
Rindy pulang ke rumah dengan hati yang tidak bisa didefinisikan. Belum bisa melupakan Rio, mulai mencintai Anand, belum bisa menerima masa lalu Anand, merasa bersalah, merasa egois dan entah apalagi yang dirasakannya hingga membuat pikirannya tidak karuan dan hatinya tidak tenang.
Namun satu hal yang tidak boleh terjadi, dirinya tidak boleh bercerai dengan suaminya. Nasehat dari Putra waktu itu, dan kata-kata dari ibu juga kakaknya hari ini benar-benar membuat Rindy merasa tertampar. Belum lagi kata-kata Nadine saat di restoran tadi. Rindy benar-benar merasa menjadi orang yang egois dan orang yang seolah tidak punya dosa, namun nyatanya paling berdosa.
"Ternyata aku manusia yang egois. Aku tidak bisa menerima keburukan orang lain, sedangkan aku nyatanya berbuat buruk kepada suami ku sendiri. Seburuk apapun Anand, aku tidak dapat mengingkari bahwa dia adalah suami ku, calon ayah dari anakku,"gumam Rindy menghela napas yang terasa berat seraya mengusap perutnya yang sudah besar dengan lembut.
Rindy membaringkan tubuhku di atas ranjang yang sudah seminggu ini ditidurinya sendiri. Tanpa Anand yang biasanya selalu memeluknya. Pelukan hangat yang selama ini diabaikan nya, dan nyatanya selama satu minggu ini dirindukan nya.
Rindy telah memutuskan, malam ini akan menunggu Anand pulang. Karena sudah satu minggu ini Rindy sama sekali tidak bertemu dan tidak berkomunikasi dengan Anand. Tepatnya setelah Anand mengatakan akan menceraikan dirinya.
***
Waktu terus berputar, mentari sudah kembali ke peraduan nya beberapa jam yang lalu. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan Anand masih berada di kantor nya.
Anand berdiri bersandar di dinding, sebelah kaca besar yang menjadi dinding luar ruangannya. Matanya menatap ke luar dinding kaca itu. Dari kaca besar itu, Anand bisa melihat gemerlap nya lampu kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana, lampu-lampu rumah penduduk, dan juga lampu-lampu yang menghiasi gedung-gedung bertingkat.
Suara lagu yang dinyanyikan oleh D'Bagindas mengalun di dalam ruangan itu. Lagu yang terdengar merdu di telinga, sekaligus menyesakkan dada bagi orang yang mengalami hal serupa seperti yang coba di sampaikan penyanyi lewat lirik-lirik lagu itu.
Berapa kali 'ku harus katakan cinta?
Berapa lama 'ku harus menunggumu?
Di ujung gelisah ini aku tak sedetik pun tak ingat kamu
Namun dirimu masih begitu, acuhkan ku, tak mau tahu
Luka, luka, luka yang 'ku rasakan
Bertubi-tubi-tubi engkau berikan
Cintaku bertepuk sebelah tangan
Tapi aku balas senyum keindahan
Bertahan satu cinta
__ADS_1
Bertahan satu C.I.N.T.A
Bertahan satu cinta
Bertahan satu C.I.N.T.A
Pernahkah engkau sejenak mengingat aku?
Pernahkah ingat walau seperti angin berlalu?
Di setiap malam kini aku tak sedetik pun tak ingat kamu
Namun dirimu masih begitu, acuhkan ku, tak mau tahu
Lagu itu rasanya mewakili hati Anand selama ini. Mencintai tanpa dicintai, bertepuk sebelah tangan. Berulang kali menyatakan cinta, tapi diacuhkan. Walaupun seringkali terluka dengan sikap dan kata-kata Rindy, tapi tetap saja hatinya mencintai Rindy. Dan tetap tersenyum walaupun hatinya terluka.
Namun sebagai manusia biasa , ada titik dimana Anand merasa lelah menanggung semua luka, merasa lelah memperjuangkan orang yang tidak ingin diperjuangkan. Dan merasa lelah berpura-pura terus tersenyum walaupun hatinya terluka. Hingga akhirnya seminggu yang lalu memutuskan untuk menceraikan Rindy setelah Rindy melahirkan.
"Kamu mau menginap di kantor lagi? Mendingan kamu pulang sana! Sampai kapan kamu terus begini? Diam di sini sendiri mendengar kan lagu patah hati. Mendengar lagu itu dan melihat kamu seperti ini membuat aku ingin menangis,"ujar Putra menghela napas panjang yang terasa berat.
"Kenapa kamu belum pulang? Pulang lah!"ucap Anand tanpa mengalihkan pandangannya. Masih menatap pemandangan di bawah sana.
