
"Halo, Bu! Apa ada hal yang penting hingga ibu menelpon ku?"tanya Rindy yang sedang berdiri di balkon kamarnya, karena jarang ibunya menelpon jika tidak ada hal yang penting.
"Begini, kakek dan nenek mu datang, bisakah kalian pulang ke rumah dan menginap di rumah?"tanya ibu Rindy penuh harap.
"Benarkah? Tentu saja aku akan pulang untuk bertemu kakek dan nenek, Bu. Tapi setelah aku pulang kerja besok. Aku akan minta izin pada Anand untuk menginap di rumah,"ucap Rindy nampak senang.
"Cuma kamu? Apa suamimu tidak akan ikut? Anand tidak mau menginap di rumah kita?"tanya ibu Rindy terdengar kecewa.
"Aku tidak tahu, Bu. Akhir-akhir ini Anand sangat sibuk. Dia juga sering pulang malam, aku tidak berani mengajaknya ke rumah kita, apalagi menginap dirumah kita,"jawab Rindy karena beberapa hari ini Anand memang sering kali pulang larut.
"Coba bujuk lah! Kalau tidak bisa menginap barang semalam, minimal datang untuk bertemu dengan kakek dan nenekmu. Ibu tahu, rumah kita memang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rumah suamimu. Tapi walaupun bagaimana, kami adalah mertuanya,"ujar ibu Rindy penuh harap.
Bukankah wajar jika seorang ibu menjadi bangga saat putrinya mempunyai suami yang tampan dan kaya? Bukannya seorang ibu itu materialistis, tapi seorang ibu itu realistis. Mana mungkin seorang ibu yang telah mengandung, merawat dan membesarkan putrinya dengan penuh kasih sayang rela putrinya hidup kesusahan dan kekurangan.
Ada perasaan bahagia dan bangga saat melihat putrinya bisa hidup bahagia dan berkecukupan. Banyak orang yang bilang, cinta itu lebih penting dari uang, tapi pernahkan kamu membayar tagihan pakai pelukan? Bisakah segala kebutuhan mu tercukupi dengan kata cinta? Apakah saat anak menangis karena lapar bisa kenyang jika di beri cinta? Sekali lagi, bukan seorang ibu yang materialistis, tapi realistis.
"Baiklah, nanti akan aku coba untuk membujuk Anand pulang ke rumah kita,"sahut Rindy menghela napas panjang, tidak yakin bisa membujuk Anand untuk pergi ke rumahnya apalagi menginap di rumah nya.
"Ya sudah, ibu tutup dulu teleponnya. Ibu tunggu kedatangan kalian,"ucap ibu Rindy, mengakhiri panggilan teleponnya.
Rindy menghela napas panjang setelah bicara dengan ibunya. Namun sesaat kemudian mengernyitkan keningnya saat mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi,"Apa Anand sudah pulang?"gumam Rindy kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya dan berjalan mendekati kamar mandi.
"Kapan dia pulang? Aku tidak mendengar dia pulang,"gumam Rindy yang berdiri di depan kamar mandi.
Rindy melirik jam yang tertempel di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Dia pulang lebih awal dari pada kemarin. Rindy berjalan menuju ranjang, kemudian membaringkan tubuhnya.
Tak lama kemudian Anand keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Rindy yang melihat itu pun langsung memalingkan wajahnya dan berbaring dengan posisi miring. Tidak ingin tergoda melihat dada bidang dan perut rata berotot milik suaminya.
__ADS_1
"Kamu belum tidur?"tanya Anand seraya mengenakan celana pendek dan kaos oblong didepan lemari tanpa merasa canggung apalagi malu di lihat Rindy.
"Belum,"sahut Rindy tanpa berani menatap Anand.
Anand berjalan menuju ranjang kemudian naik ke atas ranjang. Anand langsung memeluk Rindy yang berbaring membelakangi nya. Kemudian mengecup leher jenjang Rindy, membuat tubuh Rindy terasa meremang.
"Sudah seminggu, apakah belum selesai juga?"tanya Anand kemudian mengecup pipi Rindy.
"Anand, kakek dan nenekku datang. Apakah boleh jika aku pulang ke rumah orang tua ku dan menginap di sana?"tanya Rindy tanpa menoleh pada Anand, apalagi membalikkan tubuhnya. Sengaja mengalihkan pembicaraan soal ranjang dengan soal izin untuk menginap di rumah orang tuanya.
