Menjadi Dia

Menjadi Dia
Kebohongan demi kebohongan


__ADS_3

“Kak, tolong make up-in aku sebentar dong.” Pinta Rachel pada Fany yang sedang memainkan laptopnya.


Rachel sudah duduk tegak di atas tempat tidurnya dan bersandar pada bantal yang tertumpuk.


“Boleh. Kamu mau video call lagi sama keluargamu?” Fany segera beranjak menghampiri Rachel dengan membawa make up pouch di tangannya.


Rachel memang selalu meminta didandani sebelum video call dengan ibu atau kakaknya. Ia tidak mau terlihat pucat dan sakit saat Ruby dan Eva melihatnya di kamera.


“Iya. Kak Ruby katanya mau video call.” Aku Rachel.


“Mereka pasti khawatir banget karena kamu tiba-tiba pergi-pergian kayak gini ya?” Fany mulai mendekat pada Rachel dan duduk di samping Rachel yang sudah terduduk di atas tempat tidurnya.


Ia mengeluarkan beberapa alat make up untuk menyamarkan wajah pucat Rachel.


“Iya, aku gak pernah pergi-pergian keluar kota tanpa orang terdekat. Jadi pasti mereka khawatir.” Aku Rachel.


Selama di rawat beberapa hari ini, Rachel mengaku pergi keluar kota untuk keperluan syuting. Hanya dengan crew saja yang ikut. Eva sempat mempertanyakan apa Nata menemaninya atau tidak, Rachel mengatakan kalau Nata ada pekerjaan penting sehingga tidak bisa menemaninya. Dengan posisi Nata sebagai direktur sebuah perusahaan, tentu saja Eva dan Ruby percaya.


“Aku juga dulu gitu. Waktu mamahku masih ada, beliau perhatian banget sama aku. Aku sering ditelponin, di kirimin pesan. Dulu aku mikirnya kok gini banget punya emak. Segala sesuatu di tanya dan harus dijelaskan dengan detail baru mereka percaya.”


“Tapi setelah mamahku gak ada, aku baru sadar kalau semua perhatian beliau sangatlah berarti. Aku kehilangan banget Chel, kehilangan seseorang yang selalu bawel ngingetin aku gak boleh telat makan.”


Sambil membedaki Rachel, Fany tersenyum kelu. Rasanya baru kemarin ibunya bertanya kabarnya tapi nyatanya sudah enam tahun berlalu wanita itu pergi dari hidupnya.


“Makanya, kamu beruntung masih punya mamah dan kakakmu. Beliau juga sayang banget sama kamu. Kadang aku ngerasa iri. Aku kalau sakit aja sendirian, gak ada yang ngingetin makan dan minum obat."


"Ya tapi aku sadar sih, waktu setiap orang itu berbeda-beda. Aku udah gak punya mamah bukan berarti tidak ada hal yang bisa aku syukuri. Ada kamu aja aku bersyukur banget, ada yang bisa aku posesif-in.” Celoteh Fany sambil tersenyum kecil pada Rachel.


Rachel ikut tersenyum, ia menatap sejenak sepasang mata yang berkaca-kaca. Sekarang Rachel paham, sikap Fany yang sangat keibuan ini karena mewarisi sikap ibunya dulu yang katanya posesif. Itu mengapa ia bisa mengurus Rachel dengan baik selama berhari-hari, penuh dengan kesabaran.


“Aku juga beruntung punya kak Fany. Kak fany sama kayak kak Ruby, sayang banget sama aku.” Timpal Rachel seraya tersenyum kecil.


“Pastilah. Soalnya kamu orang yang sangat mudah untuk disayangi.” Fany tersenyum kecil di ujung kalimatnya.


Rachel jadi termenung, andai pemikiran itupun dimiliki Nata dan Martha. Pasti hidupnya akan sangat bahagia.


Tapi sayangnya, setiap orang selalu punya alasan tersendiri yang membuat ia menyayangi atau membenci seseorang.


Suara nada dering ponsel Rachel membuyarkan lamunannya.


“Biar aku ambilin.” Fany segera mengambil ponsel Rachel yang berada di atas meja samping ranjang Rachel.


“Makasih kak.” Balas Rachel.


Ia sudah semangat mengangkat panggilannya tapi kemudian ia urungkan saat nama yang tertera di layar ponselnya adalah nama Nata. Panjang umur, laki-laki ini kembali menghubunginya saat Rachel sedang memikirkannya.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Rachel malah membalik ponselnya dan menaruhnya di bawah tangannya.


“Kenapa?” tanya Fany.


Rachel tidak menjawab, melainkan hanya memalingkan wajahnya yang gelisah.


“Dia nelpon kamu lagi?” tebak Fany. Sudah ia duga kalau Rachel gelisah seperti ini, yang menghubunginya pasti Nata.


“Aku masih belum bisa bicara biasa-biasa aja sama dia.” Aku Rachel. Ia memandangi tangannya sendiri yang saling mencengkram satu sama lain.


“Take your time Chel, gak ada yang maksa kamu buat ngejawab panggilan dia.” Fany mengusap lengan Rachel dengan lembut untuk menyemangatinya.


"Makasih kak." Rachel sangat bersyukur karena Fany begitu memahaminya.


Fany hanya tersenyum kecil, mengusap punggung Rachel sebelum kemudian memilih keluar ruangan untuk memberi Rachel waktu.


