
Brams berjalan semakin mendekat. Rachel mengambil apa saja yang ada di dekatnya. Salah satunya adalah bantal Brandon yang ia gunakan untuk berlindung.
“Rachel, kamu ngelawan begini aku semakin bersemangat. Silakan juga kalau kamu mau teriak. Mamah Martha sedang pergi keluar dan Tuti, wanita bodoh itu tidak akan berani masuk dan menolong kamu. Atau mungkin kamu mau meminta bantuan security di depan? Silakan, aku yakin dia gak akan dengar.” Urai Brams sambil tersenyum buas.
Ia memang sudah mempersiapkan semuanya agar seaman mungkin. Ia mengatur pergerakan setiap orang di rumah ini. Seperti permainan catur di komputer, ia bebas menggerakan siapa saja yang mau ia kendalikan. Dan yang paling mudah adalah, Martha dan Tuti.
“Kamu jangan gila. Aku bisa bertindak nekad.” Ancam Rachel dengan suara bergetar. Ia berusaha terlihat berani padahal sebenarnya ketar-ketir.
“Oh ya? Seperti apa nekad menurut seorang Rachel? Aku sangat penasaran.” Brams begitu menikmati cara ia mengintimidasi Rachel.
“Aku sangat ingin melihatnya, ayo tunjukkan padaku.” Ucap Brams seraya menepuk kasar bantal di tangan Rachel hingga terjatuh dari genggaman lemah wanita itu.
“Kak, jangan macam-macam. Ingat, Brandon melihat semua yang kakak lakukan. Aku juga bisa bicara sama kak Ivana. Aku punya bukti kalau kakak melecehkan Ima dan bi Tuti.” Ancam Rachel walau takut setengah mati.
“Pikirmu aku peduli?!” seru Brams.
Dalam satu gerakan, ia kembali menarik tangan Rachel dan melipatnya di punggung Rachel. Ia membuat Rachel membelakanginya dan satu tangannya berada di dada Rachel, mengunci pergerakan wanita itu.
“Brandon, berbalik nak, tolong berbalik.” Ucap Rachel yang tidak bisa menahan tangisnya. Ia tidak tega melihat mata Brandon yang polos tengah menatapnya dengan cemas. Rachel tidak mau Brandon melihat apa yang dilakukan papahnya di hadapannya.
Brams hanya tersenyum melihat Brandon yang mematung di hadapannya. Ia menatap anak kecil itu sambil mencium bahu Rachel. Ia sangat marah karena Ivana melahirkan seorang anak yang tidak bisa ia banggakan pada siapapun sekalipun itu keluarganya.
“Kamu tau Chel, aku sangat membenci anak itu. Lihat saja wajah bodohnya. Akh, aku nggak tau, kenapa dulu aku bisa terjebak hubungan seperti itu dengan Ivana dan memiliki seorang anak seperti Brandon.” Ungkap Brams penuh sesal.
“Kamu keterlaluan Brams, kamu gila!” seru Rachel tidak terima. Mendengar ucapan Brams, hati Rachel ikut sakit.
“Gila, kata kamu? Ya aku memang gila. Aku bisa melakukan apapun!” seru Brams seraya mendorong tubuh Rachel ke atas kasur. Rachel segera bangkit tapi Brams selalu bergerak lebih cepat hingga laki-laki itu mengunci Rachel di atas tempat tidur.
__ADS_1
“LEPAS!!! LEPAASS!!!” Seru Rachel sambil berontak.
“Kamu harus percaya mamah Nata, Rachel itu selingkuh!” sebuah suara tiba-tiba terdengar di luar kamar Brandon. Rachel dan Brams sama-sama terdiam mencuri dengar dimana kira-kira posisi pemilik suara.
“Kamu tamat Brams!” ucap Rachel dengan penuh rasa puas.
“Oh ya? Kamu salah, aku masih punya waktu.” Timpal Brams.
Dengan cepat Brams mencoba mencium Rachel dan Rachel terus berusaha menghindar mereka saling beradu kekuatan. Brams yang terus berusaha menaklukan Rachel dan Rachel yang terus berusaha melawan, hingga kemudian, Brams membalik posisi tubuhnya di bawah sementara Rachel tetap di atas.
