Menjadi Dia

Menjadi Dia
Kejutan dari anak istimewa


__ADS_3

Minggu pagi, Rachel sudah berdandan rapi untuk menghadiri acara pentas Brandon. Ia dijemput oleh Nata yang tampak keren dengan mengenakan stelan jas rapi lengkap. Laki-laki itu bahkan membukakan pintu untuk Rachel, memegangi tangannya hingga Rachel bisa berdiri dengan sempurna.


“Acaranya dimana mas?” mereka berjalan beriringan. Tidak terlihat kalau mereka pasangan yang akan bercerai.


“Di aula. Sepertinya udah mulai.” Nata melihat jam di tangannya, sudah sekitar sepuluh menit waktu berlalu dari rundown yang dijadwalkan.


“Oh ya?” Rachel Bersiap mempercepat langkahnya.


“Tenang dulu, paling masih sambutan.” Nata segera menahan tangan Rachel agar tidak berjalan cepat-cepat.


“Okey.” Sahutnya, ia berusaha melepaskan tangan Nata. Nata hanya terdiam, ia tidak berkomentar karena mungkin Rachel tidak nyaman.


Masuk ke dalam aula besar, kepala sekolah Brandon baru selesai memberikan pidatonya. Nata dan Rachel duduk di baris belakang sementara Ivana dan Martha ada di depan. Ivana melambaikan tangannya saat Nata mengirim pesan kalau ia dan Rachel duduk di belakang.


Rachel membalasnya sambil tersenyum. Ia menghembuskan nafasnya lega saat selintas ia melihat Martha yang duduk di samping Ivana. Ivana benar, Martha sudah terlihat lebih baik. Duduknya sudah tegak walau masih menggunakan kursi roda.


“Brandon tampil ke dua.” Ucap Nata, memberitahukan isi pesan Ivana.


“Iya.” Rachel dengan sabar menunggu.


Penampilan pertama sudah dipertunjukkan. Dimana sekitar enam orang anak istimewa tampil menari. Tingkahnya sangat lucu dan menggemaskan, membuat beberapa orang tua tersenyum haru melihat penampilan mereka.


Mereka semuanya memakai konstum daerah. Riasan cantik di wajah mereka membuat Rachel ikut tersenyum gemas. Mereka memang sangat istimewa.


“Baik ayah dan bunda, penampilan berikutnya adalah dari siswa istimewa kami, Brandon Wijaksono.” Ucap MC.


Rachel bertepuk tangan menyambut Brandon yang naik ke atas panggung dengan stelan rapinya. Rambutnya di sisir rapi klimis. Seketika rasa haru menyeruak di dada Rachel, melihat anak polos itu sudah setinggi itu sekarang. Karakter wajahnya sangat mirip dengan mendiang sang kakek.


“Brandon ini, di usianya yang baru lima tahun, kami menemukan potensi yang luar biasa. Dia bisa bercakap-cakap sederhana dalam beberapa bahasa dengan pelafalan yang sempurna. Dia belajar dengan cepat bahasa asing yang kami putar melalui kaset. Dan saat ini, dia akan membacakan puisi untuk orang yang disayanginya. Dia menulisnya secara langsung dengan tulisan tangan.”


Sang MC menunjukkan sebuah tulisan Brandon yang sudah ia bingkai pigura. Ada gambar dua wanita dewasa di sana yang memegang tangannya di sisi kiri dan kanan.

__ADS_1


“Ada namanya di sini, mami Nana, Brandon dan mami Acen.” MC membacakan tulisan Brandon yang di tulis dengan spidol berwarna biru dan merah muda.


“Aahh, Brandon sweet banget. Mami juga sayang Brandon.” Ucap Rachel yang tersenyum haru. Matanya sampai berkaca-kaca


“Tring!”


Sebuah pesan masuk ke kotak masuk Rachel dan pengirimnya adalah Ivana. Rupanya kakak iparnya itu mengirimkan foto gambar Brandon yang di atasnya adalah puisi dalam bahasa spanyol. Bahasa kesukaan Brandon. Rachel sering mendengar Brandon menggumamkan lagu-lagu dengan bahasa ini. Walau nadanya tidak jelas tapi pelafalannya jelas.


