Menjadi Dia

Menjadi Dia
33. Masa Lalu


__ADS_3

"Kenapa Anand berubah drastis seperti itu? Aku tidak pernah melihat dia seperti itu sebelumnya. Dia menjadi pria yang sangat sempurna. Tampan, kaya, berkarisma dan berwibawa. Menarik!"gumam Nadine dengan seulas senyum di bibirnya yang merah merona.


Nadine menatap Anand yang masuk ke dalam mobil dan tak lama kemudian mobil Anand pun melaju meninggalkan Barata grup.


"Tidak lama lagi, kita akan bertemu lagi,"gumam Nadine masih dengan senyuman di bibirnya, menatap mobil Anand yang semakin menjauh.


Sedangkan Anand yang berada di dalam mobil yang di kemudikan oleh Darlen nampak mengerjakan pekerjaan kantor nya dengan laptop yang ada di atas pangkuannya.


Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit, akhirnya Anand sampai di rumah sakit tempat Rindy di rawat. Anand bergegas menuju ruang rawat Rindy diikuti Darlen dibelakangnya.


Saat masuk ke ruangan Rindy, Anand melihat Rindy sedang duduk bersandar sambil memakan anggur.


"Sayang, bagaimana keadaan mu?"tanya Anand seraya menghampiri Rindy. Sedangkan Darlen duduk di sofa seraya meletakkan laptop, berkas serta dokumen yang dibawanya.


"Sudah mendingan,"sahut Rindy,"Kenapa kamu kesini? Kamu tidak bekerja?"tanya Rindy.


"Aku akan bekerja dari sini, saja. Mana ibu?"tanya Anand yang tidak melihat ibu mertuanya di ruangan itu. Anand khawatir jika Rindy hanya sendiri dan tidak ada yang menjaganya.


"Ibu sedang di kamar mandi,"sahut Rindy.


"Setelah kamu sehat, kamu ingin kita pulang ke mana?"tanya Anand yang ingin membuat Rindy merasa nyaman. Anand tidak akan memaksa Rindy tinggal di rumahnya jika Rindy merasa tidak nyaman selama masa awal kehamilannya.


"Kalau boleh, aku ingin pulang ke rumah orang tuaku,"jawab Rindy yang diberi kesempatan untuk memilih.


"Oke, jika itu membuat mu nyaman, kita akan menginap di rumah orang tua mu,"sahut Anand menyetujui. Selama Rindy merasa nyaman, maka Anand akan menuruti nya.


"Terimakasih,"ucap Rindy.


"Atau kamu ingin kita tinggal di rumah kita sendiri? Jika kamu ingin, aku akan membeli rumah untuk kita tinggali,"ujar Anand nampak serius.


"Itu terserah kamu. Yang pasti, untuk beberapa hari, aku ingin tinggal di rumah orang tuaku,"ucap Rindy bertepatan dengan ibu Rindy yang keluar dari kamar mandi.


"Anand, kamu sudah kembali?"tanya ibu Rindy.


"Iya, Bu,"sahut Anand seraya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Ibu mau keluar dulu, ya?! Ada yang ingin ibu beli,"ucap ibu Rindy kemudian bergegas keluar dari ruangan itu.


"Sayang, ada satu hal yang ingin aku katakan padamu. Aku tidak ingin kamu bekerja lagi,"ucap Anand menatap lekat wajah istrinya.


"Tapi Anand, aku..."


"Kali ini aku tidak ingin dibantah. Aku ingin kamu berhenti bekerja,"ucap Anand memotong kata-kata Rindy,"Aku tidak ingin terjadi apapun pada anak kita. Kamu boleh melakukan apapun yang kamu suka, asal tidak membahayakan anak kita. Kamu juga boleh membeli apapun yang kamu mau dengan uang dan kartu yang aku berikan,"ucap Anand tidak ingin dibantah.


Rindy pun akhirnya pasrah. Mau tidak mau harus menuruti kata-kata suaminya. Jika Anand sudah membuat keputusan, maka tidak akan bisa diganggu gugat.


Setelah tiga hari rawat di rumah sakit, akhirnya Rindy pun diperbolehkan pulang. Seperti kesepakatan mereka, suami-istri itu pulang ke rumah orang tua Rindy. Karena banyaknya pekerjaan di kantor, Anand sering kali pulang malam.


Di sebuah restoran.


"Akhirnya aku punya kesempatan juga makan malam dengan mu. Aku tidak menyangka, Anand yang suka menghabiskan waktu di tempat hiburan malam, sekarang malah lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja,"ujar Nadine yang sedang makan malam bersama Anand.


