Menjadi Dia

Menjadi Dia
Kami akan berpisah


__ADS_3

Rachel termenung seorang diri di dalam sebuah ruang perawatan setelah tadi melakukan pemeriksaan menyeluruh pada tubuhnya. Ia ditempatkan di ruang VIP dan hanya sendirian. Ia masih belum bisa berpikir jernih setelah dokter menyampaikan hasil pemeriksaannya beberapa saat lalu.


“Selamat, mama sedang mengandung. Dengan usia kehamilan sembilan minggu.” Ucap dokter setelah melakukan pemeriksaan USG.


Saat itu Rachel tidak berreaksi apapun. Ia hanya terdiam sambil memandangi layar monitor besar yang ada dihadapannya. Otakknya mendadak tumpul hanya untuk sekedar menghitung sembilan minggu itu berapa bulan? Kenapa harus ganjil dan tidak bisa di bagi empat?


Malah pikiran itu yang mengisi kepala Rachel yang tengah pusing berputar.


“Kita sudah bisa mendengarkan detak jantungnya mama.” Lagi, kata panggilan yang digunakan dokter itu membuat hati Rachel terrenyuh. Benarkah ia sudah menjadi seorang ibu? Sesuatu yang selalu ia nantikan selama ini.


Suara seperti suara kuda yang tengah berlari kencang pun mengisi rongga telinganya. Ia memang sangat ingin naik kuda tapi yang ia dengar kemudian adalah suara kencang yang membuat hatinya berdesir.


Rachel terisak, ia menangis sesegukan hingga tubuhnya berguncang.


Dokter yang menemani Rachel saat itu, menggenggam tangan Rachel dengan erat. Ia tahu, Rachel butuh pegangan dan sandaran saat menghadapi semua ini seorang diri.


“Mengapa mama menangis sesedih ini? Mama mendapat karunia yang sangat besar dengan mengandung seorang janin yang hebat. Dia nyaris terlahir sebelum waktunya tapi dia berusaha bertahan di perut mama, tempat ternyaman yang ia miliki saat ini.” Ujar dokter yang membuat Rachel malah semakin terisak. Dadanya sesak sampai tidak bisa berkata-kata.


“Banyak lo Ma, para mama yang menunggu kehadiran seorang anak dipernikahan mereka. Ada yang menunggu sampai lima tahun, sepuluh tahun bahkan ada juga yang meunggu hingga enam belas tahun. Ini karunia ma, ini kado terindah untuk semua ibu di dunia ini.” Dokter mengeratkan genggamannya pada Rachel.


Rachel masih menangis lantas menggeleng.


“Saya menyayanginya dokter. Tapi apa yang bisa saya berikan pada anak ini? Apa yang akan membuatnya bangga jika terlahir dari Rahim saya?”


Rachel menoleh dokter dengan mata yang basah dan merah karena air mata. Ia masih mengingat persis perkataan Martha kalau Rachel tidak layak melahirkan keturunan Wijaksono.

__ADS_1


“Mengapa mama harus mencemaskan itu? Seorang bayi yang tidak berdosa tidak pernah memikirkan itu. Dia hanya butuh kasih sayang dan perlindungan dari orang tuanya. Tidak mengabaikannya dan selalu mencintainya. Itu saja.” Tegas dokter berusaha menenangkan Rachel.


Dan tangis Rachel saat itu, masih ia bawa hingga ke ruang perawatan. Ia mengusap-usap perutnya dengan lembut dan gemetar. Ia masih tidak menyangka kalau ia akan mengandung seorang anak di rahimnya. Ia tidak menyangka kalau buah cintanya dengan Nata, mau bertahan di dalam rahimnya.


Kata dokter, Rachel nyaris kehilangan bayinya karena kelelahan dan stress. Tapi, ia masih bisa mempertahankannya asalkan ia harus bedrest selama satu minggu ke depan. Ia juga diwajibkan mengkonsumi obat penguat Rahim dan infus cairan nutrisi yang cukup agar kehamilannya berlanjut.


