Menjadi Dia

Menjadi Dia
Partner baru


__ADS_3

Pagi ini, Rachel terlihat begitu ceria. Sambil memasangkan dasi Nata, bibirnya selalu menyunggingkan senyum. Nata yang ada di hadapannya, jadi penasaran. Apa sebenarnya yang membuat wanita dihadapannya terus menunjukkan senyum dibibirnya.


“Hari ini kamu mau ke kantor manajemen?” tanya Nata tanpa mengalihkan pandangannya dari sepasang bibir merah muda yang ada di hadapannya.


“Iya.” Lagi, bibir itu tersenyum semakin lebar, terlihat serasi dengan deretan gigi putihnya.


Rachel yang selesai merapikan dasi suaminya pun sedikit menengadah guna balas menatap suaminya. Cepat-cepat Nata memalingkan wajahnya dari Rachel.


“Aku gak bisa nganter, karena siang ini aku ada dua meeting penting dengan rekanan.” Nata pura-pura mengusap hidung bangirnya yang terasa gatal tanpa alasan.


“Gak apa-apa. nanti aku berangkat sendiri. Aku tau kok jalannya, gak akan ke sasar. Lagi pula, ponsel aku baru, jadi bisa download aplikasi taksi online, nanti tinggal pake itu aja biar langsung sampe ke tempat tujuan.” Ponsel Rachel yang sebelumnya memang sudah kehabisan memory karena sudah dipakai sangat lama.


“Kak Brams mau ke kantor agak siangan. Kalau kamu mau di anter sekalian, dia bersedia.”


Mendengar nama Brams, senyum Rachel mendadak senyum pudar berganti panik dan Nata bisa melihat itu. Istrinya memegangi dasi yang sudah tergantung dengan rapi dengan pikiran yang entah tertaut kemana.


“Kenapa?” Nata penasaran. Belakangan ini Rachel sering sekali termenung.


“Em, gak apa-apa.” Beruntung Rachel segera tersadar. Ia beranjak dari tempatnya, sedikit menjauh dan merapikan handuk bekas Nata.


“Aku berangkat sendiri aja mas, gak mau kebiasaan ngerepotin orang. Lagian nanti aku pasti sering pergi-pergian sendiri. Aku harus tau jalanan, masa mau di anter-anter terus.” Imbuhnya dengan kikuk.


Nata menatap Rachel beberapa saat. Ada hal yang membuatnya sedikit aneh.


“Beneran, aku bisa pergi sendiri. Nanti aku kabarin mas.” Terang Rachel saat mendapat tatapan menyelidik dari Nata.


Sebenarnya, point pikiran Nata buka bisa atau tidaknya Rachel pergi sendiri, tapi perubahan sikap dan ekspresinya yang begitu jelas terlihat.


Tunggu, sejak kapan Nata peka dengan perubahan sikap dan ekspresi Rachel?


“Ya udah, terserah kamu.” Nata memakai jas kerjanya sendiri dan Rachel hanya tersenyum kelu. Dalam benaknya, ia sudah bertekad untuk tidak memberi ruang antara ia dengan Brams walau hanya untuk sebuah kebetulan.


****


Sepanjang perjalanan menuju kantor manajemen artis, Rachel sibuk dengan ponselnya. Ia mencari-cari cara agar bisa mengumpulkan semua bukti pelecehan verbal atauoun non verbal yang pernah Brams lakukan terhadapnya.


Terlepas ia akan menggunakannya untuk apa, paling tidak ia harus punya bukti kalau ketakutannya bukan tanpa alasan. Ia sangat takut kalau suatu hari Brams malah menjatuhkannya di hadapan Nata.


Segala aplikasi berbau detective di install Rachel, mulai dari yang free sampai yang berlangganan. Ponsel baru ini benar-benar membantu Rachel melakukan banyak hal.


Tunggu, ia pernah menyimpan bukti chat Brams sebelum di hapus yang ia simpan di folder catatan. Ya, ia sengaja menyimpannya di sana, sebagai lampiran kejadian tidak menyenangkan yang dilakukan Brams terhadapnya.


Ia yakin, kalau kemarin Nata tidak menemukannya di galeri.


Rachel segera membuka catatan itu tapi, dahinya langsung berkerut saat ternyata file catatan itu hilang.


