
“Tolong sampai sini aja kak.” Ucap Rachel saat mobil Calvin tiba di depan gerbang rumahnya.
“Tapi Brandon tidur.”
“Gak apa-apa, aku sanggup gendong dia.” Sahut Rachel.
Calvin hanya bisa memperhatikan Rachel. Ia tidak lagi berusaha mendebat kekeras kepalaan Rachel seperti yang pernah dikatakan Ruby. Wanita ini pasti sudah lelah dan Calvin tidak mau menambah bebannya.
Calvin turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Rachel. Benar saja, wanita bertubuh kurus itu menggendong Brandon yang bobotnya pasti sangat berat.
“Kamu beneran gak perlu bantuanku?” Calvin ingin memastikan.
“Tidak kak terima kasih.” Ucap Rachel. Ia mengalungkan tasnya di leher.
“Tolong, anggap kakak gak liat apapun hari ini.” Pesan Rachel.
Calvin tidak berreaksi, ia tidak berjanji tapi ia memang tidak berniat mengecewakan Rachel.
“Masuklah, jangan berpikir terlalu banyak.” Sahut Calvin berusaha menenangkan Rachel.
“Terima kasih kak.” Rachel mengangguk sopan sebelum kemudian ia masuk melewati gerbang rumah yang kokoh lagi mewah itu.
Calvin terdiam beberapa saat, ia memandangi kaki Rachel yang tetap berusaha melangkah walau sepertinya tidak mudah. Tentu saja, karena ia menggunakan high heels sehingga perlu usaha lebih untuk menyeimbangkan tubuhnya. Calvin masih mematung ditempatnya hingga Rachel benar-benar masuk dan menghilang di balik pintu gerbang.
Dengan malas, Calvin masuk ke dalam mobil. Ia termenung beberapa saat mengingat apa yang dialami Rachel di depan matanya. Bisa-bisanya wanita itu menyembunyikan penderitaannya hingga ia berpikir kalau pernikahan Rachel pasti sangat bahagia. Dia juga memiliki keluarga yang sempurna selain Ruby dan Eva.
Tapi nyatanya dugaannya salah. Rachel berada di dalam sebuah sangkar emas yang mewah dan mengurung kebebasannya. Tidak hanya itu, Wanita itu juga disiksa oleh orang yang seharusnya menyayanginya layaknya anaknya sendiri.
Calvin hanya bisa mengusap wajahnya kasar, bagaimana bisa ketidakadilan ini ternyata menimpa Rachel?
****
“Nona muda, biar saya bantu.” Ujar Tuti yang segera menyambut Rachel di depan pintu.
“Gak usah bi, rapihin aja tempat tidurnya, nanti aku baringin Brandon. Sama tolong, ambilkan air buat kompres.” Ujar Rachel saat tangan Tuti hendak mengambil alih Brandon dari gendongannya.
__ADS_1
“Baik non.” Tuti sangat patuh. Ia segera menuruti perintah Rachel, merapikan kasur Brandon dan mengambilkan air kompres.
Rachel membaringkan Brandon di kasurnya. Ia pandangi beberapa saat wajah polos yang sedang terlelap itu. demamnya beranjak turun walau belum berada di suhu normal.
“Maafin mami ya Brandon, mami membuat Brandon mendengar dan melihat apa yang tidak seharusnya Brandon dengar dan lihat.” Rachel mengusap wajah Brandon dengan sayang. Ia juga mengecup dahi Brandon dan menempatkan kepalanya beberapa saat di dekat kepala Brandon.
Panasnya tubuh Brandon seperti menular pada Rachel.
“Ini nona.” Tuti sudah datang dengan air kompresan di tangannya.
“Makasih bi, simpan di sini aja.” Rachel menarik kursi bulat untuk tempat ia menaruh wadah air.
“Non udah makan? Mau bibi buatkan.” Tawar Tuti yang menatap Rachel dengan khawatir. Ia melihat wajah nona mudanya yang sedikit pucat.
“Gak perlu bi, aku mau ngurusin dulu Brandon. Bibi tolong siapin dulu buat makan malem ya.”
“Baik non.” Tuti mengangguk patuh.
Pelayan itu segera kembali ke dapur tapi saat berada di mulut pintu, ia melambatkan langkahnya, tepatnya saat melihat Brams yang datang dengan tergesa-gesa.
“Hem, sudah.” Suara Rachel terdengar lemah. Ia merogok sesuatu di dalam sakunya tapi tidak ada yang ia keluarkan.
“Mamah bilang, kamu ke sekolah Brandon di antar seorang laki-laki. Siapa laki-laki itu?” tanya Brams dengan cepat.
