
Selesai makan malam, Anand dan Rindy kembali ke dalam kamar bertepatan dengan suara dering handphone milik Anand. Anand mengangkat telepon dari Putra, sedangkan Rindy memilih berdiri di balkon kamar.
Selesai menerima telepon dari Putra, Anand menyusul Rindy yang berdiri di balkon kamar. Menatap langit malam yang tidak begitu cerah.
Anand memeluk Rindy dari belakang,"Sayang, aku berharap, kedepannya kamu tidak akan mempermasalahkan jika ada wanita dari masa lalu ku. Percayalah? Aku sudah berubah. Aku tidak akan jajan di luar. Aku sudah punya istri secantik kamu, untuk apa aku mencari wanita lain,"ujar Anand dengan mata menatap langit. Masih mencoba meyakinkan Rindy.
"Mana aku tahu apa yang kamu kerjakan di luar sana dan bersama siapa,"gumam Rindy yang masih bisa didengar oleh Anand. Rindy masih ingat ada aroma parfum yang menempel di pakaian Anand yang berbeda dengan parfum yang digunakan oleh Nadine.Dan tadi, ada perempuan yang berani memegang lengan Anand di depan umum.
"Aku harus bagaimana agar bisa membuatmu percaya padaku,"ujar Anand menghela napas berat.
Rindy melepaskan pelukan Anand, kemudian masuk ke dalam kamar. Memilih membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Anand pun menyusul Rindy masuk ke kamar dan berbaring di sebelah Rindy.
Anand langsung memeluk Rindy yang berbaring membelakangi dirinya,"Sayang, sudah lama dedek bayinya nggak ditengok. Aku sudah kangen. Boleh, ya, aku tengok?"Anand berusaha merayu istrinya agar mau melayani nya.
Namun siapa sangka, Rindy langsung menutup tubuhnya dengan selimut hingga ke leher,"Aku capek, ingin tidur," ucap Rindy seraya memejamkan mata.
Anand menghela napas berat menatap Rindy,"𝙉𝙖𝙨𝙞𝙗...𝙣𝙖𝙨𝙞𝙗... 𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙟𝙖𝙩𝙖𝙝 𝙖𝙟𝙖 𝙨𝙪𝙨𝙖𝙝 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙚𝙩. 𝙇𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙨𝙪𝙨𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙮𝙪 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙟𝙖𝙩𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙮𝙪 𝙠𝙡𝙞𝙚𝙣 𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙞𝙣𝙫𝙚𝙨𝙩𝙖𝙨𝙞. 𝙆𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙤𝙡𝙖𝙠 𝙠𝙪 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙣𝙮𝙖? 𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙙𝙪𝙡𝙪𝙖𝙣, 𝙖𝙠𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙖𝙟𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙗𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠 𝙖𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙣𝙤𝙡𝙖𝙠 𝙣𝙜𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙟𝙖𝙩𝙖𝙝. 𝙎𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙠𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙣𝙞?"gumam Anand dalam hati.
Setiap kali menginginkan Rindy, Anand harus membujuk, bahkan harus sedikit memaksa Rindy untuk melayaninya. Namun lama kelamaan, Anand jadi enggan berhubungan suami-istri dengan Rindy dengan cara seperti seperti itu. Apalagi saat ini Rindy sedang mengandung.
Pagi harinya Anand pergi ke kantor dengan wajah lesu, tidak bersemangat. Putra yang melihat Anand seperti itupun mengernyitkan keningnya.
"Kenapa itu muka macam benang kusut? Jangan-jangan semalam nggak dapat jatah, ya?"ledek Putra kemudian tertawa.
Anand menghela napas berat,"Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya agar Rindy mencintai ku,"ujar Anand dengan ekspresi sendu.
Melihat ekspresi Anand, Putra pun berhenti tertawa,"Apa maksudmu? Membuat Rindy mencintai mu? Saat ini Rindy sedang mengandung, dan sebentar lagi kalian akan memiliki anak. Apa selama ini kamu memaksa Rindy untuk melayani mu?"tanya Putra dengan ekspresi yang sulit dibaca.
__ADS_1
"Aku pikir, seiring berjalannya waktu, dengan perhatian, kasih sayang dan cinta yang aku berikan, Rindy akan mencintaiku. Namun nyatanya tidak. Terkadang aku merasa Rindy cemburu, tapi setelah ku pikir-pikir, mungkin dia tidak cemburu. Dia hanya merasa harga dirinya sebagai seorang istri terluka jika ada wanita yang mendekati aku,"
"Sikapnya dingin, dan sering kali mendiamkan aku tanpa alasan dan sebab yang tidak aku ketahui. Aku tanya pun, dia tetap diam. Dulu saat aku masih menjadi diriku sendiri, aku mendapatkan cinta Rindy, tapi tidak dengan raganya. Sekarang, saat aku menjadi Anand, aku hanya bisa memiliki raganya, tapi tidak dengan cintanya,"curhat Anand pada Putra. Tersenyum hambar, sehambar hatinya.
Selama ini Anand terlihat baik-baik saja, bahkan nampak bahagia. Putra tidak menyangka jika Anand mengalami masalah seperti itu di dalam rumah tangganya. Karena Anand tidak pernah membahas masalah keluarga nya.
