
“Em, aku butuh masukan mas, aku mau nanya lagi boleh?” seperti anak kecil yang penasaran ia kembali bertanya.
“Silakan.” Nata membaringkan tubuhnya menyamping. Sambil memeluk guling sesekali ia menoleh Rachel memberi perhatian.
“Jadi, aku punya temen perempuan, dia ngalamin pelecehan di rumahnya dari iparnya sendiri. Dia mau cerita sama suaminya gak berani karena gak punya bukti. Dia juga gak yakin kalau suaminya akan percaya sama cerita dia. Menurut mas, dia harus gimana?” kali ini Rachel mengasosiasikan pertanyaannya pada orang lain.
Alih-alih menjawab, Nata malah mengernyitkan dahinya.
“Sejak kapan kamu punya temen dengan masalah serumit itu?” Nata balik bertanya, pertanyaan yang tidak pernah Rachel duga.
“Em udah lama, tapi dia baru berani ngomong sekarang ke aku.” Sahut Rachel sekenanya. Ia terpaksa berbohong karena harus tahu dulu sudut pandang Nata.
Nata tampak terdiam beberapa saat. Memandangi Rachel yang gelisah.
“Seperti apa bentuk pelecehannya?” Nata mulai tertarik pada cerita Rachel dan itu membuat Rachel lega.
“Iparnya itu sering ngirimin pesan-pesan gak senonoh, bicara tentang masalah ranjang, nyentuh tangan dan kaki. Bahkan dia sempet ngurung aku, eh maksudnya temen aku, di kamarnya. Dia sengaja ngelakuin itu entah untuk maksud menakut-nakuti atau memang mau melakukan hal yang tidak-tidak.” Karena semangat Rachel hampir keceplosan.
“Kalau begitu, laporkan dia.” Jawaban Nata simple.
“I-iya, temen aku mau lapor tapi dia gak punya bukti. Orang itu selalu menghapus pesan yang dia kirim ke temen aku. Udah ada bukti juga malah gak sengaja ke hapus.”
“Ya kalau gitu, dia harus bilang sama suaminya. Cerita ke kamu gak akan nyelesein masalah dia.”
“Iya aku tau, tapi emang suaminya bakal percaya? Dia kan gak punya bukti.”
“Ya itu tergantung kedekatan dia sama suaminya. Kalau mereka deket dan udah mengenal satu sama lain, mana mungkin gak percaya.”
“Tapi dia gak yakin dia sedeket apa sama suaminya. “
“Hah, maksudnya?”
“Ya maksud aku, hubungan dia sama suaminya agak kaku. Jadi dia gak yakin sedeket apa hubungan dia sama suaminya. Gitu. Mas paham gak?” suara Rachel mulai meninggi.
“Kenapa kamu malah marah sama aku?” Nata jadi kembali terbangun dan duduk menghadap Rachel.
“Nggak, aku gak marah. Mungkin aku terlalu bersemangat makanya ngomongnya agak kenceng.” Rachel akhirnya kesal sendiri dan menghentikan kalimatnya. Ia memalingkan wajahnya dari Nata yang sedang menatapnya.
“Harusnya, suaminya bisa percaya.” Ucap Nata kemudian. Ia menatap Rachel yang gelisah dan kesal entah pada hal apa.
“Aku juga maunya gitu. Tapi temen akunya gak yakin.” Gumam Rachel sambil meremmas-remas ujung selimut yang ia pintal-pintal.
“Ya udah, itu masalah mereka. Kenapa jadi kita yang pusing.” Timpal Nata.
__ADS_1
Rachel hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, ternyata tidak ada gunanya membicarakan ini dengan seorang Nata yang tidak peka.
“Makasih mas udah mau dengerin cerita aku.” Rachel masih harus berterima kasih karena Nata tidak meninggalkannya tidur.
Ia berniat membaringkan tubuhnya, tapi kemudian,
“Eh tunggu. Dari tadi kamu nanya aku terus. Sekarang giliran aku yang nanya.” Tahan Nata.
Rachel kembali duduk. “Emang mas mau nanya apa?” Ia masih kesal dengan ketidakpekaan Nata.
Nata tidak lantas menjawab, ia mengambil sesuatu dari dalam laci dan menaruhya di tengah-tengah mereka.
“Kenapa kamu ngasihin ini ke laki-laki lain?” tanya Nata seraya menunjuk casing ponsel berinisial N yang di peluk tedy bear pada bagian belakang casing.
“Hah, kok ada di mas?” mata Rachel langsung membulat kaget.
“Malah nanya… jawab dulu pertanyaanku.” Nata tidak terima dengan timpalan Rachel.
