Menjadi Dia

Menjadi Dia
Malam minggu kelabu?


__ADS_3

Malam minggu Rachel ternyata tidak hanya dihabiskan bersama Ruby dan Eva. Sejak sore, Nata sudah datang ke rumah ini dengan membawa banyak makanan untuk Rachel, Eva dan Ruby. Alasannya cuma satu, ingin mengecek kondisi bayinya.


Dengan alasan itu, mana mungkin Rachel menolaknya?


Hingga saat ini, mereka masih berada di teras belakang dan asyik berbincang berdua. Setelah pembicaraan dengan Ivana beberapa hari lalu, Rachel mulai membuka dirinya untuk Nata. Entahlah, apa ini bentuk pintu untuk kesempatan kedua yang mulai di buka oleh Rachel atau hanya usaha Rachel untuk memvalidasi ucapan Ivana tentang perubahan sikap suaminya.


Video syuting, menjadi bahan pembicaraan mereka selanjutnya setelah membahas masalah tumbuh kembang bayi. Mereka asyik menonton rekaman yang dibuat oleh Fany dan sesekali keduanya tertawa renyah. Eva dan Ruby yang melihat dari dalam rumah, ikut tersenyum melihat tingkah dua orang yang layaknya ABG itu. Setelah sekian lama, baru sekarang lagi mereka mendengar Rachel tertawa.


Belakangan ini juga Rachel sering gundah. Ia mengomel karena Nata terus mengganggunya dengan mengirimkan pesan dan telepon. Tapi di waktu yang bersamaan, ponsel itu tidak pernah lepas dari tangan Rachel. Ia membawa ponsel itu kemanapun ia pergi. Dan lebih gelisah lagi saat Nata terlambat membaca pesannya.


Bumil satu ini memang unik dan hal itu menjadi hiburan terdendiri bagi Eva dan Ruby.


“Mas, nih aku kasih tau yaa, nanti kalau beneran take, mas senyumnya lebaran dikit. Ini masih terlihat kaku, kayak kanebo kering.” Komentar Rachel saat melihat wajah Nata di video.


“Kanebo kering? Perasaan aku udah senyum lebar deh. Emang harusnya gimana? Kayak gini?” Nata memasang senyumnya lebar tapi kemudian menjulurkan lidahnya.


“Ikh, yang nggak kayak gitu juga kali. Hahahaha….” Rachel kembali tertawa sambil menepuk lengan Nata karena kesal.


Nata ikut tertawa sambil meraih tangan Rachel yang kemudian ia genggam. Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat, saling bertatapan dan debaran jantung mereka mandadak cepat. Nata bisa melihat wajah Rachel yang merona bersamaan dengan wajahnya sendiri yang terasa hangat.


“Poni kamu udah panjang.” Komentar tidak penting itu dilontarkan Nata saat mengguyar rambut Rachel yang menutupi sebagian wajahnya.


“Aku akan memotongnya sebelum syuting nanti.” Sahut Rachel dengan gemetaran.


“Nggak, biarin aja seperti ini, ini terlihat sangat cantik. Aku baru pertama ngeliatnya.” Suara berat Nata hanya bisa di dengar oleh keduanya. Hangat dan penuh perasaan hingga membuat jantung keduanya berloncatan.


Entah karena alasan apa sampai kemudian Rachel membiarkan Nata mengusap-usap helaian rambutnya dengan lembut. Padahal bisa saja ia menepis tangan Nata.


Dan tentang poni, ia memang tidak suka berponi selain karena permintaan Nata, dulu. Kali ini, ia memang sengaja tidak memotong poninya karena ia lebih suka tanpa poni.


“Iya, aku gak akan memotongnya.” Sahut Rachel kemudian.


Nata tersenyum kecil. Senang rasanya bisa memandangi wajah Rachel sedekat ini.


“Dek,”


Suara Ruby langsung membuat barisan bubar jalan.


Nata dan Rachel sama-sama menarik dan menegakkan tubuhnya menjauh. Ketara sekali kalau mereka kaget bukan kepalang dan salah tingkah saat mendengar suara Ruby yang sebenarnya pelan saja.


“Iya kak.” Rachel menyahuti dengan segera setelah ia sadar.