"Itu sudah menjadi masa lalu,"sahut Anand santai seraya menikmati makan malamnya.


"Jadi kamu nggak pernah datang ke klub malam lagi?"tanya Nadine kemudian menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Kamu benar-benar berubah. Aku jadi semakin suka padamu,"ucap Nadine kemudian mengelap bibirnya dengan tisu.


"Kamu boleh suka padaku, tapi jangan sampai jatuh cinta. Karena aku tidak akan pernah mencintai mu,"sahut Anand yang juga sudah menyelesaikan makannya.


"Woah.. narsis sekali. Tapi aku akui, kamu yang sekarang memang disukai banyak orang. Bahkan semua mata karyawan wanita di perusahaan mu, memandang mu tanpa berkedip. Tampan, kaya, dan cerdas, siapa yang bisa menolak pesonamu?"ujar Nadine menatap Anand yang duduk di depannya.


"Termasuk kamu?"tanya Anand seraya mengernyitkan keningnya menatap Nadine.


"Kalau..."


"Anand! sudah lama sekali tidak bertemu,"ucap seorang wanita berbaju seksi yang langsung memeluk dan duduk di pangkuan Anand hingga membuat Nadine tidak melanjutkan kata-katanya.


"Beraninya kau! Menyingkir lah dari hadapanku!"ucap Anand dengan suara berat dan wajah yang nampak suram dan tatapan mata yang tajam menatap wanita yang sedang duduk dipangkuan nya dan memeluk lehernya itu.


"Anand.."

__ADS_1


"Menyingkir lah dari hadapanku, sebelum aku berbuat kasar kepadamu,"ucap Anand memotong kata-kata wanita itu. Tatapan tajamnya begitu menusuk, membuat auranya begitu dingin.


Melihat hal itu, dengan cepat wanita itu pun langsung turun dari pangkuan Anand.


"Anand, aku hanya rindu padamu. Kita sudah lama tidak bertemu,"ucap wanita itu mencoba tersenyum, walaupun merasa takut dengan aura dingin yang dipancarkan oleh Anand.


"Pergilah! Jangan ganggu aku!"ucap Anand dengan suara berat yang terdengar dingin, tanpa menoleh pada wanita itu.


Karena merasa Anand sedang tidak bisa diajak bersenang-senang, akhirnya wanita itu pun pergi menjauh dari Anand.


"Kenapa sikap Anand seperti itu? Auranya sangat dingin dan menakutkan. Tapi dia terlihat semakin tampan dan berkarisma, aku suka. Mungkin suasa hatinya sedang tidak baik, atau mungkin karena wanita yang bersamanya tadi, ya? Wanita itu cantik dan seksi. Apa dia kekasih Anand?"gumam wanita yang baru saja diusir Anand.


"Nad, kita sudah selesai makan malam, aku masih punya pekerjaan di kantor. Aku cabut dulu, ya!?!"pamit Anand pada Nadine yang dari tadi terdiam melihat interaksi Anand dan wanita yang berbaju seksi tadi.


"Ah, iya. Kamu duluan saja,"sahut Nadine tergagap.


Anand pun beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Nadine. Nadine pun menatap Anand yang semakin menjauh darinya.


"Aku benar-benar tidak mengenali Anand yang sekarang. Dia benar-benar berubah, seperti memiliki kepribadian ganda. Kadang dia bersikap dingin dan datar seperti Anand yang dulu. Namun terkadang bersikap ramah, supel dan friendly yang sangat mengasyikkan. Namun, terlepas dari semua itu, dia sangat menarik bagiku,"ucap Nadine dengan segaris senyum di bibirnya.


Sedangkan Anand, setelah makan malam bersama Nadine langsung kembali ke kantornya. Anand menyelesaikan beberapa pekerjaan nya. Saat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Anand pun beranjak dari duduknya dan keluar dari kantor nya. Anand mengendarai mobilnya menuju rumah mertua nya. Tempat dia menginap beberapa hari ini bersama istrinya.


"Wanita tadi adalah wanita penghibur yang beberapa kali diajak Anand menginap di hotel. Dasar Anand brengseek! Kenapa suka sekali tidur dengan sembarang wanita? Entah sudah berapa banyak perempuan yang sudah ditiduri nya,"gerutu Rio yang berwujud Anand, yang sedang mengemudikan mobilnya.


...🌟"Walaupun kita sudah membuka lembaran baru, namun kita tidak pernah bisa menghapus masa lalu."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2