Menjadi Dia

Menjadi Dia
Pembelaan Brams


__ADS_3

Di luar kamar saat ini ke empat orang itu berada. Nata membawa Ivana, Martha dan tentu saja Brams, menjauh dari kamar Brandon. Ia membiarkan Rachel bersama Brandon yang saling berangkulan ketakutan. Ada hal yang harus diselesaikan, menurut Nata.


“Gimana ceritanya sih itu perempuan bisa berani ngegoda kamu? Kok bisa-bisanya dia berpikir untuk menggoda kakak iparnya sendiri? Gak habis pikir mamah.” Ucap Martha yang masih tidak mengerti dengan tindakan Rachel.


“Iya mah, aku juga gak nyangka. Tadi tiba-tiba dia nelpon aku, katanya perlu bantuan karena Brandon demam lagi. Sebagai ayahnya, tentu saja aku langsung lari dari kamarku ke kamar Brandon buat ngecek dia. Aku panik mah.”


“Tapi tiba-tiba aja, Rachel menarik tanganku dan menciumku. Dia juga menarik bajuku sampai berantakan begini.”


“Maaf Nata, aku tidak bermaksud menjelekkan istrimu. Aku tau kamu shock, tapi memang seperti itu kejadiannya.” Ucap Brams dengan penuh kesungguhan.


Ia bahkan masih merapikan rambutnya yang berantakan. Dengan penuh percaya diri Ia menepuk bahu Nata yang tampak kesal. Sorot matanya sangat tajam, wajahnya yang merah dan tentu saja tangannya yang mengepal kuat.


“Jadi, dia menepon kakak?” tanya Nata kemudian.


“Iya. Dia menelponku. Dia pura-pura panik dan sok-sokan nangis di telepon. Aku sudah sangat mengasihaninya tapi aku gak nyangka kalau ternyata itu hanya jebakan.” Ucap Brams dengan ekspresi penuh ketakutan.


“Oh, jadi dia menjebak kakak?” Nata mengulang sepenggal kalimat Brams.


“Tentu saja! Itu sangat mengerikan Nata. Aku pikir Rachel wanita baik-baik dan sangat polos. Tapi ternyata, ya kamu bisa lihat sendiri. Dia memaksaku sampai mencakar tangan dan leherku.” Brams bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia sampapi menunjukkan luka cakaran di tangan dan lehernya.


Mendengar ucapan Brams, Nata hanya mengusap wajahnya kasar. ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekiknya. Lantas ia mengambil tongkat golf yang tersimpan di dekat tangga.


“Kamu mau apa Nata? Kamu mau memukuli Rachel?” tanya Martha dengan mata membulat.


Nata tidak menjawab, ia hanya mengusap ujung stik golf dengan tangannya.


“Jangan kotori tanganmu dengan memukul wanita itu Nata. Kamu ceraikan saja dia lalu kamu usir dia dari sini.” Hasut Martha memberi pilihan.


Nata tidak menjawab. Ia melirik Ivana yang ada di belakangnya dan kakak perempuannya itu hanya bisa terisak dan menutup mulutnya agar tangisnya tidak pecah. Ia juga berbalik membelakangi Nata.

__ADS_1


Dan dalam satu gerakan tiba-tiba saja, “BUK!!” bebuah hantaman keras ia layangkan ke tubuh Brams.


“AKH!” Brams mengaduh kesakitan. Pukulan dnegan stick golf itu tidak main-main.


“Nata! Apa yang kamu lakukan?!” seru Martha yang kaget.


Nata tidak menimpali. Ia semakin menggila dengan memukul Brams bertubi-tubi dengan stick golf-nya. Brams sampai jatuh tersungkur mendapat pukulan berkali-kali dari Nata. Nata memang sengaja mengajak Brams keluar kamar terlebih dahulu agar Brandon tidak melihat apa yang dilakukannya.


“Nata, berhenti Nata. Mamah mohon!” teriak Martha yang ketakutan di pojokan sambil menutup telinganya.


Ia menghampiri Ivana, namun Ivana mengabaikannya. Ivana hanya bisa menangis sambil berjongkok dan menutup telinganya mendengar Brams mengaduh berkali-kali menahan sakit. Juga suara stick golf yang berkali-kali menghantam tubuh suaminya.