“Akh sial, pasti gak kepindahin.” Gumam Rachel penuh sesal.


Rachel melihat semua datanya terdahulu ada di ponsel barunya tapi data catatan itu malah tidak ada.


“Tenang Rachel, bisa kamu liat lagi di hp sebelumnya. Pasti ada.” Ucap Rachel dengan yakin. Ya, pasti ada kan?


Tanpa terasa, taksi online yang ditumpanginya sudah sampai di depan kantor manajemen artis.


“Udah sampe non.” Ujar sang pengemudi.


“Oh iya, pak. Makasih ya….” Ucap Rachel seraya turun dari mobil tersebut.

__ADS_1


Sebelum melangkahkan kakinya lebih jauh, ia mencoba merapikan penampilannya terlebih dahulu. Bajunya dipastikan tidak kusut dan rambutnya tidak berantakan. Make up tipisnya pun masih terlihat jelas. Ini cukup sempurna untuk memukau sebuah pertemuan pertama.


Setelah merasa siap, baru Rachel melangkahkan kakinya menuju kantor manajemen artis.


Pintu putar itu memberi jalan untuk Rachel masuk dan ia disambut oleh dua orang yang sedang berbincang di depan pintu.


Rachel tersenyum ramah pada dua orang yang menolehnya.


“Kak Rachel ya?” tanya seorang wanita bertubuh tinggi yang mengenalinya.


“Iya.” Rachel dengan wajah terkejutnya karena wanita ini mengenalinya.


“Halo kak, aku Fany, yang menghubungi kakak dua hari lalu.” Sapa wanita itu seraya mengulurkan tangannya. Sementara rekannya pergi setelah melempar senyum pada Rachel, guna memberi mereka ruang.


“Oh hay.” Dengan ramah Rachel balas menjabat tangan Fany.


“Gimana kabarnya? Udah siap tanda tangan kontrak exclusivenya?” tanya Fany dengan sumeringah.


“Ya, saya siap.” Sahut Rachel seraya menghembuskan nafasnya lega. Ia tersenyum penuh arti membayangkan sebuah kontrak exclusive ada di hadapannya.


“Okey, mari ikuti saya. Kita bahas detailnya di ruang meeting.” Fany menunjukkan jalan untuk Rachel.


“Baik,” dengan senang hati Rachel mengikuti.


Mereka masuk ke sebuah ruang rapat yang kosong. Ada meja rapat memanjang dengan banyak kursi yang di buat mengelilinginya.


Fany membawa Rachel ke sebuah meja kerja yang ada di salah satu sudut dan mempersilakannya duduk.


“Di tunggu sebentar ya kak, saya panggilkan dulu pemilik manajemen artis ini.” Pamit Fany beberapa saat.


“Iya kak.” Jantung Rachel berdebar sanga kencang.


“Selamat pagi.” Sapa suara laki-laki yang masuk ke ruangan.


“Pagi.” Rachel segera berdiri menyambut laki-laki itu.


Laki-laki bertubuh kurus dengan penampilannya yang rapi.


“Halo, saya Adri, pemilik manajemen artis sweetlove.” Laki-laki bernama Adri itu mengulurkan tangannya pada Rachel.


“Saya Rachel.” Balas Rachel. Mereka berjabat tangan untuk beberapa saat.


“Silakan duduk. Kita santai aja ya.” Ucap Adri yang duduk di kursi kebesaran miliknya, persis di hadapan Rachel. Sementara Fany duduk di samping Rachel.


“Okey, sebelumnya saya mau mengucapkan selamat atas terpilihnya kamu sebagai talent di manajemen artis ini. Dan selamat juga karena kamu langsung mendapat kontrak exclusive untuk sebuah project iklan layanan masyarakat. Silakan, ini dokumen yang bisa kamu baca-baca dulu.”


Adri menaruh sebuah dokumen di hadapan Rachel, dalam sebuah map transparan.


“Terima kasih.” Ucap Rachel dengan mata berbinar-binar.


Tangannya sampai gemetaran membuka map plastik yang ada di hadapannya.


Rachel membacanya beberapa saat. Hanya sekitar empat lembar saja dan Adri serta Fany dengan setia menunggu Rachel memahami kontraknya.


“Udah?” tanya Adri.


Rachel mengangguk kecil.