Rachel tersenyum kecut dalam hati melihat sikap Brams. Bukannya bertanya keadaan Brandon, ia malah memperdulikan dengan siapa Rachel pulang.
“Kakak harusnya lebih mencemaskan Brandon di banding aku. Kakak bahkan belum mengecek kondisi Brandon.” Ujar Rachel yang tersenyum kelu.
Menyebalkan sekali laki-laki yang ada di hadapannya ini.
“Aku harus tau dulu, apa benar kamu selingkuh, seperti yang dikatakan mamah Martha? Apa laki-laki itu sangat tampan?” benar bukan, hanya itu yang ada di kepala Brams.
Tapi tunggu, rupanya Martha benar-benar sudah menceritakan apa yang dia lihat pada Brams. Entah karangan cerita seperti apa yang dibuatnya untuk menjatuhkan Rachel.
“Mana mungkin aku menyelingkuhi laki-laki yang aku cinta. Tolong berpikir jernih sedkit.” Rachel berbicara tanpa menatap laki-laki itu. Ia focus saja mengompres Brandon agar demamnya segera turun.
__ADS_1
“Tapi tadi mamah bilang kamu di pegang-pegang sama laki-laki muda. Berhati-hatilah Rachel, laki-laki itu harus kamu hindari.” Ucap Brams dengan penuh kesungguhan.
“Terima kasih telah mencemaskanku.” Hanya itu timpalan Rachel, ia tidak tertarik untuk memperpanjang obrolan.
Brams hanya tertegun. Ia memandangi wajah cantik dihadapannya yang selalu berhasil membuat jantungnya gelisah.
“Aku titip Brandon sebentar kak, aku mau menaruh barang-barangku dulu.” Ucap Rachel setelah memasangkan satu kompres baru di dahi Brandon.
Laki-laki itu hanya memandangi Rachel dan saat Rachel beranjak, Brams segera menghampiri.
“Kakak mau apa?” tanya Rachel saat Brams ternyata malah menutup pintu kamar Brandon.
“Tunggu Rachel, aku harus mengingatkanmu sesuatu.” Ucap laki-laki itu dengan tatapan lekat pada Rachel.
“Jangan pernah berdekatan dengan laki-laki lain, aku tidak suka. Jangan membuatku berpikir kalau kamu akan meninggalkan Nata dan membuat kita tidak bisa bertemu lagi. Aku akan membela kamu jika mamah menjatuhkan kamu di hadapan Nata tapi tolong, beri kesempatan untuk kita. Hem?” pinta Brams dengan sungguh.
“Apa maksud kakak? Apa yang kakak pikirkan sebenarnya?” Rachel segera menjauh dari Brams, tatapan laki-laki itu terlalu menakutkan untuknya.
“Aku akan mengakuinya, ya aku akan mengakuinya. Aku suka kamu, dan aku gak mau kamu memikirkan laki-laki lain. Okelah kamu mikirin Nata, aku tidak masalah walau perasaanku sakit. Tapi, jangan menambah daftar laki-laki yang kamu biarkan memuja kamu. Aku mohon Rachel, cukup pikirkan aku salah satunya.” Urai Brams dengan penuh putus asa.
Rachel hanya menggeleng tidak percaya, bagaimana bisa Brams mengatakan hal semacam ini padanya.
“Kak, aku menghormati kakak sebagai kakak iparku. Tolong jangan berpikir yang tidak-tidak. Antara kita tidak ada apa-apa, jadi berhenti memikirkan hal yang tidak perlu.” Tegas Rachel dengan suara bergetar. Bagaimana bisa laki-laki ini berpikiran menyimpang tentang dirinya.
“Tapi aku gak bisa! Aku selalu membayangkan kamu, membayangkan sosok kamu, tubuh kamu dan semua tentang kamu. Saat melihat kamu dengan Nata aku tersiksa dan sekarang kamu menambah siksaanku dengan adanya laki-laki lain yang menyukai kamu. Tolong jangan seperti ini Rachel.”
“PLAK!!” satu tamparan akhirnya Rachel layangkan ke wajah Brams.
Entah keberanian dari mana yang membuat ia melayangkan tangannya pada laki-laki itu. yang ia tahu, ia harus menyadarkan Brams agar tidak semakin melenceng.
Brams tidak lagi berbicara, ia hanya tertunduk sambil tersenyum kecil. Ia mengusap pipinya yang di tampar Rachel.
Entah apa yang ada di benak Brams saat ini yang jelas, Rachel memilih untuk segera pergi meninggalkan laki-laki gila ini.
****
__ADS_1