
“Nona muda sudah menanda tangani surat perceraian anda tuan.” Begitu bunyi pesan yang disampaikan pengacara pada Nata.
Nata menahan nafasnya untuk beberapa saat, saat membayangkan kalau hubungan ia dan Rachel semakin mendekat pada perpisahan. Rupanya Rachel sudah benar-benar membuat keputusan. Ia berharap, Rachel benar-benar bahagia dengan keputusannya.
“Segera siapkan surat ajuan mediasi.” Itu menjadi titah Nata berikutnya.
“Baik tuan.” Balas pengacaranya.
Nata menghembuskan nafasnya kasar. Ia melihat jam di tangannya dan sudah jam sepuluh siang.
“Aku harus menghubungi Rachel.” Gumamnya. Ia segera mencari nomor Rachel yang ia sematkan paling atas.
“Hay, anak ayah. Lagi ngapain? Apa udah snacking?” tulis Nata yang ia kirimkan pada Rachel. Ia mengganti panggilannya sendiri dengan panggilan ayah, bukan lagi bapak.
Walau Rachel sudah menandatangani surat cerai mereka tapi ia tetap memenuhi janjinya untuk memperhatikan janinnya dalam kandungan Rachel setiap waktu. Dan hal ini tetap ia lakukan sejak jauh-jauh hari setelah ia tidak tinggal satu rumah dengan Rachel.
Setiap harinya, lebih dari tiga kali ia mengirimi Rachel pesan, bertanya kondisi anak dalam kandungan Rachel sekaligus ibunya, walau secara tersirat. Ada saja makanan yang ia kirim ke rumah Rachel setiap harinya walau entah Rachel memakannya hingga habis atau hanya mencicipinya.
Apapun ia lakukan untuk memberikan perhatian lebih pada Rachel. Ia ingin mengganti momen-momen indah yang pernah ia rusak karena kebodohannya.
"Tring!" ponsel Nata berbunyi. Ia segera mengeceknya. Sekarang refleksnya selalu lebih cepat karena ada pesan seseorang yang di tunggunya. Padahal dulu, ia jarang sekali menyentuh ponselnya. kabar dari Rachel adalah prirotas utamanya saat ini.
“Dia baru sarapan tiga jam lalu, belum mau makan apa-apa lagi.” Balas Rachel.
Nata tersenyum kecil, saat ternyata Rachel pun memenuhi janjinya untuk membalas setiap pesan Nata dan mengabari Nata tentang anak mereka.
Harus Nata akui, setelah kesepakatan mereka akan berpisah, komunikasi mereka malah lebih lancar. Baik Nata ataupun Rachel lebih sering saling mengabari. Nata belajar banyak hal dari Ivana, mulai dari kebiasaan para wanita, hal yang disukai dan tidak disukai oleh wanita, mood wanita hamil yang mudah berubah-ubah dan sebagainya. Ia bahkan membeli buku khusus yang berjudul, “Kenali wanita anda.”
Hahahha, memang sebegitu besar usaha Nata untuk mengejar Rachel saat ini. Persetujuannya untuk berpisah hanya usahanya untuk merehatkan sejenak hubungan pernikahan mereka. Ia sudah bertekad, terlepas nanti ia tetap bersama Rachel atau tidak, perhatiannya pada Rachel tidak akan berubah.
Ia juga sudah bertekad, selama kesempatan itu masih ada, ia tidak akan menyia-nyiakannya.
“Mau ayah kirim kue sus? Sepertinya enak.” Nata langsung menembaknya. Ini salah satu rekomendasi makanan yang ia lihat di internet. Ia sudah tidak bertanya Rachel mau apa dan malah bingung dengan jawaban terserah. ia mulai berinisiatif.
“Aku gak suka fla susu.” Balas Rachel.
__ADS_1
“Salad buah? Di dekat kantor ayah ada penjual salad buah yang laris manis. Mau coba?” Nata beralih pada rekomendasi makanan selanjutnya.
“Ya.” Balas Rachel.
“Okey, tunggu dua puluh menit, akan segera sampai.” Cepat-cepat Nata mengambil kunci motor dan jaket kulit serta helmnya. Ia akan menggunakan motor untuk sampai ke rumah Rachel.
“Mas mau ngebut?” Rachel membalasdengan cepat.
“Aku akan berhati-hati.” Balas Nata seraya tersenyum kecil. Senang rasanya karena Rachel masih mengkhawatirkannya.
Nata segera turun ke parkiran. Sebelum pergi ke rumah Rachel, ia membeli salad buah terlebih dahulu. Motor yang akan ia gunakanpun sudah siap, karena ia sudah memberikan daftar waktu pada karyawannya jam berapa saja ia akan menggunakan motor itu.
Dengan kecepatan tinggi, Nata melajukan motornya membelah jalanan. Banyak kendaraan yang lebih besar darinya, ia salip begitu saja. Semuanya ia lakukan untuk mempercepatnya sampai ke tempat tujuan.