Rachel memandangi foto itu beberpa saat. Memandangi gambar dirinya yang di gambar Brandon. Nata ikut melihat gambar kiriman Ivana dan membuatnya tersenyum haru.


“Brandon sangat sayang sama mami Acennya.” Bisik Nata.


“He emh.” Rachel tidak bisa berkata-kata, hanya bisa menghela nafasnya dalam untuk menegarkan dirinya.


Dengan inisiatifnya, Nata mengambil sapu tangan dari dalam sakunya lalu memberikannya pada Rachel. Rachel sempat tidak menyangka perlakuan manis itu dilakukan Nata si kulkas empat pintu, tapi kemudian ia mengambilnya.


“Makasih.” Ucapnya. Ia menyusut air matanya yang meleleh begitu saja.


Selintas Nata melihat tampilan ponsel Rachel yang menutup pesan chatnya dari Ivana. Tiba-tiba matanya membulat saat melihat nama kontak kedua di urutan kotak masuk Rachel bertuliskan “Suamik” dengan lambang hati berwarna putih.


Nata tersenyum kecil, pura-pura memalingkan wajahnya dari Rachel padahal ia sedang menyembunyikan senyum bahagianya. Ia tidak menyangka, kalau nama kontaknya di ponsel Rachel belum diubah menjadi “Pria brengsek” mungkin? Atau paling bagus “Ayahnya anak-anak”. Sungguh Nata merasa bangga dengan apa yang dilihatnya.


Suara Microphone di ketuk mulai terdengar. Perhatian penontonpun langsung tertuju pada sosok Brandon yang tertunduk gugup di depan sana.


“Mami, bagaimana kabar mami hari ini?”


Suara Kecil Brandon dalam bahasa Spanyol, berhasil membuat Ivana meneteskan air matanya. Begitupun dengan Rachel, yang menangis tersedu-sedu di belakang sana terlebih saat melihat running text terjemahan dari puisi Brandon, di layar background.


“Apa pekerjaan mami sangat berat sampai mami terlihat begitu lelah?


Lihatlah mami, aku sudah semakin tinggi.

__ADS_1


Terima kasih sudah menjagaku dengan baik.


Membelikanku mainan yang banyak dan menemaniku bermain.


Aku mau bermain pasir lagi dengan mami,


Berlari sambil mengganggu ikan yang berenang mendekatiku.


Besok, aku akan menjadi anak yang hebat.


Saat aku besar, aku yang akan menjaga mami dengan baik.


Seperti yang mamih bilang, mamih tidak akan meninggalkanku.


Maka, pulanglah mami. Temani aku lebih lama lagi.”


Tutup Brandon yang membuat Rachel tidak kuasa menahan air matanya. Puisi anak kecil itu terlampau mendalam dengan bahasanya yang sederhana.


Rasanya ia ingin berlari menghampiri Brandon lalu memeluknya dengan erat. Bayangan kebersamaan ia dan Brandon setiap harinya, kembali berputar di kepala Rachel. Termasuk saat tangan mungil Brandon yang begitu berani memukuli Brams yang hendak melecehkannya.


Akh, rasanya baru kemarin semua itu terjadi, karena rasa takut itu masih selalu muncul di pikirannya.


“Mamih menyayangimu Brandon! I love you!” seru Ivana yang berteriak lantang.


Para orang tua lainnya ikut terharu dan bertepuk tangan untuk Brandon.


Akh sungguh Rachel tidak bisa menghentikan air matanya.


***


Keluar dari aula, yang pertama di lihat Rachel adalah Martha. Wanita tua yang duduk di atas kursi roda itu menatap Rachel dengan nanar. Mereka saling bertatapan sampai kemudian mereka memutuskan untuk berbicara berdua saja di taman.

__ADS_1


__ADS_2