
Apa kamu ada masalah dengan Anand?"tanya ibu Rindy merasa curiga dengan hubungan anak dan menantunya. Ada rasa khawatir di hati wanita paruh baya itu saat melihat putrinya melamun dan nampak tidak bahagia.
"Tidak ada, Bu. Hanya saja.. aku merasa seharusnya Anand membangunkan aku saat dia akan pergi tadi,"jawab Rindy jujur, berusaha menghilangkan kecurigaan ibunya.
"Itu karena Anand tidak tega untuk membangunkan kamu,"ujar ibu Rindy yang nampak lega mendengar jawaban Rindy. Dalam pikiran ibu Rindy, wajar jika Rindy merasa tidak senang saat suaminya pergi beberapa hari ke luar kota tapi tidak berpamitan padanya.
Sementara itu, Anand pergi ke luar kota bersama Darlen dan Nadine, sejak sampai di kota tujuan mereka, mereka langsung bekerja. Agar bisa cepat pulang, Anand bekerja secepat mungkin dan tidak banyak waktu yang digunakan untuk beristirahat. Saat hari sudah malam, Anand baru kembali ke kamar hotelnya.
Anand berendam air hangat di dalam bathtub agar tubuhnya rileks setelah seharian bekerja. Setelah puas berendam, Anand pun menyudahi acara mandinya.
"Seharian ini aku terlalu sibuk, hingga aku lupa menghubungi Rindy. Sekarang sudah larut, aku takut menganggu waktu istirahat nya jika aku menghubungi nya,"gumam Anand saat melihat handphonenya.
Akhirnya Anand memilih membaringkan tubuhnya dan segera tidur agar tubuhnya kembali bugar untuk bekerja besok.
Sedangkan di kota lain, tepatnya di kota tempat Rindy berada, wanita yang hamil muda itu ternyata belum tidur. Anand pergi keluar kota tanpa pamit padanya, dan sampai malam seperti ini pun, pria itu tidak menghubunginya sama sekali.
Rindy melirik ponsel nya yang diletakkan di samping tempatnya berbaring. Berharap ayah dari bayi yang dikandungnya menelpon atau setidaknya mengirim pesan padanya.
"Apa yang sedang dilakukannya? Apa dia ke luar kota dengan seorang wanita? Apa dia berselingkuh dari ku?"gumam Rindy, tanpa terasa kristal bening berjatuhan dari sudut matanya.
Rindy meringkuk di balik selimut tanpa bisa memejamkan matanya. Matanya terbuka, tapi tatapannya terlihat kosong. Hormon kehamilan membuat emosi nya tidak stabil.
Akhirnya, setelah dini hari, Rindy baru bisa memejamkan matanya. Terlelap dalam kegelisahan.
Pagi harinya Anand ingin menelpon Rindy, namun ternyata handphonenya lowbat. Anand membuang napas kasar kemudian mencharge handphone nya.
Tok! Tok! Tok!
"Tuan, kita harus segera berangkat,"ucap Darlen dari luar kamar.
Akhirnya Anand pun keluar dari kamarnya dan berangkat bekerja bersama Darlen. Nadine pun ternyata sudah menunggu di lobi hotel.
"Hari ini kita ada meeting dengan klien di perusahaan xx. Aku harap hari ini semua berjalan lancar. Jika kita bisa bekerja sama dengan perusahaan ini, aku yakin kita bisa mendapatkan banyak keuntungan,"ujar Nadine penuh semangat.
__ADS_1
"Aku harap juga begitu. Aku tidak ingin perjalanan kita sia-sia,"sahut Anand.
Di kota lain, Rindy terbangun saat waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Rindy menatap layar handphone nya, tapi tidak ada panggilan masuk atau pesan dari Anand seperti yang dia harapkan. Rindy membersihkan diri kemudian keluar dari kamarnya untuk mengisi perutnya yang kosong.
"Rin, kamu kenapa? Kok, mata kamu bengkak begitu?"tanya ibu Rindy nampak khawatir.
"Nggak apa-apa kok, Bu. Aku semalam nonton drama. Adegan nya sedih banget, jadinya aku menangis,"dusta Rindy.
"Oh, begitu? Ibu takut kamu bertengkar dengan Anand,"ujar ibu Rindy. Entah mengapa, wanita paruh baya itu merasa hubungan anak dan menantunya sedang tidak baik-baik saja.
