Menjadi Dia

Menjadi Dia
27. Anand Dan Keluarga Rindy


__ADS_3

Sore itu, Anand menjemput Rindy di tempat Rindy bekerja. Melihat mobil suaminya sudah ada di depan perusahaan tempatnya bekerja, Rindy pun segera masuk ke dalam mobil di kursi belakang bagian penumpang. Anand nampak sedang memangku laptopnya dengan jemari yang menari lincah di keyboard laptopnya. Melihat Rindy sudah masuk ke dalam mobil, Darlen pun langsung melajukan mobil Anand.


"Berapa hari kita akan menginap di rumah ayah dan ibu?"tanya Anand masih fokus pada layar laptopnya.


"Terserah kamu,"ucap Rindy.


Bagi Rindy, Anand mau datang dan menginap di rumah nya saja sudah bagus. Walaupun mereka hanya menginap satu malam pun tidak jadi masalah, Rindy sudah merasa senang.


Mendengar jawaban terserah dari Rindy, Anand pun menghentikan aktivitasnya, menghela napas panjang kemudian menoleh pada Rindy,"Kenapa kalian para wanita suka sekali dengan jawaban terserah? Jawablah yang pasti! Aku bukan cenayang yang bisa meramal isi hati mu,"ujar Anand dengan ekspresi tidak berdaya.


"Semalam pun nggak apa-apa, yang penting kita menginap di rumah orang tua ku,"ucap Rindy setelah melihat ekspresi Anand. Rindy tidak mau Anand mengurungkan niatnya untuk menginap di rumah kedua orang tuanya hanya karena Anand merasa kesal padanya.


Setelah sampai dirumah, mereka pun bersiap-siap untuk menginap di rumah Rindy. Rindy membawa beberapa potong pakaian ganti untuk mereka. Rencana mereka yang awalnya sore mau berangkat, akhirnya di undur menjadi setelah makan malam baru berangkat menuju rumah orang tua Rindy. Anand memilih mengendarai mobilnya sendiri, tanpa Darlen.


Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, mereka pun tiba di rumah Rindy. Kedua orang tua Rindy nampak bahagia dengan kedatangan anak dan menantunya.


"Akhirnya kalian datang juga. Ayo masuk! Berapa hari kalian akan menginap di sini?"tanya ibu Rindy antusias.


"Bu, biarkan mereka duduk dulu. Mendinginkan ibu buat minuman untuk mereka,"ujar ayah Rindy yang tidak ingin istrinya memaksa anak dan menantunya untuk menginap di rumah mereka yang tidak semewah rumah menantunya itu.


"Iya. Sekalian ibu panggilkan kakek dan nenek dulu,"ujar ibu Rindy.


"Biar aku saja, Bu,"sahut Rindy bergegas masuk kekamar yang biasanya digunakan oleh kakek dan neneknya.


"Bagaimana kabar kalian?"tanya ayah Rindy memulai obrolan dengan Anand.


"Baik, yah. Gimana kabar ayah sekeluarga?"tanya Anand balik.


"Semua baik-baik saja. Nah, itu kakek dan nenek kalian,"ujar ayah Rindy saat melihat Rindy keluar bersama kakek dan neneknya.


"Wahh .. ternyata cucu mantu kita tampan sekali, kek,"ujar nenek Rindy.


"Iya, nek. Pintar sekali cucu kita mencari suami,"sahut kakek Rindy.


Akhirnya mereka semua pun mengobrol di ruang tamu. Kakek dan nenek Rindy nampak senang dengan kehadiran Rindy dan Anand. Apalagi Anand nampak cepat akrab dengan kakek dan nenek Rindy. Ayah dan ibu Rindy agak terkejut sekaligus senang dengan sikap Anand yang teryata hangat kepada keluarga mereka.


Selama Rindy menikah dengan Anand, hanya beberapa kali mereka bertemu dengan Anand dan tidak pernah mengobrol lama seperti saat ini. Ayah dan ibu Rindy tidak menyangka jika menantu mereka ternyata orang yang supel dan tidak sombong seperti persepsi mereka selama ini. Karena selama ini Anand tidak pernah banyak bicara dengan mereka.

__ADS_1


Rindy menatap Anand yang masih mengobrol dengan kakek, nenek dan ayah, ibunya. Sesekali pria itu tersenyum dan tertawa mendengar cerita kakek dan nenek Rindy. Suaminya itu sangat berbeda semenjak mengalami kecelakaan waktu itu. Tanpa sadar seulas senyum tersungging di bibir Rindy, dengan tatapan yang tertuju pada suaminya.


"Nah, itu pasti Jefri,"ujar ibu Rindy saat mendengar suara motor yang berhenti di halaman rumah nya.


Sementara itu, di halaman rumah, Jefri, kakak dari Rindy, melepaskan helm nya dan melirik ke arah mobil yang terparkir di halaman rumahnya,"Si brengseek itu kesini? Kenapa sudah malam begini belum pergi dari rumah ini?"gumam Jefri membuang napas kasar, perlahan berjalan masuk ke dalam rumah dan nampak tidak suka saat melihat Anand berada di ruang tamu bersama keluarganya.