“Aku sama mamah mau ke toko bentar, mau ngecek kiriman bunga ya.” Pamit Ruby. Ia bisa melihat rona merah di wajah Rachel.


“Oh iya.” Rachel bingung harus berreaksi seperti apa.


“Ini udah malem, biar aku antar.” Tawar Nata yang segera berdiri.


“Gak usah. Kalau kamu nganter, Rachhel sama siapa? Kasian Rachel sendirian di rumah. Lagian ini udah malem, jangan ajak ibu hamil ngobrol di luar lama-lama, pamali. Mending di dalem aja.” Tutur Ruby.


“Oh iyaa ….” Nata mengangguk patuh. Ia mengusap tengkuknya dengan canggung.


“Nak Nata, mamah titip Rachel dulu yaaa. Jangan pulang dulu sampai mamah pulang.” Pinta Eva yang baru keluar kamar dan sedang merapikan jaketnya.


“Oh siap mah. Hati-hati di jalan.” Pesan Nata.


Eva hanya tersenyum dan melambaikan tangannya pada Rachel. Rachel membalasnya dengan senyuman kikuk.


Di atas boncengan saat ini Eva berada.


“Mah, kita mau kemana ini?” Ruby kebingungan mau pergi kemana.


“Kemana aja terserah kakak. Nyari mie rebus atau kwetiaw goreng juga gak apa-apa.” Timpal Eva yang berbisik, khawatir di dengar Rachel. Sejujurnya ia hanya ingin memberi ruang untuk putrinya.

__ADS_1


“Okey, kita keliling aja ya.”


“Iya.” Keduanya segera mengenakan helm seolah akan bepergian jauh. Padahal mungkin hanya nongkrong di warmindo sambil membicarakan si bungsu yang seperti sedang jatuh cinta.


Kepergian Ruby dan Eva, menyisakan kecanggungan untuk Rachel dan Nata.


“Masuklah. Kata kak Ruby ibu hamil gak boleh ada di luar rumah malem-malem.” Ajak Nata, sambil membukakan pintu.


“Iya mas.” Rachel menurut masuk ke rumah. Ia duduk lebih dulu di depan ruang tv sementara Nata masih masih menutup pintu.


“Mau nonton tv?” tawar Rachel, saat Nata duduk dengan canggung di sampingnya.


“Lanjutin nonton yang tadi aja. Kita belum selesai.” Nata lebih suka melihat video di layar ponsel Rachel, karena akan membuat mereka berdua, berdekatan.


“Oh, okey.”


Rachel menyalakan kembali ponselnya dan Nata pun mendekat. Saat Rachel menoleh, ternyata jarak kepala mereka sangat dekat hingga nyaris membuat hidung mereka bersinggungan. Mereka saling melempar senyum kecil sebelum Rachel kembali memalingkan wajahnya. Akh, canggung sekali.


“Tadi baru sampe menit ke delapan lebih empat puluh dua detik.” Celoteh Rachel yang berusaha menghilangkan kecanggungan.


“Iya.” Sahut Nata yang masih asyik memandangi pipi Rachel yang kemerahan dan bibir merah mudanya yang tampak menarik saat berbicara.


Video pun kembali di putar dan reka adegan berikutnya mereka simak. Reka adegan saat mereka berekspresi seolah melihat bangunan yang indah di depan mata mereka.


Di video itu, Nata berpindah ke belakang Rachel dan memeluk Rachel dari belakang. Ia juga mengusap perut Rachel dengan lembut membuat desiran halus saat berakting tadi kembali mereka rasakan.


“Apa aku cukup menjiwai?” tanya Nata saat kamera berfokus padanya.


“Lumayan. Emang mas ngebayangin ngeliat apa sampe sumeringah begitu?” Rachel jadi penasaran.


“Ya, bener-bener ngebayangin sebuah rumah yang nyaman untuk di tinggali.” Imajinasi Nata memang tidak jauh melenceng saat itu, beda dengan sekarang, hahaha.


“Kamu sendiri?” Nata balik bertanya.


“Em, rumah yang indah. Apa itu rumah impian kamu?” Nata penasaran bertanya.


Rachel mengangguk kecil. Ia sering kali sebal pada Nata tapi merasakan Nata ada didekatnya malah membuatnya nyaman. Ia sangat suka saat hawa hangat tubuh Nata terasa didekatnya.


