
Hari itu, Putra sudah masuk ke perusahaan Anand alias Rio, dan bekerja sebagai sekretaris Anand. Putra sudah kenal lama dengan Rio dan tahu bagaimana cara kerja Rio. Karena selain mereka tinggal bersama selama beberapa tahun, mereka juga bekerja di perusahaan yang sama. Putra pun tidak merasa kesulitan menghadapi Rio yang berwujud Anand. Bahkan keduanya nampak kompak dalam bekerja.
Sedangkan Darlen yang bekerja sebagai asisten pribadi Anand, juga banyak membantu Anand dan Putra. Memastikan semua kebutuhan Anand tersedia seperti memastikan makanan dan minuman untuk Anand dan kadang membantu Putra.
"Ri, ada klien yang ingin bertemu di klub malam,"ucap Putra seraya meletakkan beberapa berkas di meja Anand.
"Di klub malam? Apa tidak ada tempat yang lain? Siapa orang yang ingin bertemu aku di klub malam itu?" tanya Anand tanpa menatap Putra.
"Dia maunya seperti itu. Setelah aku periksa, orang ini adalah klien lama perusahaan ini. Ini beberapa berkas yang membuktikan Barata grup beberapa kali bekerjasama dengan orang dari perusahaan xx ini,"ujar Putra seraya menunjukkan beberapa berkas kerjasama Barata grup dengan sebuah perusahaan.
Anand mengambil berkas itu dari tangan Putra kemudian memeriksanya satu per satu. Dan benar, beberapa kali Barata grup bekerja sama dengan perusahaan itu. Anand kemudian meletakkan berkas-berkas itu dan melanjutkan pekerjaannya.
"Jadi, mereka ingin bekerjasama lagi dengan Barata grup?"tanya Anand seraya memeriksa dan menandatangani sebuah berkas.
"Iya. Gimana, kamu setuju apa tidak bertemu dia di klub malam?"tanya Putra.
"Ya sudah, atur saja kapan, jam berapa dan di klub malam mana aku harus bertemu dengan dia,"ujar Anand masih tetap sibuk dengan berkas yang ada di tangannya.
"Oke. Kamu tenang aja, aku akan siapkan semuanya,"sahut Putra kemudian meninggalkan ruangan itu dan kembali duduk di kursi kerjanya.
"Apa kakakku ada di ruangan nya?"tanya Ringgo pada Putra.
"Ada, Tuan,"sahut Putra.
Ringgo pun masuk ke dalam ruangan Anand dan melihat kakak tirinya itu masih fokus dengan layar laptopnya. Anand bahkan tidak melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan nya.
"Kak!"panggil Ringgo.
"Hum,"sahut Anand tanpa mengalihkan tatapan nya pada layar laptopnya.
"Sudah lama kita tidak pergi bersenang-senang. Kita pergi ke klub malam, yuk!"ajak Ringgo berjalan mendekati Anand.
"Aku memang akan pergi ke klub malam,"sahut Anand nampak mengetik dengan cepat di keyboard laptopnya.
"Benarkah? Aku boleh ikut, kak?"tanya Ringgo nampak antusias.
"Aku belum tahu pasti kapan akan pergi, Putra akan bertanya dulu pada klien kita. Soalnya aku ke klub malam untuk urusan bisnis,"ujar Anand masih fokus pada layar laptopnya.
"Jadi, aku boleh ikut, 'kan?"tanya Ringgo penuh harap.
__ADS_1
"Hum,"sahut Anand tanpa menatap Ringgo.
"Aku tunggu kabar dari kakak. Sudah lama kita tidak pergi bersenang-senang di klub malam,"ucap Ringgo kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.
Malam harinya, Anand pergi ke klub malam bersama Ringgo. Keduanya berjalan menuju sebuah ruangan, seperti yang sudah diinformasikan oleh klien mereka. Seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun nampak duduk di sebuah sofa ditemani dua orang wanita cantik dengan pakaian setengah jadi dan juga minuman beralkohol di atas meja.
Dengan santai pria itu menghisap rokoknya dan menghembuskan asap berwarna putih dari mulutnya. Sedangkan dua wanita disampingnya bergelayut manja dan memeluk nya.
"Ah, kalian sudah datang? Mari duduk!"ucap pria itu langsung berdiri saat melihat Anand dan Ringgo masuk ke ruangan itu.
"Terimakasih!"ucap Anand kemudian duduk bersebelahan dengan Ringgo di hadapan pria itu.
"Jadi anda CEO Barata grup yang baru?"tanya pria berusia tiga puluh lima tahun itu menatap Anand.
