
“RACHEL HEY RACHEL!!” panggil Nata yang terus mengejar Rachel hingga keluar kantor.
Tapi Rachel tidak berhenti, ia malah masuk ke dalam lift dan segera menutupnya. Nata menyusulnya, menekan-nekan tombol lift dengan arogan tapi pintu lift tidak lagi terbuka.
“Argh sial!” dengus Nata sambil memukul pintu lift dengan kasar.
“Masa dia tidak mendengarku!” Nata masih berujar dengan kesal, ia mengguyar rambutnya dengan kasar. Entah apa yang membuat Rachel lari darinya bahkan tidak menoleh saat ia panggil-panggil.
“Sejak kapan kamu berani menolak berbicara denganku?!” dengusnya lagi, tidak terima.
Alih-alih menunggu lift terbuka, Nata memilih menuruni tangga darurat dari lantai delapan menuju lantai satu. Ia berpikir kalau ia harus segera mengejar Rachel.
Di dalam lift, Rachel menangis sesegukan. Dadanya sesak saat melihat Nata tersenyum bahkan tertawa bersama wanita lain. Sementara saat bersamanya, apapun yang ia lakukan tidak pernah menarik minat Nata untuk tersenyum apalagi tertawa.
Apa yang salah dengan dirinya? Apa Nata setersiksa itu menikah dengannya?
Rachel terus mengurut dadanya yang terasa sesak. Ia tidak peduli pada seseorang yang memperhatikannya dari belakang. Baru kali ini ia menangis karena Nata, bukan karena Martha atau hal lainnya.
“Ding!”
Tiba di lantai satu, Rachel segera berlari keluar kantor. Ia mengusap air matanya dengan kasar. rinai air mata membuat pandangannya tidak jelas. Ia berjalan cepat sambil menunduk walau ia yakini beberapa pasang mata masih melihat bahunya yang sesegukan karena menangis.
“Taksi!” panggil Rachel, pada sebuah taksi yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sepertinya ia baru menurunkan penumpang.
“RACHEL!!!” lagi suara Nata memanggilnya. Nata masih berlari berusaha mengejar Rachel.
Semakin terdengar suara Nata, Rachel semakin ingin menangis.
Ia tidak menimpalinya, malah tetap naik ke dalam taksi dan ingin segera pergi dari tempat ini. Baru Rachel naik ke dalam taksi dan akan berangkat, tiba-tiba saja,
“Berhenti!!” seru Nata yang menghadang taksi itu.
Nafasnya masih terengah karena berlari menuruni tangga untuk mengejar Rachel. Rachel sangat enggan melihat tatapan tajam suaminya yang terlihat jelas dari tempat duduknya.
“Berangkat aja pak.” Pinta Rachel. Rasanya ia ingin menjauh beberapa saat dari Nata.
“Maaf non, kalau seperti ini saya tidak bisa berangkat.” Ujar penggemudi taksi saat melihat Nata yang menopangkan tangannya ke kap mobil.
“Rachel, keluarlah. Kita perlu bicara.” Panggil Nata.
Ia berpindah ke sisi kiri pintu mobil sambil mengetuk kaca beberapa kali.
Rachel masih harus menyiapkan dirinya. Ia mengusap air mata dan air hidung yang rasanya tidak berhenti menetes. Entah mengapa mengalami hal seperti ini membuat Rachel sangat sedih. Apa mungkin karena ia sangat kecewa? Atau tengah cemburu?
“Rachel, baik sekarang atau nanti kita harus bicara. Jadi keluarlah sekarang!” lagi Nata memanggilnya.
__ADS_1
Rachel menatap bayangan suaminya dari dalam. Ia bisa melihat kepanikan Nata dari caranya berbicara.
“Diselesaikan dulu non, supaya perjalanannya tenang.” Ucap pengemudi taksi sambil memberikan selembar tissue.
“Kalau non masih perlu tumpangan, saya mangkal di sekitar sini kok.” Imbu laki-laki itu lagi.