Kalau suddah sendirian seperti ini, Rachel jadi teringat lagi pada hubungannya dengan Nata. Sudah beberapa hari ini, Nata memang terus menghubungi Rachel. Menelpon, mengirimi pesan dan laki-laki ini sudah terlihat semakin frustasi. Hal itu bisa terlihat dari kalimat-kalimatnya yang memohon dengan sungguh pada Rachel.


Ada sekitar tujuh puluh dua pesan yang di terima Rachel dari Nata dan Rachel belum membaca apalagi menjawab satupun. Hanya sesekali saja ia melihat notifikasi pesan Nata yang berbunyi,


“Kamu dimana? Apa kamu baik-baik aja?” hanya itu notifikasi yang terbaca oleh Rachel.


Rachel menghela nafasnya dalam, apa mungkin Nata benar-benar mencemaskannya atau hanya pertanyaan formalitas seperti status pernikahan mereka selama ini.


Nada dering berikutnya, membuat Rachel terhenyak. Ia ragu untuk melihatnya, tapi kemudian ia tetap mengeceknya.


“Iya kak.” Sapa Rachel saat penggilan video tersambung.


“Dek, lagi sibuk yaa?” suara Ruby pun langsung terdengar.


“Em, nggak kok. Aku lagi break aja kak. Kakak apa kabar?”


“Baik. Sorry aku ganggu. Tadi pagi tuh mamah nanya, kapan adek pulang? Soalnya mamah mau bikinin adek rawon.” Tanya Ruby yang memandangi sang adik di layar ponselnya.


Sudah cukup lama ia tidak bertemu dengan Rachel. Rasanya sangat rindu.


“Aaaahhh mau….” Rachel merengek manja. Rasanya air liur langsung berkumpul di rongga mulutnya merasakan gurihnya kuah rawon yang sangat ia sukai.


“Iyaa, makanya kabarin secepatnya kalau pulang ya. Nanti aku sama mamah yang ke tempat adek kalau adek gak lagi sibuk.”


“Iya kak.” Rachel jadi tidak sabar ingin segera pulang.


“Permisi, saya mau memberikan obat.” Suara perawat terdengar dari pintu masuk.


“Hah, i-iya.” Rachel terhenyak kaget.

__ADS_1


“Siapa itu dek? Adek minum obat?” Ruby yang sedang membuat bucket bunga pun segera mengalihkan perhatiannya pada Rachel.


“Ng-nggak kak. Ini vitamin doang.” Lagi, Rachel terpaksa berbohong.


“Kamu sampe harus di doping vitamin gitu, pasti kerjaannya bikin capek banget ya.” Ruby menatap Rachel dengan khawatir.


Rachel tersenyum kelu. Tiba-tiba saja air mata berkumpul di sudut matanya. Rasanya menyedihkan melihat wajah Ruby yang mencemaskannya sementara ia malah berbohong.


“Nggak lah, biasa aja. Ini kan cuma persiapan aja, biar gak gampang sakit." Rachel kembali berkilah.


"Kak, udah dulu ya. Nanti kalau adek pulang, adek kabarin kakak.” Rachel terpaksa mengakhiri panggilannya karena perawat sudah menunggunya di sebelah.


“Oh iya. Adek jaga Kesehatan ya, jangan sampe kelelahan.” Pesan Ruby.


“Iya kak. Salam buat mamah. bye….”


Baru Ruby akan berbicara lagi, Rachel sudah menutup teleponnya lebih dulu.


“Ini anak kenapa? Gak biasanya ngomong sama aku gelagapan gini.” Gumam Ruby yang memandangi wajah Rachel di layar ponselnya.


“Ada apa kak?” tanya Eva baru pulang dari pasar. Di tangannya ia membawa banyak belanjaan.


“Em enggak mah, ini adek. Tadi aku video call sama dia tapi aku ngerasa kalau ada yang lagi dia tutupi dari kita.” Ucap Ruby sambil berpikir.


“Dia bahkan harus minum vitamin untuk doping. Apa dia sakit ya?” Ruby dengan kekhawatirannya yang semakin menjadi.


“Apa kita tengokin aja ke Bogor? Mamah juga was-was liat adek perasaan kok kurusan.” Eva jadi mengingat video callnya dengan Rachel kemarin.


“Aku telpon Calvin dulu ya. Aku mau nanya lokasi syutingnya.” Ruby segera memeriksa kontak Calvin.


“Iya kak.”


Di tempatnya, Rachel masih memberikan satu tangannya pada perawat untuk dilakukan penyuntikan vitamin dan obat lewat infus. Ia juga terisak dengan tangisan yang sulit dihentikan.


“Apa suntikan obatnya terasa sakit?” tanya perawat sambil mengusap-usap lengan Rachel dengan khawatir.


“Nggak sus.” Suara Rachel sampai terbata-bata. Yang ia tangisi bukan tangannya melainkan rasa bersalahnya karena membohongi Ruby.


“Baik, kalau nanti tangannya terasa pegal, boleh di kompres dengan ini ya.” Perawat itu menaruh selembar kompres dalam kemasan.


Rachel hanya mengangguk kemudian kembali terisak setelah perawat itu pergi.


“Huhuhu … maafin aku kak. Aku bohongin terus kakak sama mamah.” Rachel menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menangis sesegukan seorang diri.


Sungguh ia sangat menyesal karena terus membohongi ibu dan kakaknya. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Karena berbicara dengan Ruby dan Eva memerlukan banyak keberanian

__ADS_1


*****


__ADS_2