"Kamu ingin pulang dan menginap sendirian di rumah orang tua mu tanpa mengajakku?"tanya Anand membuat Rindy membalikkan tubuhnya hingga bisa menatap wajah suaminya yang berbaring dengan posisi miring menghadapnya.
"Kamu mau pulang bersama ku dan menginap di rumah ku?"tanya Rindy nampak tidak percaya.
"Memangnya kenapa?"tanya Anand seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Rindy, membuat Rindy gugub. Sebenarnya saat Anand masuk ke dalam kamar tadi Anand tanpa sengaja mendengar Rindy yang sedang menelpon. Dari kata-kata Rindy, Anand dapat menebak jika ibu Rindy menginginkan Anand dan Rindy menginap di rumah mereka.
"Ti.. tidak apa-apa. Aku pikir kamu tidak akan mau menginap di rumah ku, karena rumahku sangat sederhana,"ujar Rindy seraya memalingkan wajahnya.
"Se.. setelah aku pulang kerja,"sahut Rindy gugub, menepis pelan tangan Anand agar berhenti mengusap bibirnya.
"Kalau begitu aku akan menjemputmu di tempat kerjamu,"ujar Anand.
"Tidak per.."Rindy tidak melanjutkan kata-katanya karena Anand langsung memotong kata-katanya.
"Jangan membantah! Besok aku akan menjemput mu,"ucap Anand tanpa mau dibantah.
"Sebenarnya aku tidak ingin kamu bekerja di perusahaan itu. Berhentilah bekerja! Jika uang bulanan yang aku berikan padamu masih kurang, katakan saja! Aku akan menambah nya, tapi berhentilah berkerja! Aku masih sanggup membiayai hidup mu dan anak-anak kita nanti,"ucap Anand yang sebenarnya sudah agak lama ingin membahas soal itu.
"Apa yang akan aku kerjakan jika aku berhenti dari pekerjaan ku?"tanya Rindy yang nampak tidak ingin berhenti bekerja.
__ADS_1
"Pekerjaan mu adalah menyiapkan semua kebutuhan ku dan melayaniku,"ucap Anand kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Rindy,"Terutama melayaniku di atas ranjang,"bisik Anand dengan suara yang sengaja dibuat seksi dan menggoda.
"A..aku mengantuk. Aku ingin tidur,"ucap Rindy gugub hendak memiringkan tubuhnya membelakangi Anand, tapi langsung ditahan Anand.
"Sayang, apa belum selesai juga?"tanya Anand dengan wajah memelas.
"A..aku lelah,"ucap Rindy seraya memalingkan wajahnya. Sebenarnya saat Anand menggaulinya dengan kasar beberapa hari yang lalu, Rindy hanya datang bulan selama tiga hari dan itu pun tidak banyak. Namun Rindy membiarkan Anand berpikir jika dia datang bulan selama seminggu seperti biasanya. Karena Rindy masih trauma saat mengingat beberapa hari yang lalu Anand menggaulinya dengan kasar.
"Berarti sudah selesai, kan?"tanya Anand dengan raut wajah yang berubah menjadi cerah.
"A..aku capek,"sahut Rindy menolak Anand secara halus.
"Sayang, kamu cukup diam dan menikmatinya, biar aku yang kerja. Aku janji akan melakukannya dengan lembut, dan tidak akan membuat mu kesakitan seperti waktu itu,"bujuk rayu Anand.
"Ja.. jangan malam ini!"Rindy masih berusaha menolak Anand.
"Sayang, sekali saja! Please!"mohon Anand dengan ekspresi yang membuat orang yang melihatnya merasa kasihan,"Apa kamu tidak kasihan melihatku menahannya lebih lama lagi? Aku tersiksa, sayang. Boleh, ya? Aku janji kali ini nggak akan sakit. Kamu ingin minta apa? Akan aku berikan,"ujar Anand yang terus membujuk istrinya untuk melayani nya.
Karena Anand tidak berhenti lagi merengek dan membujuknya, akhirnya Rindy pun menyerah dan menuruti keinginan suaminya.
...π"Seperti koin yang memiliki dua sisi, bisakah kita bahagia hidup dengan cinta tanpa uang? Atau hidup dengan uang tapi tanpa cinta?"π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
__ADS_1
To be continued