"Kamu jangan seperti ini, Ri! Kalau kamu terus seperti ini, kamu akan jatuh sakit. Kamu harus ingat, Rindy sedang hamil besar. Sebentar lagi Rindy akan melahirkan. Kamu harus menjadi suami siaga,"ujar Putra mengingat kan.
Anand menarik napas yang terasa berat, dadanya terasa sesak seperti ditimpa batu besar. Memutuskan berpisah dengan Rindy adalah keputusan yang menyakitkan. Namun bertahan pun akan terus membuat hati terluka. Bisa dibilang, pergi sulit, bertahan pun sakit. Simalakama.
"Aku akan pulang sebentar lagi. Pulang lah lebih dulu!"ucap Anand masih pada posisinya semula, berdiri bersandar di dinding dan menatap ke luar kaca.
"Baiklah. Tapi ingat, anak dan istrimu membutuhkan kamu. Kasihan juga Darlen yang ikut menginap di kantor bersama mu. Aku pulang duluan,"ujar Putra menepuk pundak Anand pelan, kemudian keluar dari ruangan Anand.
Saat waktu menunjukkan pukul dua belas malam, Anand memutuskan untuk pulang. Seperti biasanya, Darlen selalu setia menemani nya.
Sedangkan di rumah, Rindy nampak duduk di sofa ruang tamu untuk menunggu Anand pulang. Matanya sudah mengantuk, tapi tidak mau masuk ke dalam kamar untuk istirahat.
"Nyonya, sebaiknya Nyonya tidur di kamar. Ini sudah larut malam. Tidak baik jika ibu hamil tidur terlalu malam. Nyonya harus segera istirahat,"bujuk ART paruh baya yang setia menemani Rindy.
__ADS_1
"Aku ingin menunggu Anand pulang, Bik," ujar Rindy.
"Ini sudah larut, Nyah. Mungkin malam ini Tuan tidak pulang seperti kemarin,"ujar wanita paruh baya itu
"Aku akan tetap menunggu nya,"ucap Rindy masih keukeh pada pendiriannya.
Wanita paruh baya itu hanya bisa menghela napas panjang. Wanita itu tahu jika keadaan rumah tangga majikannya tidak sedang baik-baik saja
Sudah seminggu ini Anand selalu pulang larut malam, bahkan terkadang tidak pulang. Walaupun pulang juga selalu berangkat pagi-pagi sekali sebelum Rindy bangun. Dan parahnya lagi, kedua majikannya itu tidur di kamar yang terpisah.
Karena sudah kecapekan, akhirnya Rindy pun tertidur di sofa. ART paruh baya itu pun hanya menghela napas panjang. Menunggu Rindy yang tertidur di sofa. Saat mata wanita paruh baya itu hampir tertutup, wanita itu mendengar suara pintu mobil yang ditutup. Wanita itu pun bergegas bangun dan membuka pintu.
"Bibi? Bibi belum tidur?"tanya Anand yang nampak terkejut melihat wanita paruh baya itu membukakan pintu untuk dirinya.
"Itu, Tuan. Nyonya..."
"Ada apa dengan istri ku?"tanya Anand memotong kata-kata wanita paruh baya itu, terlihat khawatir.
"Nyonya menunggu Tuan pulang sampai tertidur di sofa,"jawab wanita paruh baya itu menunjuk ke arah sofa ruang tamu.
Anand pun langsung bergegas menghampiri Rindy,"Kenapa dia tidur di sini? Pasti tidak nyaman tidur dalam posisi duduk seperti ini,"gumam Anand mengangkat tubuh Rindy dan membawanya ke kamar.
Perlahan Anand membaringkan tubuh Rindy di atas ranjang. Ada rasa rindu di hatinya. Sudah seminggu Anand tidak melihat wanita yang dicintainya itu. Namun Anand enggan untuk menatap dan berinteraksi terlalu lama dengan Rindy. Anand takut khilaf.
Bagaimana pun, Anand adalah pria normal. Sudah lama Anand tidak dapat memenuhi kebutuhan biologisnya. Jika terlalu lama menatap istrinya yang cantik dan mengingat kenikmatan saat tubuh mereka menyatu, Anand takut tidak bisa menahan diri untuk tidak menerkam istrinya itu. Anand mengusap dan mengecup lembut perut Rindy, kemudian menyelimuti tubuh Rindy. Setelah itu, Anand pun bergegas meninggalkan kamar itu.
...π"Tahukah kamu rasanya berjuang? Lelahnya menunggu? Sakitnya bersabar? Kalau kamu tahu, mestinya kamu lebih menghargain nya."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
__ADS_1
To be continued