“ASTAGA RACHEL! APA YANG KAMU LAKUKAN?!” seru Brams tiba-tiba.
Laki-laki itu berpura-pura seolah ia yang mencapat serangan dari Rachel.
“BRAK!”
“RACHEL! APA YANG KAMU LAKUKAN?!” seru Martha.
“Mas?!” Rachel segera bangkit. Dengan tangan gemetar ia berusaha mengancingkan bajunya yang tadi di tarik paksa oleh Brams.
“Mah! Rachel menyerangku. Dia memaksaku untuk menidurinya.” Ucap Brams dengan cepat. Hebatnya laki-laki itu bisa langsung memasang wajah pura-pura takut pada Rachel dan segera menjauh dari Rachel.
“Mah, itu nggak bener. Mas, kak Ivana.” Rachel menghampiri Nata yang mematung di tempatnya dan Ivana yang hampir tumbang melihat adegan yang beberapa saat lalu ia lihat di atas kasur.
Rachel sampai gemetar, bukan hanya karena serang Brams tapi juga karena tatapan Nata, Ivana dan Martha yang sedang menghakiminya.
“Mas, percaya sama ku. Aku gak maksa kak Brams. Dia yang,”
__ADS_1
“DIAM KAMU RACHEL!” seru Martha dengan mata membulat.
Rachel langsung terdiam. Dengan tatapan nanar ia menatap Nata dan Ivana yang masih syok dengan apa yang dilihatnya.
“Kamu lihat sendiri Nata, setelah tadi dia menggoda laki-laki lajang, sekarang dia menggoda kakak ipar kamu sendiri. Dia bahkan memaksa Brams tidur dengannya. Lihat, ada Brandon juga di sini. Iblis macam apa sebenarnya kamu ini Rachel?!” Hardik Martha yang seperti mendapat kesempatan bagus untuk menjatuhkan Rachel.
“Iya mah, dia menggodaku.” Brams ikut memperkeruh suasana.
“Dia bilang dia lebih baik dari Ivana. Tega-teganya dia menghina istriku yang sangat menyayanginya. Aku gak ngerti apa sebenarnya yang ada di pikiran Rachel. Dia terlihat seperti wanita baik-baik padahal sebenarnya,”
“DIAM!!!!!” seru Nata yang sudah muak mendengar semuanya.
Seketika Brams pun bungkam. Ia melihat kemarahan di mata Nata. Nata beranjak menghampiri Rachel, berdiri dihadapan istrinya lalu tidak lama ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Rachel yang sedikit terbuka karena bajunya di tarik paksa oleh Brams.
Rachel terisak menatap wajah Nata yang tidak sekalipun menatap wajahnya. Lagi, ia selalu kesulitan membaca makna di setiap ekspresi wajah Nata. Apa laki-laki ini percaya dengan ucapan Brams?
“Nata, kamu sebaiknya tidak memperdulikan dia lagi.” Ucap Brams memanasi Nata. Nata pun segera menoleh Brams dengan dingin.
“Ikut aku keluar.” Ajak Nata.
“Tentu saja. Ayo kita bicara di luar. Aku juga tidak mau berlama-lama dalam satu ruangan dengan wanita sakit ini.” Ucap Brams yang segera merapikan baju dan rambutnya.
“Mas,” panggil Rachel seraya menahan tangan Nata. Tapi Nata memilih melepaskan tangan Rachel dan tetap berjalan keluar.
Rachel hanya bisa terisak. Ia juga menatap Ivana, kakak iparnya itu memilih bungkam dan berlalu pergi meninggalkan Rachel. Jangan tanya soal Martha, sudah pasti ia tersenyum penuh kemenangan melihat Rachel yang ketakutan seperti ini.
Rachel hanya bisa menangis. Ia menghampiri Brandon dan memeluk anak kecil itu. Ia menangis sesegukan. Bagaimana bisa tidak ada satupun orang yang mempercayainya padahal di sini, ia lah korbannya?
__ADS_1
****