
Nadine terkejut melihat Anand yang berlari menghampiri seorang wanita yang menurutnya sangat cantik dan memanggilnya sayang. Bahkan semua orang yang ada di sekitar tempat itu nampak terkejut.
"Sayang, kamu datang? Kenapa tidak bilang kalau mau kesini? Jika kamu ingin kesini, aku bisa menyuruh orang untuk menjemput mu. Apa kamu membutuhkan sesuatu? Atau menginginkan sesuatu?"tanya Anand tersenyum lebar memegang pipi Rindy.
"𝙅𝙞𝙠𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙨𝙞𝙣𝙞, 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙢𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙨𝙚𝙡𝙞𝙣𝙜𝙠𝙪𝙝𝙖𝙣 𝙢𝙪 𝙞𝙣𝙞,"batin Rindy, berusaha bersikap tenang.
"Siapa sebenarnya wanita itu? Apa wanita itu kekasih Pak Anand? Pak Anand memanggilnya sayang,"bisik salah seorang resepsionis pada temannya.
"Tidak tahu wanita itu siapa. Tapi yang pasti, kita beruntung tidak mengusir wanita itu, kalau tidak, mungkin kita yang akan diusir dari perusahaan ini,"bisik resepsionis satunya.
"Aku hanya mengantarkan handphone mu yang tertinggal di rumah,"ujar Rindy seraya membuka sling bag nya.
"Kita ke ruangan ku saja,"ucap Anand merangkul Rindy hendak membawa Rindy ke ruangan nya, namun dihadang oleh Nadine.
"Anand, siapa dia?"tanya Nadine seraya mengernyitkan keningnya menatap Rindy dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Sayang, kenalkan, dia Nadine, teman lamaku dan juga rekan bisnisku,"Anand memperkenalkan Nadine, berharap Rindy tidak berpikir macam-macam tentang dirinya dan Nadine.
"Aku Rindy,"Rindy mengulurkan tangannya pada Nadine berusaha tersenyum tipis.
"Nadine,"ucap Nadine menyambut uluran tangan Rindy dengan ekspresi penasaran,"Kamu itu..."tanya Nadine langsung dipotong oleh Anand.
"Ini istriku,"ucap Anand tersenyum, masih merangkul Rindy dari samping.
"Is.. istri mu? Kapan kalian menikah? Kok, aku nggak diundang?"tanya Nadine lebih terdengar seperti protes, nampak tidak percaya.
Bukan hanya Nadine yang terkejut, orang-orang yang ada di sekitar tempat itu pun ikut terkejut mendengar pengakuan Anand.
Sedangkan Rindy, entah mengapa ada kelegaan di hati Rindy saat melihat ekspresi wajah Nadine dan mendengar kata-kata dari Nadine yang terdengar protes itu. Dari kata-kata Nadine, nampaknya wanita seksi itu memang hanya menganggap suaminya hanya sebatas teman. Dan dari ekspresi wajah Nadine juga tidak ada ekspresi cemburu. Hanya ekspresi penasaran, kesal dan kecewa yang terlihat di wajah wanita seksi itu.
"Aku lupa mengundang mu,"ujar Anand santai seraya merangkul Rindy membawanya menuju lift.
__ADS_1
"𝘼𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝘼𝙣𝙖𝙣𝙙? 𝙎𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝘼𝙣𝙖𝙣𝙙 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣,"gumam Rindy dalam hati.
Nadine hendak bicara lagi, tapi diurungkannya karena melihat banyak mata dan telinga yang tertuju pada mereka. Karena masih penasaran dengan Rindy, Nadine pun tidak jadi kembali ke perusahaan nya. Nadine malah mengikuti Anand dan Rindy masuk ke dalam lift.
"Aku adalah satu-satunya teman yang masih mau berteman dengan mu, walaupun aku tahu semua keburukan mu. Dan kamu lupa mengundang ku? Keterlaluan sekali kamu!"protes Nadine nampak kecewa.
"Aku lupa, gimana mau ingat,"sahut Anand santai. Saat ini hanya ada mereka bertiga yang ada di dalam lift itu.
"Cih, alasan!"Nadine berdecak kesal. "Rindy, apa kamu tahu, kalau Anand ini pria brengseek? Kamu sangat cantik, kenapa kamu mau menikah dengan si buaya darat, pria brengseek dan sang casanova ini?"cerocos Nadine yang berdiri di sebelah Rindy membuat Anand melotot menatap Nadine.