Tak terasa waktu terus berputar dan hari pun kembali beranjak malam. Seharian Rindy menatap handphone nya, tapi tidak satupun Anand mengirim pesan, apalagi menelpon Rindy. Rindy yang merasa gelisah sudah dua hari tidak mendengar kabar apapun dari Anand pun memberanikan diri untuk menghubungi Anand.
"Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif atau di luar servis area,"suara itulah yang sudah di dengar Rindy berkali-kali saat menghubungi nomor telepon Anand. Dan hal itu sukses membuat Ibu hamil itu galau dan menjadi semakin kesal.
"Dia pergi tanpa pamit pada ku, dua hari tidak menghubungi ku, bahkan handphone nya pun tidak aktif. Apa dia keluar kota benar-benar berkerja ataukah sedang bersenang-senang dengan perempuan lain,"gumam Rindy dengan butiran kristal yang mulai menetes dari sudut matanya, menggenggam erat handphonenya.
"Prang"
Tok! Tok! Tok!
"Rin, Rindy! Apa yang terjadi? Apa kamu baik-baik saja?"suara ibu Rindy dari luar kamar terdengar khawatir.
"Aku baik-baik saja, Bu,"teriak Rindy dari dalam kamar.
"Tapi, barusan suara apa, Rin?"tanya ibu Rindy masih terlihat khawatir.
"Tidak ada. Bu, aku mengantuk sekali, aku ingin tidur,"ucap Rindy yang sedang ingin sendiri dan tidak ingin ibunya bertanya apapun, apalagi tahu tentang apa yang terjadi padanya.
"Baiklah. Tidurlah!"ucap ibu Rindy yang sebenarnya masih penasaran dengan suara yang terdengar dari kamar putrinya,"Aku merasa khawatir dengan keadaannya. Semenjak Anand pergi ke luar kota, Rindy nampak tidak baik-baik saja,"gumam ibu Rindy menghela napas berat.
Sedangkan Rindy nampak menangis terisak di dalam kamarnya. Dalam hatinya, ada perasaan kesal, marah, dan juga ada ketakutan jika Anand sampai selingkuh.
Sementara di kota lain, Anand baru sampai di hotel tempat nya menginap. Anand langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa menit kemudian, pria itu pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar dari pada saat baru pulang tadi.
__ADS_1
Anand menghela napas panjang saat melihat handphonenya masih dalam posisi di charger seperti tadi pagi. Tadi pagi, Anand lupa membawa handphone nya. Anand kemudian mengaktifkan handphonenya.
"Sudah dua hari aku tidak memberi kabar kepada Rindy. Dan Rindy pun sama sekali tidak mengirim pesan untuk ku. Mau menelpon dia pun sudah malam, takut menganggu waktu istirahatnya,"gumam Anand yang akhirnya memilih untuk tidur, menghilangkan rasa lelah dan penatnya
Pagi harinya, Anand mencoba menghubungi Rindy. Namun nomor Rindy ternyata tidak aktif. Akhirnya Anand pun memutuskan untuk menghubungi ibu mertuanya.
"Halo, Nand!"sahut ibu Rindy, menyapa menantunya lewat panggilan suara.
"Halo, Bu! Bu, bagaimana keadaan Rindy ? Aku mencoba menghubungi Rindy, tapi nomor nya tidak aktif. Boleh aku minta tolong ibu untuk mengatakan pada Rindy untuk mengaktifkan handphonenya"pinta Anand.
"Oh, iya. Nanti ibu akan mengatakan nya pada Rindy. Soalnya, sekarang sepertinya Rindy belum bangun, Nand,"sahut ibu Rindy yang memang belum melihat putrinya keluar dari kamarnya.
"Oh, masih tidur? Ya sudah, nanti saja ibu katakan pada Rindy. Tidak usah dibangunkan. Kasihan,"ucap Anand yang tidak ingin istirahat istrinya yang sedang mengandung itu terganggu hanya karena dirinya ingin menelpon.
"Iya. Nanti akan ibu katakan pada Rindy,"sahut ibu Rindy.
"Terimakasih, Bu. Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya,"ucap Anand.
"Iya,"sahut Anand, dan panggilan suara pun diakhiri.
"Aku rindu sekali padanya,"gumam Anand menghela napas panjang. Dua hari dua malam tidak bertemu dan jga tidak mendengar suara Rindy, membuat Anand merindukan Rindy.
...π"Apalah artinya sebuah hubungan, jika tanpa perhatian. Dan apa artinya perhatian, jika terus menerus diabaikan."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
To be continued
__ADS_1