“Hehehehe… iyaa, habis tadi aku kesel jadi aku titip ke Calvin karena kebetulan dia ada di kantor mas. Tapi mana casing satunya?” Rachel penasaran dengan cerita Ivana tadi.
Nata tidak menjawab, ia lebih memilih menunjukkan ponselnya yang sudah memakai casing pemberian Rachel dengan inisial R yang di peluk tedy bear.
“Waahhh gemooyy….” Seru Rachel yang kesenengan.
“Hehehe, lucu.” Ucapnya, saat melihat ternyata kalau di dekatkan begini ada bayangan hati yang menjadi utuh.
Nata jadi memandangi Rachel dan tersenyum kecil melihat tingkah kekanakan istrinya.
Tanpa sengaja, Rachel menoleh dan ia melihat senyuman Nata. Mata Rachel langsung membulat antusias dan Nata segera mengakhiri senyumnya.
“Mas senyum ya?” tanya Rachel penasaran.
“Nggak.” Nata segera memalingkan wajahnya.
“Ihh beneran, tadi aku liat mas senyum. Coba ulang lagi.” Rachel tetap berusaha melihat wajah suaminya.
“Nggak, aku gak senyum.” Nata masih berusaha mengingkari.
“Masssss, aku liat kok mas senyumm… ayo ulangin lagiiii… aku mau liat lagiii… hiiiiii… kayak gini.” Paksa Rachel.
“Nggak, gak mau. Aku gak senyum.” Nata memundurkan tubuhnya saat Rachel semakin mendekat untuk melihat senyumnya.
“Aku beneran liaaatt… ayo sekali lagi.” Rachel hendak menyentuh wajah Nata tapi Nata menghindar.
__ADS_1
Rachel hampir terjatuh terjerembab dari ranjang dan Nata mencoba menahan tubuhnya tapi yang terjadi kemudian,
“BRUG!”
“Akh!”
Keduanya jatuh bertumpukan di lantai dengan posisi Rachel yang berada di bawah. Beruntung tangan Nata menahan belakang kepala Rachel agar tidak terbentur.
Keduanya saling bertatapan beberapa saat.
“Apa sakit?” tanya Nata dengan suara rendah.
“Nggak. Tapi mas berat.” Timpal Rachel.
Nata tersenyum kecil dan kali ini tepat dihadapan Rachel.
“Mas senyum.” Seru Rachel dengan mata penuh binar.
Nata tidak menimpali, ia lebih memilih mencium bibir yang banyak bicara dan pintar protes itu dengan lembut hingga Rachel tercengang.
Nata menciumnya beberapa saat lalu melepasnya untuk sekedar melihat kembali etra bening milik istrinya yang kerap membuatnya tenang. Ia bisa melihat secara utuh wajah cantik Rachel yang ada di hadapannya.
“Maafkan aku untuk hari ini dan hari-hari sebelumnya.” Ucap Nata terdengar lirih dan penuh kesungguhan.
Ia merasa kalau belakangan ini ia terlalu jahat pada Rachel. Kemarahan Rachel seperti menjadi titik balik Nata untuk berpikir ulang tentang sikapnya selama ini.
Rachel mengangguk kecil, entah mengapa ia merasa dadanya sangat hangat.
“Aku tau, segala hal perlu proses. Dan aku akan selalu ada untuk setiap proses itu.” Timpal Rachel.
Tangan kanannya terangkat untuk menyentuh wajah Nata, wajah maskulin yang ditumbuhi jambang tipis hingga ke bawah dagu. Rachel mengusapnya perlahan membuat Nata merasakan desiran tidak tertahan yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Rachel mengangkat kepalanya sedikit lalu dengan berani ia mengecup bibir Nata lebih dulu selama beberapa detik. Saat ia akan melepaskannya, ternyata Nata malah merengkuh leher Rachel dan balas mencium bibir merah muda itu dengan lebih dalam.
Ia memagutnya dengan serakah dan menyesapnya dengan kuat hingga seluruh bibir Rachel terasa berada di dalam mulut Nata.
Rachel begitu menikmati pagutan yang sesekali terasa lembut dan sering kali sedikit kasar dengan ritme yang pas. Tangan Nata mulai bergeriliya, mengusap leher lalu dada Rachel dengan lembut, perlahan dan turun hingga ke perut.
“Emmhh….” Rachel bersuara lirih saat sapuan tangan Nata terasa begitu memanjakannya.
Nata mengusapkan jambangnya ke pipi Rachel membuat gadis itu menggelinjang. Ia sangat suka saat telinganya di penuhi suara-suara lembut milik Rachel yang meremangkan rambut halus di sekujur tubuhnya.
Dan malam itu semua di mulai di lantai dan berakhir di atas ranjang yang hangat.
__ADS_1
****