"Hei! Teman nggak ada akhlak! Balik ke asal mu sana! Jangan memprovokasi istri ku! Kenapa kamu mengikuti kami? Bukannya tadi kamu bilang akan kembali ke perusahaan mu?"sergah Anand masih memelototi Nadine.
"Aku tidak mau ada wanita baik-baik menjadi korban mu. Ini namanya solidaritas sebagai sesama wanita dari para pria brengseek seperti kamu,"ujar Nadine berapi-api.
"Sebaiknya kamu balik ke asal mu sana! Jangan menganggu aku dan istriku!"ketus Anand.
"Kamu sangka aku setan apa? Pakai suruh aku balik ke tempat asal ku!"protes Nadine.
"Nah, itu tahu,"ucap Anand santai.
Rindy hanya diam dengan segaris senyum tipis di bibirnya mendengarkan perdebatan kedua orang yang ada di samping kanan dan kirinya itu seraya menatap Nadine. Saat berada dekat dengan Nadine seperti saat ini, Rindy bisa mencium aroma parfum Nadine yang sama dengan parfum yang menempel di pakaian Anand waktu itu. Dan bentuk bibir Nadine juga sama seperti bentuk bibir yang menempel di kemeja Anand.
Entah mengapa Rindy yakin jika Nadine bukan selingkuhan Anand. Bahkan Rindy merasa bersalah karena telah mendiamkan Anand beberapa hari ini. Sepertinya dirinya memang sudah salah paham kepada Anand.
"Sayang, tidak usah dengerin dia! Anggap saja iklan yang numpang lewat,"ujar Anand dengan tangan kanan memeluk pinggang Rindy dan tangan kiri mengelus pipi Rindy lalu menundukkan kepalanya dan berbisik di telinga Rindy," Kamu cantik sekali,"ucap Anand kemudian mengecup dan menjilat leher Rindy membuat Rindy membulatkan matanya, tubuhnya meremang dan wajah nya bersemu merah karena malu dilihat Nadine.
"Woi.. jangan berbuat mesum di sini! Pantas saja kemarin pas di luar kota kamu buru-buru pengen pulang. Kerjaan lima hari di kebut jadi tiga hari. Sampai malam-malam di bela'in pulang. Ternyata udah kangen sama guling yang bisa meluk,"sindir Nadine.
Ucapan Nadine itu semakin membuat Rindy merasa bersalah. Rindy ingat waktu itu Anand pulang tengah malam dan langsung tertidur.
"Jomblo nggak boleh iri"cibir Anand.
__ADS_1
"Sialan. Kenapa juga aku betah punya teman modelan kamu,"gerutu Nadine bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.
"Eh, Rin! Kamu ke sini?"tanya Putra saat melihat Rindy.
"Kamu bekerja di sini?"Rindy tidak menjawab pertanyaan Putra, tapi malah balik bertanya.
"Iya. Aku bekerja sebagai sekretaris Anand,"jawab Putra dengan seulas senyum.
"Put, bawakan minuman untuk istriku! Buah-buahan juga, ya!"titah Anand kembali menarik tubuh Rindy yang masih dirangkul nya menuju ruangan nya.
"Siap, bos!"sahut Putra.
Sedangkan Nadine masih terus mengikuti Anand dan Rindy masuk ke dalam ruangan Anand.
"Hei! Kenapa kamu terus saja mengikuti kami! Pergi sana!"ketus Anand yang hanya ingin berduaan dengan istrinya.
"Haish.. kau ini! Kalau di depan klien wanita aja kamu dekat-dekat sama aku. Giliran kayak gini, malah jutek sama aku,"protes Nadine yang mengikuti Anand dan Rindy duduk di sofa yang ada di ruangan Anand.
"Eh..eh.. ingat, ya! Kita itu simbiosis mutualisme. Kamu juga sengaja dekat-dekat sama aku kalau ada klien pria yang nampak ganjen sama kamu. Atau jangan-jangan kamu beneran suka, ya sama aku?"ujar Anand membuat Nadine Nadine tertawa.
Anand memang sering sekali pura-pura bersikap mesra dengan Nadine, di depan klien wanita yang nampak menyukainya. Demikian pula dengan Nadine, yang akan bersikap mesra pada Anand jika ada klien pria yang nampak menyukainya.
"Aku?"tanya Nadine seraya menunjuk dirinya sendiri,"Suka sama kamu?"
...🌟"Saat melihat kenyataan, terkadang kita tidak membutuhkan penjelasan."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
.
To be continued