__ADS_1


“Okeey, tenang dulu. Kita minum dulu ya….” Adri mendekatkan satu botol minuman pada Rachel.


“Terima kasih.” Ucap Rachel. Ia meminum air itu karena ia memang memerlukannya untuk menghidrasi tubuhnya.


“Okey, kita bahas point pertama dulu, tentang manager. Di manajemen ini, kami menyiapkan para manager artis yang professional. Kamu bisa memilih salah satunya atau kalau sudah punya calon manager juga boleh. Dan Fany ini, rencananya akan kami sandingkan dengan kamu, sebagai manager. Gimana?” tawar Adri dengan terbuka.


Rachel menoleh Fany, gadis yang duduk disampingnya itu tampak sudah bersiap.


“Sebenarnya, saya belum memiliki calon manager. Saya juga belum tau bagaimana cara bekerja di bawah pengaturan seorang manager. Saya belum ada pengalaman sama sekali.” Aku Rachel apa adanya.


“Tidak masalah, banyak calon artis baru yang biasanya belum memiliki manager, makanya kami menyediakan. Kalian bisa saling berkenalan dulu, kalau cocok boleh lanjut kalau tidak, ya tidak masalah kalau kamu mau nyari manager lain. Hanya saja, kami punya batas minimal pengenalan, sekitar dua bulan. Gimana, kamu bersedia?”


Rachel berpikir beberapa saat. “Boleh saya telepon seseorang dulu?” pinta Rachel.


“Boleh, silakan.” Sahut Adri.


Rachel beranjak dari tempatnya dan sedikit menjauh. Ia mencoba menghubungi Nata, suaminya. Menurutnya ia perlu pertimbangan Nata.


Panggilan tersambung tapi sudah beberapa deringan Nata tidak menjawabnya. Rachel mengulangnya sampai tiga kali tapi Nata tetap tidak menjawab. Selanjutnya ia memutuskan untuk menghubungi Ivana dan baru satu deringan sudah di jawabnya.


“Ya Chel?” sapa Ivana di sebrang sana.


“Kak, maaf ganggu. Kakak lagi sama mas Nata gak?”


“Oh, Nata lagi meeting. Baru aja mulai. Ada apa? Biar aku sampein.” Tawar Rachel.


“Oh gak apa-apa kak, kalo lagi meeting. Nanti aku kirim pesan aja.”


“Okey Chel….” Panggilan pun terputus. Rachel tersenyum kelu pada Adri yang memandanginya dari kejauhan.


Ia mencoba mengirim pesan dulu pada Nata tentang apa yang dijelaskan Adri tadi. Tapi walau sudah terkirim, Nata tidak juga membacanya. Sepertinya suaminya benar-benar sibuk.


Akhirnya, dengan segenap keberanian, Rachel memutuskan untuk mengambil keputusan sendiri. Mungkin ini kesempatan untuknya membuat keputusan sendiri setelah selama ini segala keputusan tentang dirinya ada di tangan Nata.


“Gimana?” tanya Adri yang sudah menunggunya.


“Iya, saya akan menerima kak Fany sebagai manager saya.” Ucap Rachel pada akhirnya.


Adri tersenyum lega, begitupun dengan Fany.


“Okey, selamat Fan, kamu punya artis yang multi talent dan berattitude.” Ucap Adri pada Fany.


“Hahahaha… makasih Mas. Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik ya kak Rachel.” Ucap Fany sambil mengangguk sopan.


“Iyaa, semoga ya…” balas Rachel dengan kaku.


“Okey, kalau udah sepakat, kita bahas masalah kontrak ya. Untuk masalah perkenalan kalian, bisa kalian lanjutkan nanti.”


“Siap.” Ucap Rachel dan Fany bersamaan.


“Wih, kompak banget.” Goda Adri.


“Hahahaha….” Mereka tertawa bersamaan saat ternyata mereka sanga kompak.


Melihat sosok Fany yang santai, sepertinya Rachel harus mengucap syukur. Karena tanpa sadar, ia memiliki teman baru. Teman yang bisa ia ajak bercerita baik sebagai rekan kerja atau sebagai dua individu yang saling mengenal. Karena jujur, setelah menikah ia tidak memiliki teman dekat. Hanya Ruby satu-satunya yang menjadi temanya bercerita.


Lantas, apa salahnya memiliki teman baru?

__ADS_1


****


__ADS_2