“Makasih pak.” Rachel mengambil selembar tissue itu dari tangan pengemudi taksi untuk mengelap air matanya.
Benar juga, kalau perjalanannya tidak akan tenang saat pergi dalam kondisi seperti ini.
“Iya sama-sama. Jangan nangis-nangis terus yaa, nanti cantiknya hilang.” Hibur laki-laki setengah baya itu.
Rachel hanya tersenyum kecil sebelum kemudian ia turun dari taksi itu.
Nata terengah namun nafasnya terlihat lega saat melihat Rachel yang turun dari taksi.
“Ikut aku.” Ujarnya dengan suara rendah.
Melihat wajah Rachel yang sembab membuat ia tidak berani lagi meninggikan suaranya. Ia hanya menarik tangan Rachel dan masuk ke dalam ruangan kantor. Rachel mengikut saja sambil memandangi tangannya yang di pegangi Nata.
Mereka masuk ke dalam lift dan beruntung hanya mereka berdua penggunanya. Keduanya saling terdiam, membiarkan lift naik menuju lantai empat belas, lantai yang di pilih Nata.
Rachel sedikit menggeser tubuhnya menjauh dari Nata, ia ingin memberi ruang untuk dirinya agar lebih tenang.
Nata hanya memperhatikan pantulan bayangan keduanya dari dinding lift. Ia memandangi Rachel yang terus menunduk sambil berpikir kenapa wanita ini bisa semarah itu?
Lantai empat belas menjadi lantai yang di tuju Nata. Ia keluar lebih dulu dan mengulurkan tangannya pada Rachel. Namun Rachel mengabaikannya dan memilih berjalan melenggang melewati Nata. Nata hanya bisa mengepalkan tangannya yang diabaikan Rachel. Ternyata seperti ini saat Rachel benar-benar marah.
Wanita itu berjalan lebih dulu keluar dari ruangan lantai empat belas. Rupanya lantai empat belas ini adalah sebuah rooftop. Rachel berdiri di tepian, menikmati angin yang berhembus cukup kencang dan menerbangkan rambutnya.
“Jangan terlalu pinggir.” Nata menarik tangan Rachel agar mendekat padanya.
“Tolong jaga jarak, aku masih kesal.” Rachel mengibaskan pelan tangan Nata dan membuat jarak dengan suaminya.
Rasanya ingin marah tapi saat mendengar ucapan istrinya, malah jadi gemas sendiri. Nata baru tahu, ternyata saat marah Rachel akan dengan mudah mengungkapkan perasaannya.
“Aku suami kamu, kenapa harus jauh-jauhan?” Nata mencoba memancing.
“Ya jutsru karena mas suamiku makanya aku kesal.” Timpal Rachel dengan mata yang sudah kembali berkaca-kaca.
“Kesal kan ada alasannya. Kamu tidak mengatakannya, bagaimana aku bisa tau alasan kamu marah.” Timpal Nata.
"Ya kalau mas gak tau aku marah, kenapa mas nyusul aku dan bawa aku ke sini?"
Rachel akhirnya menoleh dengan mata yang kembali sendu dan bibir yang bergetar hendak berbicara. Ia menatap Nata dengan penuh kekecewaan.
__ADS_1
Nata tidak menimpali, ia pun tidak paham. Bagaimana mungkin sekarang ia bisa begitu peduli pada setiap perubahan ekspresi dan gesture Rachel, padahal dulu ia sangat acuh. Apapun yang Rachel rasakan dan lakukan, ia tidak peduli.
“Aku kesal karena, aku melihat mas tersenyum dan tertawa di depan wanita lain, sementara dihadapanku mas selalu dingin.” Ucap Rachel dengan penuh keberanian.
“Ya okey, kita memang menikah dengan terpaksa. Tidak, maksud aku, mas menikahiku karena terpaksa. Mas gak mengenalku, mas gak menyukaiku dan mas gak pernah mencintaiku.”
“Tapi kenapa harus seperti ini? Apa berbicara dengan orang lain membuat mas lebih nyaman di banding bicara sama aku?”
