Menjadi Dia

Menjadi Dia
Dua kejutan yang berbeda


__ADS_3

“Beneran Vin, aku bener-bener minta tolong kamu kirim alamat lokasi syuting Rachel sekarang. Aku mau check dia secara langsung. Mamah juga cemas sama anak bontotnya.” Rengekan itu terdengar dari mulut Ruby melalui sambungan telepon.


Sudah sekitar lima belas menit mereka saling bertelepon dan membahas tentang kondisi Rachel.


Sampai saat ini, Calvin masih bungkam. Ia masih menjaga amanat Rachel untuk tidak mengatakan apapun pada keluarganya tentang kondisi kesehatannya. Ia tidak mau mengecewakan Rachel yang sudah mempercayainya.


“Iya, aku paham sama kecemasan kamu. Tapi aku rasa, kamu gak perlu nyusul ke sini. Ini aku baru sampe lokasi, mau aku liatin Rachel secara langsung?” tawar Calvin saat sudah tiba di tempat parkir rumah sakit.


Ia beserta ibunya memang sengaja datang berkunjung untuk melihat langsung kondisi Rachel setelah Fany mengatakan kalau Rachel sudah boleh dikunjungi karena kondisinya sudah stabil.


“Apa? kamu beneran di lokasi?” suara cemas Ruby berganti riang. Mendengar Calvin mengeceknya langsung, membuat perasaannya lebih lega.


“Iya, kebetulan mamahku juga ikut. Katanya mau kenalan sama Rachel.” Calvin menoleh ibunya yang duduk di sampingnya. Alya hanya tersenyum sembari mengusap lengan putranya dengan lembut.


“Ya ampun, syukurlah. Makasih banyak ya Vin, maaf banget udah ngerepotin kamu sama mamah kamu.”


“Nggak lah. Ngerepotin apaan coba. Ya udah, aku turun dulu. Nanti aku kabari lagi ya.”


“Iya Vin, makasih banyak ya. Salam buat tante Alya."


“Iya, aku sampein langsung sama mamah. Mah, dapet salam dari Ruby.” Calvin berbicara dengan Ruby dan Alya bergantian.


Alya mengangguk kecil mengiyakan. Setelah itu panggilanpun terputus. Calvin dan Alya segera turun dari mobil. Ia masuk ke bagian khusus ruang rawat inap. Mencari kamar rawat Rachel sesuai yang diinfokan Fany padanya.


“Sebelah sini mah.” Tunjuk Calvin pada nomor kamar Rachel. Wanita itu mengekori Calvin di belakangnya.


Calvin mengetuk pintu ruang rawat Rachel.


“Silakan masuk.” Sambut suara dari dalam.


Dengan senang hati Calvin dan Alya pun segera masuk.


“Kak Calvin?” Rachel tampak kaget.


“Hay, boleh aku masuk? Ini aku ngajak mamah juga, katanya mau jenguk kamu.” Calvin langsung memperkenalkan Alya pada Rachel. Kesan pertama yang dilihatnya, Rachel memang semakin kurus walau sudah terlihat segar.

__ADS_1


“Oh iya. Silakan masuk tante.” Gadis itu tersenyum menyambut Alya.


“Gimana kabar kamu?” tanya Alya dengan lembut. Ia juga menghampiri dan memeluk Rachel dengan hangat.


“Baik tante.” Rachel tersenyum canggung pada Alya dan melirik Calvin. Sungguh Rachel tidak menduga kalau Alya akan datang menjenguknya. Tapi yang di lirik hanya tersenyum saja.


“Maaf tante, aku malah menyambut tante di rumah sakit.” Lanjut Rachel kemudian, setelah pelukan keduanya terlerai.


“Ya nggak apa-apa. Lain kali kan kita bisa nongkrong bareng di café yang penting kamu sehat dulu. Gimana, udah segeran?”


“Udah tante. Udah jauh lebih baik dari sebelumnya.” Ungkap Rachel.


Alya duduk di kursi yang menghadap Rachel dan mereka saling berpandangan beberapa saat. Rachel bisa melihat kalau sosok Alya memang sangat hangat. Sepertinya benar yang dikatakan Ruby kalau keluarga Calvin adalah keluarga yang sempurna dan saling menyayangi.


“Udah berapa hari berarti Rachel di rawat di sini?” Alya berusaha memecah kecanggungan antara ia dan Rachel. Sosok dihadapannya ini memang terlihat sangat cantik dan manis.


“Ini hari kelima tante. Rachel diperbolehkan pulang dua hari lagi.” Terang Rachel dengan sejujurnya.


“Baguslah. Selama dua hari itu, kamu bisa maksimalkan untuk beristirahat. Jadi saat kerja nanti, kondisi kamu udah lebih sehat dan kuat.” Ungkap Alya dengan penuh semangat. Ia juga menggenggam tangan Rachel yang lemah dan masih pucat.


