Menjadi Dia

Menjadi Dia
52. Menyelidiki


__ADS_3

Pagi mulai menyapa, mentari nampak mulai keluar dari peraduannya. Rindy terbangun dari tidurnya, perlahan membuka matanya, menatap ke sekeliling.


"Sudah pagi? Aku di dalam kamar? Bukankah semalam aku menunggu Anand di ruang tamu? Apa Anand yang menggendong aku ke kamar? Apa dia sudah berangkat?"gumam Rindy kemudian bergegas beranjak dari pembaringan nya.


Rindy ingin bicara dengan Anand. Namun baru saja Rindy turun dari ranjang, Suara deru mobil terdengar. Rindy bergegas ke balkon kamarnya dan wajahnya nampak kecewa saat melihat mobil Anand baru saja keluar dari gerbang rumah nya.


"Aku seharusnya bangun lebih pagi,"gumam Rindy dengan wajah lesu.


Rindy beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mengenakan pakaian nya, Rindy pun berjalan menuju ruang makan. Rindy duduk menghadap meja makan dengan lesu.


"Bik, semalam jam berapa suami saya pulang?"tanya Rindy pada ART dirumahnya.


"Jam satu, Nyah. Semalam Tuan yang menggendong Nyonya ke kamar,"sahut ART paruh baya itu dan Rindy hanya terdiam.


***


Di Barata grup, Nadine nampak bergegas menghampiri Darlen.


"Darlen aku ingin bicara sama kamu. Ikut aku ke ruangan Anand,"titah Nadine.


"Baik, non,"sahut Darlen langsung mengikuti Nadine yang sudah berjalan lebih dulu. Tak lama kemudian, Nadine dan Darlen pun tiba di depan ruangan Anand.


"Put, ada Anand nggak?"tanya Nadine pada Putra.


"Ada,"sahut Putra.


Nadine mengetuk pintu ruangan Anand dan segera masuk ke dalam saat Anand sudah mengijinkan masuk.


"Ada apa kamu pagi-pagi sekali kemari? Perasaan, aku nggak punya jadwal ketemu sama kamu,"ujar Anand menatap Nadine sepintas kemudian kembali menatap layar laptopnya.


"Aku pengen nanya soal perempuan yang bernama Dini padamu,"ujar Nadine.


"Dini? Dini siapa maksud kamu?"tanya Anand mengalihkan pandangannya dari laptop dan beralih menatap Nadine.


"Dini, mantan teman ranjang mu,"sahut Nadine.


"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan dia padaku? Aku tidak tahu banyak soal perempuan itu,"sahut Anand kembali fokus pada laptopnya.

__ADS_1


"Aku ingin membuka belangnya,"ujar Nadine dengan mata yang berkilat tajam.


Anand mengernyitkan keningnya mendengar kata-kata Nadine. Menatap Nadine heran dan juga penasaran, karena Nadine tiba-tiba menanyakan soal Dini. Dan sekarang malah mengatakan ingin membuka belang Dini,"Kenapa?"tanya Anand.


"Dia menjadikan pria yang aku taksir sebagai mainan. Selama ini aku tidak mau mendekati pria itu karena aku tidak mau merusak hubungan orang lain. Aku tidak mau jadi pelakor. Tapi kalau dia hanya mempermainkan pria yang aku sukai, aku tidak terima,"ujar Nadine berapi-api.


"Pria yang kamu suka? Wow! Aku pikir kamu nggak bisa move on dari aku. Ternyata kamu bisa menyukai pria lain selain aku,"ujar Anand.


"Plak "


"Auwh! Sakit!"keluh Anand mengusap kepalanya yang dipukul oleh Nadine.


"Nggak bisa move on dari kamu? Kapan aku mencintaimu? Sorry, ya! Kamu bukan tipe ku! Dasar narsis!"gerutu Nadine bersungut-sungut.


"Jadi cewek yang anggun dikit napa? Mana ada cowok yang suka sama kamu kalau kamu galak begitu,"cibir Anand.


"Eh, situ amnesia, ya? Nggak ingat apa, berapa banyak klien yang suka sama aku?!"sergah Nadine tidak terima.


"Itu karena mereka tidak tahu sifat asli kamu. Kalau mereka tahu sifat asli kamu, pada kabur mereka itu,"sambar Anand.


"Eleh..kayak situ banyak yang suka saja. Aku akui banyak perempuan yang suka sama kamu. Tapi para wanita itu hanya suka sama kamu karena uang kamu. Bukan karena benar-benar tulus mencintai kamu apa adanya, tapi mencintai kamu karena ada apa-apa nya,"balas Nadine membuat Anand menghela napas berat.


Darlen juga melihat ekspresi Anand yang terlihat sendu saat mendengar kata-kata Nadine tadi. Darlen merasa sedih melihat keadaan Anand akhir-akhir ini. Pulang malam, berangkat pagi-pagi, bahkan beberapa kali menginap di kantor.


