
Makan siang kali ini, terasa dejavu bagi Rachel. Ia duduk di salah satu sudut resto bersama Nata dengan menu yang terhidang, Mango sticky rice. Makanan yang membuat ia merasa diprioritaskan oleh Nata.
Tapi kali ini, baru dua suap yang bisa ia nikmati sementara sisanya ia aduk-aduk tidak jelas. Rachel tidak lahap seperti biasanya. Padahal ini makanan favoritnya.
“Apa makanannya gak enak?” Nata memperhatikan Rachel yang sedari tadi hanya melamun.
Rachel menggeleng. Ia menaruh sendoknya dan beralih memperhatikan cincin yang disematkan Martha di jari manisnya. Ivana bilang, cincin itu pemberian dari mendiang ibunya Bary. Cincin itu diberikan secara turun temurun pada semua menantu perempuan, dan Rachel adalah pemegangnya saat ini.
Sebuah kebanggan bukan?
“Apa cincinnya membuat kamu gak nyaman?” Kulkas dua pintu itu berubah menjadi manusia testpack, senghitip.
Lagi, Rachel menggeleng. Ia menghembuskan nafasnya kasar dengan pikiran yang menerawang, mengingat perbincangannya dengan Martha pagi tadi.
“Mamah ngasih ini ke aku, tapi gak tau kenapa aku ngerasa, eemmm gimana yaa?” Rachel memainkan cincinnya dengan perasaan gamang.
“Kamu ngerasa gak enak karena kita akan pisah?” tanya Nata seraya mengusap sisa lelehan fla di sudut bibir Rachel dengan ibu jarinya yang lembut.
Rachel hanya menoleh saja, sikap Nata membuat jantungnya berdebar sangat kencang. Netra pekatnya terlalu lekat menatap mata bulatnya. Apa memang semanis ini Nata memperlakukan wanita yang ia cintai?
“Kalau itu yang kamu rasakan, aku cuma mau bilang, jangan merasa terbebani. Mamah ngasih itu ke kamu, sebagai bentuk kasih sayangnya sama kamu. Bukan untuk memberi kamu beban.”
“Seperti apapun hubungan kita kedepannya, kamu tetap bagian dari keluarga Wijaksono.” Tegas Nata, berusaha mengusir kegundahan Rachel.
Rachel mengangguk paham. Entah mengapa ia merasa kalau Nata tidak ingin menekan Rachel sama sekali. Nata memberi ruang yang sangat luas untuk berpikir tapi perasaannya malah cenderung mengerucut.
“Masih mau lanjut makan atau mau ke tempat lain?” tawar Nata kemudian. Ia melihat Rachel sudah tidak selera makan.
“Aku mau pulang aja.” Pintanya.
“Okey.” Nata segera mengangkat tangannya untuk meminta bill. Tidak lama transaksi yang dilakukan laki-laki itu dan Rachel hanya memandangi sosok Nata yang kemudian bersikap dingin pada pelayan yang menghampirinya.
Ia seperti melihat dengan jelas perbedaan perlakuan yang Nata lakukan padanya dan orang lain. Apa ia sespesial itu sekarang?
“Ada yang mau kamu katakan?”
Tanpa sadar Nata sudah balas memandangi Rachel. Gara-gara melamun Rachel sampai tidak sadar kalau transaksi suaminya sudah selesai.
“Em, nggak.” Rachel segera menyadarkan dirinya. Ia meneguk air es di hadapannya hingga giginya berdenyut ngilu.
Akh sial, gara-gara tatapan Nata ia jadi tidak fokus. Yang ingin ia minum sebenarnya adalah jus buah, tapi malah meminum gelas berisi es batu yang mencair.
“Kamu baik-baik aja?” tanya Nata saat melihat Rachel meringis menahan ngilu.
__ADS_1
“Gak apa-apa.” Sahut Rachel, menahan malu setengah mati, gara-gara salah tingkah oleh Nata.
Ia beranjak lebih dulu meninggalkan mejanya.
“Chel, tunggu!” Nata segera menyusulnya.
Tapi Rachel malah berlari kecil berusaha menghindar dan,
“Akh!” hampir saja ia jatuh tergelincir karena high heels-nya.
“Rachel!” beruntung Nata segera berlari dan berhasil menahan tubuh Rachel tidak sampai jatuh.
Rachel benar-benar terhenyak kaget, matanya membulat menatap Nata yang menopang tubuhnya dan menatapnya dengan khawatir. Tangannya berpegangan erat pada lengan Nata. Ia tidak bisa membayangkan kalau Nata terlambat mengejarnya dan ia terjatuh, apa yang akan terjadi pada bayinya.
“Kamu gak apa-apa?” Nata menatapnya dengan khawatir. Ia merangkul tubuh Rachel dengan erat.
“Eng-nggak.” Sahut Rachel dengan cepat.
Ia berusaha melepaskan rangkulan Nata dan berdiri tegak.
“Akh!” tapi baru saja Rachel menapakkan kakinya, ia sudah merasakan nyeri yang cukup untuk membuatnya meringis kesakitan.