"Iya. Langsung saja pada intinya. Kita bicara soal bisnis kita,"ujar Rio yang berwujud Anand, merasa tidak nyaman berada di tempat yang penuh asap rokok dan aroma minuman beralkohol itu
"Kenapa buru-buru sekali, Tuan? Kita bersenang-senang lebih dulu. Saya punya wanita yang cantik untuk anda,"ucap pria yang akan berbisnis dengan Anand itu.
Anand melirik arloji yang ada di pergelangan tangannya,"Maaf, tapi saya masih ada kegiatan lain,"tolak Anand secara halus.
"Baiklah kalau begitu. Silahkan diminum dulu!"ucap pria berusia tiga puluh lima tahun itu menyodorkan minuman beralkohol pada Anand.
"Kakak benar-benar berhenti minum minuman beralkohol?"tanya Ringgo memastikan, karena semenjak Anand kecelakaan, baru malam ini Ringgo jalan bareng dengan Anand.
"Hum,"sahut Anand.
"Kalau begitu soft drink saja, ya? Tolong ambilkan soft drink!"pinta pria itu pada wanita yang ada di sebelahnya kirinya, dan perempuan itu pun langsung beranjak untuk mengambil soft drink. Sedangkan Ringgo nampak sedang chatting dengan seseorang.
Anand dan pria berusia tiga puluh lima tahun itu pun mulai bicara soal bisnis. Anand juga membaca proposal yang diberikan oleh pria itu. Setelah beberapa menit, akhirnya mereka pun selesai.
"Saya akan mempertimbangkan kerjasama ini setelah anda memberikan proposal yang baru pada saya,"ucap Anand menutup proposal yang diberikan pria berusia tiga puluh lima tahun itu.
"Oke. Saya harap, kita bisa bekerja sama lagi. Silahkan diminum!"ucap pria itu menyodorkan soft drink pada Anand.
Anand yang ingin segera pergi dari tempat itu karena kepalanya terasa pusing pun langsung meraih soft drink itu, kemudian meminumnya sampai habis,"Kalau begitu saya pergi dulu,"pamit Anand seraya menjabat tangan pria berusia tiga puluh lima tahun itu.
"Terimakasih sudah datang ke sini,"ucap pria itu pada Anand.
"Tidak masalah,"ucap Anand.
__ADS_1
"Kak, kakak benar-benar tidak ingin lebih lama di sini?"tanya Ringgo.
"Tidak. Aku harus segera pergi,"ucap Anand seraya berdiri dari duduknya.
"Jika Tuan Ringgo belum mau pulang, Tuan Ringgo bisa menemani saya di sini. Karena kakak anda menolak hadiah wanita cantik dari saya, maka saya akan memberikan hadiah wanita cantik itu untuk anda,"ujar pria itu.
"Benarkah? Saya tidak akan menolak,"ucap Ringgo tersenyum cerah.
"Kalau begitu aku duluan,"ucap Anand pada Ringgo, kemudian keluar dari tempat itu.
Dari awal masuk ke klub malam itu, Anand sudah merasa tidak nyaman. Aroma minuman beralkohol dan bau asap rokok, semakin lama semakin membuat kepala Anand menjadi semakin pusing.
"Terimakasih atas kerjasamanya!"ucap Ringgo pada pria berusia tiga puluh lima tahun di depannya, setelah Anand keluar dari ruangan itu.
"Itu hanyalah masalah kecil,"ucap pria itu tertawa kecil seraya melambaikan tangannya.
Anand terus melangkah dengan kepala yang terasa semakin pusing. Seorang wanita muda yang terlihat cantik yang mengenakan rok mini dan tank top ketat menabrak Anand.
"Tampan sekali,"ucap wanita muda itu nampak kagum melihat wajah Anand.
"Rindy!"ucap Anand yang melihat wanita di depannya nampak seperti istrinya. Sedangkan Ringgo dari kejauhan nampak tersenyum melihat Anand.
"Bukankah aku terlalu baik padamu? Aku bahkan memberikan seorang perawan padamu. Kali ini, aku pasti berhasil. Soft drink itu, akan membuatmu menggila bersama wanita itu,"gumam Ringgo tersenyum miring. Ringgo sudah berencana menjebak Anand dan telah menyiapkan segalanya, dari minuman beralkohol yang sudah di campur obat sampai soft drink yang sudah disuntikkan obat.
"Mari kita pergi!"ucap wanita muda itu tersenyum smirk seraya menuntun Anand. Wanita itu membawa Anand menuju sebuah kamar hingga..
"Akkhh!"
"Bruk"
...πΈβ€οΈπΈ...
Besok pagi aku belum bisa up, karena repot. Tapi sorenya aku usahakan buat up dan mungkin chapter selanjutnya agak.... πππππ π π π
.
.
To be continued
__ADS_1