Rachel memejamkan matanya beberapa saat. Mencoba menyadari kalau ada mahluk kecil yang tumbuh di dalam tubuhnya. Sekarang ia tidak lagi sendirian. Ia tidak perlu lagi merasa kesepian. Bayi ini akan selalu menemaninya kemanapun ia pergi. Ia tidak hanya harus berjuang untuk kebahagiaannya tapi juga kebahagiaan janin dalam kandungannya.


“Maafin ibu nak, ibu masih sangat egois. Ibu mempertanyakan banyak hal, meragukan kamu padahal ibu sendiri belum melakukan apa-apa untuk menjaga dan menyayangi kamu. Maafkan ibu nak.” Lagi Rachel menangis di tempatnya. Ia tertunduk lesu sambil memandangi perutnya yang sudah tidak terlalu tegang.


Di tengah tangisnya yang lirih, seseorang masuk ke dalam ruang perawatan Rachel dan langsung berhambur memeluknya.


“Chel ….” Ucap Fany yang memeluk Rachel dengan erat. Mereka berdua berangkulan sambil terisak-isak.


Ada rasa haru yang luar biasa saat ternyata akan ada anggota keluarga baru di hidup Rachel dan mereka nyaris kehilangan janin tidak berdosa itu.


Ia masih mengingat bagaimana ketatnya ia mengatur jadwal Rachel entah itu untuk meeting ataupun syuting. Ia bahkan mengiyakan keinginan Rachel untuk naik kuda dan sudah menyiapkan semuanya untuk siang ini.


Ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Rachel.


“Kak, kakak gak salah kok. Kakak gak melakukan hal yang buruk sedikitpun buat aku. Kakak malah selalu nemenin aku. Jadi, tolong jangan terus menerus meminta maaf.” Timpal Rachel yang tersedu-sedu.


Fany melerai pelukannya beberapa saat. Ia menangkup wajah Rachel dan mengusap air mata di wajah cantik Rachel.


“Aku sangat seneng denger kabar baik ini Chel. Aku pasti akan selalu mendampingi kamu, baik sebagai manager ataupun sebagai seorang teman.” Ucap Fany dengan penuh kesungguhan.

__ADS_1


Rachel tersenyum kecil di antara tangisnya. “Makasih kak.” Sahutnya dengan helaan nafas lega.


“Hem, sama-sama. Mulai sekarang, kamu jangan nangis lagi. Kamu harus happy dan banyak tersenyum. Walaupun kamu hamil, kita bisa tetap melakukan hal yang menarik bersama-sama. Okey?”


Rachel mengangguk kecil. Ia tersenyum seraya mengusap sisa air matanya agar kering.


“Sekarang, apa yang kamu perlukan? Mau aku bantu menghubungi keluargamu atau suamimu? Mereka pasti seneng denger kabar ini.” Tawar Fany.


“Jangan!” Rachel segera memegangi tangan Fany saat hendak menghubungi seseorang. Ia terlihat sangat panik.


“Jangan? Kenapa? Kamu mau ngasih kejutan yaa, pulang dari sini? Tapi kan kamu harus bed rest dulu selama seminggu. Nanti suami kamu cemas loh.”


“Kami akan berpisah.” Rachel menatap Fany dengan lekat dan penuh keyakinan.


Ponsel Fany sampai jatuh saking kagetnya mendengar ucapan Rachel. Ia tidak bisa berkata-kata melainkan hanya bisa memeluk Rachel dengan erat. Ingatan akan Rachel yang tertawa berlebih dan tangisnya yang pecah sepanjang pemutaran film Romeo dan Juliet, rasanya ia paham alasannya kenapa.


Wanita ini sedang berusaha terlihat kuat di hadapan orang lain padahal ia sedang tidak baik-baik saja.


“Sorry ….” Ucap Fany, lirih di telinga Rachel.


Rachel hanya mengangguk dan berusaha tersenyum. Ia sudah tidak ingin menangis lagi. Tidak ingin membuat janin di rahimnya merasakan kesedihan yang ia dera. Berdo’a saja semoga ia memiliki kekuatan lebih untuk menghadapi semuanya.


****


By the way, lebaran d tempat temen-temen, kapan?

__ADS_1


Mau aku liburin dulu aja gitu novelnya, biar temen-temen fokus berlebaran?


Silakan tulis komentarnya yaaa...


__ADS_2