Nata tetap memegangi Rachel agar tidak jatuh.
“Hah, di gendong? Tapi nanti orang lain liat?” Rachel melihat ke sekeliling café yang ramai. Akan memalukan jika sampai ia di gendong-gendong oleh Nata.
“Sebelum hakim ketuk palu, kita masih suami istri. Kenapa harus malu?” tanya Nata dengan acuh.
Ia mengangkat tubuh ringan Rachel dengan kedua lengannya yang kokoh.
Sesaat Rachel terdiam mendengar ucapan Nata. Suaminya bilang, sebelum hakim ketuk palu, mereka suami istri. Tapi bukankah setelah itu, mereka akan menjadi orang asing? Kenapa batinnya mencelos? Bukankah seharusnya ia merasa lega?
Sepanjang perjalanan menuju mobil, Rachel masih memandangi wajah Nata. Tangannya yang melingkar di leher Nata membuat pandangannya sulit teralih dari Nata.
“Aku urut sebentar kaki kamu. Kalau masih sakit, kita ke tukang pijat.” Ucap Nata dengan penuh kesungguhan. Rachel bisa melihat wajahnya yang khawatir. Wajah dingin itu sudah bisa berekspresi dan Rachel tidak lagi kesulitan untuk membaca setiap ekspresi Nata.
“Hem.” Sahut Rachel tanpa melepaskan pandangannya dari wajah tampan Nata. Ia melihat mata Nata yang waspada saat menuju tempat parkir. Rupanya, memang banyak hal yang sudah merubah Nata.
Rachel di dudukkan di jok samping Nata. Sementara Nata berjongkok untuk memeriksa kaki Rachel. ia melepas jasnya dan menutupkannya di atas paha Rachel. Mungkin khawatir rok yang di pakai Rachel terangkat dan terlihat oleh orang lain.
“Apa sebelah sini sakit?” Nata menekan pergelangan kaki Rachel.
“Akh, iya, sakit.” Rachel berusaha menarik kakinya. Ternyata ia benar-benar terkilir
__ADS_1
“Kalau gitu, sebentar, aku pijat dulu.”
Nata mengambil kotak P3K yang ada di dashboard lalu menggunakan minyak-minyakan untuk memijat kaki Rachel pelan-pelan.
Rachel melihat ketelatenan Nata saat mengurus kakinya. Pijatannya lembut dan tidak membuat Rachel kesakitan. Lagi, Rachel melihat usaha terbaik Nata untuk dirinya.
“Mas,” panggil Rachel.
“Ya.” Perhatian Nata langsung beralih pada wajah cantik di hadapannya.
“Apa aku terlalu keras mijatnya?”
Rachel menggeleng.
“Aku ingin meminta sesuatu,” Rachel berujar tanpa ragu.
“Tentu, katakan apa yang kamu mau?”
Rachel menatap lekat mata Nata yang menatapnya penuh cinta. Tatapan yang belum pernah Rachel lihat saat mereka bersama dulu.
“Ayo kita pergi ke psikolog dan konsultan pernikahan. Aku ingin memikirkan ulang keputusanku.” Pintanya dengan penuh kesungguhan.
Nata terdiam beberapa saat. Kali ini, ia melihat Rachel yang sedang berusaha untuk memahami dirinya dan mempertahankan pernikahan mereka. Suatu hal yang tidak Nata duga sebelumnya.
“Tentu. Kapan kamu siap untuk pergi?” Nata menunjukkan usaha yang sama. Ia ingin memperbaiki kondisi pernikahan mereka.
“Besok.” Sahut Rachel dengan penuh keyakinan.
Nata tersenyum kecil. Ia tertunduk beberapa saat, mengucap syukur dalam hati.
“Terima kasih, karena kamu bersedia untuk berusaha melihat dan memahami aku terutama hubungan kita dari sudut pandang yang berbeda.” Ungkap Nata dengan penuh haru.
“Ya, aku ingin mencoba memahami hubungan kita secara rasional, bukan hanya emosional. Karena aku tau, setiap orang bisa berubah. Tapi sejauh apa perubahan itu, kita gak pernah tau. Mungkin saja, dalam pernikahan kita, bukan hanya mas yang memiliki permasalahan. Melainkan aku juga.” Urai Rachel dengan penuh kesungguhan.
Nata terangguk paham. Ia meraih tangan Rachel lantas menggenggamnya dengan erat. Dikecupinya tangan halus itu beberapa kali, membuat jantung Rachel berdebar kencang melihat ungkapan cinta Nata yang ia rasa sampai ke hatinya.
“Terima kasih Chel. Terima kasih banyak.” Ungkap Nata yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
Rachel hanya tersenyum kecil, entah mengapa sudut hatinya kembali menghangat melihat semua sikap Nata.
Perjalanan pulang di tempuh Nata dan Rachel. Kemacetan tidak lagi menjadi masalah bagi keduanya. Semakin lama perjalanan mereka untuk pulang makan semakin banyak waktu yang bisa mereka habiskan bersama.
Lalu pada sudut mana perasaan Rachel akhirnya mengerucut?
__ADS_1
****