Tepat Ssmbilan belas menit kemudian, Nata tiba di depan rumah Rachel. Saat melepas helmnya, ia melihat Rachel sudah menunggunya di depan pintu.
“Hay!” sapa Nata pada ibu bayinya.
“Aku udah tanda tangan suratnya.” Rachel membalasnya dengan kalimat itu.
“Ini pesanan anak ayah.” Nata mengarahkan paperbag berisi salad buah ke perut Rachel. Ia tersenyum kecil seolah menyapa bayi dalam kandungan Rachel.
Rachel jadi memandangi Nata yang masih terengah karena adrenalinnya terpacu selama dalam perjalanan. Rambut klimisnya berantakan karena helm. Titik-titik keringatpun terlihat jelas di dahi dan lehernya. Sudah pasti, karena ia kepanasan dan terbiasa dengan AC bukan hawa panas jalanan.
Rasanya Rachel tidak tega juga melihat usaha keras Nata selama tiga minggu ini. Laki-laki ini selalu datang kapanpun dan mengiriminya makanan. Seolah waktunya hanya untuk Rachel dan anaknya.
“Kalau mas mau nyerah, aku gak masalah. Aku tau, fokus mas banyak. Gak hanya bayi ini aja. Lagi pula, dia belum ngerti apa-apa. Gak usaha berusaha terlalu keras, toh aku gak akan menceritakan hal buruk tentang mas sama dia.” Ujar Rachel, dengan sepenuh hati.
Nata tersenyum kecil lantas menggeleng. Ia mengalihkan pandangannya pada Rachel.
“Kalau aku berhenti berusaha, apalagi yang bisa aku banggakan pada anakku? Gimana cara aku nunjukin rasa sayang aku ke dia sementara aku tidak pernah menunjukkan kepedulian dan usahaku buat dia.” Nata balas menatap Rachel dengan lekat.
Rachel tidak menimpali, ia hanya mengendikkan bahunya berusaha terlihat acuh.
“Aku akan membawa anak ini jalan-jalan ke kantor manajemen. Aku ada rapat di sana.” Ucap Rachel seraya mengambil salad buah dari tangan Nata.
__ADS_1
“Aku gak bawa mobil.” Nata tersenyum kelu penuh sesal.
“Memang siapa yang minta diantar? Aku hanya ngasih tau kalau aku mau keluar sama dia.” Timpal Rachel seraya mengusap perutnya.
“Terus kamu mau naik apa?” Nata tetap dengan wajah cemasnya.
“Ada banyak mode transportasi di Jakarta. Kenapa harus bingung?” Rachel mengendikkan bahunya acuh.
“Mas kembalilah ke kantor, pasti lagi sibuk kan?” imbuh Rachel.
“Kamu mau aku pergi?” Nata balik bertanya. Sesungguhnya ia masih ingin berada di sini.
“Iya.” Sahut Rachel dengan tegas.
Nata tersenyum pedih. Rachel benar-benar memenuhi janjinya bahwa keterikatan mereka hanya karena anak dalam kandungannya.
“Boleh aku cium dia dulu?” dengan lirikan matanya, Nata menunjuk perut Rachel.
“Hem.” Sahut Rachel dengan wajahnya yang acuh.
Nata pun mendekat. Ia bertekuk lutut di hadapan Rachel seperti biasanya, lantas mengusap perut Rachel dengan lembut. Satu kecupan dalam ia daratkan di permukaan perut Rachel. Sementara Rachel hanya bersidekap, pura-pura tidak merasakan apapun.
“Ayah menyayangimu, nak.” Gumam Nata yang masih didengar oleh Rachel.
Sungguh hati Rachel masih berdesir mendengar kalimat itu. Tapi ia tetap berusaha mengendalikan dirinya sampai kemudian Nata kembali berdiri dan menatapnya lekat.
“Terima kasih. Kabari aku kalau ada yang anak kita perlukan.” Ucap Nata kemudian. Ia memenuhi permintaan Rachel untuk cukup memperdulikan anaknya, bukan Rachel.
Rachel tidak menimpali. Ia tengah menahan perasaannya yang bergemuruh.
Nata berjalan mundur menjauh dari Rachel. Ia melambaikan tangannya pada janin di perut Rachel. Lantas tersenyum sebelum kemudian memakai helmnya dan melajukan kembali motornya dengan kecepatan tinggi. Hanya kepulan asap yang kemudian tersisa.
Rachel mematung beberapa saat. Ia masih terkesiap dengan semua perlakuan Nata belakangan ini. Nata benar-benar memprioritaskan anak mereka dan sebisa mungkin ia menahan hatinya agar tidak luluh.
Bisakah Rachel bertahan dengan keputusannya di tengah gempuran negara api yang memberi perhatian extra?
__ADS_1
****