“Sama-sama.” Alya juga mengusap kepala Rachel dengan sayang, membuat Rachel cukup kaget.


Calvin hanya tersenyum melihat ekspresi terkejut Rachel. Alya memang orang yang suka menunjukkan perhatiannya melalui sentuhan dan kontak mata, hal itu pasti mengagetkan untuk orang yang pertama kali bertemu dengannya.


“Gimana makannya, apa udah mulai banyak?”


“Iya tante, Rachel udah mulai banyak makan. Malah sekarang sering laper.” Rachel mulai berbicara dengan santai. Pembawaan Alya yang hangat membuat Rachel merasa nyaman.


“Ya bagus itu. Katanya kan obat itu bisa diserap dengan baik kalau makanan yang masuk ke tubuh kita juga banyak dan bergizi. Iya gak Vin?” Alya menoleh putranya yang diam-diam memperhatikan Rachel.


“Oh, iya mah.” Calvin sampai kaget. Mungkin saking asyiknya memperhatikan interasi Rachel dengan Alya ia jadi tidak fokus.


“Kamu harus makan yang banyak Chel, kalau ada yang kamu mau, nanti aku belikan. Siapa tau kan kalau kamu makan makanan kesukaan kamu, tubuh kamu jadi lebih mudah nerima itu.” beruntung fokus Calvin kembali dengan cepat sehingga bisa menimpali ibunya.


“Makasih kak.” Rachel mengangguk sungguh pada Calvin atas kebaikan laki-laki ini. Calvin tersenyum kecil, suka sekali melihat Rachel tersenyum seperti itu.

__ADS_1


“Ngomong-ngomong Chel, dulu itu waktu kecil Calvin pernah sakit demam gak turun-turun. Tante udah kasih obat demam beberapa kali tapi gak turun juga demamnya. Terlebih sama Calvin dimuntahin terus karena dia gak suka minum obat. Tante sampe stress mikirin dia sakit. Untungnya, demamnya gak lebih dari tiga hari."


"Tapi, kamu tau gak Calvin sembuhnya pake apa?” pancing Alya.


“Pake apa tante?” Rachel dengan ekspresi penasarannya yang menggemaskan.


“Pake cacing tanah.” Bisik Alya yang masih bisa di dengar Calvin. Ada tawa yang di tahan ibunya di ujung kalimat.


“Mah, jangan diceritain lagi lah.” Calvin merajuk. Mendengar cerita itu lagi, membuat perutnya mual. Padahal sudah belasan tahun lalu.


“Hah, serius tante?” sementara Rachel semakin antusias, membuat Alya mengabaikan rajukan putranya.


“Iya, tante di kasih tau sama orang yang kerja di rumah, katanya cacingnya di blender terus disaring dan dicampur pake susu. Ajaibnya demam Calvin benar-benar sembuh. Secara dia doyan minum susu, makanya ngasih obatnya gampang banget.”


“Hahahaha ….” Rachel dan Alya tertawa bersamaan. Sementara wajah Calvin sudah merah padam karena malu.


“Beberapa hari kemudian, Calvin tau kalau dia diobati pake cacing tanah. Dia maaaaaarrah banget sama tante. Tapi sejak itu, dia jadi gak susah kalau disuruh minum obat atau vitamin. Daripada tante cekokin jus cacing lagi kan?” lanjut Alya seraya mengusap kepala Calvin dengan sayang.


“Hahahaha … kasian kak Calvin. Tapi gak trauma kan kak?” ledek Rachel.


“Hehehehe … nggak lah. Tapi tetep aja aku gak mau kalau di suruh minum itu lagi.” Calvin bergidik geli, membuat Rachel dan Alya kembali tertawa.


Obrolan pun terus mengalir antara Rachel dan Alya juga Calvin. Banyak hal yang mereka bicarakan dan sesekali membuat dua wanita ini tertawa. Di waktu yang tepat, Calvin mengabadikan moment ini dan mengirimkannya pada Ruby.


Ruby yang melihat foto Rachel tertawa, bisa menghela nafasnya lega karena Rachel tertawa dengan sepenuh hati. Tidak ada yang ia sembunyikan kalau ia sangat senang dengan kedatangan Calvin dan Alya.


Calvin benar-benar bersyukur karena ternyata Rachel dan Alya bisa cepat akrab. Mereka membicarakan banyak hal yang lucu dan membuatnya ikut tertawa.


Di tengah perbincangan, tiba-tiba Fany datang dengan tergesa-gesa.


“Ada apa?” tanya Rachel saat melihat wajah panik Fany.


“Kamu harus liat video ini Chel. Videonya udah mulai menyebar.” Terang Fany sambil menunjukkan video yang ia terima.


Rachel yang melihatnya selintas, hanya bisa melongo. Bagaimana bisa video ini menyebar begitu saja?

__ADS_1


****


__ADS_2