
Seperti sekuntum mawar yang layu, keberadaan Rachel terlihat begitu mengkhawatirkan. Dengan penampilannya yang berantakan, ia masih mendekap Brandon dengan erat di dadanya sementara satu tangannya menutup telinga Brandon. Ia tidak ingin membiarkan keponakannya yang tidak bersalah ini mendengar suara pukulan dan rintihan Brams yang terdengar jelas di luar kamar.
Ia masih sangat bersyukur karena pada akhirnya Nata dan Ivana datang di waktu yang tepat. Di waktu ia nyaris menyerah dan Brams mengambil kehormatannya. Entah apa yang harus ia katakan pada laki-laki bermata elang itu jika ternyata perlawanannya sia-sia. Apa ia masih punya muka untuk menghadapi suami yang begitu ia hormati dan cintai.
Suara deritan pintu yang terbuka, membuat wanita cantik berwajah pucat itu mengakhiri angan menakutkan yang memenuhi pikirannya. Ia menoleh dan tersenyum haru saat melihat Nata yang datang bersama Ivana.
Lagi, air mata lolos menetes di pipi Rachel.
“Mas,” suara Rachel terdengar lemah dan gemetar, sepertinya rasa takutnya masih belum hilang.
Nata tidak menimpali, ia memilih menghampiri Rachel, mengecup kepala Brandon yang masih bersembunyi di pelukan Rachel.
“Brandon, sama mami nak.” Suara serak itu milik Ivana. Ia berjongkok di mulut pintu sambil merentangkan tangannya.
Brandon yang mengenal benar suara ibunya, segera melepaskan diri dari Rachel lalu berlari menghampiri Ivana. Menyembunyikan tubuhnya dalam-dalam di dekapan Ivana yang menangis sesegukan.
__ADS_1
“Anak mami… maafkan mami karena hamu harus mengalami hal yang sangat menakutkan.” Ucap Ivana dengan tangisnya yang tersedu-sedu.
Ia memeluk Brandon dengan erat. ia masih bisa merasakan tubuh anak semata wayangnya masih gemetar ketakutan.
Rachel hanya bisa menatap nanar pemandangan yang ada di depannya. Walau penglihatannya tidak terlalu jelas karena tertutupi linangan air mata yang seperti enggan terhenti.
Saat Rachel hendak menyeka air matanya, ada sebuah tangan kokoh yang melakukannya lebih dulu. Tangan milik Nata yang menyeka air matanya dan mengusap pipinya dengan lembut.
“Terima kasih sudah bertahan dan menungguku.” Ucap Nata dengan suara rendah. Laki-laki itu menatap Rachel dengan lekat.
Rachel tidak menimpalinya, ia segera berhambur memeluk Nata yang ada dihadapannya. Ia terisak beberapa saat, ketika akhirnya ia menemukan ketenangan dalam pelukan suaminya.
Nata mengusap lembut punggung Rachel. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Sungguh ia masih sangat takut jika tadi ia terlambat sampai rumah dan mendapati Rachel dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Syukurlah, mimpi buruk ini berakhir walau tidak sepenuhnya melegakan.
Setelah Rachel mulai tenang, Nata memutuskan untuk menggendong istrinya dan membawanya ke kamar. Ia bisa mengira kalau tubuh Rachel pasti sangat lemah.
__ADS_1
Rachel menurut saja. Ia melingkarkan tangannya di leher Nata sambil memandangi wajah suaminya yang masih menunjukkan rasa bersalah.
“Terima kasih sudah datang dan percaya sama aku mas.” Batin Rachel dengan penuh rasa syukur. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian jika ternyata Nata lebih mempercayai ucapan Brams daripada ucapannya.
Nata menggendong Rachel menuju kamarnya. Di ruang keluarga, Rachel melihat Martha yang termangu sendirian di sofa sementara tubuh Brams masih terlentang di lantai. Wajahnya berlumuran darah dan sepertinya laki-laki itu tidak sadarkan diri.
Cepat-cepat Rachel menyembunyikan wajahnya di dada bidang Nata. Melihat sosoknya saja Rachel sudah takut dan rasanya ia enggan bertemu lagi dengan laki-laki gila itu.
Di kamar, saat ini Rachel dan Nata berada. Nata membaringkan Rachel di tempat tidur dan memandangi wajah istrinya yang masih pucat. Ia meraih tangan Rachel lalu mengecupnya beberapa kali. Rachel hanya bisa memandangi wajah suaminya. Ia tidak bisa berbicara banyak karena tenaganya seperti terkuras habis.
Hanya satu hal yang kemudian ia tanyakan.
“Sejak kapan mas tau, kak Brams menerorku?” tanya Rachel perlahan.
Nata tidak lantas menjawab. Ia menyelipkan helaian rambut Rachel di telinganya lantas menatap mata bening yang sekarang kemerahan dan berair. Nata tetap memegang tangan Rachel dan mengecup tangan itu dengan penuh perasaan tanpa keinginan untuk melepaskannya.
__ADS_1
***