Sebelum melanjutkan pukulannya, Nata melepas earphone yang menempel di telinganya dan melemparnya begitu saja. Kemarahan Nata semakin besar saat mengingat bagaimana perbincangan yang ia dengar antara Brams dan Rachel dengan begitu jelas di telinganya dan Ivana.


Hati suami mana yang tidak hancur mendengar istrinya yang memekik ketakutan. Ia bahkan bisa mendengar suara nafas Rachel yang tersengau-sengau karena mulutnya di bekap oleh Brams.


Seperti orang kehilangan akal, mobil Nata melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi tepat setelah ia membaca pertukaran pesan antara Rachel dan Ima.


Dan Ivana, hatinya sudah sangat hancur sejak mendengar ungkapan cinta Brams terhadap Rachel. Dunianya seperti runtuh dan ia hanya bisa pasrah. Ia juga malu pada wanita yang sedang menangis tersedu-sedu di kamar putranya.


Nata menghampiri Brams dan mencengkram kerah baju laki-laki itu dengan erat.


“Jadi katakan dengan jelas, siapa yang merayu dan siapa yang dirayu?” tanya Nata dengan tatapan dingin dan tajam pada wajah Brams yang sudah berlumuran darah.


“Ra-rachel merayuku.” Ucap Brams, kukuh dengan jawabannya.


“Aku bersungguh-sungguh Nata. Rachel bukan wanita baik-baik.” Suara Brams terdengar lemah dan serak.


Tangannya memegang tangan Nata dengan erat, berusaha meyakinkan adik iparnya. Sepertinya ia tidak menduga kalau Nata sudah mengetahui semuanya.

__ADS_1


Mendengar jawaban Brams, Nata semakin meradang.


“Plak!” Nata menampar wajah Brams dengan keras. Tidak hanya satu kali melainkan dua hingga tiga kali.


Brams kepayahan. Matanya nyaris tertutup karena menahan rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya.


“Cukup Nata. Jangan dipukul lagi.” Ujar Ivana yang masih mengasihani ayah dari anaknya. Ia juga tidak mau membiarkan Nata menjadi seorang pembunuh.


Tangan Nata yang sudah melayang di udarapun urung menghantamkan pukulan berikutnya. Ia hanya bisa mengepal kuat-kuat karena terpaksa harus mengakhiri luapan amarahnya. Ia mengibaskan tangannya hingga Brams jatuh terjengkang.


“Uhuk! Uhuk!” Brams terbatuk merasakan sesak di dadanya. Ia berusaha bernafas normal. Saat melihat Ivana mendekat, ia berusaha untuk bangkit.


“Ivana, aku berbicara yang sesungguhnya. Percaya sama aku. Rachel lah yang bersalah bukan aku.” Kali ini Brams memohon pada Ivana.


Ia tahu kalau Ivana sangat mencintainya dan pasti akan mempercayainya.


“Jangan berbohong lagi Brams. Aku sudah tau semuanya.” Ucap Ivana dengan terbata-bata. Hatinya sungguh sakit saat harus mengakui kalau apa yang Brams katakan adalah sebuah kebohongan.


Brams menghembuskan nafasnya kasar, sepertinya ia sadar kalau usahanya sia-sia. Ia membaringkan tubuhnya di lantai, tidak lagi berusaha untuk menjelaskan apapun.


“Polisi akan segera datang untuk menangkapmu. Jadi tunggulah baik-baik.” Ucap Nata seraya beranjak dari tempatnya.


Ia sudah sangat jijik melihat wajah laki-laki itu.


Melihat Nata yang beranjak pergi, Brams terkekeh. Entah apa yang ada di benaknya saat kemudian ia berkata “Nata, aku sangat suka pada istrimu. Jika kelak kamu melepaskannya, aku akan dengan senang hati menerimanya.” Ucap laki-laki gila itu.


Tangan Nata yang mulai terbuka, kini kembali mengepal. Ia berbalik menatap Brams dan menghampiri laki-laki itu.


“BUK!” satu tendangan kuat diberikan Nata di perut laki-laki itu hingga tubuhnya meringkuk kesakitan. Brams terbatuk beberapa kali, namun ia tetap dengan senyumnya yang buas dan menyeringai membayangkan Rachel berjalan ke arahnya dan menghampirinya.

__ADS_1


Semuanya begitu jelas hingga kemudian ia tidak sadarkan diri.


****


__ADS_2