“Seperti apa rumah impian kamu?” lanjut Nata.


“Em… aku ngebayangin rumah itu gak terlalu besar. Cukup buat aku dan keluarga kecilku.” Rachel mengusap perutnya dengan lembut.


“Karakter rumahnya seperti apa? Rumah minimalis atau megah?” Nata mencoba masuk ke imajinasi Rachel.


“Em, aku suka yang minimalis. Beberapa bagian rumah harus ada ruang terbuka, jadi udara segar bisa masuk ke dalam rumah. Halamannya harus cukup luas baik di bagian depan atau belakang, supaya anak-anak aman main di halaman. Aku juga mau punya kebun bunga dan tempat bersantai untuk menghabiskan waktu membaca buku. Intinya, lingkungannya harus asri.” Urai Rachel.


Nata terangguk paham, rasanya ia bisa membayangkan apa yang ada dipikiran Rachel.


“Lalu, apa aku ada di dalam rumah itu?” selidik Nata kemudian.


"Gak tau." Rachel segera memalingkan wajahnya dari Nata yang menatapnya terlalu lekat seperti butuh jawaban


“Mas nanyanya jangan terlalu dekat, aku gak suka liat idung mas yang terlalu tinggi dan besar.” Rachel mendorong dada Nata sedikit menjauh.


“Hahahaha … Okey sorry….” Nata malah tertawa. Lucu sekali tingkah Rachel saat sedang salah tingkah seperti ini.


“Lalu apa lagi yang gak kamu suka?” Nata memang pandai membuat Rachel agar kembali menatapnya.


“Alis mas. Alis mas terlalu tebal dan lebih tebal dari aku. Bulu mata mas juga terlalu lentik. Aku gak suka.”


“Okey, perlu aku cukur biar tipis?” tawar Nata.


“Dih, ya nggak lah. Kalau di cukur teus botak, nanti mas malah bisa liat tuyul.”

__ADS_1


“Hahahahaha ….” Jawaban Rachel yang tidak terduga membuat Nata tidak bisa menahan tawanya. Ia sudah menunjukkan dirinya sepenuhnya pada Rachel, tanpa ada yang ia sembunyikan.


Rachel ikut tersenyum mendengar tawa Nata yang ternyata sangat renyah.


“Okey, setelah alis, apalagi?” Nata kembali mendekatkan wajahnya pada Rachel.


Rachel menggeleng. “Nggak ada.” Sahutnya.


“Beneran? Apa yang lainnya nilainya serratus? Bibir aku, mata aku, tangan aku?” Nata masih berusaha memancing respon Rachel.


Rachel kembali menggeleng. “Di banding fisik mas, aku lebih gak suka sama isi kepala mas.” Sahut Rachel, mengerling kesal.


“Oh ya, kenapa?” Tawa Nata langsung hilang, berubah serius.


Rachel tersenyum pilu, menatap dahi Nata. “Karena mas masih menyimpan luka-luka mas dan tentang Aruni di sana.” Sedikit pedih saat Rachel mengatakan hal itu.


Nata langsung terdiam. Ia mengalihkan pandangannya ke sudut lain.


“Kamu udah denger cerita dia?” ia duduk bersandar di samping Rachel, berusaha menenangkan dirinya.


Rachel mengangguk. Kali ini Rachel yang menatap lekat wajah Nata, memerlukan jawaban.


“Setelah kak Ivana menceritakan tentang masa lalu aku, pasti saat ini dia lagi nangis sambil meluk Brandon.” Ucap Nata mengundang penasaran.


“Kenapa?” Rachel benar-benar penasaran. Ia sampai berbalik menyamping menghadap Nata.


Nata tersenyum kelu sambil menoleh Rachel.


“Karena dengan bercerita masa laluku, luka kak Ivana pun ikut terbuka.” Nata tertunduk beberapa saat sambil menghembuskan nafasnya kasar.


“Aruni meninggalkanku karena dia takut kelak anak kami seperti Brandon. Ia tidak mau memiliki anak yang kelak gak bisa di banggakan.” Nata kembali menatap Rachel.