"Jef, kemari lah! Ngobrol dengan kami,"ajak ibu Rindy dengan senyum lebar.


"Kalian lanjut saja. Aku lelah, ingin istirahat,"sahut Jefri berlalu begitu saja menuju kamarnya.


Semua orang yang ada di ruangan itu pun terdiam, melihat Jefri yang menampilkan wajah tidak senang. Untuk beberapa saat ruangan itu pun menjadi hening.


"Sudah malam, sebaiknya kakek dan nenek istirahat. Rindy, ajaklah suamimu untuk istirahat,"ucap ayah Rindy memecah keheningan di dalam ruangan itu.


"Iya, sebaiknya kalian istirahat,"imbuh ibu Rindy. Akhirnya semua orang pun masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.


Di dalam kamar orang tua Rindy.


"Ada apa dengan anak itu? Kenapa sikapnya seperti itu? Apa ada masalah di restoran kita, yah?'tanya ibu Rindy yang merasa aneh dengan sikap putra sulungnya.


"Perasaan dari kemarin nggak ada masalah, Bu. Semuanya baik-baik saja. Nggak tahu kalau hari ini,"jawab ayah Rindy.


Mendengar kata-kata istrinya, ayah Rindy pun menghela napas berat,"Mungkin iya, Bu. Ibu ingat saat Jefri sadar setelah dioperasi?"tanya ayah Rindy membuat mereka mengingat saat Jefri mengalami kecelakaan beberapa bulan yang lalu.


Di sebuah ruang rawat.


"Ayah, ibu,"ucap Jefri lirih, saat baru saja sadar setelah menjalani operasi akibat kecelakaan motor. Tangan nya menegang kepalanya yang terasa agak sakit.


"Akhirnya kamu sadar juga, Jef,"ucap ibunya seraya menghapus air matanya.


"Apa yang terjadi padaku, Bu? Kenapa kepalaku di perban?"tanya Jefri dengan suara yang terdengar lemah saat menyadari kepalanya diperban.


"Kamu tidak ingat? Kamu mengalami kecelakaan. Dan kamu mengalami cidera otak,"ujar ibu Rindy mengelus lengan putranya lembut.


"Apa aku dioperasi?"tanya Jefri nampak terkejut.


"Iya,"sahut ayah Rindy singkat.

__ADS_1


"Dari mana ayah dan ibu mendapatkan uang untuk biaya operasi ku?"tanya Jefri yang tahu mereka sudah tidak memiliki uang lagi karena restoran mereka terbakar dan rumah mereka juga sudah digadaikan untuk meminjam uang di bank.


"Kamu tidak perlu tahu. Yang penting kamu selamat dan cepat sehat,"ujar ayah Rindy.


Dua minggu kemudian, Jefri sudah diperbolehkan pulang karena keadaannya sudah membaik.


"Akhirnya kamu sudah diperbolehkan pulang. Kebetulan sekali, besok adikmu menikah,"ucap ibu Rindy membuat Jefri terkejut.


"Menikah? Menikah dengan siapa? Dengan Rio? Kenapa mendadak?"tanya Jefri yang tahu bahwa Rio adalah pacar Rindy.


"Bukan dengan Rio. Rindy akan menikah dengan Anand,"sahut ibu Rindy.


"Anand?"tanya Jefri nampak terkejut,"Jangan bilang Rindy menikah dengan Anand Pramana yang rambutnya panjang sebahu itu?"tanya Jefri dengan ekspresi wajah yang tidak terbaca.


"Kamu mengenalnya?"tanya ayah Rindy.


"Jadi benar, Rindy akan menikah dengan Anand yang itu?"tanya Jefri dengan mata yang membulat.


"Iya. Memangnya kenapa?"tanya ayah Rindy.


"Aku tidak setuju. Apa ayah dan ibu tidak tahu? Anand Pramana itu adalah pria brengseek. Dia suka keluar masuk tempat hiburan malam, suka mabuk-mabukan dan main perempuan,"ujar Jefri nampak berapi-api.


"Ayah tidak tahu bagaimana latar belakang Anand. Tapi yang pasti, dia telah banyak membantu kita. Kamu tahu? Anand telah melunasi pinjaman kita di bank, merenovasi restoran kita, membiayai pengobatan mu selama ini. Bahkan memberikan uang pada kami untuk belanja,"ujar ayah Rindy.


"Jadi, ayah dan ibu menukar Rindy dengan uang?"tanya Jefri nampak tidak percaya.


"Lalu apa kamu mau kita hidup di jalanan?"ucap ayah Rindy dengan nada berat penuh penekanan.


Saat ini.


Mengingat kejadian waktu itu, ayah Rindy hanya bisa menghela napas berat. Waktu Rindy menikah, Jefri tidak mau menghadirinya. Bahkan setiap Anand datang ke rumah mereka, Jefri memilih diam di kamarnya atau pergi dari rumah.


...🌸❤️🌸...


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2