"Aku ingin kamu menyelidik perempuan yang bernama Dini itu. Tolong, carikan informasi selengkap-lengkapnya tentang perempuan itu,"ucap Nadine serius.


Nadine juga merasa salah berkata-kata, hingga membuat ekspresi Anand berubah menjadi sendu.Dan Nadine merasa terselamatkan dengan pertanyaan Darlen.


"Baik, saya akan menyelidikinya,"sahut Darlen.


***


Malam ini malam ke tiga Rindy menunggu Anand pulang dari kantor. Dua malam sebelumnya, Rindy selalu tertidur saat menunggu Anand pulang. Rindy tertidur di sofa dan selalu terbangun di atas ranjang nya. Dan lagi-lagi, saat Rindy terbangun, Anand sudah berangkat.


Rindy kembali menunggu Anand di ruang tamu. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Tapi Anand belum juga pulang. Rindy memakan cemilan, bahkan berjalan mondar mandir di ruangan tamu itu untuk menghilangkan rasa kantuknya.


"Kenapa Anand selalu pulang malam? Bahkan kata bibi, Anand beberapa kali tidak pulang. Apa jangan-jangan, Anand tidur dengan perempuan lain?"gumam Rindy lirih hingga tidak bisa didengar ART yang menemaninya.

__ADS_1


Benar apa kata ibunya, suaminya tampan dan kaya, pasti banyak wanita di luar sana yang bersedia menjadi istri Anand atau sekedar menjadi teman tidur Anand. Memikirkan hal itu membuat Rindy menjadi gelisah.


"Nyonya, sebaiknya Nyonya istirahat. Ini sudah larut malam, Nyah,"ucap ART paruh baya yang selalu menemani Rindy. Wanita paruh baya itu menatap sendu wanita yang perutnya sudah membesar itu.


"Aku ingin menunggunya pulang, Bik,"sahut Rindy, membuat ART nya menatapnya dengan tatapan tidak berdaya.


Setelah lama mondar-mandir, akhirnya Rindy merasa lelah dan memutuskan kembali duduk di sofa. Namun sialnya, belum sampai lima menit Rindy duduk, ibu hamil itu sudah tertidur karena kelelahan.


Tak berapa lama, terdengar suara mobil Anand dan ART yang menemani Rindy pun langsung membukakan pintu.


"Apa Nyonya tidur di sofa lagi?"tanya Anand saat melihat ART yang biasa menemani Rindy membukakan pintu untuk nya.


"Iya, Tuan. Saya sudah membujuk Nyonya untuk tidur dikamar, tapi Nyonya menolak,"jawab wanita paruh baya itu.


"Terimakasih sudah menjaganya, Bik,"ucap Anand bergegas menghampiri Rindy.


"Sama-sama, Tuan,"sahut ART paruh baya itu.


Anand menatap Rindy yang tertidur di sofa, kemudian dengan perlahan mengangkat tubuh Rindy dan menggendongnya ke kamar. Dengan perlahan Anand merebahkan tubuh Rindy di atas ranjang. Perlahan Anand duduk di tepi ranjang, mengusap lembut perut Rindy, kemudian mengecupnya dengan penuh kasih sayang. Anand menatap wajah cantik istrinya, kemudian menepikan rambut Rindy yang sedikit menutupi wajahnya.


"Cinta adalah anugrah Tuhan yang paling indah, dan anugerah terindah itu adalah kamu. Memikirkan mu membuatku tetap terjaga. Memimpikan mu membuatku tertidur. Bersamamu membuatku tetap hidup. Namun, nyatanya berada di sisiku tidak bisa membuat mu bahagia, maka dari itu, aku memilih untuk melepaskan mu. Walaupun sejatinya sangat berat bagiku, jika harus hidup tanpamu.Namun, kebahagiaan mu adalah prioritas ku,"ucap Anand menatap Rindy yang masih memejamkan matanya dengan tatapan tidak berdaya.


Beberapa hari ini, Anand memang sengaja menghindari Rindy. Karena saat melihat Rindy, Anand tak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menyentuh Rindy, walaupun hanya sekedar memeluk atau mencium Rindy. Karena itu, Anand membiasakan diri untuk jauh dari Rindy.


"Ijinkan aku mencium mu untuk yang terakhir kalinya,"ucap Anand yang lebih terdengar seperti berbisik pada wanita yang matanya terpejam itu.


Perlahan Anand mendekatkan wajahnya ke wajah Rindy. Perlahan memejamkan matanya saat bibir nya dan bibir Rindy tinggal beberapa senti lagi. Perlahan bibir Anand menempel di bibir Rindy. Hanya sebentar, hanya kecupan singkat. Anand menjauhkan bibir dari bibir Rindy dengan perasaan tidak rela, kemudian perlahan membuka matanya.


"Kau?"


...๐ŸŒŸCinta adalah ketika kebahagian orang lain lebih penting daripada kebahagiaanmu sendiri."๐ŸŒŸ...


..."Nana 17 Oktober"...


...๐ŸŒธโค๏ธ๐ŸŒธ...


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2