanku tidak penting?” gumam Nata sambil memandangi layar ponselnya.


Memikirkan perkataannya sendiri, membuat Nata semakin ketar-ketir. Benar, bagaimana kalau Rachel sudah tidak menganggap penting pesan yang ia kirim?


Lebih dari itu, bagaimana kalau Rachel sudah tidak menganggap penting rasa cemas dan cinta yang ia tunjukkan? Bukankah ini berarti peluang untuk mereka kembali kersama, akan semakin kecil?


“Arkh! Tidak. Ini tidak boleh terjadi!” dengus Nata seraya mengguyar rambutnya kasar. Ucapan Ivana yang terngiang di telingannya juga semakin menambah rasa takutnya.


“Aku yakin, suatu saat selera Rachel bukan kamu lagi. Dia juga udah ilang rasa sama kamu. Maka pada akhirnya kamu gak akan dapet apa-apa selain penyesalan.” Ujar Ivana pagi tadi.


“Akh tidak, aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.” Batin Nata yang semakin ketar-ketir. Mimpi buruknya tentang Rachel malah semakin nyata dan mulai terwujud satu per satu.


Apa ia akan benar-benar kehilangan Rachel?

__ADS_1


****


__ADS_2