Menjadi Dia

Menjadi Dia
Memulai usaha


__ADS_3

“Mau kemana kamu?” tanya Ivana yang menjeda langkah Nata di anak tangga.


Adiknya sudah berpakaian lengkap walau tidak serapih biasanya. Kerah bajunya bahkan masih berdiri, terlihat sekali kalau Nata sedang tergesa-gesa.


“Pergi!” sahutnya. Ia kembali mengecek ponselnya, melanjutkan membuat penggilan pada satu nomor yang sedari tadi tidak menjawab panggilannya.


“Pergi kemana?” Ivana sangat penasaran. Karena tidak biasanya Nata keluar kamar bahkan hanya untuk sekedar makan.


“Akh sial!” bukannya menjawab pertanyaan Ivana, Nata malah mendengus kesal pada benda pipih yang tidak bisa ia ajak bekerja sama.


“Kamu ngehubungin siapa sih?!” Ivana mengecek ponsel di tangan Nata.


Nama Rachel yang terlihat olehnya dan sudah puluhan kali Nata hubungi. Ia melihatnya sedikit karena Nata langsung mengibaskan tangannya.


“Kamu mau nyari Rachel? Mau ngapain?” cerca Ivana dengan tidak suka.


“Bukan urusan kakak!” seru Nata tanpa menatap Ivana sedikitpun.


Ia mengulang lagi panggilan namun sayangnya kali ini malah tidak aktif. Nata berdecik sebal membuat Ivana tersenyum sinis.

__ADS_1


“Ngapain kamu nyari Rachel? Baru sadar ya kalau ada yang kosong setelah dia gak ada?” Ivana bertanya dengan enteng.


Nata tidak menjawabnya tapi ia akui kebenaran perkataan Ivana.


Sejak semalam, ia tidak bisa tidur. Bayangan Rachel ada dimana-mana dan harus ia akui ia sangat gelisah. Tidak sedetikpun ia memejamkan matanya karena ia sangat ingin tahu kondisi Rachel saat ini.


Entah ini ikatan batin atau bukan, yang jelas ia sangat ingin melihat wajah Rachel atau paling tidak mendengar suaranya dan mengetahui kalau Rachel baik-baik saja.


Semalam ia pun berniat mencoba menghubungi Rachel setelah memikirkan banyak hal. Tapi ia tidak memiliki cukup keberanian untuk menyapa istrinya. Ia masih memikirkan perkataan Rachel, mana yang Nata lihat dari dirinya saat ini, Rachel ataukah Aruni?


Setelah perdebatan dan pergolakan batin semalam, rasanya ia tahu jawabannya. Alasan ia tidak bisa melupakan Aruni dan melakukan banyak hal bodoh pada Rachel adalah karena rasa bersalahnya. Sementara usaha yang sedang ia mulai untuk Rachel adalah karena ia tidak bisa membiarkan Rachel pergi begitu saja.


Sulitnya membayangkan Rachel pergi dari hidupnya adalah karena Rachel telah menjadi separuh hidupnya. Ia seperti disadarkan kalau Rachel sangat berharga. Dari itu, saat Rachel tidak menjawab teleponnya, ia sangat panik dan ketakutan. Ekpresi itu jelas terlihat dari raut wajahnya yang tidak ia coba sembunyikan lagi.


“Nggak mau! Aku gak mau ganggu Rachel lagi apalagi kalau kamu yang minta.” Dengan tegas Ivana menolak. Ia menyilangkan tangannya di depan dada, berusaha terlihat acuh.


“Kak, ayolah. Aku perlu tahu Rachel ada dimana. Satu menit aja, aku mau tau kabar dia.” Nata memohon dengan sungguh. Wajahnya jelas terlihat putus asa.


“Ya itu urusan kamu. Kamu cari sendiri lah!” Ivana menjawab dengan sinis, membuat Nata hanya bisa mengguyar rambutnya kasar. Benar-benar membuatnya frustasi.

__ADS_1


Meminta bantuan Ivana memang hanya akan sia-sia.


“Aku udah gak mau Rachel masuk ke rumah ini kalau cuma buat liat dia disakiti batinnya sama kamu. Biar aja dia bebas ngelakuin apa yang dia mau di luar sana tanpa terikat sama laki-laki gak berperasaan kayak kamu. Menikmati pekerjaannya, berkenalan dengan orang baru, menjalin hubungan dengan orang baru yang lebih baik dari kamu. Dan kamu, segera tanda tangani surat ajuan perceraian kamu. Udah aku siapin di atas meja kerja kamu.” Cerocos Ivana tanpa memberi jeda pada kalimatnya yang menakut-nakuti Nata.


“KAK!” Nata hanya bisa berseru. Ivana melihat dengan jelas wajah Nata yang semakin panik dan ketakutan.


“Apa?!” Ivana balik meninggikan suaranya.


“Inget ya, udah cukup waktu lebih dari satu tahun buat Rachel memberikan yang terbaik buat kamu. Sekarang udah waktunya dia memberikan waktunya untuk dirinya sendiri. Dia layak bahagia dan dibahagiakan sama orang yang mencintai dia dengan tulus. Aku harap sih dia gak lama-lama move on dari kamu.” Ivana melirik Nata dengan sinis.


“Apalagi setelah dia makin terkenal, makin banyak tuh cowok yang pasti berusaha buat negdapetin dia. Kamu bakalan banyak saingan. Dan inget, saat Rachel memiliki banyak pilihan, kesempatan kamu cuma sepersekian dari jumlah populasi laki-laki yang menginginkan dia. Dan mungkin aja, selera Rachel udah bukan kamu lagi. Mungkin sekarang selera dia cowok bule yang selalu bisa memperlakukan pasangannya dengan sangat baik.” Ivana memang sengaja menampar hati Nata dan menyadarkannya agar adiknya tidak lagi berbuat kekeliruan.


“Sekarang aku tanya, apa yang bisa kamu kasih ke Rachel? Apa usaha terbaik kamu buat dia? Pikirin dulu itu. Jangan samperin Rachel sebelum kamu siap mengendalikan diri kamu sendiri.”


“Selama empat tahun kamu udah melakukan banyak kebodohan. Merutuki kepergian Aruni dengan alasan yang tidak jelas sampai membiarkan wanita terbaik buat kamu, pergi gitu aja. Tapi kali ini, kamu gak bisa selama itu untuk menunjukkan usaha terbaik kamu buat Rachel.”


“Ingat, Rachel berhak memilih dan kamu wajb menghormati pilihannya. Kalau kamu gak mampu ngasih yang terbaik buat dia, segera tanda tangani ajuan perceraian kalian dan jangan lama-lama. Tapi kalau kamu merasa mampu, kejar dia buat dia percaya sama kamu. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, perasaan Rachel ke kamu sekarang hanya perasaan kecewa, aku yakin udah gak ada cinta di hati Rachel buat kamu.” Tegas Ivana hingga membuat Nata tercenung di tempatnya.


Semakin lama, semakin menakutkan saja ucapan Ivana. Semakin takut pula kalau yang Ivana katakan itu benar. Rachel tidak lagi mencintainya melainkan hanya kecewa padanya.

__ADS_1


Lantas apa yang harus ia lakukan sekarang? Menyerah saja kah?


****


__ADS_2