“Atau mungkin karena aku tidak terlalu cantik dan tidak menarik sehingga mas begitu tersiksa saat bersama aku.” Imbuh Rachel yang tidak bisa menahan laju air matanya.
Ia bahkan kesulitan melanjutkan kalimatnya, hanya tergagap kemudian membuang nafasnya kasar. Rongga dadanya terlalu sesak untuk mengungkapkan kalimat-kalimat yang ada di benaknya.
“Kamu cemburu?” pancing Nata seraya menatap lekat Rachel.
Rachel menggeleng. “Ini bukan hanya tentang kecemburuan mas. Ini tentang posisi aku di hidup mas. Sepertinya Mas lebih bisa bahagia saat bersama orang lain. Mas bisa bicara banyak hal, bisa tersenyum dan tertawa. Sementara kalo sama aku,” Rachel menggantung kalimatnya. Sesak untuk dilanjutkan.
"Karena aku lebih bisa berbicara banyak hal pada orang yang tidak aku berikan perasaan lebih." Timpal Nata tiba-tiba dan membuat Rachel menoleh.
Hah, maksudnya Nata memiliki perasaan lebih terhadap Rachel? Benarkah?
Tunggu, kenapa pikiran rachel jadi kosong saat ini? Untuk memahami ucapan Nata saja ia kesulitan.
“Kamu hanya gak tau aja kalau lebih banyak hal yang bisa aku lakukan sama kamu. Misalnya,” tanpa aba-aba Nata meraih tengkuk Rachel lalu mengecup bibir Rachel dengan lembut. Rachel sampai terhenyak dan tidak bisa menolak serangan Nata, walau tangannya refleks mencengkram jas Nata.
“Kenapa?” Nata menatap netra bening yang berair itu dengan tajam.
“Kamu harus tau kalau aku tidak pernah bisa melakukan hal itu dengan wanita lain.” Aku Nata dengan penuh keyakinan.
Alih-alih menimpali, Rachel memilih memalingkan wajahnya dari Nata. Mr psysical attack yang selalu menyerangnya tiba-tiba dan tanpa aba-aba.
“Kamu cemburu sama Marsya, padahal aku tidak sedang tertawa atau tersenyum pada wanita itu. Aku tersenyum dan tertawa pada managernya yang duduk di sampingnya. Dia senior kampusku, kami cukup dekat.” Terang nata tanpa di minta. Entah apa alasannya hingga lidahnya begitu lancar membuat penjelasan pada Rachel padahal biasanya ia sangat malas membuat penjelasan.
Rachel menggigit bibirnya kelu, rupanya ia sudah salah sangka karena mengira Nata tersenyum pada Marsya.
“Tapi tetap aja, mas gak pernah ketawa atau senyum kalo lagi sama aku.” Keluh Rachel. Takut-takut ia melirik Nata yang sedang memandanginya.
“Karena aku takut, kalau aku menunjukkan semua perasaan bahagiaku saat dengan kamu, maka kamu akan dengan mudah mempermainkan perasaanku.” Timpal Nata tanpa di duga.
“Kamu hanya harus tau, kalau aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh sekaligus indah dengan wanita selain kamu.”
Ia menatap dengan lekat wajah Rachel yang membuatnya menyesal karena telah mengabaikan wanita ini. Tapi, ia tidak bisa membiarkan Rachel membaca perasaannya sepenuhnya. Karena bisa saja, suatu saat nanti Rachel mempermainkan perasaannya lalu meninggalkannya.
Mendengar ucapan Nata yang mendalam, Rachel jadi tercenung. Ia balas menatap netra pekat itu, kali ini lebih lama. Ia tidak tahu sepenuhnya apa yang ada di benak Nata tapi satu hal yang ia yakini, Nata pernah mengalami trauma di masa lalunya.
Mungkin itu yang membuat Nata mengkonsumsi obar anti depresan di awal pernikahan mereka.
__ADS_1
****