“Padahal, kondisi Brandon yang istimewa seperti itu, bukan karena genetic dari keluarga aku ataupun ayah Brandon. Hal itu terjadi karena kak Ivana berulang kali berusaha mengugurkan kandungannya dengan meminum banyak obat-obatan. Ia ingin melenyapkan Brandon sejak saat masih di dalam kandungannya. Itulah mengapa, pembahasan tentang Aruni tidak hanya akan melukaiku tapi juga kak Ivana. Rasa bersalahnya jauh lebih besar terhadap Brandon.” Urai Nata.


Rachel tertegun beberapa saat. Ia bisa membayangkan bagaimana sedihnya Ivana saat itu. Saat wanita bernama Aruni itu menghina bayi yang tidak bersalah. Padahal setiap anak itu istimewa dengan caranya masing-masing.


“Kamu benar, kalau aku pernah terpuruk karena seorang wanita bernama Aruni. Tapi bukan karena aku masih mencintai dia, tapi karena aku merasa bersalah membiarkan dia mengakhiri hidupnya karena keputusasaannya. Padahal saat itu aku masih bisa menolongnya jika saja aku tidak keras hati.”


“Dan aku juga bersalah, karena pikiran bodohku memposisikan kamu seolah seperti Aruni."


"Tapi, percayalah chel, aku gak pernah menginginkan kamu seperti dia karena aku mencintainya. Aku memang sering kali menahan perasaanku agar tidak terbaca sama kamu. Karena aku taku, kalau kamu tahu seberapa besarnya perasaan aku terhadap kamu, maka kamu akan memperlakukanku dengan semena-mena. Datang dan pergi sesuka hati.”


“Ya, aku akui itu sangat salah karena kamu dan Aruni dua orang yang berbeda.” Nata menangkup kepalanya dengan kedua tangan. Ia sungguh menyesal sudah melakukan itu.


“Lalu apa sekarang mas masih memikirkan dia? Mas tau kan kalau itu hanya akan menyakiti mas dan orang-orang disekitar mas?” tanya Rachel yang mendadak kesal.


“Tau, aku sangat tau.” Tegas Nata.


“Aruni memang masih ada di pikiran aku tapi aku sudah menerima dia sebagai bagian masa lalu aku yang gak akan berpengaruh apapun terhadap hidupku di masa sekarang dan masa depan. Kepergian Aruni bukan lagi kesalahanku karena bukan aku yang memintanya pergi tapi dialah yang mecampakkanku dan menghina keluargaku.”


“Aku sadar benar, pergi atau bertahan tetaplah menjadi pilihan dia, bukan keputusanku. Penyesalan Aruni karena meninggalkanku, bukan sebuah hukuman yang aku berikan tapi konsekuensi atas tindakannya sendiri. Bukti nyata kalau kita tidak bisa memperlakukan seseorang hanya karena tahu orang itu sangat mencintai kita.”


“Termasuk, konsekuensi buruk yang harus aku dapatkan karena pernah menyia-nyiakan kamu.” Nata kembali menatap Rachel dengan penuh sesal.


“Dan sampai saat ini, pergi atau bertahan, tetap akan menjadi hak mutlak kamu untuk menentukannya. Aku gak akan memaksa kamu bertahan kalau ternyata ada di samping aku hanya membuat kamu semakin terluka, Chel. Usaha yang aku lakukan karena aku ingin memperbaiki semuanya. Karena aku sadar, kamu pilihan terbaik yang pernah aku miliki. Maka, kalau kamu masih mengizinkan, aku masih ingin bertahan dan berjuang bukan hanya untuk anak kita tapi juga untuk kamu.”


“Chel, kamu obat untuk aku. Dan aku gak mau menjadi racun untuk kamu. Perasaanku sama kamu masih sama, cinta. Ya aku cinta sama kamu. Tapi aku menghormati segala keputusan apapujn yang akan kamu ambil jika itu bisa membuat kamu bahagia.” Tegas Nata dengan tatapan penuh kesungguhan.


Ia menggenggam tangan Rachel dengan erat, mungkin genggaman tangannya untuk yang terakhir kali sebelum hakim benar-benar memutuskan kalau di sidang nanti, mereka resmi berpisah.


Rachel tidak menimpali. Ia hanya terdiam menatap Nata dengan penuh kegelisahan. Benarkah sebesar itu perasaan Nata terhadapnya?


*****

__ADS_1


__ADS_2