"Jadi, selama ini, hubungan kalian tidak baik-baik saja?"tanya Putra hati-hati. Anand, hanya menggeleng pelan.
sebagai jawaban nya.
Putra menghela napas berat,"Dia tetap tidak percaya bahwa kamu adalah Rio?"tanya Putra lagi.
"Tidak,"sahut Anand singkat.
"Ijinkan aku menemuinya. Biar aku yang bicara pada Rindy,"pinta Putra yang ingin membantu sahabat yang sudah dianggapnya sebagai saudara itu.
"Itu resiko. Demi persahabatan kita, aku akan tetap mencoba nya,"sahut Putra masih optimis.
Sore itu, Putra bertemu dengan Rindy di sebuah kafe. Putra sudah lebih dulu tiba di kafe tempatnya berjanji bertemu dengan Rindy. Tak lama kemudian Rindy pun datang, dan mereka pun saling sapa menanyakan kabar masing-masing. Mereka memesan minuman dan makanan ringan yang sedang digemari di kafe itu untuk teman mengobrol mereka.
"Kenapa tiba-tiba kamu ingin bertemu dengan ku?"tanya Rindy membuka obrolan mereka.
"Apa kamu masih mencintai Rio?"tanya Putra tanpa menjawab pertanyaan Rindy.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu?"Rindy malah balik bertanya. Rindy merasa pertanyaan Putra agak pribadi. Karena walaupun mereka sudah kenal lama, tapi Rindy tidak terlalu dekat dengan Putra.
"Rio sudah meninggal, dan saat ini kamu sudah menikah dengan Anand. Bukankah sebaiknya kamu melupakan masa lalu dan membuka lembaran baru?" tanya Putra menatap Rindy dengan wajah serius.
__ADS_1
Rindy menghela napas panjang seraya menatap Putra,"Apa Anand yang menyuruh mu untuk menemui ku dan membujuk aku?"tanya Rindy yang merasa semakin kecewa pada Anand. Rindy yakin Anand pasti sudah menceritakan masalah rumah tangga mereka pada Putra. Dan Rindy tidak suka itu. Rindy tidak ingin ada orang luar yang ikut campur dalam rumah tangganya.
Obrolan mereka terhenti saat karyawan kafe itu datang dan meletakkan makanan dan minuman yang mereka pesan. Dan melanjutkan pembicaraan mereka setelah pelayan kafe itu pergi.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Aku datang atas inisiatif ku sendiri. Tidak ada yang menyuruh ku. Dan soal Anand, apa kamu benar-benar tidak bisa mengenalinya? Apakah kamu tidak merasakan jika yang ada di dalam tubuh Anand itu adalah Rio? Roh Rio masuk ke dalam tubuh Anand saat kecelakaan itu, Rin,"ujar Putra berusaha meyakinkan Rindy.
"Di bayar berapa kamu sama Anand, hingga kamu mau bekerja pada Anand? Bahkan membujuk ku untuk meyakinkan aku bahwa dia adalah Rio dengan cerita konyol yang tidak masuk akal itu. Kamu boleh percaya atau pura-pura percaya dengan cerita konyol itu, tapi aku tidak,"
"Kamu melupakan Rio sebagai sahabat mu, melupakan bahwa Anand yang telah membuat Rio meninggal, hanya demi mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih menjanjikan? Tapi aku tidak bisa menyalahkan kamu, semua orang berhak memilih jalannya sendiri, termasuk aku,"ujar Rindy yang lumayan pedas bagi Putra.
Secara tidak langsung, Rindy mengatakan bahwa Putra melupakan persahabatan nya dengan Rio hanya demi uang.
"Aku tidak pernah mengkhianati sahabat ku. Aku mau bekerja dengan suami mu karena aku yakin bahwa dia adalah Rio, sahabat ku. Kami sudah lama tinggal bersama. Aku tahu kebiasaannya, makanan kesukaannya, kisah hidupnya dan apapun yang berkaitan dengan dia. Bahkan dia juga tahu apapun tentang diriku yang tidak diketahui oleh orang lain selain kami berdua. Jadi aku tidak mungkin salah mengenali Rio, Rin,"ujar Putra berusaha meyakinkan Rindy.
"Anand selalu memata-matai aku dan semua orang yang berhubungan dengan ku. Jadi wajar jika dia tahu segalanya tentang kalian,"ujar Rindy yang yakin bahwa Putra disuruh Anand untuk membujuk nya.
"Walaupun dia tahu semua hal tentang orang-orang di sekitarmu, tapi dia tidak mungkin tahu tentang hal yang sangat pribadi dari ku yang hanya diketahui oleh Rio, Rin. Dia..."
"Kamu tidak perlu meyakinkan aku lagi. Jika kamu percaya dia adalah Rio, itu terserah kamu. Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan,"ucap Rindy memotong kata-kata Putra. Langsung bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kafe itu tanpa menyentuh makanan dan minuman yang sudah dipesannya.
Putra membuang napas kasar,"Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Rio, Rindy sangat keras kepala, dan susah dibujuk,"gumam Putra menatap Rindy yang berjalan keluar dari kafe itu.
.
.
To be continued
__ADS_1